Keesokan harinya, Selina terbangun, dirinya yang ternyata tengah ketiduran di kasur kedua orang tuanya, ia yang belum tersadar dari tidurnya masih mengingat dan memanggil papa serta mamanya.
"Pah, mah... "
Saat melihat koper yang ada di sampingnya, Selina baru teringat, baru kemarin kedua orangtuanya dikuburkan di peristirahatan terakhir, alhasil Selina terbangun dengan keadaan matanya yang sembab.
Selina termenung, dirinya masih belum percaya dan belum ikhlas atas kepergian kedua orang tuanya yang terlalu cepat meninggalkan dirinya sendiri, ia hidup sebatang kara sekarang, ia masih berharap apa yang terjadi sekarang adalah mimpi semata, dan terbangun dengan kedua orang tuanya yang masih ada di dekatnya.
"Aku nggak percaya, kalau mama dan papa bisa pergi begitu saja. "
Selina mengusap air matanya, pintu kamar kedua orang tuanya terbuka, tak lama pembantunya masuk ke dalam kamar tersebut.
"Nona Ina, waktunya sarapan. " ucap pembantunya, bibi Jumah.
Selina menatap pembantunya, kemudian kembali merenung, bibi Jumah mendekat dan mengelus pundak nonanya itu.
"Nona, jangan terus menyiksa diri nona Ina setelah kepergian papa dan mama nona Ina. Hidup terus berjalan, nona jangan melakukan hal seperti ini karena meratapi kepergian mereka berdua. " ucap bibi Jumah.
Selina memeluk suvenir, ia menatap kosong ke arah depan.
"Kenapa Ina nggak ikut juga sama mereka, seenggaknya, Ina nggak merasakan rasa sakit seperti ini untuk seumur hidup. " ucap Selina.
"Nona, kehidupan dan kematian merupakan takdir. Bibi mendengar kondisi nona Ina sendiri saat berada di lokasi kecelakaan itu sangat mengerikan, namun nona Ina bisa melewati masa kritis sampai sekarang nona sudah membaik dari sebelumnya. Ini takdir nona, karena nona yang belum saatnya ikut dengan papa dan mama nona Ina. " ucap bibi Jumah.
"Takdir, Ina benci sekali mendengarnya. "
Selina kembali meneteskan air matanya, sedangkan bibi Jumah mencari cara agar anak majikannya itu tidak terus meratapi kepergian kedua almarhum majikannya.
"Nona Ina, jika nona terus begini, almarhum papa dan mama nona Ina akan sedih saat melihat nona yang ingin menyakiti diri nona sendiri. Bibi yakin, papa dan mama nona tidak akan meninggalkan nona, sampai apa yang sudah dicapai dengan keinginan mereka, walaupun wujudnya tidak ada, namun jiwanya terus ada di hati nona Ina sendiri. Nona harus terus bangkit, nona bisa menjadi diri nona sendiri, itu yang pastinya diinginkan oleh kedua orangtua nona Ina. "
Bibi Jumah memberikan kata-kata yang bisa menyemangati Selina, Selina terlihat mendengarkannya, walaupun terlihat bahwa tatapan nonanya itu kosong dan hampa karena masih meratapi sebuah kehilangan.
"Ina belum yakin dengan semua itu, bi. " jawab Selina.
Bibi Jumah menganggukkan kepalanya.
"Bi, nanti Ina ambil makan sendiri saja, bibi boleh lanjutkan saja untuk beres-beres di dapur. " ucap Selina.
"Baik nona, nanti kalau makan, langsung ke meja makan saja. " ucap bibi Jumah.
Selina menganggukkan kepalanya, bibi Jumah bangkit dari ranjang tempat tidur dan menutup pintu kamar tersebut, Selina masih merenung dan menatap lagi ke arah koper yang beberapanya belum dibuka.
Kali ini, Selina ingin mengambil sesuatu yang ia butuhkan sekarang, terdapat sebuah kantong yang sudah dipisahkan, itu berisi pakaian kotor yang belum sempat dicuci, dan di dalamnya terdapat kedua kaos yang terakhir digunakan Gunawan dan Hania, tepatnya saat mereka mengenakannya ketika berkunjung di Siam Ocean World, itu merupakan baju yang pastinya masih melekat aroma tubuh kedua orangtuanya.
Selina mengambil kedua baju tersebut, ia mendekatkannya ke hidung, tercium aroma parfum dan sedikit aroma khas dari tubuh papa dan mamanya.
"Kaos kalian, masih ada wangi tubuh kalian. "
Selina memeluk kedua baju tersebut, tak lama air matanya menetes lagi, ia menangis ketika dapat mencium aroma tubuh kedua orangtuanya yang terakhir kalinya.
Dua baju berwarna biru itu bertemakan tentang keluarga, yang dimana masing-masing peranannya sudah dibagi masing-masing, rasa cinta keluarga terukir jelas di baju tersebut, dengan seorang ayah dan ibu yang memeluk anaknya yang berada di tengah pelukan mereka, baju yang mengukir kenangan terakhir di kota Bangkok itu akan selalu menjadi kenangan yang harus selalu diingat seumur hidup Selina.
"Ina gak tau, mau bagaimana hidup Ina tanpa kalian berdua. "
Pintu kamar tersebut terbuka lagi, bibi Jumah tak lupa mengetuk pintu kamar tersebut, Selina menatap ke arah pintu dan melihat bahwa pembantunya itu tidak sendirian, namun bersama dengan notaris keluarganya.
"Selamat pagi, nona Selina. "
Notaris tersebut bernama Olivia, secara tiba-tiba, jarang sekali notaris keluarga tersebut akan datang kecuali memang ada sesuatu yang akan diobrolkan, itupun Gunawan yang selalu berjumpa dengan Olivia.
"Bu Oliv? Kenapa ibu datang pada hari ini? Bukankah sebelumnya papa tidak ada keperluan untuk saat ini, apalagi sekarang papa saya sudah meninggal? " tanya Selina.
"Saya ada urusan dengan nona Selina tepatnya. " jawab Olivia.
Selina merasa kebingungan, namun ia yang kebetulan kenal dengan notaris keluarganya, ia berjalan untuk mengurusi apa yang dibutuhkan kepada Olivia itu.
"Sebelumnya, saya turut berduka cita atas meninggalnya pak Gunawan dan bu Hania selaku kedua orangtua nona Selina, saya tidak menyangka, bahwasannya setelah mereka mengurus surat asuransi sebelum mereka berangkat ke Bangkok merupakan pertemuan terakhir saya dan kedua orangtua nona. " ucap Olivia.
Selina menganggukkan kepalanya, ia juga pastinya merasa sangat kehilangan atas kepergian kedua orangtuanya, dan ternyata perjumpaan terakhir kepada notaris keluarga mengenai asuransi yang telah diajukan sekitar dua tahun yang lalu itu sebelum Gunawan dan Hania berangkat ke Bangkok untuk menjemputnya.
"Asuransi akan cair atas nama Selina Viona Utami, dan juga asuransi ini sesuai dengan tanggungan yang tercatat dalam daftar persyaratan untuk penerimaan asuransi tersebut. " ucap Olivia.
"Papa sudah menaruh nama asuransi dengan nama saya? " tanya Selina.
"Ya, sekitar pengurusan pembayaran asuransi yang ke empat kali, secara tiba-tiba pak Gunawan ingin mengganti nama penerima tersebut dengan nama nona Selina. " jawab Olivia.
Selina melamun, dirinya jika harus memilih, lebih baik tidak akan menerima asuransi karena kecelakaan dan masih tetap melihat kedua orangtuanya masih hidup sampai sekarang daripada harus menerima asuransi tersebut karena kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.
"Jika saya disuruh memilih, lebih baik asuransi ini tidak cair daripada harus menerima dikala papa dan mama saya akhirnya tiada. " ucap Selina.
"Yang tabah, nona, semuanya sudah digariskan oleh takdir. " ucap Olivia.
Selina tetap diam, sedangkan Olivia menjelaskan semua apa yang dibutuhkan dan berbagai persyaratan yang ada, hingga penyebutan nominal yang akan diterima oleh Selina.
"300 juta untuk penyerahan asuransi yang diterima oleh nona Selina Viona Utami. " ucap Olivia.
Selina menganggukkan kepalanya saja, namun ia masih bingung dengan nominal sebanyak itu akan ia gunakan untuk apa.
"Sebelumnya, mungkin nona Selina harus mengetahui apa yang dibalik asuransi milik pak Gunawan Edianto. "
"Apa papa saya punya sesuatu yang lain? " tanya Selina.
"Ini sebenarnya harus ditanggung oleh pak Gunawan, namun karena beliau sudah berpulang, hal ini harus diketahui oleh ahli waris yang sudah tercatat di data yang saya pegang sebagai notaris keluarga, yang tepatnya nona Selina sebagai anak. " jawab Olivia.
"Apa? Saya tidak mengerti. " tanya Selina lagi.
"Pak Gunawan memiliki hutang yang tercatat pada setiap aset yang dimilikinya. " ucap Olivia.
Selina terkejut, ia tidak tahu bahwa selama ini Gunawan memiliki hutang, dan hutang tersebut tercantum pada aset yang dimiliki oleh papanya itu.
"Aset papa saya? Semuanya mempunyai keterkaitan pada hutang? " tanya Selina.
"Benar, pada dasarnya, pak Gunawan belum menyelesaikan semuanya, bahkan sebelumnya sudah ditagih. " jawab Olivia.
"Memangnya papa berhutang dengan siapa saja? Berapa nominal yang papa saya tanggung dari hutang yang ada? " tanya Selina.
Olivia melihat kembali catatan yang ada di berkasnya, merupakan berbagai macam catatan maupun segala urusan mengenai keuangan ataupun berkas-berkas pendukung ada di tangan notaris tersebut, hingga akhirnya Olivia mengambil salah satu yang ditanyakan oleh Selina kepadanya, ia memberikan berkas tersebut kepada Selina.
Selina membaca keseluruhan catatan mengenai hutang yang dimaksud, masing-masing hutang yang memang terkait dengan aset yang dimaksud, dan hal yang membuat Selina terkejut, yaitu keseluruhan total dari seluruh hutang yang ada.
"Du--dua ratus miliar?! "
Jantung Selina ingin berhenti berdetak, hutang sebanyak itu merupakan tanggungan yang sangat berat, ia ingin pingsan ketika melihat total hutang milik Gunawan, tentu dirinya tahu, bahwa nominal yang tercantum tidaklah sedikit.
"Nona? "
Selina tersandar di sofa, dirinya merenung dan menatap ulang, nominalnya memang tidak berubah dan itu merupakan jumlah yang paten.
"Papa, Ina tidak tahu kalau hutang papa sebanyak ini... " lirih Selina.
Selina kemudian pingsan, Olivia terkejut dan menopang tubuh Selina, ia perlahan membaringkan tubuh Selina di sofa dan memanggil bibi Jumah untuk mengambil air minum.
Selina masih belum hilang dengan perasaan dukanya, hampir setiap hari setelah kedua orangtuanya telah meninggal, para penagih hutang serta petugas bank datang ke rumahnya, dirinya terpaksa menghadapi semuanya dengan mentalnya yang sudah diobrak-abrik begitu saja.
"Aset atas nama Gunawan Edianto berupa bangunan ruko, serta tanah ataupun usaha lainnya akan ditarik, karena ahli waris pada sebelumnya tidak tercatat memiliki jaminan untuk melunasi hutang-hutang yang ada. "
Notaris keluarga Selina menangani masalah tersebut, sedangkan Selina hanya menandatangani urusan dari apa yang ditunjuk oleh para penagih tersebut, dengan pastinya notaris dari keluarganya yang membimbingnya.
"Tanda tangan disini, nona. " ucap Olivia.
Kali ini, Selina menandatangani surat yang menyatakan semua aset milik Gunawan akhirnya diambil kembali, tentu saja urusan tersebut belum selesai, sekarang, Selina ingin membayar sisa hutang tersebut dengan berencana menjual aset milik Gunawan yang lainnya, bahkan pada akhirnya, rumah milik Gunawan dan Hania disita oleh pihak bank, alhasil rumah tersebut berstatus disita oleh bank, karena tercatat sebagai jaminan.
Semuanya hilang dalam sekejap, harta yang terkumpul hampir seperempat abad itu hilang begitu saja hanya untuk melunasi hutang yang ada.
"Bu Oliv, saya mohon, bisakan ibu meminta pihak bank memberikan waktu saya untuk berada di rumah ini dalam 2 hari saja? Saya masih ingin melepas rasa duka saya, dan ingin memberitahu tentang hal ini kepada adik papa atau mama saya, sekalian juga membereskan barang yang ada. " mohon Selina.
Olivia mengerti, dirinya mewakilkan Selina untuk memenuhi permohonan tersebut kepada pihak bank, permintaannya diterima, tentu itu bukan rasa syukur, karena hanya 2 hari masanya akan diberikan untuk mengurusi rumah tersebut sebelum pada akhirnya benar-benar akan disita oleh pihak bank.
"Nona Selina, saya juga memberitahukan mengenai wali anda selanjutnya ketika anda akan pindah dari rumah ini. " ucap Olivia.
"Terimakasih banyak, bu Oliv, mungkin setelah ini selesai, kita tidak akan bertemu lagi. " ucap Selina.
Olivia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, meski nona masih memiliki hutang sekitar satu miliar, saya tetap berada di sisi nona walaupun nantinya nona sudah menyelesaikan semuanya. " ucap Olivia.
Selina menganggukkan kepalanya, ia mengucapkan terimakasih kepada notaris keluarganya itu.
"Terimakasih banyak. "
Selesai mengurusi hal tersebut, Selina akhirnya masuk kembali ke dalam rumahnya, di dalam rumahnya, terlihat bibi Jumah yang sebelumnya sudah diberitahukan kepada Selina bahwasannya wanita tua itu akan diberhentikan untuk bekerja.
"Nona, padahal saya tidak ingin berhenti bekerja, dan saya sudah menganggap nona seperti anak saya sendiri. " ucap bibi Jumah.
Selina menggelengkan kepalanya, ia juga langsung memberikan gaji terakhir kepada bibi Jumah dengan uang asuransi yang ia miliki, bibi Jumah menangis tersedu-sedu ketika harus berpisah dengan anak majikannya itu.
"Saya tidak bisa membayar bibi untuk kedepannya, karena rumah ini sudah disita, dan saya tidak bisa seperti papa dan mama. " ucap Selina.
"Nona, saya pamit untuk pergi, terimakasih sudah menerima saya dengan baik, entah itu untuk nona walaupun kedua almarhum, saya beruntung mengabdi selama belasan tahun di rumah ini. " ucap bibi Jumah.
Selina menganggukkan kepalanya, ia memeluk bibi Jumah, dan itu merupakan pertemuan terakhirnya dengan pembantunya.
Bibi Jumah membawa barang-barang miliknya, ia melambaikan tangannya ke arah Selina, kemudian pergi meninggalkan kediaman keluarga Selina.
Kini, tersisa Selina yang sendirian di rumah tersebut, dirinya juga membereskan beberapa barang-barang di rumah, tentu dengan barang yang dimiliki oleh almarhumah mamanya itu.
Semua pakaian milik Gunawan dan Hania dibagikan kepada orang, sebagiannya disisakan oleh Selina sebagai kenangan, karena besok ia akan diantar oleh adik dari papanya.
Selina menatap seluruh rumah, ia akhirnya akan berpisah dengan rumah tersebut, dirinya menatap kembali setiap ruangan di rumah tersebut, banyak sekali kenangan yang terukir di rumah tersebut, sayang, ia harus berpisah dengan rumah tersebut karena rumah itu akan disita oleh pihak bank karena sebagai jaminan pelunasan hutang.
"Papa, mama, maaf ya kalau Ina gak bisa jaga rumah ini sesuai dengan keinginan kalian, karena rumah ini sudah mama dan papa jadikan jaminan hutang yang ada. "
Selina melanjutkan membereskan barangnya lagi, saat membereskan barang milik Hania, ia menemukan gulungan kain yang berbeda dari lainnya.
Selina memiliki hak untuk melihat isi tersebut, karena hanya dirinya sendiri yang berada di rumah tersebut, ia mulai membuka gulungan kain tersebut dan melihat sebuah kartu dan catatan di dalam gulungan kertas tersebut, Selina mengambil kedua benda yang jatuh tersebut.
Kartu tersebut merupakan kartu kredit, tak lupa juga dengan buku tabungan yang menempel di kartu tersebut, Selina melihat isi buku tabungan tersebut, dan ia terkejut ketika melihat nominalnya, yaitu berjumlah 70 juta.
Serta sebuah catatan yang ada, Selina membuka lipatan kertas tersebut dan melihat sebuah tulisan yang ada.
'Ina, jika kamu menemukan surat ini, mama sangat bersyukur, nak. Dimana uang yang ada di dalam tabungan ini adalah persiapan mama untuk kamu menikah nanti. Jika mama tidak sempat memberikan langsung sama kamu, semoga ini langsung ada di tanganmu, karena ini adalah hakmu. Mama dan papa sayang kamu, semoga uang yang ada bisa membuatmu bahagia dengan laki-laki yang kamu cintai, kamu matahari kami, harapan, cinta dan permata hati kami. Semoga kami masih ada bersama kamu ketika kamu bersanding di pelaminan dengan lelaki pilihanmu, dan maaf jika nanti kami tidak ada di sampingmu, kami harap, kamu bisa bahagia, terus bahagia, karena bahagiamu merupakan kebahagiaan kami, Selina anak kami tercinta. '
Lagi-lagi surat tersebut kembali mengiris perasaan Selina, Selina membacanya dan meneteskan air matanya, ia memeluk surat tersebut dengan erat.
"Mah, kenapa mama harus secepat ini pergi, dengan meninggalkan berbagai surat seperti ini kepada Ina? "
Selina menangis tersedu-sedu, dirinya amat terasa sakit karena kehilangan sosok yang mencintainya tanpa batas, bahkan dirinya akhirnya menyalahkan dirinya karena perginya kedua orangtuanya karena ulahnya itu sendiri, penyesalan terucapkan terus di mulut Selina, ia merasa menyesal sudah mengabaikan semuanya.
.............................................