Setelah mengetahui jumlah hutang yang dimiliki oleh kedua orangtuanya ternyata sangat banyak, yang dimana akhirnya semua aset milik kedua orangtuanya ditarik oleh para penagih dan sebagiannya disita oleh petugas bank.
Selina juga baru mengetahui, bahwasannya biaya pendidikan dan kebutuhannya selama berkuliah di Thailand tidaklah murah, sehingga tercatat bahwa almarhum papanya menjual sebuah aset hanya untuk memenuhi biaya kuliahnya selama di Thailand, jika ditotal bisa sampai 1,2 juta baht yang hampir menyentuh 600 juta.
Sungguh, Selina begitu menyesal sudah membuang waktu masa mudanya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, sehingga saat dirinya sudah tidak ada petunjuk arah kehidupannya, akhirnya ia terjebak pada kebingungan, rasa duka dan rasa sakit yang bercampur begitu saja di dalam hati dan pikirannya.
Selina mengabaikan semua saran dari Hania dikarenakan dirinya yang begitu dimanjakan oleh Gunawan, seharusnya dikala dirinya merasa dimanjakan, dirinya juga harus bisa menempatkan pada porsi masing-masing pada keputusan yang seharusnya dirinya ambil tanpa menunggu persetujuan dari orang lain, dirinya banyak bergantung pada orang lain sehingga menjadikannya sebagai anak yang manja.
Kali ini, Selina selesai membereskan rumahnya, dan besok ia sudah diwajibkan untuk meninggalkan rumahnya, seluruh barang-barang yang tidak ikut tersita rata-rata dijual oleh Selina untuk membayar cicilan hutang lainnya.
Suasana rumah berubah, dari sebelumnya sangat ramai dengan seluruh benda, namun sebagian sudah kosong, Selina sekarang hanya bisa tidur di atas karpet yang beralaskan dengan selimut tipis serta boneka lamanya yang diberikan oleh Hania saat berumur 13 tahun.
Selina melihat ke langit-langit ruangan yang tengah ia tempati, sunyi, sepi dan dingin, ia tidak menemukan kehangatan seperti sebelumnya, dirinya lagi-lagi meneteskan air matanya.
"Kalau dulu, mama sama papa bakal marah kalau aku tiduran di karpet tebal di kamar, tapi sekarang. "
Selina mengusap air matanya, ia terisak, dan menangis.
"Kangen sama mereka berdua, kenapa sih mereka pergi secepat ini? Apa Tuhan tahu, kalau mereka itu dipilih untuk pulang lebih cepat, daripada harus ngehadapin anak nggak tau diri kayak aku? " lirih Selina.
Selina menangis, suara tangisannya menggema diseluruh ruangan, ia menangis hingga tertidur lelap dengan memeluk foto lama kedua orangtuanya.
---
Keesokan harinya, dengan bantuan Olivia, Selina memberikan kunci rumahnya dengan pihak bank, kemudian rumahnya dipasang oleh tanda bahwa rumah tersebut disita, hanya sekarang Selina bisa memandangi, istananya itu sudah dilepas di tangan lain karena kehilangan sang raja, yaitu papanya, Gunawan.
"Nona Selina, apakah nona sudah menemukan tempat tinggal sementara untuk sekarang? Jika belum, nona boleh tinggal di tempat saya. " tawar Olivia.
"Nggak usah bu Oliv, kebetulan nanti tante saya yang jemputin saya. Saya banyak-banyak terimakasih, karena bu Oliv sudah membantu saya sampai saat ini. " ucap Selina.
"Kalau begitu, saya pulang duluan ya, nona. " ucap Olivia.
Selina menganggukkan kepalanya, ia mengizinkan Olivia untuk pulang, sedangkan ia berpamitan lagi dengan rumahnya itu.
"Rumah, makasih ya sudah membuat sejarah yang indah selama hampir belasan tahun, yang pastinya, saat papa dan mama masih hidup. Memang singkat sekali pertemuan kita kali ini, tapi tidak apa, terimakasih sudah menjadi istana untuk mama dan papa dulu, aku tahu, mereka pasti kecewa ketika harus tahu kamu disita. " ucap Selina.
Selina mendorong kopernya, dan tak lama seseorang datang ke rumahnya, itu merupakan pemilik percetakan foto langganan keluarganya.
"Nona Selina mau kemana? "
"Saya mau pergi, ini bukan rumah saya lagi, lihatlah. " jawab Selina.
"Oh begitu. Saya baru saja mau ngasih foto titipan dari almarhumah mamanya nona. "
Selina menerima beberapa foto yang sudah dipasangkan sebuah bingkai, semua foto yang diterimanya merupakan foto dari hasil berpotret bersama di setiap destinasi wisata yang dikunjunginya di Bangkok bersama dengan kedua orangtuanya.
"Saya turut berduka cita atas kepergian pak Gunawan dan bu Hania, selaku langganan mereka, saya kasih gratis saja semuanya ini, anggap saja ucapan terimakasih saya kepada kedua almarhum dan almarhumah, sudah hampir sepuluh tahu berlangganan terus dengan saya. " ucap pemilik percetakan foto tersebut.
Saat ditelaah lagi, betapa menyedihkannya di balik semua foto tersebut, ternyata di beberapa foto yang sebelumnya hanya ada Gunawan dan Hania saja, namun tampak diedit dengan Selina yang berada di tengah kedua orangtuanya itu, alhasil Selina ingin meneteskan air matanya.
"Kenapa nona? Editannya nggak bagus ya? " tanya pemilik cetak foto.
"Ini mama saya yang minta dieditkan seperti ini, kak Dani? " tanya Selina.
Pemilik percetakan foto, Dani, ia menganggukkan kepalanya, dengan tatapannya yang sendu menjelaskan kepada Selina tentang bagaimana foto tersebut akhirnya bisa diedit seperti itu.
"Iya nona, beliau bilang, dia mau dieditkan untuk nona juga ada di tengah-tengah mereka saat bagian foto di museum dan kuil, katanya nggak bagus kalau cuma satu foto yang ada nonanya, tapi yang lainnya nggak ada. " jelas Dani.
Selina merasa ada yang kurang, ia mencari di dalam kardus tersebut, dan merasa bahwa foto yang tidak ada, yaitu fotonya dengan kedua orangtuanya saat berada di Siam Ocean World, dan itu merupakan foto yang benar-benar asli, dengan formasi yang lengkap dan tidak ada editan seperti sebelumnya.
"Mana foto satunya lagi, kak? " tanya Selina.
"Foto yang mana, nona? " tanya Dani.
"Ada yang satunya itu yang membelakangi aquarium raksasa, nah, itu yang asli. " jawab Selina.
Dani merasa ragu, ia kembali mencari file foto tersebut di galerinya, maupun pesan via chat yang dikirimkan oleh Hania, sayangnya, ternyata ada salah satu foto yang tersisa, yaitu foto yang dimaksud oleh Selina tidak dapat dibuka, entah karena apa.
"Nona, file fotonya nggak bisa dibuka. " ucap Dani.
Selina terbelalak.
"Kak, jangan bercanda, itu fotonya nggak ada lagi di ponsel saya. " ucap Selina.
"Duh, saya nggak tahu nona, soalnya saya baru tahu kalau bu Hania juga mengirimkan foto yang terakhir kepada saya, tapi filenya tidak bisa dibuka. " jelas Dani.
Selina tidak bisa menyalahkan apa yang sudah terjadi, dirinya merasa bahwa tidak adanya foto itu juga sebuah pembelajaran baginya, jalannya untuk melakukan semuanya tidak bisa selancar saat dirinya masih memiliki kedua orangtuanya.
"Nggak papa kak, mungkin cuma ini kenangan yang bisa saya punyai, ini sudah lebih dari cukup kok. " ucap Selina.
"Nona, hati-hati dijalan ya, saya nanti bakalan usahain buat bisa buka lagi file ini. Nanti saya gratiskan lagi, anggap saja sebagai ucapan maaf saya sama nona. " ucap Dani.
"Nggak usah, nanti nggak dapat untung karena digratiskan semua. " ucap Selina.
Selina pamit untuk pergi, sebelumnya, ia akan pergi sendiri ke rumah tantenya itu, karena alasan dirinya akan dijemput itu agar tidak merepotkan notaris keluarganya, dan juga ia ingin pergi ke pemakaman umum, tepatnya ia ingin pamit terlebih dahulu dengan kuburan kedua orangtuanya.
Selina mencari transportasi untuk ia naiki, tak lama, taksi berhenti di depan rumahnya, ia dibantu dengan supir taksi untuk mengangkat barang-barangnya ke dalam bagasi mobil tersebut.
Selina masuk ke kursi penumpang, saatnya ia harus berpisah dengan rumahnya itu, dan juga ia berpamitan dari jauh setelah mobil taksi tersebut pergi dari lingkungan rumahnya.
"Pak, bisa tunggu dulu disini ya? "
"Iya mbak, silahkan. "
Selina meminta supir taksinya untuk berhenti sejenak, karena dirinya ingin mengunjungi pemakaman tersebut untuk berpamitan dengan kuburan kedua orangtuanya.
Saat tiba di kuburan yang dituju, terlihat bahwa tanah kuburan tersebut masih basah, baru beberapa hari akhirnya ia juga berpisah dengan kedua orangtuanya, dan juga bertepatan dengan dirinya yang pergi dari rumah.
"Assalamualaikum, papa, mama. "
Selina berjongkok, ia menyingkirkan bunga-bunga lama, dan memasukkan bunga-bunga lama tersebut ke dalam plastik yang sudah ia siapkan, dan ia ganti dengan bunga yang baru.
Selesai berdoa dan menaburkan bunga, Selina mengusap foto kedua orangtuanya yang sedikit kotor, kemudian meletakkannya kembali di atas kuburan tersebut, ia memegang papan kuburan tersebut.
"Mama, papa, Ina minta maaf banget sama kalian, Ina harus membayar semua tanggungan kalian dengan apa yang sudah kalian dapatkan di masa lalu. Ina tau, papa pasti kecewa, karena Ina memang nggak ada yang bisa dijadikan jaminan untuk bisa membantu menyelamatkan aset kalian yang disita, karena Ina sendiri saja anak manja yang nggak tau diri. Apalagi mama, mama juga pasti nggak suka dengan Ina, Ina anaknya gak bisa diandelin sedikitpun, sampai apa yang kalian punya harus dijual semua. Sekali lagi, Ina minta maaf sama kalian ya. "
Selina menaburkan lagi bunga ke kuburan Gunawan dan Hania, kemudian ia mengusap foto kedua orangtuanya dan berdiri, ia pamit untuk segera pergi menuju ke rumah tantenya.
.................................................