Tekan love bisa?
Happy reading...
****
Sepulang sekolah, dengan pakaian yang masih lengkap, Alter memutar balikkan mobil nya untuk menuju gedung yang sudah lama kosong yang berada dipinggir jalan dekat sekolah. Ia sudah berencana untuk menemui Seto, ketua genk Eater. Setelah memarkirkan kendaraan beroda empat itu, Alter mengambil jaket kulit bewarna hitam untuk dipakai nya. Lalu berjalan dengan tubuh tegap memasuki gedung.
Tangan Alter mengibas-ngibas debu yang menyerang Hidung nya. Gedung ini sudah sangat lama ditinggalkan, jadi keadaan sudah mulai lapuk. Sesampai di tengah-tengah gedung, Alter dapat melihat jelas seseorang yang sedang menghisap rokok masih mengenai baju seragam.
Orang itu merupakan Seto, melihat Alter yang berjalan mendekat kearahnya, Seto berdiri untuk menyambut pria itu. Ia mematikan rokok dengan menekan nya pada kursi. " Bro, apa kabar. " tanya Seto basa-basi.
Alter tidak menghiraukan Seto, ia lebih memilih melihat teman-teman Seto yang sibuk bermain judi dibelakang nya. Menyadari ke-mana arah tatapan Alter, Seto tersenyum remeh lalu menegur mereka. " Hentikan, sambut sang pemberani kita! " teriak Seto membuat kelima laki-laki yang Asik bermain judi itu tersentak, lalu berdiri meninggalkan permainan yang sedang berlangsung.
" Nah udah kan? Mereka sudah menyambut lo Al. " timpal Seto.
Alter merapikan jaket nya, lalu berdehem. " gue ngga butuh sambutan karena gue ngga akan pernah gabung sama genk ini. " Alter mengetahui bagaimana maksud Seto. Seto selalu menyuruh nya untuk bergabung bersama eater walaupun pria itu tau maksud dan tujuan Alter untuk apa kesini.
Seto tertawa, lalu memerintah kan Arel disampingnya untuk memberikan kursi pada Alter. Arel mengangguk lalu menaruh kursi itu didekat Alter. " duduk dulu Al. "
Alter mengangguk. " makasih Ar. "
" Jadi lo mau kesini buat ngalangin gue lagi? " tanya Seto to the point. Ia tidak ingin rencananya dikacaukan begitu saja oleh Alter karena ia sudah susah-susah berpikir bagaimana caranya agar memenangi tawuran ini.
" Bukan ngalangin, tapi mencegah lo. "
" Sama aja g****k. " ujar Devian teman satu kelas Alter. Devian memang rival sekali dengan Alter entah apa penyebab nya.
" Lo santai dikit bisa? Gue kesini bukan cari ribut. "
Devian hendak menyolot jika saja Seto tidak mencegah nya. " Gue bilangin sama lo. Gue ngga akan batalin tawuran ini Al. "
" an*jng! Lo mikir pakai otak ga sih!! Kalo lo tawuran imbas nya kena kesekolah bodoh! Sekolah kita bakal tercemar nama baiknya. Gue capek selalu cegah lo pakai cara kasar, tapi gue berharap kali ini lo ngerti Set. "jelas alter panjang lebar. Ia tidak ingin disaat tahun-tahun terakhir ia bersekolah, nama sekolah nya menjadi buruk.
" Lo gausah ngumpat Al!! " protes zikri. Zikri ini orang yang lumayan baik di antara genk eater. Walaupun perawakan nya tegas, Zikri memiliki hati yang lembut.
" Tau ni sans aja. " kompor Lendra. Alter benar-benar terpojok saat ini, ia hanya seorang diri sedangkan Seto bersama kelima teman nya. Biasanya Alter selalu membawa Laksa dan Gavin walaupun mereka menunggu diluar.
" yaudah gini aja. Kita buat perjanjian, lo sama temen-temen lo serang gue. Kalo gue kalah, lo boleh tawuran. "
" UdaH pasti lo kalah man! " jawab Seto. " mending pikir Baik-baik, soalnya tangan gue udah gatal mo ninju rahang lo yang mulus itu. "
Alter menggeram, ia berjalan mendekat kearah Seto lalu menarik Kerah baju Seto, dalam sekali hantam, tubuh Seto meluruh jatuh kelantai. Sontak kelima sahabat nya membantu Seto untuk menyerang Alter. Kini mereka saling meninju satu sama lain. Alter sedikit kesulitan menyeimbangkan serangan nya karena begitu banyak pukulan yang di berikan oleh teman-teman Seto. Sehingga, ada beberapa pukulan yang mendarat di rahang Alter membuat hidung nya mengeluarkan sedikit darah. "s**t! "
Alter memukul mereka membabi buta, tidak mamandang sebagai teman satu sekolah nya. Saat sudah merasa kewalahan, teman-teman Alter tumbang dengan Wajah yang babak belur begitupun Alter. Alter sudah banyak mengeluar kan darah dihidung, nafasnya tersengal lalu ia tersenyum kecut." Gue menang. "
" B@ngsat!"
****
Setelah menelfon Tamara, Agata kembali mendekat pada Elzata yang tampak memainkan ponsel di sofa. Agata melirik-lirik arloji ditangan nya, ia sangat menanti kedatangan Tamara sebelum Eliza tidur kembali bersama sisi gelap anak nya. Sampai bunyi bel rumah berbunyi, mengalihkan pandangan Elzata yang Fokus ke ponsel.
" bunda ada tamu? " tanya Elzata.
Agata mengangguk, ia berjalan membuka pintu. Ada Tamara dengan pakaian kasualnya sambik membawa beberapa keperluan. Agata mempersilahkan Tamara masuk, bertepatan dengan mata Elzata yang jengah melihat siapa yang berkunjung. Saat Agata dan Tamara sudah duduk ,Elzata melirik Agata malas.
" Bunda manggil aunty Tamara lagi? "
Agata bingung menjawab apa, seperti nya Elzata sudah normal kembali. Agata tergagu menyadari betapa bingung nya sahabat nya itu, Tamara beralih duduk menjadi bersebelahan dengan Elzata sontak mendapatkan tatapan tidak setuju dari gadis itu.
" Kenapa aunt? Mau meriksa aku gila atau tidak? " tanya Elzata sinis.
" Bukan gitu El. Aunty cuma ngecek ke sehatan kamu. Apa sudah bagus pokok kamu."
" aunty kira Aku gatau apa itu psikologis, psikis? Terus aunty kerja nya psikiater? Aku tidak mengalami kelatar belakangan mental aunt." jelas Elzata panjang lebar. Ia sudah merasa jengah mendapati Tamara yang selalu Dibawa bundanya untuk mengecek keadaan nya.
" Kali ini Ikuti instrupsi aunty dulu. Silahkan berbaring. " jawab Tamara.
Elzata hanya mengikuti dengan malas. Ia membaringkan posisi nya diatas sofa. Lalu Tamara menyuruh nya untuk merilekskan pikiran dan juga badan nya. Saat Elzata sudah benar-benar masuk kedalam mimpi. Tamara mulai mengambil Fokus untuk bertanya-tanya.
" Gimana perasaan kamu saat ini?"
" Baik. " jawab Elzata dengan mata yang tertutup.
" Aku mau nanya, kamu tinggal jawab dengan jujur, oke? "
Elzata mengangguk. " Beberapa tahun yang lalu, kamu mengalami hal yang buruk? "
Rasanya seperti diawang-awang, Elzata meringis memegang kepalanya merasakan betapa pusing nya dirinya saat ini, sehingga tanpa aba-aba ia tersentak dan kembali sadar. Agata yang melihat bagaimana kesakitan nya Elzata, menangis melihat itu. Ia merasa menjadi ibu terburuk didunia ini.
****
Maaf atas kegajean cerita aku ya. Maklum bukan penulis handal yang bisa membuat kalian tertarik atas cerita ini. Jika kalian tidak suka kalian boleh meninggal kan cerita ini tanpa membaca Lagi cerita aku.
Nama tempat, kejadian hanya fiksi belaka jadi apalagi ada kesamaan nama tokoh dan keganjilan jalan cerita hanya kebetulan semata. Semoga kalian bijak membaca ta.
Pantau terus cerita aku, Jangan sampai ketinggalan, maaf sedikit update nya lama Karna jadwal daring ku yang begitu padat.