"Ayo."
"Ga mau, Pak!"
"Buka sekarang."
"Masih kenyang, Pak!"
"Sekarang, Kristal."
"Bapak ko maksa mulu, sih!"
Andra menghela nafasnya, menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Berhenti berteriak, ini sudah malam."
Kristall mendengkus, membuka bukunya diatas meja dengan kesal.
"Itu tau udah malem, malah disuruh belajar. Malem tuh harusnya bobo, bukannya- Akh!"
Kristal memekik keras, mengusap keningnya yang baru saja mendapat sentilan panas dari Andra
"Berhenti menggerutu."
"Sakit tau, Pak!"
"Itu hukuman karna kamu membolos hari ini."
Kristal menekuk bibirnya, meraih pulpennya dengan setengah hati. Berharap pria yang sedang duduk bersila disebrang mejanya diruang tengah, yang entah bagaimana bersih dalam sekejap menghilang dari hadapannya.
Hadoh, mana belum tidur seharian.
Getaran ponsel Andra membuat pria itu bergegas merogoh sakunya, melirik layar datarnya sekilas sebelum mengusapnya.
"Halo."
Kristall mengalihkan perhatiannya, alisnya terangkat mendengar kalimat selanjutnya.
"Dirumahmu."
Maksudnya- Kamu?
Kristal meringis jijik, tidak peduli tatapan yang siap mengulitinya hidup hidup.
"Ara sedang belajar."
Eh?
Ara bergegas bangkit, merebut ponsel Andra dengan cepat kalu menjerit kesal.
"b*****t!"
Kristall menghindar dari sentilan Andra yang nyaris kembali m*****i keningnya.
"Panggil Abang kamu dengan sopan."
"Bodo amat!"
Kristall melesat cepat dari ruang tengah, sedikit berlari melewati dapur dan mendorong pintu sekat menuju taman belakang.
"Abang!"
Kristall kembali pada ponsel di telinganya, duduk dengan nyaman di ayunan yang terasa begitu dingin dibawahnya.
"Ya ampun, kamu masih suka bikin telinga Abang rusak yah!"
Kristal menekuk bibirnya, menggerakkan ayunan yang mulai berderit pelan.
"Abang jahat, katanya sibuk. Eh, tapi masih sempet nelpon Pak Andra."
"Abang ada urusan, Ara."
Kristal mendengkus kesal.
"Alasan! Lagian kenapa sih, Abang pake acara nyuruh si Pak Andra buat ikut campur urusan Ara? Mana nyebelin lagi, dia tuh-"
"Hust, jangan ngomong gitu. Kamu harusnya terima kasih sama Andra, dia sebenernya Ngga nyebelin kalau bukan kamunya yang bandel."
Kristal semakin menekuk wajahnya.
"Ara ngga bandel, emang Abang ngga takut kalau Ara diapa apain?"
"Terus yang bohong itu Andra? Ngga mungkin. Kamu kali yang ngapa ngapain, Andra itu orangnya lurus ngga macem macem kaya kamu."
Kristal memutar bolata matanya tidak percaya.
"Bang Satria, Ih! Belain aja teros, jangan jangan emang bener kalau Andra tuh-"
Kristal mendongak dan menemukan Pria yang baru saja merebut kembali ponselnya.
"Bapak apa apan sih? Sayakan belum selesai ngomong sama Bang Satria."
"Saya juga belum selesai sama Abang kamu."
"Tapi Kan-"
"Masuk dan kerjakan tugas kamu."
Kristal berdecak, menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Kesel!"
Kristall melemparkan delikan tajamnya sekali lagi sebelum berlalu dari sana.
"Ada apa?"
Menghentikan langkah diambang pintu sekat, Kristal mencuri dengar percakapan yang seketika membuatnya bergidik ngeri.
"Tidak apa apa, jangan sungkan. Bisa kamu jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?"
Kristal menggelengkan kepalanya, melesat cepat saat Andra melemparkan tatapannya.
Demi k****t sobek si Bara.
Jangan bilang mereka ber aku-kamu.
Kristal kembali menggelengkan kepalanya, beralih pada buku yang terbuka diatas meja yang seketika membuatnya mengantuk.
**
Andra baru saja menyimpan ponselnya, memasuki rumah dan menutup pintu sekat di dapur. Bergegas menuju ruang tengah hingga langkahnya terhenti, berkacak pinggang saat menemukan Kristallyang sedang terlelap diatas karpet tepat dibawah meja.
Gaun tidur selutut bergambar pisang itu tersingkap, memamerkan paha polos dan kaki jenjang yang seketika membuat Andra menggelengkan kepalanya tak percaya.
Kristal masih saja ceroboh dan mengabaikan setiap peringatannya.
Benar benar.
Andra lalu menggeser meja dengan hati hati, meraih lengan Kristal lalu menyelipkan lengannya dibawah tubuh gadis itu.
Membawa Kristal berbaring ditempat tidurnya dan menarik selimut sebatas bahunya, terdiam beberapa saat mengamati wajah yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.
Kening Andra mengkerut, lagi lagi tak habis pikir bagaimana kehidupan Kristall selama ini tanpa Satria yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Andra sementara orang tuanya berada di negri entah berantah beberapa tahun terakhir ini.
Andra menghela nafasnya dengan tenang saat ponselnya kembali bergetar, merogoh sakunya dan menemukan nama Omanya kali ini.
"Iya, Oma."
"..ngga mau.."
Andra mengerjap sekali, menatap Kristal yang bergumam tidak jelas dalam tidurnya lalu bergegas keluar.
"A- Itu pacar kamu?"
"Oma."
"Pulang sekarang! Lagian ngapain kamu sama anak gadis orang malam malam begini? Oma kira kamu itu sibuk ngajar apa pulang ke rumah ke tempat kamu, eh ternyata kamu-Ya ampun!"
Andra membereskan buku buku Kristal, memastikan jadwal gadis itu benar lalu menyusun beberapa buku tebal.
"Andra sudah mau pulang."
"Pantas Mom kamu kemarin heboh telpon Oma, kiranya mau ngeluh karna kamu mainnya sama laki terus. Eh, ternyata kamu tidur di rumah pacar kamu. Dasar, Mom kamu itu malah senang bukannya dimarahin. "
Setelah merapihkan buku diatas meja Andra lalu beralih memerika setiap jendela.
"Bukan pacar, Oma."
"Terus apa kalau bukan pacar tapi tengah malam masih sama sama? Calon istri? Kalau begitu menikah, anak gadis orang jangan diapa apakan dulu-"
"Oma istirahat yah, Andra sudah mau pulang."
"Kamu ini, orang tua bicara itu di dengar. Oma ngga mau tau, bawa dia kerumah secepatnya atau Oma yang datang kesana. Sekarang pulang, Oma tunggu!"
Andra menutup pintu hati hati, memastikan benar benar terkunci sebelum bersiap menaiki motornya.
"Iya, Oma."
Sambungan terputus, Andra menghela nafasnya setelah mendapat serangan kedua, jangan tanya apa yang terjadi saat Momnya menelpon beberapa wkatu lalu.
Karna itu benar benar tak ter..
...ah sudahlah.
**