Andra memarkirkan motor maticnya dipelataran rumah Kristall, melepas helemnya lalu menatap motor motor yang terparik disana. Menghela nafasnya lalu meraih paper bag berisi makanan dan tas biru yang sengaja ditinggalkan dikelas, sementara pemiliknya bolos dan meninggalkan sekolah entah kemana.
Andra bergegas, menatap berpasang sepatu yang disimpan asal asalan pemiliknya lalu beralih pada pintu yang terbuka lebar hingga Andra bisa mendengar keributan dari dalam sana.
"Ah, yang keras!"
'WOI!"
"Rokonya jangan dimatiin, Mas!"
"ANJIR!"
"Mas, celananya dipake dulu!"
"INI EMAK GUE g****k!"
"Ih bangke, gue kira ciwi lo!"
"ANJENG DIMATIIN!"
Andra menghela nafasnya lalu melirik jam yang melingkar dilengannya yang sudah menunjukkan pukul enam, karna ada hal yang harus ia selesaikan ia benar benar datang terlambat membawa tas Kristall.
Dan lihat apa yang terjadi.
Ada delapan remaja tanggung yang sedang bergelut diruang santai, menggeser meja dan bergumul dengan kulit kacang diatas karpet dan televisi yang menyala.
"Bro, gue cuma bisa bantu doa."
"Sabar, ini ujian."
"b*****t!"
"Mending lo pulang, ambil wudhu trus cium kaki emak lo."
"Boro boro udah dibacok duluan!"
"Beliin martabak coba, kali aja lupa mau ingatan!"
"Terlaknat emang!"
Mereka tertawa terbahak, saling melempar ejekan dan memukuli lengan dan bercanda layaknya remaja. Saat salah satu dari mereka akan beranjak dan menyadari kehadiran Andra ruangan itu perlahan senyap, satu persatu kehilangan suaranya.
"Siapa yang manggil gojek?"
"Itu Pak Andra, g****k!"
"Eh, Pak Andra!"
"Halo Pak Andra."
"Aduh, Pak. Ngapain repot repot!"
Andra hanya menatap kaku para remaja yang bahkan masih menggunakan seragamnya mencium tangannya satu persatu dengan wajah salah tingkah.
"Bapak ko tau kita disini?"
"Jangan bilang bapak cenayang?"
"Oh, atau jangan jangan-"
"Dimana Kristall?"
Sela Andra, mereka lalu saling menyenggol lalu kembali meringis pelan.
"Di kamar, Pak."
"Sebaiknya kalian pulang, ini sudah malam."
Salah satu murid yang seingat Andra bernama Jojo menggaruk kepalanya.
"Kita mau beres beres dulu, Pak."
"Tidak usah."
"Kristall nanti ngamuk, Pak"
"Tonjokannya Kristall ga main main loh, Pak. Kita beresin aja dulu bentar."
"Tidak apa apa, kalian boleh pulang."
Mereka lalu saling melempar tatapan, kembali menyenggol lengan satu sama lain lalu mengangguk menyetujui.
"Yaudah, kita pamit yah Pak."
Andra mengangguk pelan.
"Kalian langsung pulang."
"Makasih, Yah Pak!"
"Iya, hati hati"
Setelah mereka berpamitan, Andra bergegas meletakkan paper bag diatas meja yang masih berdempetan dengan kursi panjang. Menaikkan alisnya saat seorang remaja baru saja keluar dari sana seraya menunduk memasang ikat pinggangnya, sama sekali tidak menyadari kehadiran Andra
"Beb, beliin k****t lagi dong!"
"Kemaren beli selusin, itu diapain semua?"
Kristall menyahut dari dalam kamarnya.
"Dua dipake Jojo, sisanya sobek lagi, Nanti gue tran-"
Remaja itu terdiam, kalimatnya mengambang di udara saat menatap Andra yang bersidekap dengan tatapan tajam membunuhnya.
Serem bruh!
"Bara?"
Menelan ludah susah payah.
"Iya, Pak?"
"Hubungi orang tua kamu."
**
Kristall menyimpan baju tidurnya sembarangan, melangkah cepat saat mendengar suara berat yang dikenalinya itu memenuhi ruangan tengahnya.
"Tapi Pak-"
"Saya tidak mau mendengar alasan apapun."
"Pak Andra?"
Keduanya menoleh, menatap Kristall yang masih menggunakan Bathrobe diambang pintu.
"Bebeb, astaga!"
"Bapak ko kesini lagi? Kan udah saya bilangin-"
"Ara."
Suara dingin itu membuat Kristall membungkam mulutnya, masih melemparkan tatapan setengah kesal pada Andra yang menatapnya dengan tajam.
"Iya, Pak."
Gumamnya setengah hati.
"Cari pakaian yang sopan, sepertimya saya benar benar perlu bicara dengan orangtua kalian."
"Eng~ gini, Pak."
Kristall beralih pada Bara yang menggaruk pipinya, keningnya berlipat lalu perlahan berganti dengan senyuman licik saat akhirnya menyadari siapa pria dihadapannya.
"Bapak ngga usah repot repot, besok juga ketemu ko!"
"Kamu bicara apa?"
Kristall nyaris memutar bola matanya malas lalu mendorong remaja itu agar bergegas beranjak.
"Pulang sana!"
"Lah, masa iya gue biarin kalian-"
"Udah ga papa, bye!"
Kristall membanting pintu lalu berbalik seraya berkacak pinggang, kembali memusatkan perhatiannya pada Andra yang masih melemparkan tatapan tajam padanya.
"Kamu tau, apa saja kesalahan kamu hari ini?"
Andra beranjak dari tempatnya, kedua kaki panjangnya melangkah penuh perhitungan kearah Kristall.
"Mana saya inget lah, Pak."
Kristall mengangkat dagunya semakin tinggi saat Andra berhenti tepat dihadapannya.
"Pertama, kamu tidak meminta maaf dengan teman kamu."
"Yakan-"
"Kedua, kamu membolos dan meninggalkan tas kamu."
"Tapikan-"
Kristal semakin merendahkan suaranya, melangkah mundur saat Andra menunduk secara tiba tiba.
"Ketiga, kamu membiarkan banyak laki laki bermain di rumah kamu."
"Itu.."
"Kamu bahkan membiarkan laki laki masuk ke kamar kamu sendiri. Apa kamu sadar, kalau apa saja bisa terjadi saat kalian berdua ada di dalam sana?"
Kristal menaikkan alisnya, telapak tangannya mendorong d**a Andra dengan hati hati.
Modus modus.
"Terus Pak Andra gimana?"
Tanya Kristal dengan pelan, mendongak menatap Andra menajamkan tatapannya.
"Apa-"
"Bapak lagi dirumah saya, bebas ke kamar saya, bahkan udah pernah nelanjangin saya."
"Ara."
Suara berat itu terdengar memperingati, Kristal mengangkat sudut bibirnya diam diam.
"Bapak juga laki laki kan? Kecuali, kalau Bapak emang gay."
Andra mencekal lengan Kristal yang mengusap dadanya, menatap kaku gadis yang menatapnya tanpa rasa bersalah.
Benar benar.
"Apa kamu sadar?"
Senyuman main main yang berusaha Kristal sembunyikan menghilang begitu saja saat Andra menunduk lalu berbisik pelan ditelinganya.
"Saya bisa melakukan apa saja hanya dengan satu tarikan di tali Bathrobe kamu."
"Pak Andra, ih!"
Kristall menjerit dan mendorong Andra tiba tiba hingga ia nyaris terjungkal, merapatkan Bathrobenya dengan cepat.
"Masuk ke kamar kamu, cari pakaian sopan dan kita makan malam."
Kristal mendengus kesal melihat Andra yang memerintah seperti biasa dengan wajah kakunya.
"Dih!"
Sahut Kristal setengah hati, beranjak sebelum Andra lagi lagi mencekalnya saat ia nyaris melewati pria itu.
"Kristal."
Kristal menaikkan alisnya, menatap Andra yang kali ini terihat jauh lebih serius.
"Kenapa lagi sih, Pak?"
Andra menghela nafasnya dengan tenang.
"Lain kali, jangan bercanda dengan gairah laki laki. Apapun bisa terjadi, kamu bisa terluka dan itu tidak akan main main."
Kristal tertegun mendengar suara yang terucap begitu hati hati berhembus ditelinganya, menatap sepasang mata yang tidak menunjukkan emosi apapun dan bertolak belakang dengan tepukan lembut dikepalanya.
"Setidaknya kamu beruntung, saya yang bersama kamu kali ini."
Andra berlalu meninggalkan Kristal yang masih berdiri ditempatnya, merasakan kehangatan dirongga dadanya tanpa suara.
Tidak membenarkan ataupun menyangkal, jika kali ini Kristal memang beruntung.
**