Part 4

821 Words
Kristall nyaris membanting ponselnya kesal saat Abang terkecenya tidak menjawab panggilannya, berdecak kesal ia lalu bergegas bangkit seraya menyampirkan tasnya dengan tatapan Prinka yang mengekorinnya. "Eh, kemana lo?" "Pulang." Jawab Kristall santai, "Lah inikan masih jam sepuluh." Protes Prinka, gadis itu memutar otaknya lalu tersenyum. "Bilang aja gue lagi pusing, oke?" Yakan, Kristall emang lagi pusing. "Mulai deh, mulai!" Gemas Prinka, Kristall hanya terkekeh pelan mengibaskan rambutnya. "Gue pulang yah, belajar yang rajin Prinka. Camelia jangan belajar mulu, nanti jadi pusing kaya gue." "Nih anak yah! Pak Andra marah nyaho lo!" Prinka berdecak gemas saat Kristall melongos begitu saja meninggalkan kelas, sama sekali tidak peduli lirikan gerombolan Inggrid yang sedang dalam masa PDKT dengan Sania yang sok manis itu. Bodo amatlah. Kristall melangkah menuju pelataran sekolah, melewati ruang guru dengan santainya tanpa tahu mata elang itu menangkapnya dengan alis terangkat. "Bebeb!" Kristall menoleh, menemukan Bara diatas motor sportnya yang baru saja melewati gerbang. Mungkin sudah mendapat lahar panas dari Bu Laura yang berdiri garang di Pos satpam. "Dari mana, Bar?" "Baru bangun, Beb." Jawabnya baru saja ingin melepas helmetnya sebelum ditahan oleh Krostall. "Jangan buka dulu, anterin gue pulang dong." "Lah, bolos lagi Beb?" "Hu uh, anterin yah." Kristal memelas, menekuk bibirnya menggemaskan hingga Bara tertawa. "Iyadong, apasih yang engga buat Bebeb cantik gue." "Mau kemana kamu?" Kristall tersentak, membelalakkan matanya menyadari siapa yang baru saja memanggilnya. Memukul lengan bara, mendesak pria itu untuk menyalakan motornya. "Bentar Beb." "Buru!" Kristall memegang bahu tegap Bara, bergegas naik tidak peduli berpasang mata yang melotot melihat roknya yang tersingkap karna terlalu pendek. Bodo amat. Yang penting pulang. "Kristall?" Kristal menoleh, menemukan Pak Andra yang dengan kening mengkerut bertanda.. Marah? "Halo Pak!" "Turun." Printahnya dengan wajah kaku, Kristall mengibaskan rambutnya tanpa tahu malu memeluk pinggang Bara. "Jalan, Bar!" Kristall memekik saat Bu Laura mulai melangkah kearah mereka dab Mang Udin bersiap menutup gerbang. "Siap Beb!" Kristall menoleh sekilas pada Andra, kali ini tidak mau berlama lama menatapnya karna berpotensie membuatnya gagal pulang. "Kristall." "Maaf yah Pak, saya bandel dulu hari ini!" "Kristall!" Bu Laura memekik kencang, Bara melajukan motornya dan Kristall hanya melambaikan tangannya dengan semangat hingga berhasil melewati gerbang. "Jangan kangen, Mang Ujang!" Keduanya menghilang diujung jalan, meninggalkan Mang Ujang yang mengelus d**a dan Bu Laura dengan kepala berasap. Sementara Andra diam diam mengepalkan jemarinya didalam saku celananya. Kristall sepertinya sulit berubah. ** Andra menggeliat pelan saat merasakan getaran dari ponselnya, mengerjapkan matanya sekilas menyadari ia tertidur diruang tamu Oma nya yang entah dimana saat ini. Merogoh ponselnya, mata elangnya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Satria Archello Damian Andra menaikkan alisnya lalu segera mengusap layar ponselnya. "Ya?" "Dimana Ndra?" "Di rumah Oma, ada apa?" Andra bergegas bangkit melangkah menuju dapur dan menuang segelas air. Tenggorokannya benar benar sakit. "Ke rumah dong, cek Ara. Dari tadi siang dia ngga bisa dihubungin, tadi pagi sih dia nelpon, tapi gue ada rapat penting sama investor." Suara berat yang terdengar khawatir dari sebrang sana membuat Andra menaikkan alisnya. Jadi, Kristall belum pulang? "Oke." Sahut Andra singkat, menenggak airnya hingga tandas saat teman baiknya kembali berasuara. "Makasih, Ngerepotin lagi astaga." "Jangan sungkan." "Oke, hati hati. Sekali lagi makasih, kalau Ara bandel jitak aja ngga apa apa." Andra tersenyum tipis saat sambungan terputus, ia lalu mencari kunci motor dan dompetnya lalu segera bersiap menuju rumah si pembuat masalah Kristall. ** Pagar tidak terkunci, pintu bahkan tidak tertutup dengan rapat saat Andra tiba dirumah sederhana yang begitu gelap gulita. Kakinya melangkah perlahan, mencari saklar dengan cahaya ponsel lalu menyalakan lampu. Ruang tamu dengan sofa berwana pastel menyambutnya, ia mengedarkan padangan lalu menemukan sepatu yang tergeletak sembarangan dilantai. Menemukan pasangan lainnya ditengah ruangan, lalu tas didekat rak yang menjadi penyekat dengan ruang santai. Andra menghentikan langkahnya nyaris tidak menyadari tubuh mungil yang sedang meringkuk di sofa bermandikan keringat, merintih dalam tidurnya bahkan mulai terisak. Andra tertegun. Kedua kakinya memutari sofa lalu menunduk, menatap wajah pucat yang dipenuhi bulir keringat. Terlihat begitu rapuh dan kesepian. Andra tidak mampu menahan jemarinya terulur mengusap setetes air mata yang mengalir disudut mata gadis itu, lalu turun menyentuh sisi wajah pucatnya yang begitu menyengat. Menyadari seragam yang masih melekat ditubuhnya membuat Andra bertaruh jika gadis ini bahkan belum menyentuh apapun sebelum jatuh tak berdaya disini, seorang diri. "Abang." Kristall mulai terisak, menggeliat pelan saat Andra menunduk meraih tubuh itu dalam gendongannya. Membiarkannya mencekram bajunya dengan kuat, lalu kembali terisak didadanya. "Abang, Ara kangen." Isaknya menangis terseduh membuat Andra mengedarkan pandangannya sekilas membawa Kristall menuju pintu berwarna putih yang di penuhi coretan tidak jelas. Kamar berantakan yang benar saja milik Kristall, Andra lalu meletakkan tubuh yang semakin panas itu dengan lembut diatas kasur. Memperbaiki posisinya hingga gadis itu nyaman dan bergegas menyalakan lampu diatas nakas. "Abang, sakit." Krista kembali merintih, Andra menghela nafasnya dengan tenang. Mengusap rambut basah gadis itu sebentar lalu beralih melepas kos kaki yang masih membalut sepasang kaki jenjang gadis itu. Sepasang kaki yang membuat Andra kembali menghela nafasnya dengan berat lalu berkacak pinggang sebelah tangan, menatap lekat lekat gadis yang kembali merintih dalam tidurnya. Sepertinya. Ini akan jadi malam yang panjang. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD