Part 12

1055 Words
L**       Kristall menghisap s**u kotaknya dalam dalam, memastikan tidak menyisahkan setetespun tidak peduli suara mengganggunya membuat beberapa murid yang mungkin membeli sarapan atau entah apa dikantin menoleh kearahnya. Bodo amat, yang penting kenyang.         Kristal menatap bungkusan roti dan kotak s**u yang sudah kosong diatas mejanya, menghela nafasnya lalu menatap keluar jendela. Mulai merasa kantuk.    Sepasang mata beningnya bahkan mulai berair saat ia menguap, jarum jam bahkan belum menujukkan pukul 9 namun Kristall benar benar ingin memejamkan matanya. "Bebeb!"    Kristall tidak perlu menoleh untuk mencari tahu siapa yang baru saja berteriak tanpa tahu malu di tengah kantin.    Remaja bertubuh jangkung itu melompat, duduk manis disamping Kristall sebelum menghimpitnya kesisi tembok kantik hingga ia menlemparkan delikan kesal. "Bara!" "Beb, tau ngga?" "Ngga tau!"    Kristall menyahut galak, Bara mendengus dan semakin menghimpit Kristall. Keduanya bahkan tidak peduli berpasang pasang mata yang mulai liar memperhatikan mereka. "Guekan belum ngomong, Bebeb!" "Lah, trus dari tadi ngapain? Guk guk?" "Bebeb!" "Apaan, sih!?"     Bara berdecak melihat Kristall yang mulai kesal, ia menunduk dan mulai berbisik pelan. "Barusan gue dipanggil Pak Andra." "Terus?" "Masih malak nomor si Bapake."     Kristal memutar bolamatanya malas, menoyor pipi Bara dengan sadis. "Kasih aja, ribet amat!" "Tapikan, Beb-" "Percuma, Pak Andra pasti bakal tau."    Bara berdecak, menaikan sikunya diatas meja dengan kening berlipat. "Gue emang rencana kasih tau sebelum Pak Andra bawa masalah ini ke Bu Laura,  tapikan nanti ngga seru lagi." "Serah dah serah."    Kristal mengibaskan tangannya, kepalanya sedang tidak mampu untuk bekerja sama. "Gua lagi pen ngomong ini, Beb. Jangan galak galak kenapa." "Bodo, sana ke kelas jangan suka bolos nanti ngga lulus disantet Bapake tau rasa."    Bara manarik pipi Kristal yang mengadu keras dengan gemas, sepasang mata beningnya mendelik tajam kearah Bara. "Bara sakit tau!"    Bara melompat dari tempat duduknya tepat sebelum Kristal menendang tulang keringnya. "Pinter bat ngomong, diri sendiri suka bolos!" "Bodo!"     Bara berlalu dengan cepat dari hadapan Kristal, tidak peduli gadis itu masih menggerutu mengusap pipinya yang memerah. "Ih, ngeselin!"      Kristall makin gondok, nyaris memutar bolamatanya malas saat menemukan Pria tukang tebar pesona yang mungkin sudah mengawasinya sejak tadi berdiri disalah satu stan dengan sebotol air mineral. Apa?  Apa?       Kangen?    Kristall mendengkus, bergegas bangkit seraya mengumpulkan sampahnya diatas meja. Membuangnya ketempat sampah dengan setengah membanting, melampiaskan paginya yang tidak menyenangkan. "Kristal."    Menulikan telinganya, Kristall melangkah meninggalkan kantin. Mencebik kesal karna  kaki panjang pria itu membuatnya dengan mudah menyamai langkah Kristall. "Ara." "Bapak kenapasih? Bisa ngga sehari aja Bapak jangan ganggu saya?"    Andra menarik nafasnya dengan tenang, menajamkan tatapannya kearah Ara yang benar benar terlihat kesal. "Kalau begitu, apa kamu juga bisa tidak membolos dan membuat masalah sehari saja?"     Kristal tertawa hambar terkesan mengejek dengan kurang ajarnya, bahkan membalas tatapan Andra tak kalah sengitnya. Demi apapun, Kristal benar benar ingin mencakar muka sok kegantengannya dengan ganas! Yah, emang ganteng sih. Tapi teteup aja ngeselin! "Fine!"      Kristal menghentakkan kakinya, melongos begitu saja meninggalkan Andra yang hanya mampu menggelengkan kepalanya. Benar benar.    **      Kristall menurut kali ini, meskipun harus melewatkan kelas olahraga nya tapi ia tetap bertahan setidaknya sampai jam istirahat berdentam. Menelungkupkan wajahnya diatas meja saat Guru sejarah keluar dan teman temen kelasnya termasuk gerombolan Sania dan inggrid yang sempat sempatnya melempar tatapan sinis sebelum ikut berdesakan menuju kantin, berharap memiliki kekuatan ajaib yang bisa membawa Kristall ketempat tidur dalam sekali kedipan mata.       "Kristall!" "Ape?" "Kantin hayok!"    Kristal mengangkat wajahnya, mebiarkan dagunya bertumpu diatas meja dan menatap Prinka. "Ngantuk." "Ngga ada, ke kantin pokonya!"     Camelia yang baru saja menutup bukunya menggeleng pelan, menatap Prinka yang mulai memaksa Kristall untuk segera ke kantin seperti biasa. "Gue mau keperpus dulu." "Yah, Camcam! Ke kantin dulu napa, perpus ngga akan kemana mana juga!" "Kristal?"    Suara dari ambang pintu menyentak Kristal yang nyaris tertidur, Prinka dan Camelia ikut menoleh dan menemukan si bongsor Ato disana. "Nape?" "Sini dulu." "Apasih?"     Kristal bergegas bangkit, melangkah dengan kaki yang diseret menghampiri Ato. "Opo?" "Hamka dirumah sakit, ikut ngga?"   Ucap Ato setengah berbisik. "Ha?"    Kristal mengerjap bingung, Ato berdecak lalu mencubit pipinya dengan gemas. "Ato ih!" "Mau ikut ngga?"   Kristal mengusap pipinya, lalu menoleh kearah Prinka dan Camelia yang menghampiri mereka. "Kenapa?" "Gue cabut dulu yah." "Eh!"     Kristal menggamit lengan Ato, melangkah cepat dan menulikan telinganya dari Prinka yang menjerit jerit kesetanan diambang pintu kelas. "Anak anak udah nunggu di luar. Kalian duluan aja, nanti gue nyusul." "Mau bolos juga?"     Kristal mendongak menatap Ato yang meringis menggaruk kepalanya. "Kebetulan ada acara makan makan di Ruang Guru, jadi waktu kita cuma 30 menit jam istirahat ditambah kurang lebih 10 menit buat Guru bisa siap siap balik kekelas. Gue harap, kita bisa balik sebelum itu. "   Kristal berdecak, mengibaskan tangannya mendengar penjelasan Ato yang terdengar memusingkan. "Serah dah, gue duluan yah!" "Eh, sepatu lo mana!?"    Ato setengah berteriak saat Kristal mulai melangkah menjauh, gadis yang sedang menguncir rambutnya dengan asal itu menoleh, menunduk menatap kakinya yang hanya dibalut kaus kaki setinggi lututnya. "Oh, Ilang. namanya juga orang cantik."      Jawabnya santai, "Mulai dah! Mulai!"    Kristal hanya terkekeh lalu segera berbalik meninggalkan Ato yang hanya mampu menggelengkan kepalanya. "Dasar."      Ato ikut bergegas beranjak, menuju parkiran paling utara sebelum sosok jangkung tidak jauh darinya membuatnya nyaris berteriak kaget.            Pria itu terlihat menajamkan mata elangnya mengekori Kristal yang berbelok di ujung koridor lalu menoleh kearah Ato dan melemparkan tatapan menuntut. "Eh, Pak Andra."     Ato memberi salam, lagi lagi terlihat salah tingkah. "Mau kemana kamu?"    Ato tersentak, melen ludahnya mengingat wali kelas Kristal semester ini benar benar luar biasa membahana.   Salah salah langkah yang masuk jurang bukan cuma Kristall, tapi semua komplotannya. "Bapak dengar?" "Dengar apa?"     Andra menaikkan alisnya, Ato diam diam menghela nafasnya dengan tenang. "Saya mau ketemu Bu Mela, Pak. Tapi kayaknya lagi sibuk yah?" "Iya, kamu bisa datang sesudah jam istirahat. Tapi kalau itu sesuatu yang penting, sebaiknya cepat menghadap." "Eh, ngga ko Pak!"     Ato menyahut dengan cepat, "Atau kalau itu tentang Kristal, kamu bisa bilang ke saya sekarang." "Engga, Pak. Tenang aja, semua aman dan terkendali!" Tenang ndasmu.    Kalau sampai Kristall terlambat kembali ke sekolah, bisa habis mereka dibantai hidup hidup sama Pak Andra. "Bagus, saya duluan."       Ato membungkuk, memberi salam dan membiarkan Pak Andra segera berlalu. Menarik nafas dalam dalam lalu menyentuh dadanya dramatis. Bu Mela, tolong murid tersayangmu ini! **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD