**
Kristall menenteng kantong kreseknya dipinggir jalan, tidak mengindahkan perintah Andra untuk langsung pulang dan membeli permen kaki kesukaannya.
Tapi bukan di indomater ko.
Saat Kristall sedang menunggu taxi dengan permen dimulutnya sebuah mobil berhenti tepat didepannya, mobil yang ia kenali hingga membuatnya berdecak kesal dan berbalik berniat pergi secepat mungkin sebelum cekalan dilengannya menahan langkah Kristall.
"Jangan pegang pegang!"
Kristall menepisnya dengan kasar, menatap malas pria tampan berseragam rapih dihadapannya.
Bukan seragam sekolah Kristall, tapi seragam sekolah tetangga.
Ketua osisnya pula.
"Kristall, lo masih marah sama gue?"
Pede.
Kristall mengibaskan rambut kusutnya, lalu merapatkan sweeternya seraya bersidekap.
"Emangnya kapan gue baik sama lo?"
Kristall melangkah mundur saat ia lagi lagi ingin menyentuh Kristall.
Idih.
Enak aja!
"Kapan lo bisa anggep gue kaya temen cowok lo yang lain?"
Kristall nyaris memutar bolamatanya malas, mengingat pertemuan mereka tahun lalu karna Kristall nekat kesekolah tetangga untuk memberi kesaksian atas tuduhan mantan teman kelasnya yang baru saja pindah.
Kalau bukan Ato yang nyusul.
Meh, Kristall mungkin sudah digangbang sama komplotannya si Ares ini.
"Sorry, temen cowok gue yang mana yah? Karna setau gue, mereka ngga ada yang aneh aneh tuh sama gue."
"Kristall, Please."
"Please, apadeh? Please, grepe grepe gue? Kelaut sana!"
"Ngga usah-"
"Ngga usah apa?"
Suara itu membuat Kristall menoleh cepat, menemukan Bara merangkulnya dengan gaya sok kegantengannya.
"Bara?"
"Halo, Bebeb."
Bara menunjukkan cengiran khasnya, Kristall lalu mengedikkan bahunya melepas rangkulan Bara lalu berbalik menatap teman temannya juga ada disini.
"Eh, Ato mana?"
"Biasalah, anak kesayangan Bu Mela."
Kristall mangut mangut, Ato memang lumayan pintar dan bagus dalam beladiri.
"Eh, Itu anak tetangga kenapa nyasar disini?"
Kristal mengerjap lalu mengedikkan bahunya.
"Bro, ada masalah sama Kristall?
Ares menghela nafasnya, terlihat tidak suka dengan kehadiran Bara dan teman temannya.
"Ngga ada ko, gue duluan."
Remaja itu tersenyum ringan lalu melesat pergi secepat dia datang, meninggalkan tatapan tanda tanya kearah Kristall.
"Beb, ko disini? Ngga pake seragam pula."
"Iya, lo ngga masuk emang?"
Kristall menekuk bibirnya, menatap memelas dan menyentuh keningnya.
"Iya, gue lagi sakit. Anterin pulang dong."
"Mulai mulai!"
Kristall hanya mengerjapkan matanya dengan menggemaskan hingga Bara dan yang lain hanya tertawa.
"Yaudah, yok. Gue anterin pulang."
Bara sudah bersiap mengantar Kristall sebelum kewarasan mengambil alih kepala Liandra.
"Hamka aja deh, lagi males nungging."
"Bebeb!"
"Anjir, Kristall!"
"Oi, jangan bikin ngeres!"
"Bahasanya, Dede! Entar ada yang denger ditempeleng pala kitenye!"
Kristall hanya terkekeh senang mendengar sorakan riuh gerombolan Bara dan bergegas duduk manis dimotor vespa antik Hamka yang sudah siap melaju.
"Udah, Kristall?"
"Udah dong!"
Seru Kristall dengan semangat
"Hati hati, Bang Hamka!"
"Najis, jijik gue."
"Jangan rem rem mendadak! Awas loh, Bebeb kesayangan gue itu!"
"Eaa eaa!"
"Berisik."
Hamka mulai menjalankan vespanya, Kristall lagi lagi hanya tertawa senang seraya melambaikan tangannya dengan semangat seraya berteriak yang disambut sorakan riuh.
"Jangan kangen!"
"Eaaa!"
**
Pintu lagi lagi tidak tertutup dengan rapat saat Andra mendatangi rumah Kristall, ia lalu melangkah menuju dapur dengan paper bag berisi makanan ditangannya dan masih belum menemukan dimana gadis pemilik rumah itu berada.
Baru saja Andra memindahkan makanan dari dalam kotak ke piring, gadis yang ia cari sudah lebih dulu melenggang memasuki dapur. Menatap Andra dengan rambut yang masih meneteskan air dan membuat kaus abu abunya sedikit basah.
"Ba-"
"Kamu keramas?"
Kristall memengambil alih piring ditangan Andra.
"Gerah, Pak."
"Kamu masih sakit, Kristall."
Andra mengekori gadis yang tanpa rasa bersalah duduk manis diatas karpet seraya menyalakan layar datar yang menempel pada dinding di ruang santai.
"Ara."
Mendengar nada sabar Andra gadis itu menoleh, terkekeh pelan dengan kedipan menggodanya.
"Saya udah sehat, Pak. Silahkan pulang, makasih buat makanannya."
"Keringkan rambut kamu."
"Hairdryernya ngga tau dimana, Pak!"
Andra menggeleng pelan, meninggalkan Kristall yang hanya menatap punggunya dengan alis terangkat. Kembali menyantap makan siangnya sesekali mengganti chanel hingga deruman pelan diatas kepala membuatnya mendongak, menatap sepasang mata elang diatasnya dengan tatapan bingung.
"Lah itu nemu dimana, Pak?"
"Dilaci ."
"Trus bapak mau ngapain?"
Andra tak menyahut dan mengambil tempat di atas sofa tepat dibelakang Kristall yang memunggunginya, duduk diantara kedua kaki panjangnya yang menekuk.
"Makan."
Andra mendorong pelan kepala Kristall agar kembali melanjutkan makannya, gadis itu hanya menurut dan membiarkan ia mengeringkan rambutnya.
"Pak?"
"Hm."
"Bapak Gay?"
"Apa?"
Kristall kembali mendongak hingga Andra pikir gadis itu akan mematahkan lehernya sendiri.
"Bapak pacaran sama Abang?"
"Kamu bicara apa?"
Kristall semakin mendongakkan kepalanya hingga Andra lagi lagi harus mendorong kepala gadis itu agar berhenti bertingkah konyol.
"Soalnya tadi Mamanya Pak Andra bilang, kalau dari SMA bapak tuh sukanya nempelin Abang terus."
Kristall memutar tubuhnya menghadapa Andra, kali ini mendongak dengan benar karna Andra yang duduk diatas sofa.
Sayangnya, kali ini pikiran Andra yang tidak benar dan mulai menjalar kemana mana.
"Jangan dengarkan."
"Tapi tapi!"
Andra baru saja akan beranjak sebelum Kristall beringsut semakin mendekat kearahnya.
"Tapi apa?"
"Bapak emang udah sama Abang dari SMA? Ko saya ngga pernah liat?"
Andra menghela nafasnya, seolah sedang menghadapi ujian terberat dalam hidupnya.
"Waktu itu kamu masih kecil, kamu juga lebih banyak tinggal di luar kota."
Kristall mengangguk lamat lamat meskipun keningnya mengkerut dalam, Andra berdehem pelan lalu mengedikkan dagunya kearah Kristall.
"Sekarang berdiri."
"Ha?"
Andra lagi lagi menghela nafasnya.
"Posisi kamu tidak sopan."
Kristall mengerjap, lalu beringsut mundur dan bergegas berdiri seraya menangkup pipinya yang sialnya memerah. Matanya memicing curiga kearag Andra lalu menjerit kesal.
"Bapak m***m!"
"Jangan berteriak."
"Salah sendiri! Bapak m***m!"
Andra menggeleng pelan, bergegas bangkit dan merogoh saku celananya. Ia harus segera pergi dari sini atau ia akan gila sebentar lagi.
"Saya masih ada kelas di jam terakhir, kunci pintunya dan jangan berkeliaran."
"Enak aja, Pak!"
"Jangan lupa minum obat."
Ujarnya meninggalkan Kristall yang diam diam memutar otaknya.
Kalau m***m berarti bukan Gay kan yah?
Au ah, mending bubu.
**