PART 31 - BEDA LEVEL

2011 Words
Tak pernah kubayangan hari seperti ini akan menghampiri hidupku, memberiku kesempatan untuk menjamah hal yang terasa bagai mimpi yang membuatku ingin terlelap lebih lama dan melupakan hidup ini sekejap saja. “Saya mungkin sudah mengatakan ini berulang kali, namun kamu benar-benar terlihat cantik malam ini.” ucap Ryuzaki. Ia menoleh melihatku lagi lalu kembali fokus pada kemudinya.Sudah berulang kali ia melakukan hal ini. “Terima kasih.” jawabku. Ucap Ryuzaki membuatku tak mampu menutupi senyum diwajahku. Kulirik Ryuzaki yang terlihat tak kalah menawannya malam ini. Jas biru tua yang ia gunakan senada dengan celana kain panjang yang ia gunakan. Rambutnya yang biasa terlihat alami, kini disisir begitu rapinya  membuatnya terlihat seperti seorang pengusaha muda dengan ketampanan wajah yang sempurna. “Jujur, sebenarnya tadi saya berpikir untuk membawamu ke salon seandainya dress code yang kau gunakan berbeda dengan yang seharusnya digunakan. Namun saat melihatmu, aku merasa hal itu tidak dibutuhkan.” aku paham maksud Ryuzaki. Penampilanku biasanya sangat sederhana hanya menggunakan kaos saja, ia juga pasti tidak ingin membawa wanita seperti itu bersamanya keacara-acara seperti ini. “Saya harap kamu tidak tersinggung, bukan maksud saya untuk menghina penampilanmu yang biasa, namun karena diacara ini akan banyak orang, saya tidak ingin ada yang memandangmu dengan buruk karena saya pasti akan sangat marah.” tambah Ryuzaki. “Tidak apa-apa, aku paham kok.” balasku. Kuperhatikan jalan-jaln yang kami lewati dari dalam mobil sedan hitam yang sedang kami naiki kini. Pepohonan kelapa mulai terlihat memenuhi nampak dipinggir jalan seakan menyambut kami memasuki wilayah Nusa Dua. “Sebentar lagi kita sampai ya.” ucap Ryuzaki. Mobil-mobil mewah terlihat mengantri tak jauh didepan kami, mereka tampak sedang berbaris menunggu giliran untuk memasuki sebuah tempat. “Tempatnya disana.” tunjuk Ryuzaki kearah antrian mobil-mobil. Kuperhatikan bangunan hotel bertungkat-tingkat yang terlihat begitu terang dengan lampu-lampu kuningnya yang menciptakan kesan mewah dan mahal sekaligus. Ini jelas bukan opening hotel biasa, red carpet terbuka lebar dari depan lobby hotel menuju tangga yang membawa tamu undangan menuju semakin dalam bagian hotel. Aku melihat begitu banyak orang-orang tak biasa yang datang. Mereka dipenuhi dengan segala sesuatu yang terlihat begitu mahal. Baju mereka, tas, sepatu, jam tangan, perhiasan, mereka terlihat jelas berbeda level denganku yang gadis biasa ini, antingku saja hanya anting imitasi dan semua yang kugunakan ini adalah hasil pinjaman. “Ayo turun.” Ryuzaki membangunkanku dari lamunanku akan pemandangan yang baru saja kulihat melalui dalam mobil saat melewati lobi hotel mewah ini. Ryuzaki keluar dari dalam mobil lebih dulu, kupikir ia akan meninggalkanku, namun ternyata tidak. Ia membukakan pintu mobilku dan mengulurkan tangannya padaku, menawarkan bantuan untukku. Aku menggapai tangannya dan turun berlahan dari dalam mobil. Aku merapikan rambut dan gaun yang kugunakan, memastikan bahwa penampilanku kini sudah cukup baik. Aku berharap tindakanku ini tidak hanya mampu membuatku terlihat lebih rapi namun juga  mampu membantu untuk mengurangi rasa gugup yang kini kurasakan. “Tak perlu gugup” Ryuzaki tersenyum kearahku. Apa wajahku terlihat sangat gugup? Hingga pria ini bisa menyadari itu semua dengan mudahnya?. Aku berbalik melihat pantulan wajahku pada kaca mobil. Bayangan gadis didepanku ini tampak begitu cantik namun dari raut wajahnya jelas terpancar kegelisahan. Kutarik nafasku dalam-dalam lalu kuhembuskan dari mulutku lalu kuulangi lagi beberapa kali, cara ini mungkin bisa menghilangkan kegugupanku. “Sini…” Ryuzaki tiba-tiba menarik tanganku. Jari-jemarinya yang hangat terasa begitu lembut menggenggam tanganku. “Saya ada disini bersamamu, tak ada yang perlu kamu takuti.” ucap Ryuzaki.  “Jangan lepaskan tangan ini kalau kamu terlalu gugup, oke?” “Iya…” aku bagai terhipotis oleh tatapan dan ucapannya yang begitu dalam dan menenangkanku. Aku tak menyangkan ucapan dari bibirnya bisa memberikan pengaruh luar biasa untukku. Kueratkan genggaman tanganku lalu mengikuti arahannya untuk menggenggam lengan pria itu hingga kami terlihat seperti pasangan yang sedang berjalan. "Sudah jangan berpikir aneh-aneh, Nirmala." kugoyangkan kepalaku mencoba menghapus pikiran-pikiran aneh diotakku ini. Kami berjalan dengan langkah irama yang sama menuju depan lobi. Begitu banyak wartawan yang sudah ada disana mengambil gambar seorang pria dan wanita yang sepertinya pernah kulihat disuatu tempat, namun aku tak dapat mengingatnya. “Dia pejabat pemerintahan disini.” bisik Ryuzaki padaku. Iya, aku baru ingat, aku pernah melihat pria itu di baliho di pinggir jalan.  Sampai detik ini aku masib merasa bahwa pria ini memang bisa membaca setiao isi hatiku. Ia menjawab pertanyaan yang kutakan pada diriku sendiri dan seakan bisa membaca semua isi pikiran yang tak kukatakan.  “Sebentar.” aku melepaskan genggaman tanganku pada lengan Ryuzaki lalu berjalan kearah depannya, dengan sedikit berjinjit aku berusaha membenarkan kerah kemeja putihnya tak dihiasi oleh dasi. “Sudah.” ucapku lalu menggenggam lengannya lagi. Ryuzaki menatapku, ia mungkin tidak menduga aku akan melakukan hal ini padanya. Aku hanya tidak tahan melihat kemejanya berantakan, mengurangi poin dari penampilannya yang sudah sangat sempurna ini. “Kamu manis sekali.” ucap Ryuzaki. Kulihat wajahnya kini senyum diwajahnya mengembang kembali, tampak begitu berkilau. Aku yakin akan banyak wanita-wanita yang akan tertarik padanya malam. Kamipun melewati lobi hotel ini, melewati beberapa tamu yang memiliki penampilan yang sangat luar biasa bak selebriti dan pejabat. Aku juga melihat beberapa wanita melirik kearah Ryuzaki. Kuperhatikan apa yang dilakukan Ryuzaki saat menyadari dirinya menjadi sumber peratian beberapa wanita,  ternyata pria ini tampak cuek saja dengan wanita-wanita itu. “Aku sudah bersama dengan wanita yang sangat cantik, aku tak membutuhkan wanita lain.” Ryuzaki menghentikan langkahnya lalu tiba-tiba membisikan kata-kata itu padaku. Aku menatapnya terpanan, pria ini sangat terlatih membuat wanita menjadi terpaku dengan ucapannya. Ryuzaki mengeratkan genggaman tanganku padanya, lalu berjalan kembali hingga kami sampai disebuah aula outdoor yang berada didekat kolam renang. Para tamu sudah berkumpul disana menghadap sebuah panggung yang sudah dihiasi begitu megahnya. “Kita duduk disini.” Ryuzaki memintaku untuk duduk didsebuah bangku bundar yang berisikan mawar putih sebagai hiasannya serta 4 botol air mineral dan juga gelas kristal serta lap kain. Dimeja ini bahkan sudah diberikan nama Ryuzaki Kikuchi diatas menjadi penanda bahwa disinilah Ryuzaki akan duduk. “Aku tidak apa-apa duduk disini?” tanyaku. Aku tak melihat namaku, aku takut kursi yang kududuki ini adalah milik ornag lain. “Tak apa, ini adalah tempat untukmu.” jawab Ryuzaki. Dengan cekatan ia mengeluarkan kursi dimeja itu. “Duduklah.” ucapnya lagi mempersilahkanku duduk. “Baiklah.” aku memperhatikan sekelilingku, tamu-tamu lain tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Segera kududuk dengan cepat. Ryuzaki tersenyum saat melihatku sudah duduk disebelahnya. Meja-meja lainnya terlihat sudah dipenuhi oleh para tamu, namun mejaku dan Ryuzaki hanya diisi oleh kami berdua, masih tersisi dua kursi lagi. Entah kemana tamu lainnya. Suara riuh tepuk tangan menggema begitu meriahnya saat seorang pria yang berpenampilan begitu rapi maju keatas panggung, saat itu juga para wartawan serentak mengambil foto pria itu. Dia jelas bukan orang biasa melihat reaksi orang terhadapnya. Pria berjas hitam yang terlihat sudah cukup tua itu lalu memberikan sambutan yang cukup panjang yang intinya adalah mengenai harapannya mengenai pariwisata di Bali termasuk perkembangan hotel ini kedepannya dan diakhiri dengan ucapan terima kasih. Kukira dia adalah orang terakhir yang memberi smabutan, namun ternyata ada seorang wanita dan pria yang terlihat tak muda guga maju bersama keatas panggung. Riuhnya tepuk tangan dan kilatan kamera wartawan semakin menggila saat ini. Terutama saat wanita bergaun hitam itu memberikan sambutannya. Kuperkirakan usia wanita itu sepelantaran usia bibi dan ibuku, wajahnya sangat cantik seperti ada campuran darah Eropa atau Amerika atau mungkin juga Australia, yang pasti da bukan asli berdarah Indonesia. Pria Indonesia yang bersamanya juga memberikan pidato dan pria Indonesia itulah yang secara resmi menyatakan bahwa hotel ini telah dibuka. Suara tepuk tangan kembali bergemuruh, beberapa tamu undangan bahkan bangkit berdiri menyambut ucapan pria itu. Tiba waktu bagi para tamu untuk menikmati santapan yang telah disediakan. Aku terus menempel pada Ryuzaki.  Mengikutinya mengambil makanan dan minuman, lalu kembali kemeja. “Saya akan ke toilet ya, kamu tunggu disini.” ucap Ryuzaki, lalu meninggalkan seorang diri di meja yang sudah dihiasi dengan makanan ini. “Oh my God! It’s you.” kudengar suara wanita dari sebelahku. Kupikir ia sedang tidak berbicara denganku, namun saat kulihat caranya memandangku, itu jelas sedang melihatku saat ini. Aku mengingat wanita ini, sangat mengingatnya. “Aku kira Ryuzaki datang dengan siapa, tenyata denganmu?” Cynthia terlihat begitu cantik sekaligus seksi dengan gaun hitam ketat pendek yang ia gunakan. Rambutnya disanggul dan sedikit dibiarkan berjuntai. Lehernya yang jenjang dan langsung membuatnya terlihat sangat menawan, ditambah lagi dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam yang membuat kaki langsingnya telihat semakin jenjang. Aku jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wanita secantik dia. “Hai mbak Cynthia.” aku mencoba sesopan mungkin menyapa wanita yang kini duduk disebelah bangkuku ini. “Hai juga. Maaf aku lupa namamu. Tapi sebentar aku ingat-ingat ya. Namamu agar norak gitu kan. Tunggu.” aku menahan diriku agar tidak tersinggung mendengar ucapannya mengenai namaku. “Mawar bukan sih?” tanyanya lagi sambil menegak minuman yang ia bawa. “Mala mbak, bukan Mawar.”jawabku. “Oh iya, Mala.” suara mbak Cynthia sebenarnya terdengar manis, namun dari nada suaranya aku merasa bahwa ia tidak menyukaiku. “Kamu oke juga ya setelah didandani. Walau tetap aja keliatan kampungannya.” mbak Cynthia mengucapkan kalimatnya itu tampa berpikir bahwa ucapannya itu sangat tidka sopan dan bisa melukai orang yang mendnegarnya. “Maaf mbak, aku mungkin keliatan kampungan, tapi aku masih bisa bersikap lebih sopan daripada orang yang kelihatannya modern.” ucapku dengan tegas. Mbak Cynthia berdiri dari mejanya lalu mendekati wajahku dan membisikan kata-kata yang terasa begitu menyakitkan saat kudengar. “Dengar ya, jangan kamu pikir karena Ryuzaki bersamamu kamu merasa menang. Kamu itu jelas beda level dengan kami. Kamu itu hanya dijadikan mainannya saja. Sebentar lagi juga akan dibuang karena sudah tidak berguna lagi.” Setelah membisikan kata-kata itu, ia berdiri didepanku lalu tersenyum dengan angkuhnya. “Kamu sendiriankan disini? Aku akan temani ya.” nada suaranya kini terdengar sangat berbeda seperti sebelumnya. Sangat manis dan begitu ramah. Bagaimana mungkin ia bisa merubah sikapnya hanya dalam hitunagan detik. “Hai Ryuzaki.” Mbak Cynthia tiba-tiba menyapa Ryuzaki yang kupikir masih beraa di toilet. Ia ternyata sudah berada dibelakang dibangkuku, entah sejak kapan ia ada disana, aku tak memperhatikannya. “Hai Cynthia.” balas Ryuzaki. “Aku tadi melihat Mala sendirian, jadi kuputuskan untul menemaninya.” ucap mbak Cynthia dengan manisnya. Aku tak membalas ucapannya dan hanya memadang wajahnya dengan tatapan penuh heran. “Terima kasih.” ujar Ryuzaki tampak sedikit acuh tak acuh pada mbak Cynthia. “Kamu tak mengambil makanan? Tiram panggang ini sangat enak, kamu harus mencobanya.” Ryuzaki mengangkat piring kecil yang berisi 3 buah tiram panggang. “Aku lagi diet, aku akan makan buah saja. Kau tahu kan aku harus menjaga tubuhku agar tetap terlihat indah saat kau ingin mengahabiskan malam denganku.” Mbak Cynthia tertawa setelah mengucapkan kalimatnya seakan itu hanya bercandaan saja. “Hahaha, Mala makanlah, atau kamu mau coba yang lain?” Ryuzaki hanya tertawa sebentar mendnegar ucapan mbak Cynthia lalu memperhatikanku dan piringku yang sudah nyaris kosong. “Aku ingin mencoba daging panggang disana. Aku akan mengambilnya.” aku bangkit berdiri, ingin rasanya aku segera menghindar dari mbak Cynthia. “Saya temani ya.” tawar Ryuzaki. “Tak usah, aku bisa sendiri kok. Tidak apa-apa.”aku tak ingin mengganggu Ryuzaki dan mbak Cynthia, kubiarkan saja mereka memiliki waktu berdua dan aku akan memanfaatkan waktuku disini dengan menikmati makanan-makanan mahal yang tak tahu kapan aku bisa nikmatinya secara gratis seperti saat ini. “Baiklah.” ucap Ryuzaki, lalu duduk kembali dibangkunya. Ada perasaan sedikit kecewa sebenarnya yang kurasakan saat Ryuzaki menuruti mauku. Entah ada apa dengan hati dan pikiranku ini. Akhir-akhir ini dia tidak bisa bekerja sama degan baik. Meja bagian dagng panggang berada cukup jauh dari tempat Ryuzaki dan mbak Cynthia duduk, namun masih dapat kupantau. Aku menatap seorang chef yang terlihat masih muda sibuk memanggang dagingnya diatas alat pemanggang. “Mau dimasak sampai matang, medium atau?” tanya chef itu padaku. Aku tidak memahami maksudnya apa, aku hanya ingin makan daging bukannya menjawab pertanyaan yang tak kumengerti artinya itu. “Yang matang, benar-benar matang.” jawabku cepat. Sambil menunggu dagingku, aku menoleh kearah Ryuzaki dan mbak Cynthia untuk melihat seberapa asik mereka berdua sedang berbicara. Mungkin saat ini mereka sedang tertawa dan sedang merencanakan waktu untuk bertemu, atau apalah. Entahlah, aku tak bisa menebak-nebaknya. Aku terkejut ternyata hanya ada Ryuzaki saja dimeja, tidak ada mbak Cynthia. Aku merasa baru sebentar saja aku meninggalkan meja itu, tidka sampai lima menit bahkan, namun mbak Cynthia sudah menghilang, tak kulihat lagi dirinya. “Mungkin dia sedang ke toilet.” pikirku. Saat dagingku sudah siap, bahkan ketika kukemali kemejaku dengan daging panggang dan sepiring kecil kue-kue penutup mulut, mbak Cynthia ternyata tidak kembali juga kemeja ini. Ryuzaki kini malah sedang asik berbicara dengan seorang pria dimeja kami. Pria itu masih muda, mungkin seusia dengan Ryuzaki, ia memakai setelan jas berwarna abu-abu. Mereka tampak begitu akrab. “Ah jadi ini pacarmu?” tanya teman Ryuzaki itu saat aku baru akan duduk dikursiku dan menyapanya dengan senyumanku. “Buk…” belum selesai kumenjawab, Ryuzaki sudah menjawab lebih dulu pertanyaanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD