Part 13

1017 Words
**       Kristal setengah membungkuk kearah Hamka yang mulai mengerjapkan matanya perlahan. Bara, Jojo dan  juga lainnya tampak melakukan hal yang sama. Mengelilingi tempat tidur pasien dengan tatapan penasaran bercampur khawatir. "Hamka?" "Apasih?" Sahutan dari suara serak itu membuat mereka serempak menghela nafas lega. "Alhamdulillah, masih idup. Ngga jadi nyumbang." "Buset! Mulut lo Jo!" Jojo terbahak, menggamit kepala Reza diketiaknya. "Gue lagi kere, anjir! Emang lo padabisa nyumbang apaan kalau Hamka innalillahi?" "Nyumbang doa lah!" "Pelit sekali anda!" Mereka lalu saling melempar ejekan, menyenggol satu sama lain atau meleyangkan kepalan. "Berisik, balik sana." Hamka bergegas bangkit, membiarkan Kristal membantunya bersandar dengan bantal dikepala ranjang. "Lah, guekan belum kenyang!" Hamka mendengus, berdecak kesal melihat tujuh remaja tanggung yang sedang bergelung disekitar sofa dengan makanan dan minuman yang memenuhi meja. "b*****t emang, bawa makanan tapi dimakan sendiri. Niat jenguk ngga sih?" "Kalau saya sih, Yes." "Kalau saya, No." "Gajelas." Hamka menghela nafansya menyerah saat mereka kembali ribut seperti biasa. "Gue panggil suster bentar." "Ngga usah." Kristal menoleh, menatap Hamka dengan serius. "Beneran?" Hamka hanya mengangguk meyakinkan, Kristal akhirnya hanya berdecak lalu duduk dipinggir ranjang rumah sakit. "Ato mana sih, Beb?" "Ngga tau." Sahut Kristall melirik jam yang melingkar di dinding, sudah lewat dua puluh menit sejak mereka meninggalkan sekolah dan Ato sama sekali belum menyusul. "Paling ketahan lagi sama Guru." "Biasalah." Kristall hanya mengedikkan bahunya, mengangkat salah satu kakinya dan membuka kaus kakinya yang berdebu tidak nyaman. "Bebeb, astaga!" Bara melempar sweeternya dilengan sofa kepaha Kristal yang tersingkap. "Apaan sih?" Kristall membuka satunya lagi, melemparnya ketempat sampah tanpa perlu rapot rapot bangkit dari sana. "Sepatunya ko ilang mulu sih, Beb?" "Yah ngga tau, namanya juga-" "Nahkan, mulai lagi! Mulai!" Kristal lagi lagi terkekeh, menoleh kearah Hamka yang meraih dompetnya diatas nakas disisi ranjang. "Lo jangan banyak gerak dulu kenapa." "Gue ngga sekarat, Roni aja yang lebay sampe ngambil kamar segede ini." Hamka menggerutu, mengeluarkan lembaran uang di dompetnya lalu mengulurkannya kearah Kristal yang menaikkan alisnya. "Apaan?" "Ke kopreasi sana, jangan nyeker mulu." "Sini gue yang beliin!" Jojo melompat dengan cepat, mengambil uang dari uluran Hamka yang mengambang diudara. "Sana sana." Kristal masih terdiam, menatap Hamka yang terlihat benar benar berantakan dengan luka sobek dibibirnya dan lebam lebam yang nyaris memenuhi tubuhnya. "Hamka, jangan bikin Bebeb gue baper dong!" Kristall mendelik, menendang punggung Bara dengan cepat hingga pria itu mengadu keras. "Bebeb! Sakit tau!" "Bodo." "Eh, Kristall nomor kaki lo berapa sih?" Jojo yang baru saja keluar kembali membuka pintu ruang rawat Hamka. "Beli makanan aja." "Eh?" Hamka nyaris kembali mengeluarkan lembaran uangnya sebelum Kristall menepuk tangannya dengan sadis. "Lo istiraha aja kenapa sih." "Apaan, guekan-" Hamka mengadu saat Kristall menekan pipinya secara tiba tiba. "Diem bisakan?" "Eyaa.. " "Tapi-" "Eyaa! Eyaaa!" "Berisik!" Hamka berteriak jengkel pada teman temannya yang bersorak sorak, tidak ada tatapan menggoda disana hanya sorakan main main yang terdengar mengejek seperti biasa. "Tuhkan, Baper!" "Bara apaansih?" Kristall mendelik, nyaris menghantam Bara dengan tendangannya kalau kalau pria itu tidak menghindar lebih dulu. "Awas yah Beb, lo cuma bisa Baper sama gue." "Dih, Najis!" "Uhuk!" Bara berdecak kesal mendengar temna temannya hanya tertawa menggodanya. "Aduh gosong!" "Apa yang gosong?" "Hati yang terbakar api cemburu!" Bara nyaris menghantam kepalanya sendiri mendengar sorakan teman temannya itu. "Buset, dosavapa gue bisa kenal kalian." "Permisi!" Suara Suster yang setengah berteriak diambang pintu membuat mereka menoleh, seorang dokter cantik dan dua orang suster sedang berdiri disana. "Dimohon untuk tidak membuat keributan, silahkan keluar karna pasien harus diperiksa dan istirahat." Salah seorang Suster memperingati, menatap Kristall dengan tidak suka sementara Dokter cantik itu menatapnya lekat lekat penuh perhitungan. Apa? Kristall cantik? Tau ko, dari lahir! "Oke, kita cabut yok!" Bara berujar, membantu Kristall turun dari ranjang lalu menoleh kearah Hamka sekali lagi. "Kita duluan." "Cepet sembuh Bang Hamka." "Dih, Najis. Jijik gue." Mereka lagi lagi terbahak, membuat Hamka kesal memang  menjadi agenda harian mereka. "Hu uh, pokonya jangan mati dulu." "Anjir, Jo!" "Ck, berisik! guekan udah bilang, gue ngga sekarat!" "Yaudah, duluan yah!" "Iya, makasih." Sahut Hamka pada akhirnya, mereka lalu keluar begantian meninggalkan ruangan. Tidak lupa memberi salam kearah Dokter cantik yang masih menyimpan perhatiannya pada Kristal, tidak mengherankan mengingat hanya Kristal satu satunya perempuan diruangan ini dan berkeliaran tanpa alas kaki. "Permisi, Dokter. Tolong jaga temen saya, Makasih sebelumnya." Ucap Bara sebelum mereka benar benar keluar dari sana, Jojo dan Reza serta yang lainnya melangkah lebih dulu didepan mereka. "Eh, Beb. Beli sendal jepit dulu yuk." "Nggak, ah. Mau pulang, ngantuk." Sahut Kristal memakai sweeter Bara yang kebesaran membungkus tubuhnya. "Lah, nanti Pak Andra ngamuk lagi gimana?" Kristall tampak berpikir, lalu mengedikkan bahunya. "Nanti juga ke rumah." "Ngapain?" Bara memiringkan kepalanya, menatap Kristal yang sama sekali tidak peduli tatapan aneh yang dihujamkan pengunjung rumah sakit kearahnya. "Buku sama baju olah raga guekan masih di kelas." "Aduh, si Bebeb. Kebiasaan! eh, tapi lo ngga papa Pak Andra sering ke rumah? Apa gue nginep dirumah lo aja gitu biar ngga diapa apain?" "Apaansih!?" Bara menghindar saat Kristal nyaris memukul tengkuknya, gadis itu mendengkus kesal lalu melongos begitu saja. "Beb, gimana?" "Ngga usah!" Sahut Kristall galak, Bara menggaruk pipinya. "Duh, ko Bang Sat ngga ngelarang Pak Andra sih? apa karna jangan jangan bener?" "Apaan?" Kristal menaikkan alisnya, langkahnya terhenti dipelataran rumah sakit. Ia bahkan tidak peduli dengan Jojo dan gerombolannya yang membeli es dundung didekat parkiran. "Kalau mereka itu anuan." Bara berbisik pelan, Kristall mengerjap sekali. "Ha?" "Duh, si Bebeb. Gue tuh pernah ketemu mereka di Thailand, ngga sengaja satu hotel gitu." "Te-rus?" Bara berdecak, otak gadis itu tidak tertolong diwaktu yang tidak tepat. "Astaga, mereka liburan berdua! Waktu itukan gue lagi sarapan diresto hotel, trus ada cewek cantik marah marah. Teriak teriak selingkuh ke Bang Satria, pake nunjuk nunjuk Pak Andra pula." "Jadi bener?" Kristal menutup bibirnya yang terbuka tak percaya. Pantesan Pak Andra ga ada napsu napsunya habis malam itu. "Hu uh, gue pikir cuma hoax. Soalnya mereka temen udah lama, pernah ke rumah pas mereka masih SMA juga. Lo pasti udah lupakan?" Kristal tak menyahut, kepalanya masih bekerja mendengar ucapan Bara. Menghela nafasnya pelan lalu menguap hingga matanya berair. "Bodo ah, ngantuk." "Lah, Bebeb mah!" "Mau pulang." Kristall menoleh kearah Jojo yang melambaikan tangannya dengan heboh disamping gerobak penjual es dungdung. Ikut melambaikan tangannya dengan dramatis. "Yaudah, ayo." "Mampir di apartemen lo aja deh." "Yakin?" Kristall menoleh, menaikkan alisnya heran kearah Bara. "Kenapa? Ngga boleh?" Tanya Kristall galak, Bara terkekeh lalu merangkul Kristall menuju parkiran. "Boleh ko, Beb. Banget malah, asal jangan minta pulang tiba tiba." "Iya bawel." ** *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD