Part 11

840 Words
** "Kristall!" Kristall mempercepat langkahnya, tidak peduli Laura berteriak diujung lorong seraya berkacak pinggang. "Kesini kamu!" Kristall baru saja akan berbelok ke koridor kelas 12 sebelumWali kelasnya yang terkece itu berdiri di sana dengan alis terangkat. "Ada apa?" "Mana ketehe!" "Kristal." "Ya mana saya tau, Pak Andra!" Kristal nyaris memutar bola matanya malas, menoleh sekilas pada Laura yang sudah melangkah kearahnya. "Bu Laura tidak akan berteriak, kalau kamu tidak melanggar." Kristal menunduk menatap tubuhnya yang terbalut seragam olahraga putih biru, sepatu berwarna putih yang menghiasi kaki cantiknya dan kunciran rambut kusut yang biasa biasa saja. "Pokonya saya ngga tau! Bapak liat sendirikan saya ngga ada aneh aneh hari ini!" Andra menggelengkan kepala pelan lalu menyodorkan paper bag ditangannya. "Ya sudah, ini buku kamu." "Lah, ini kenapa-" "Sekarang ke kelas." "Tapi-" "Ara." Kristal mendengus kesal, meraih paperbag berisi buku tebal miliknya dari tangan Andra dengan setengah hati. "Yang penting bapak tanggung jawab, Bapak yang bawa ke sekolah jadi Bapak juga yang bawa pulang." "Iya." Sahutan singkat Andra membuat Kristal semakin kesal, melempar tatapan tidak peduli sekilas pada Laura yang mendengar penuh rasa ingin tahu. "Pagi, Pak Andra. Itu Kristall bawa apa yah, Pak?" "Pagi, Buku Kristal." "Ko-" "Kalau boleh tau, kenapa Ibu memanggil Kristal? Dia melanggar lagi pagi ini?" Laura meringis pelan mendengar ucapan Andra, menatap malu malu wajah tampan yang terlihat begitu menyejukkan jiwa raga dipagi hari. "Kemarin Kristal bolos loh, Pak. Masa lupa." Andra mengangguk pelan. "Kalau soal itu saya sudah bicara dengan Kristall" Laura berdehem tidak nyaman mendengar panggilan Andra. "Hum, gimana kalau kita ngga usah pake Ibu-Bapak? umur kita kan ngga jauh, lagian-" "Maaf, saya ada kelas pagi ini. Permisi, Bu Laura." Andra berlalu begitu saja, meninggalkan Laura yang melunturkan senyumannya dan menatap punggung lebarnya dengan sedikit kesal. Terlalu keras. Laura angkat tangan. Eh, tapi. Diakan belum memulai apapun, jadi ini belum saatnya menyerah. Laura kembali tersenyum, berniat menuju pos satpam sebelum tatapannya jatuh pada gerombolan murid yang bergegas menuju lapangan. Menyadari mereka berasal dari kelas yang sama dengan Kristal, gadis yang baru saja memasuki lapangan dengan langkah tak acuhnya. Rambut panjang ikalnya diikat asal dengan anak rambut yang mencuat kesana kemari, gadis itu bahkan menguap beberapa kali dan menggosok mata mengantuknya. Laura dengan berat hati mengakui, jika Kristall terlalu cantik untuk ukuran gadis yang bahkan tidak tahu merawat dirinya, bagaimana jadinya jika Kristal benar benar peduli dengan penampilannya? Laura menggeleng, tidak mampu membayangkan. Pasalnya, belum apa apa Kristal sudah mampu menjerat banyak pria dengan pesonanya. Dan soal gosip yang sedang membara dikalangan para murid, Laura akan memastikannya sendiri.    Baru aja Laura akan beranjak, kedua matanya mebelalak melihat keriuhan lapangan. Dengan setengah terseok Laura segera bergegas. **     "Inggrid!" "Apa!?"    Prinka menepis tangan Camelia yang berusaha menahannya, rasanya ingin menjambak rambut Inggrid tanpa ampun. Sampe botak sekalian! "Bisa ngga usah nyari gara gara?" "Bisa ngga usah ikut campur!?"        Inggrid mendorong bahu prinka dengan kasar, melihat itu Kristall mengerutkan keningnya tidak suka.  Melangkah ketengah berdebatan sengit keduanya tepat sebelum Prinka benar benar akan menerjang Inggrid.     "Lo ngga capek?" "Mak-"     Kristall menguap untuk kesekian kalianya, melangkah mendekati Inggrid yang tanpa sadar mundur selangkah. "Lo bisa ngomong baik baik sama gue,"       Kristall menepuk debu tak kasat mata dibahu Inggrid yang seolah kehilangan kata katanya. "Gue-" Ciee Kicep     Prinka nyaris terbahak melihat reaksi Inggrid, sebelum jeritan Laura membelah udara diantara mereka dan membubarkan kerumunan yang entah sejak kapan mulai terbentuk. "Kristal! Inggrid!" "Keruangan saya sekarang!"           Kristall yang mendengar itu hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal,  menyeret langkahnya mengekori Laura sebelum berbelok diujung koridor menuju kantin. Hak terakhir yang ia dengar hanya jeritan kesal Laura dikoridor sekolah. **    Andra menatap remaja yang baru saja duduk manis disebrang mejanya, memberi salam lalu terkekeh kecil saat menyadari tatapa Andra yang menajam. "Bara." "Iya, Pak." Bara menyahut semangat, Andra berdehem pelan lalu melanjutkan. "Mana nomor orang tua kamu?" "Ngapain repot repot, Pak? Langsung ketemu aja juga boleh, tapi bisanya hari senin soalnya Bapak saya lagi diluar kota." "Kalau begitu alamat rumah kamu." Bara terkekeh pelan, mendekatkan dirinya kearah Andra lalu berbisik pelan. Takut takut ada guru atau staf bahkan lebih parahnya jika ada murid yang mendengar mereka. "Ini soal kemaren, Pak?" "Iya." Sahut Andra dengan tenang, meskipun sepasang mata elangnya masih menghujam Bara dengan tajam. "Santai aja kenapa, Pak. Lagian udah biasa, saya juga ngga akan biarin Krista bawa temen cowok kerumah kalau ngga ada saya." Andra menghela nafasnya, mencoba sabar dan tidak menyeret masalah ini keruang konseling dan membuat semuannya jadi tidak terkendali. "Saya hanya meminta nomor dan alamat orang tua kamu, Bara." Bara tampak berpikir, lalu kembali berbisik pelan. "Kan saya udah bilang, Bapak ngga usah repot repot. Hari senin nanti ketemu ko, dilapangan upacara tapinya." Bara menarik diri lalu bergegas bangkit, tersenyum manis kearah Andra yang menaikkan alisnya penuh tanya. "Kamu bicara apa?" "Bapak kayaknya udah lupa sama saya." "Apa?" Andra menajamkan tatapannya, Bara terkekeh pelan lalu mengusap rambutnya sedikit gemas. "Udah yah, Pak. Saya ada kelas, Nanti Bu Mela ngamuk." Remaja itu melesat dengan cepat setelah memberi salam, meninggalkan Andra yang berpikir keras tentang apa yang sebenarmya bara bicarakan. Berdecak pelan, Andra menghela nafasnya dengan tenang. Apa ini sebuah tren dikalangan remaja? Membuat hal sederhana menjadi lebih rumit. Andra benar benar tidak mengerti. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD