**
Bel pergantian jam baru saja berbunyi beberapa saat lalu saat Andra melangkahkan kakinya memasuki ruang guru yang cukup luas, beberapa guru terlihat sedang menunggu jam mengajarnya atau sekedar memeriksa tugas murid murid yang semakin bertumpuk diatas meja.
Andra lalu beralih kearah mejanya sendiri, tidak jauh dari tempat Bu Mela yang sedang duduk berhadapan dengan Kristall, gadis itu tampak berbicara dengan serius sesekali mengangguk sopan saat Bu Mela bertanya.
"Kamu tau kan rumahnya?"
"Tau ko, Bu."
"Yaudah, nanti kita kesana. Makasih yah, Kristall. Kalau ngga ada kamu, nama Hamka mungkin udah ibu coret dari absen Ibu."
"Jangan makasih, Bu. Kalau gitu pamit yah, Bu. Nanti diomelin Pak Andra lagi, kan kesel!"
"Hust! Itu Pak Andra nya denger, loh."
Kristall menoleh, meringis pelan lalu kembali beralih pada Bu Mela. Mencium tangannya dan melesat dengan cepat meninggalkan ruang guru, sama sekali tidak ingin terlibat atau bahkan sekedar menyapa dengan Andra.
"Pak Andra masih ada kelas?"
Andra mengerjap sekali, tersenyum tipis membalas senyuman ramah wanita paruh baya itu.
"Tidak ada, Bu. Kalau boleh tau, Kristall ada masalah apa yah, Bu?"
Bu Mela kembali tersenyum.
"Ngga ada, Pak. Kan udah saya bilangin, Kristall itu anak yang baik. Walaupun kadang bikin geleng geleng kepala, nilai dan sikap dia ke Guru yang lain bagus ko. Yang penting mah, Bapak sabar aja."
Andra hanya mengangguk, meskipun ia benar benar masih tidak mengerti bagaimana Kristall saat ini.
"Kalau ada masalah serius dengan Kristall, Ibu bisa menghubungi saya."
Bu Mela tersenyun penuh arti, bergegas bangkit dengan buku tebal dipelukannya.
"Awas loh, Pak. Hati hati sama pesonanya Kristal, ajaib gitu dia masih tetap yang paling cantik disekolah. Eh, h saya ada kelas! Duluan yah, Pak Andra!"
"Iya, Bu."
Bu Mela berlalu dengan senyuman penuh artinya dari hadapan Andra yang diam diam menghela nafasnya, mengambil tempat di mejanya dan membuka lembaran absen meskipun kepalanya sedang berkelana.
Sepertinya.
Andra memang harus hati hati.
**
Kristall membanting pintu toilet dengan cukup keras hingga menimbulkan suara bedebum memekakkan telinga, menyandarkan bahunya ditembok seraya bersidekap menatap gadis yang sedang mencuci tangannya di wastafel tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada Kristall.
"Itu, lo kan?"
"Lo ngomong sama gue?"
Gadis itu menoleh, tersenyum manis kearah Kristall yang menatapnya bosan.
"Bukan, gue lagi ngomong sama cewek yang katanya tergila gila sama Bara."
Senyuman di wajah gadis itu menghilang, berkacak pinggang membalas tatapan Kristall dengan angkuh.
"Gue udah bosen sama Bara."
Cih!
Padahal kemarin nangis nangis kaya orang mau lahiran!
"Oh, apa karna sekarang lagi ngemis perhatiannya Pak Andra?"
Kristall mengut mangut, Sania mengibaskan rambut pirangnya dengan santai.
"Jelas! Pak Andra ngga boleh buta kaya si Bara. Dia harus tau, Kalau lo-"
"Jadi bener itu lo?"
Sania menghela nafasnya jengah, menatap Kristall hanya menatapnya santai.
"Minggir."
"Lo ngemis ke Bara pake gosip gue mainan Ketua Yayasan dan sekarang lo ngemis ke Pak Andra dan pake gosip gue sering di gilir sama gerombolannya si Bara."
"Minggir!"
Kristall mengedikkan bahunya, membiarkan Sania melewatinya dan kembali bersuara.
"Gue sebenernya bodo amat, gue cuma kasian sama bokap lo."
Kristall berlalu tidak peduli meninggalkan toilet, melangkahkan kakinya dikoridor dan menarik ikatan rambut kusutnya.
Tidak peduli Sania yang kebingungan di toilet ataupun berpasang mata yang menatapnya dengan bisikan seperti biasa.
Bodo amat!
Eh, bentar bentar.
Kristall menggaruk kepalanya yang tidak gatal, keningnya mengkerut dalam.
Soal gosip, Kristall memang tidak peduli. Memangnya siapa yang bisa mengendalikan mulut banyak orang untuk tidak membicarakannya?
Bara mungkin hanya terbahak sepanjang hari sampai perutnya sakit saat mendengar gosip tentang Kristall dan Ketua Yayasan.
Tapi akan beda ceritanya dengan Pak Andra terkolot bin nyebelin yang entah kenapa akhir akhir ini semakin sering ikut campur dalam hidupnya.
Hedeh.
Omong omong, Kristall masih kesal setengah mati dengan Pak Andra yang dengan lancangnya mengisi tasnya dengan buku tebal.
Ngga suka yang berat berat!
Kristal menggelengkan kepalanya, berbelok menuju kantin yang sudah di isi beberapa murid. Perhatian Kristal teralihkan saat Prinka melambaikan tangannya dengan semangat dari salah satu meja bersama Camelia.
"Lah? Ko disini?"
"Pak Jo ngga masuk."
Kristall menarik jus Prinka yang mendelik kesal dan kembali menyeruput kuah baksonya.
"Bu Mela kenapa?"
Camelia bersuara, Prinka nyaris tersedak karna melupakan ribuan pertanyaan yang ingin segera meluncur dari bibirnya.
"Iya, Bu Mela kenapa? Katanya lagi marah yah? Tumben loh itu, Bu Mela kan orangnya sabar bet."
Kristall menelan jusnya, terkekeh pelan melihat tatapan penasaran Prinka.
"Ada deh."
"Kristall ih!"
"Bentar bentar."
Kristall bergegas bangkit hingga prinka mendengus kesal.
"Kabur aja teros."
Kristall mengedipkan matanya, menunduk cepat dan berbisik pelan.
"Bu Mela mau jalan jalan sama gue."
"Hilih!"
"Eh, serius?"
Kristall tertawa kecil melihat reaksi Prinka dan Camelia, kembali meminum jus Prinka hingga tinggal setengahnya yang membuat gadis itu menatapnya kesal.
"Kristall, astogeh!"
"Iklan dulu, Bubay!"
Kristall bergegas meninggalkan mejanya, melangkah cepat menuju sudut kantin dimana Bara dan para antek anteknya sedang makan kuaci yang dihamburkan diatas mejela.
"Eh, Bebeb!"
"Yo, Kristall."
Kristall mengambil tempat diantara Bara dan Ato yang sempat mencubit pipinya gemas.
"Ato, ih!"
"Gemes wee!"
Kristall hanya menekuk bibirnya seraya mengusap pipinya yang memerah sebentar.
"Tumben, bolos yah?"
"Hadoh, Ato bolos? Kiamat!"
Kristal akhirnya tertawa kecik mendengar seruan Jojo, Ato berdecak kesal.
"Lagi kosong, nih makan kuaci!"
Ato mendorong gunungan kuaci kedepan Kristall.
"Makan sampe kenyang dah!"
"Anjir, mana bisa kenyang!"
"Kenyang kaga, pegel iye!"
Kristall tertawa mendengar gerutuan Bara, menghela nafasnya menyadari Hamka tidak ada disana.
"Eh, Hamka mana?"
"Ngga masuk, mukanya biru dibogem bokapnya. Dia kerumah gue semalem tapi langsung cabut abis beresin lukanya."
Kristall tak bersuara tidak lagi mendengarkan teman temannya saling membuka suara, menoleh kearah Bara yang masih terlihat serius menikmati kuacinya.
"Kenapa, Beb?"
Krista beringsut mendekati Bara, terkekeh pelan lalu mengedipkan matanya dengan menggemaskan.
"Anterin dong!"
"Bolos lagi, Beb?"
Tanya Bara penuh arti.
"Hu uh."
Kristall mengangguk, Bara bergegas bangkit seraya memukul dadanya angkuh dengan wajah sok kegantengannya.
"Berangkat, Bebeb!"
Dan hari itu.
Kristall benar benar bolos.
**