PART 30 - UNDANGAN

2005 Words
Hari ini seakan membuka tabir baru untukku, membuka mataku untuk melihat hal yang selama ini tertutup oleh pikiranku. Kulihat Ryuzaki sedang berdiri menatap pepohonan dan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Wajah dan tubuhnya terkena sinar mentari pagi. Ia seakan tenggelam dalam dunianya dan tak menyadari kehadiranku. “Hai… Selamat pagi…” aku berjalan mendekatinya. Ryuzaki tampak sedikit terkejut dan berbalik melihatku. “Selamat pagi.” balasnya. Entah apa yang kulihat kini, namun wajah pria ini terlihat begitu merekah dan bahagia dibandingkan sebelum-sebelumnya. “Kamu menunggu temanmu?” tanyaku pada Ryuzaki. Kudengar temannya akan check out hari ini. “Tidak. Saya menunggumu.”jawab Ryuzaki. “Aku?” “Iya, kamu.” senyuman pria ini sungguh membuatku ingin tersenyum juga. Ia memiliki wajah yang sangat jelas pasti disukai banyak wanita. “Ada apa?” tanyaku lagi. “Nanti sore, mau pergi bersama saya? Saya ingin mengajakmu keacara teman saya. Kalau mau, kita bisa pergi setelah pekerjaanmu sudah selesai” aku menatap Ryuzaki beberapa saat, memikirkan pertanyaannya. Aku sangat ingin pergi dengannya, namun aku masih teringat ucapan kak Andi padaku dua malam yang lalu. “Tenang saja, saya akan meminta ijin dulu pada ibu Ayu jadi kamu tidak perlu khawatir.” tambahnya. Ia mungkin sedang bingung dengan diamku. “Kamu datang sepagi ini hanya untuk mengajakku pergi?” tanyaku lagi tanpa menjawab pertanyaannya. “Iya.” jawab Ryuzaki. “Mengapa kamu melakukan ini?” tanyaku lagi. “Karena saya ingin pergi bersama denganmu.” Ryuzaki melangkah maju dua langkah semakin mendekat denganku. Matanya tak melepas tatapannya sedikipun. “Mengapa kamu tiba-tiba jadi sebaik ini padaku?” akhirnya aku mengatakan hal sedari dulu  membuatku terus bertanya-tanya. “Maksudmu apa?” wajah Ryuzaki dipenuhi kebingungan dengan pertanyaanku. “Saya  ingin berteman baik denganmu. Ingin memiliki hubungan yang baik dengan wanita sebaikmu. Apa tidak boleh?” tanya Ryuzaki balik padaku. Aku paham sekarang. Ryuzaki hanya memandangku sebagai teman wanitanya, tidak lebih, Mengapa aku bertanya hal-hal bodoh seperti ini, aku seharusnya tidak menanyakan hal ini dari awal. “Oh..” jawabku singkat, aku terlalu malu untuk mengatakan hal lainnya. “Jadi apakah kamu mau pergi bersama saya?” aku tak menduga Ryuzaki akan menanyakan hal itu lagi. Kupikir ia akan merasa tersinggung dengan pertanyaanku sebelumnya. “Oke, aku akan  minta ijin dulu dengan bibi.” jawabku. “Oke, saya juga akan  minta ijin dengan ibu Ayu ya.” Ryuzaki tersenyum kembali padaku dengan santainya. Sedangkan aku masih merasa canggung karena ulahku sendiri. Entah mengapa aku merasa pikiranku begitu bingung saat ini, ddisatu sisi aku ingin pergi dengannya namun disisi lain kau terlalu khawatir dengan perkataan kak Andi padaku. “Saya akan menjemputmu jam 4 ya.” itu jelas bukan kalimat tanya, namun kalimat pernyataan. Dia jelas sangat percaya diri hingga bisa memutuskan itu bahkan sebelum aku tahu akan diijinkan untuk pergi dengannya atau tidak oleh bibiku. “Jam 4? Oke.” balasku singakt. ***  Nir, belum siap-siap?” aku cukup terkejut mendengar suara bibiku dari arah halaman home stay. “Eh, bi…” aku yang tengah sibuk membantu bli Ade membersihkan kamar yang baru saja ditinggalkan tamu segera berlari menuju bibiku. Kulap tanganku dan menyalam tangan bibiku. Dia baru pulang mengajar, ia masih menggunakan pakaian mengajar bahkan ia belum membersihkan wajahnya. “Kok belum siap-siap?” tanya bibiku lagi. “Siap-siap kemana?” tanyaku bingung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. “Katanya jam 4 mau pergi sama Ryuzaki kan.” ujar bibiku sambil melihat penampilanku yang masih sangat berantakan. “Bibi tahu? Tahu darimana?” aku bahkan belum menanyakan hal itu pada bibiku karena belum dapat bertemu dengannya, namun ternyata bibi sudah mengetahuinya. “Tadi pagi Ryuzaki telpon bibi. Dia bilang mau ajak kamu pergi ke acara pembukaan hotel baru milik temannya. Hotel Grand apa itu namanya, lupa bibi, katanya tempatnya di Nusa Dua. ” jawab bibiku. Dia bahkan lebih tahu kemana aku akan pergi dibandingkan dengan diriku sendiri. “Aku baru tahu soal itu, bi.” balasku. “Ya ampun, lain kali kalau diajak orang pergi ya ditanya gitu, Nir. Mau pergi kemana, lokasinya dimana, sampai jam berapa. Begitu. Jangan asal mau aja, tapi gak tau tujuannya.” ucap bibiku tampak sedikit gemas padaku. “iya bi.” jawabku pelan. Aku harus mengingat hal ini, gara lain kali aku lebih banyak bertanya seperti nasehat bibi. “Sudah sana, siap-siap dulu, sudah mau jam 3 juga nih. Nanti pinjam bajunya Dewi yang bagusan, ini meungkinan acara besar jangan pakai kaos sama celana jeans ya.” tambah bibiku. Ia lalu berjalan menuju rumah meninggalkanku yang sedang memikirkan baju apa yang harus kupakai keacara formal seperti ini. Kalau tau aku akan diajak keacara seperti ini aku pasti menolaknya, acara ini mungkin tidak akan cocok untuk gadis sepertiku,. “Siap-siap Nir…” kudengar siara teriakan bibiku dari halaman rumah. Aku tak melihat wujudnya lagi, namun suaranya terdengar begitu keras. Ia pasti tahu kalau aku melamun disini. “Iya bi.” teriakku juga. Aku segera belari menemui bli Ade dan berkata akan selesai lebih cepat hari ini karena ada janji akan pergi, Kulirik jam didinding kamar sudah menunjukan pukul 3, aku benar-benar tidak menyedari waktu berjalan begitu cepat hari ini. *** “Kamu ikut aja sama aku yuk, Wi.” Dewi tampak sibuk memgaplikasikan cream pelembab kewajahku lalu mengoleskan alas bedak juga. Ini pertama kalinya aku memakai makeup setebal ini, rasanya sedikit tidak nyaman namun karena perkataan  bibiku, akhirnya aku meminta bantuan Dewi untuk merias wajahku untuk acara yang akan kudatangi nanti. “Gak ah, nanti aku malah ganggu kalian berdua lagi.” ucap Dewi. Dia tidak binyak bicara saat mulai meriasi wajahku, nampak benar-benar serius bak perias wajah profesional.  “Gak Wi, aku lebih nyaman kalau kamu bisa datang sama aku. Aku gak PD kalau datang ketempat baru sendirian, Wi. ” aku akan memasuki zona yang semakin jaun dari duniaku, aku butuh seseorang untuk membatuku, kurasa Dewilah orang paling tepat, ditambah lagi acara itu pasti dihadiri oleh banyak orang, jadi Dewi bisa memperluas pergaulannya karena dia memang orang yang sangat pintar bergaul juga. "Sendiri apanya, kamu kan pergi sama Ryuzaki, Mal." ucap Dewi dengan tatapan masih fokus kewajahku. “Aku nanti malam mau pergi juga, Mal. Jadi gak bisa ikut denganmu.” Dewi menambahkan ucapnnya. Ini pertama kalinya kulihat ia begitu bahagia saat mengatakan akan pergi keluar. “Mau pergi sama siapa, Wi?” tanyaku penasaran. “Sama teman, Mal.” “Teman apa teman…” aku mulai menggoda Dewi. Aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dengannya sejak beberapa hari ini.  Dewi jadi lebih terlihat gembira dan jadi lebih  sering menghabiskan waktunya dikamar sendirian saat aku dan yang lainnya sedang asik menonton diruang tengah. “Calon pacar, Mal.” Dewi melepas botol alas bedak yang tadi dia aplikasikanya kewajahku dengan tipis. Lalu menatap wajahnya sendiri didepan cermin. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan wajah gembiranya. Pasti pria itu adalah pria yang benar-benar sudah membuat Dewi jatuh cinta. Aku tak tahu rasa jatuh cinta itu seperti apa, tapi kata orang saat jatuh cinta perasaan jadi lebih gembira dari biasanya. “Cieeeee…. Nanti cerita ya, awas aja kalau gak cerita.” aku meniru ucapan dan gaya bicara Dewi yang selalu ia ucapankan padaku saat aku pergi bersama mas Tomo atau Ryuzaki.   “Iyam nanti aku certain semuanya, selengkap-lengkapnya.” ujar Dewi. Ia mengaplikasikan bedak tabur kewajahku. Lalu memakaianku eye shadow berwarna cokelat muda lalu memakaikan eye liner juga dan penebal bulu mata. Aku melihat bayanganku sekilas saat Dewi sudh selesai merias mataku. Mataku kini terlihat lebih besar dan lebih cantik dari sebelum-belumnya.  “Untuk lipstik, kalau pakai warna ini mau gak?” Dewi menunjukan lipstik berwarna merah milkinya padaku. “Aku terlihat menor nanti, Wi.”jawabku. Aku belum pernah memakai lipstik merah dan entah mengapa warna merah itu dikepalaku identik untuk mbak-mbak yang sudah dewasa, tidak cocok untuk gadis sepertiku. “Ya sudah, pakai warna ini saja.” Dewi memilihkan lipstik bewarna merah muda yang terlihat sedikit kemerahan. “Nah selesai. Cantik banget sih kamu, Mal.” Dewi menataku dan aku menatap bayanganku dicermin. Rasanya seperti melihat orang lain, aku tidak percaya aku bisa terlihat secantik ini. Kusentuh pipi kananku, aku begitu takjub dengan kemampuan Dewi dalam mendadani orang lain. “Wi, kamu harus buka salon kayanya. Aku bisa jadi cantik begini lo karenamu.” ucapku serius. Aku benar-benar kagum dengan ketrampilan sepupuku ini. “Ini karena dasarnya kamu sudah cantik, Mal. Jadi cukup pakai makeup sedikit saja sudah membuatmu tak kalah dari wanita-wanita cantik yang bersama Ryuzaki itu. Dewi membuka lemarinya lalu mengeluarkan gaun berwarna putih. Gaun itu panjangnya lebih sedikit dibawah lutut tanpa lengan, seperti kemben dengan hiasan seperti berlian dibagian dadanya. Semakin bawah gaun ini semakin mekar, seperti bunga. Namun tetap terlihat ringan walau ada lapisan-lapisan kainnya. Sangat indah.   “Kamu pakai ini ya.” ucap Dewi. “Ini terlalu bagus, Wi. Aku takut nanti rusak.” aju ini pasti mahal dan pasti sangat disukai Dewi, aku takut akan merusak baju sebagus itu. “Yang biasa aja, Wi.” tambahku. “Gak apa-apa yang ini saja, Mal. Aku sudah sering kok pakai ini, sekarang agak sempit dibagian pinggangnya, mungkin karena berat badanku naik, sejak itu aku gak pernah pakai lagi, sayang kalau cuma dipajang saja dilemariku.” Dewi meletakan gaunnya diatas ranjang didekatku. “Nah, nanti pakai ini, kalau kamu gak mau terlalu terbuka bagian bahnunya.” Dewi mengeluarkan selendang tipis berwarna senada dengan gaun itu. “Kamu cobalah. Ayo…” Dewi menarik tanganku agar aku bangkit berdiri. “Tapi, Wi.” aku masih tidak yakin hatus menggunakan gaun sebagus ini. “Mala, ini acara besar, aku yakin orang-orang disana pasti akan memakai baju yang bagus juga. Baju seperti ini pasti sangat terlihat wajar disana.” Dewi memelototiku. “Jadi, jangan nolak lagi dan pakailah baju ini.” Perintah Dewi dengan tegas. Aku akhirnya menuruti permintaan Dewi. Dengan pelan aku menggunakan gaun ini dan melirik ketiakku yang syukurnya sudah dibersihkan jadi tidak rambut-rambut yang akan terlihat mencolok saat kugunakan gaun ini. Kuberputar-putar sebentar dikamar mandi merasa begitu bahagia dengan gaun yang ternyata begitu pas dengan tubuhku ini. “Wi…” aku memasuki kamar dan menunjukan gaun yang kupakai pada Dewi. “Ya ampun, ini Mala? Sepupukukan? Kamu beda banget Mal. Jadi cantik banget gini.” Dewi memutariku dan terus memeriksa penampilanku. “Ini sudah perfect banget, Mal. Kamu mau pakai selendang ini?” tanya Dewi mengangkat selendang pasangan gaun ini, “Iya, aku pakai aja, gak nyaman rasanya kalau terlalu terbuka begini.” Aku menutup bagian dadaku yang sedikit terbuka menurutku. “Ya sudah, sini.” Dewi memasangkan selendang itu ketubuhku dan membuatku kini terlihat bak putri. "Leher kamu cantik, Mal. Sebenarnta tanpa selendang ini kamu sudah seperti putri-putri kayangan." “Kurang satu lagi. Sini.” Dewi kini membuka laci dimejanya dan mengeluarkan kotak berwarna merah yang kutahu itu adalah tempat dari koleksi anting-antingnya. Dewi mengeluarkan ating-anting menggantung dengan bentuk seperti tetesan embun berwarna perak. “Wi, ini pasti mahal.” aku menyentuh anting-anting yang begitu indah ini dan memperhatikan seperti ada berlian kecil dibagian tengah-tengahnya. “Ini imitasi kok, Mal. Aku beli di toko aksesoris. Tapi keren ya, gak keliatan kaya imitasi begitu.” jawab Dewi santai membantuku melepas giwang polos ditelingaku yang sudah kugunakan sejak SMP dan menggantinya dengan anting-anting pilihannya. “Sudah, jadi sudah mahakaryaku. Ryuzaki pasti langsung semakin suka sama kamu, Mal. Percaya sama aku. “ Dewi lalu berlari keluar dengan cepat. Ia benar-benar terlihat sangat sibuk sore ini, abhkan lebih sibuk dari aku yang akan pergi. Tak lama kemudian Dewi masuk dengan membawa sepatu flat berwarna putih yang memiliki hiasan manik-manik berkilau diujung sepatunya. Mmebuat sepatu ini terlihat begitu luar biasa. “Kamu pakai ini ya. Ini semua satu set, jadi pasti akan cocok banget sama penampilan kamu.” Dewi meletakan sepatu flat itu didepanku. Aku berdiri dan menggunakannya. Rasanya sedikit longgar, namun masih terlihat begitu manisnya dikakiku. "Apa gak berlebihan penampilanku ini, Wi?" jujur aku takut kalau hanya aku yang berdandan seheboh ini dan orang lain berdandan biasa saja. AKu tak ingin mejadi pusat perhatian orang lain, dan sangat tidak menyukai hal itu. "Gak Mal, aku yakin orang lain pasti banyak lebih heboh dari ini kok. Kan tadi Ibu sendiri juga bilang kamu disuruh dandan secantik mungkin karena mau ke acara besar." ujar Dewi sambil merapikan pakaianku. “Wi, terima kasih banyak.” ucapku. Aku benar-benar terharu, belum pernah ada orang yang melakukan hal seperti ini padaku. Kalau bukan karena bibi dan Dewi entah kapan aku bisa merasa menjadi gadis yang begitu cantik dan berharga seperti ini. “Sudah jangan sedikh gitu, Mal. Kamu harus senyum. Sia-sia dong usahaku kalau kamu sesih.” jawab Dewi. Ia membalas pelukanku. “Terima kasih Wi.” ucapku lagi. Aku berulang kali megedipkan mataku agar aku tidak menangis karena terharu dengan perlakuan Dewi padaku. “Tuh lihat, lima menit lagi jam 4, kamu tunggu di home stay gih. Ryuzaki pasti akan terpana banget sama penampilanmu kali ini.” Dewi melepas pelukanku lalu menatapku lagi. “Tunggu sebentar, Mal.” Dewi menyisir rambutku yang dibiarkan terurai ini. Dia menyelipkan salah satu sisi rambuku dibelakang telingaku dan membiarkan sisi lainnya menutupi telingaku. “Sudah, begini jauuuhhhh lebih cantik lagi, Mal.” Dewi menatap wajahku. “Dengar sepupuku yang cantik, jangan lagi berpikir kalau kamu tidak layak menggunakan sesuatu yang indah ya, kamu layak.” Dewi menepuk bahuku lalu memutarkan tubuhku hingga aku berjalan keluar kamar.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD