Part 5

1076 Words
** Panas.     Kristall menggeliat pelan dibalik selimutnya, mengerjapkan matanya berapa saat lalu terduduk dengan sakit luar biasa di kepalanya. Mengerutkan keningnya menyadari kamarnya yang bersih dan rapih, tidak ada tumpukan baju kotor,  tidak ada buku dan sampah cemilan berserakan bahkan tidak ada satupun pakaian yang tergantung sembarangan dibalik pintu. Tumben.    Kristall menyibakkan selimutnya lalu beringsut turun dari ranjang, kakinya melangkah cepat saat mendengar suara keributan dari arah dapurnya. "Abang!"     Kristall menjerit, melompat memeluk punggung lebar yang memunggunginya dengan erat hingga nyaris terhuyung. "Kristall."    Suara itu membuat Kristall menahan nafasnya, matanya membulat perlahan lalu dengan cepat menarik lingkaran lengannya dan melagkah mundur. "P-Pak Andra?"    Pria itu berbalik, mata elangnya menatap Kristall dengan wajah kaku seraya bersidekap. "Iya, ini saya. Bukan Abang kamu."   Krista mengatupkan bibirnya yang terbuka lalu berkacak pinggang dengan tatapan menuduh. "Bapak ko bisa disini!? Tuhkan, bener! Bapak kenal sama Abang saya!" "Lain kali, jangan memeluk saya sembarangan." "Yakan saya pikir Abang saya, Pak!"      Andra menggeleng pelan, lalu mengedikkan dagunya kearah Kristall. "Sudah, kembali ke kamar kamu dan cari pakaian sopan."    Kristall menunduk menatap gaun tidur bergambar dombanya lalu tersentak memeluk tubuhnya dengan tatapan membulat ke arah Andra. Demi kerang ajaib! Kristall tidak menggunakan apapun dibaliknya! Itu artinya.. "Pak Andra m***m! Bapak harus tanggung jawab! Bang Satria, Dedekmu dimesumin! Ngga mau tau, pokonya Bapak harus tanggung jawab! "    Andra menaikkan alisnya. "Kamu masih sakit?"   Kristall melangkah mundur, kembali menjerit saat Andra melangkah mendekat. "Jangan sentuh akuh! Jangan sentuh akuh! Aku Jyjyq! Aku jyjyq sama Mas!Aku- Akh! "       Kristall menjerit mengusap jidatnya yang memerah karna sentilan maut Pak Andra yang menatapnya datar. "Sana, masuk kekamar." "Ih! Sakit tau, pak ! Ayo ngaku dulu! Bapak sempet grepe grepe kan?"   Kristall mengangkat dagunya semakin tinggi, menantang pak Andra yang sialnya terlalu tinggi. "Kristall." "Tunggu saya bilangin Abang, kalau bapak tuh m***m!"    Andra menghela nafasnya tenang, berusaha menahan senyum disudut bibirnya. "Silahkan, lagi pula Abang kamu tidak akan percaya." "Pasti percayalah! Aku fotoin kalau bisa!"     Andra menunduk dengan tiba tiba hingga Kristall nyaris kehilangan nafasnya. Sialan. Kenapa bisa sekece ini coba. "Foto apa?"    Kristall menelan ludahnya susah payah, kehilangan kata katanya saat debaran jantungnya ikut membantu otaknya yang secara tiba tiba kehilangan akalnya. "Anu.." Kristall mundur selangkah, Andra ikut maju semakin menunduk. "Anu?" "Itu.." "Itu?" Lagi lagi Andra ikut maju selangkah saat Kristall melangkah mundur.    "Bapak ih!"    Kristall menjerit seraya mendorong d**a bidang Andra yang hanya dibalut kaus oblong berwarna putih agar menjauh darinya. Aduh. Ko kerad. "Ayo, ganti pakaian kamu atau setidaknya ambil sweater. Kamu harus sarapan sebelum minum obat."    Ujar Andra meninggalkan dapur saat Kristall kembali bersuara dan mengekorinya. "Pak, saya belum selesai!" "Berhenti berteriak, tetangga kamu akan berpikir saya melakukan apa apa sama kamu." "Meh, Bapak kan emang udah apa apain saya!"    Andra berbalik tiba tiba hingga Kristall nyaris kebali menubruk tubuhnya. Modus modus. "Ba-" "Ara."   Kristall seketika terdiam. "Tolong, dengarkan saya kali ini. Kamu harus sehat, kesekolah memperbaiki nilai kamu. Kamu juga harus belajar untuk persiapan ujian, Abang kamu memberi kepercayaan yang tidak berencana saya rusak."   Selanya dengan tatapan serius membuat Kristall menghela nafasnya dengan bibir yang menekuk dan tatapan meredup. "Ko terharu."   Andra menghela nafasnya lalu memberi tepukan ringan dikepala Kepala kristall. "Lupakan soal mengganti pakaian, sarapan dan minum obat. Saya harus bergegas ke sekolah." "Iya, Pak."    Sahut Kristall dengan nada rendah, namun tidak ada tanda tanda ia akan beranjak dari sana hingga Andra kembali menghela nafasnya. "Kristall." "Otw, Pak." **      Andra baru saja selesai mengabsen diruang guru saat bisik bisik hingga siulan para murid dikoridor sekolah mengalihkan perhatiannya, ia lalu mengambil beberapa buku diatas meja dan bergegas keluar.    Melangkah dengan kaki panjangnya menuju kelas Kristall lebih dulu, umtuk memberitahukan tentang gadis itu yang harus absen hari ini. "Pak Andra!"    Andra menghentikan langkahnya, menoleh cepat dan menemukan Kristall diujung koridor melambaikan tangannya dengan semangat.    Gadis itu masih menggunakan gaun tidur sepaha bergambar domba yang dibalut sweeter rajut selutut, Andra menghela nafasnya kasar menekan pangkal hidungnya menduga gadis  tidak mengenakan apapun di baliknya. Brengsek.    Andra lupa kapan terakhir kali ia diam diam mengumpat, mungkin belasan tahun lalu ia tidak ingat.   Bagaimana bisa gadis yang masih berwajah pucat itu berkeliaran dengan sendal jepitnya di sekolah dengan, oh yatuhan. "Pak, ketinggalan."    Gadis itu menyodorkan ponsel berwarna hitam kearahnya, Andra menatap kaku Kristall yang seperti biasa cuek dengan sekitarnya. "Apa yang kamu lakukan, Kristall?" "Lah, balikin punya Bapak. Ketinggalan di rumah, berisik dari tadi."     Andra menghela nafasnya, meraih ponselnya dan memasukkannya kedalam saku. "Saya bisa mengambilnya sendiri sepulang mengajar, sebaiknya kamu pulang." "Bilang makasih ke, Pak."    Kristall merenggut, Andra menggelengkan kepalanya pelan. "Saya tidak akan berterimakasih melihat kamu berkeliaran dengan pakaian seperti ini di sekolah."     Kristall melangkah mundur, memeluk tubuhnya sendiri dengan tatapan curiga. "Bapak jangan pikir macem macem!" "Kamu yang membuat semua orang berpikir macam macam, sekarang pulang dan jangan berkeliaran."     Perintah Andra tidak ingin dibantah Krista menghentakkan kakinya lalu menyodorkan telapak yang tangannya pada Andra. "Bagi ongkos, Pak."    Andra mengerjap sekali, menaikkan alisnya. "Kamu naik Taxi?" "Iyalah, Pak. Tapi saya lupa bawa uang."    Kristall meringis lalu terkekeh pelan. "Saya antar kamu pulang." "Ngga mau! bagi ongkos aja, Pak." "Saya antar." "Kagak, bapak mau ngasih apa engga nih? Saya mau nyari Ba-" "Oke."    Kristall tersenyum penuh kemenangan, menatap Andra yang mengeluarkan lembaran uang berwarna merah dari dompetnya. "Makasih yah Pak, nanti saya ganti!" "Langsung pulang, jangan mampir kemanapun."    Kristall tersentak, menatap Andra dengan tak percaya. "Bapak ko tau saya mau mampir di Indomaret?" "Kristall." "Saya pulang yah, Pak. Omong omong Mamanya tadi nelpon, maaf saya angkat."    Kristall mengedipkan matanya,  Andra melemparkan tatapan tajam yang membuat gadis itu tekekeh pelan. "Langsung pulang, nanti siang saya bawa makanan." "Oke, Pak! Eh, ngga usah!" "Ara." "Iya, Pak. Ini mau pulang."    Kristall melenggang meninggalkan Andra dengan hentakan sendal jepit yang menggema di koridor, gadis itu bahkan tidak peduli tatapan yang sejak tadi mengekorinya dengan tatapan yang membuat Andra diam diam mengepalkan jemarinya.      Tidak habis pikir bagaimana gadis itu tidak peduli dengan pandangan orang orang sekitarnya.     Tidak peduli meskipun itu tidak sepantasnya ia dapatkan. Benar benar.   Andra menghela nafasnya, berniat kembali melanjutkan tujuannya sebelum Laura mencegatnya dengan tatapan penasaran. "Pagi, Pak Andra. Itu tadi si Kristall kan?" "Pagi, Iya."    Jawab Andra singkat. "Ko-" "Maaf, saya permisi. Saya ada urusan  sebelum bel masuk berbunyi."   "I-iya."       Andra melenggang melewati Laura menuju kelas Kristall, ia harus menyelesaikan tugasnya lebih dulu sebelum kembali kerjmah gadis itu. Ah, yah. Dia harus menelpon Ibunya. */
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD