Part 7

876 Words
** Kristall melangkah ringan di koridor sekolah, hari ini sama seperti biasanya. Rok kependekan, kaki kemeja diluar, sepatu dan kaus kaki hingga lutut dan rambut kusut yang jatuh dipunggungnya. Para murid bahkan masih menatapnya aneh dan berbisik seperti biasa bahkan lebih beringas, yang berbeda hanya tas Kristall yang hari ini terlihat lebih berisi. Iyalah, siapalagi kalau bukan kerjaannya Bapak Andra tercintah. Sialnya Kristall baru sadar saat ia sudah di atas Bus. Kan kesel! "Anjing yah!" "Temen lo tuh yang Anjing!" "Prinka, Inggrid!" Baru saja Kristall ingin memasuki kelasnya, drama satu babak yang sedang menanas itu menyambutnya. Drama yang lagi lagi melibatkan Prinka dan Inggrid. "Lo ngga usah ngebacot kalau ngga punya bukti!" "Kaya lo punya aja! Banyak yang liat kemarin kalau temen busuk lo itu minta duit ke Pak Andra!" Oh, Pak Andra. Kristall mangut mangut, melongos begitu saja melewati Prinka dan Inggrid yang berdiri saling melemparkan tatapan sengit. Tasnya berat, bruh. "Eh, Lo!" Kristall tak menoleh, mengambil tempat di kursinya tidak peduli tatapan itu menghujam kearahnya. "Lo denger gue ngga sih!?" Kristall menaikkan alisnya saat Inggrid menjerit kesal. "Oh, lo manggil gue?" Inggrid memutar bolamatanya, "b***h, please!" "Inggrid, lo yah!" Prinka kembali berteriak protes, Inggrid mendengkus semakin kesal. "Apa? coba deh lo tanya sendiri!" Prinka menoleh kearah Kristall, gadis itu tidak menunjukkan gerakan berarti. "Emang bener, Kristall?" "Bener apa?" Kristall menggauruk pipinya dan mulai menguap hingga air matanya menetes. Mengantuk. "Lo-" "Kalau lo itu mainnya sama om om, suka digilir sama gerombolannya Bara bahkan jual badan busuk lo ke Pak Andra!." Sela Inggrid cepat, sepasang matanya menatap Sania penuh arti. "Inggrid!" Prinka berteriak kesal namun gadis itu hanya mendengkus kesal seraya bersidekap. "Oh, itu." Hanya itu yang keluar dari bibir Kristall, nyaris memejamkan mata sebelum Inggrid menendang kaki mejanya. "Jawab!" "Inggrid!" Prinka menjerit memperingati, nyaris membuat Inggrid kembali berteriak sebelum Sania menahannya. Berdiri memasuki lingkaran panas mereka dan tersenyum manis. "Maafin Inggrid yah, dia cuma kesel ko karna lo nggak pernah jawab dia." "Preeett!" Prinka memutar bolamatanya malas. "Maaf kalau Inggrid kasar." Kristall tak menyahut, Prinka dan Camelia bahkan yakin jika gadis yang bertopang dagu dengan tatapan ke ambang pintu kelas itu tidak mendengarnya. Masih menatap kearah dimana Pak Andra terkece yang entah sejak kapan berdiri dengan tangan bersidekap, berdehem pelan yang menyadarkan seisi kelas yang bergegas membubarkan diri. "Ada masalah apa ini?" Tidak ada yang menyahut, beberapa saling menyenggol hingga berbisik dan membuang muka. "Kenapa tidak ada yang menjawab?" Lalu tangan itu terangkat, serempak menoleh kearah Saniabyang lagi lagi menyelipkan rambut ikalnya kesisi telinga dengan manis yang membuat Prinka mengernyit tidak suka. "Ada apa Sania?" "Cuma salah palaham ko, Pak. Tapi sekarang udah ngga papa, cuma nunggu Kristall maafin Inggrid aja." Yang disebut sedang memejamkan mata, Andra yang melihat itu menggelengkan kepalanya pelan tak habis pikir. "Kristall." "Anjir, Kristall!" Prinka memutar badannya, mengguncang tubuh Kristall karna yakin Camelia yang sibuk membaca tidak akan melakukannya. "Oi, Pak Andra marah loh!" Gadis itu mengerjapkan matanya, bibirnya mencebik dengan kening mengkerut. "Kenapa, Pak?" "Ini masih pagi, jangan tidur dikelas." Namun Kristall hanya menatapnya dengan mata mengantuknya lalu bertopang dagu. "Ngantuk, Pak." "Ayo, kalian harus saling memaafkan." Kristall merenggangkan tubuhnya tidak tertarik, merogoh tasnya mencari ikat rambut karna ia mulai kepanasan. "Kristall." Andra memanggil dengan sabar, gadis itu tampak mengaduk tasnya. Mengeluarkan beberapa buku tebal keatas meja. "Iya saya maafin ko Pak." Gumamnya, Andra melepaskan kancing kengan kemejanya. Menggulungnya hingga siku saat Krista sibuk menyepol rambutnya asal asalan. "Kamu juga harus minta maaf." Sepasang iris coklat kemerahan itu bernggerak cepat kearah Andra, mengerutkan keningnya bingung. "Lah, ko saya yang minta maaf?" "Bener-" Prinka yang baru saja ingin menimpali mendesis merasakan cubitan Camelia yang memberinya tatapan penuh arti. "Kalian satu kelas, jangan merusak hubungan kalian karna hal kecil." "Kecil dari mananya." Prinka menggerutu pelan, menatap Kristall yang menghempaskan buku tebalnya diatas meja dengan suara bedebum keras. "Kristall?" "Saya ngga mau bawa ini pulang." Seisi kelas mulai mengerutkan keningnya tidak mengerti, satu satunya yang memahami ucapab Kristall adalah sosok Andra yang kini bersidekap didepan d**a. "Kenapa? Itu buku kamu." Kristall mendengus kesal, bergegas bangkit dan mengantongi ponselnya. "Mau kemana kamu?" "Tuh, dipanggil Bu Mela." Andra menoleh dan menemukan salah seorang murid yang terlihat salah tingkah diambang kelas "Pagi, Pak Andra. Kristallnya dipanggil Bu Mela keruang Guru, katanya lumayan lama." Krista bergegas keluar kelas bahkan sebelum Andra menyetujui. "Kalau boleh tau, ada apa?" "Kurang tau, Pak. Tapi Bu Mela lagi ngamuk nyariin Kristall, Pak." Andra mengangguk membiarkan murid itu berpamitan dan segera berlalu nyaris tidak menyadari Kristall yang sudah melangkah lebih dulu meninggalkan kelas. "Kristall." Gadis itu tidak menoleh, Andra melebarkan langkahnya dan mengikuti gadis itu. "Ara." Menghentikan langkahnya, melemparkan tatapan kesal kearah Pak Andra. "Pokonya saya ngga mau bawa bukunya pulang, titik!" Andra menggelengkan kepalanya pelan, menekan pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. "Berhentilah membuat masalah." Kristall makin gondok. "Bapak itu kenapa sih?" Kristall melanjutkan langkahnya sebelum lagi lagi Andra bersuara. "Jadi, kamu tidak akan berubah?" Kristall mendengus kesal, menoleh kearah Andra lalu bergegas menghampirinya dengan kaki menghentak. "Kenapa? Capek? Kesel?" "Bukan-" "Bapak kalau capek, kalau kesel bisa berhenti ko urusin hidup saya!" "Jangan berteriak." "Kesel tau pak! Udah ngantuk! Laper! Bapak juga bikin tambah pusing!" "Kristall." "Bapak ngga usah kerumah saya lagi kalau cuma mau isi tas saya , berat tau pak!" "Ara." "Oke, dah dah!" Gadis itu berbalik benar benar pergi dengan wajah yang ditekuk, Andra lagi lagi hanya mampu menggelengkan kepalanya tak habis pikir apa yang ada dikepala cantik adik perempuan dari sahabat baiknya itu. Anak penurut dengan senyum manisnya dimasa lalu benar bebar sudah menghilang. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD