EMPAT (PART 2)

1041 Words
Malamnya Mutia sedang sibuk mengeringkan rambutnya selepas mandi dikamarnya. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering, ia menjawab panggilan itu, suara dari sebrang sana mengucapkan selamat malam padanya. ia terkejut,kemudian ia bertanya siapa yang meneleponnya dan ada maksud apa meneleponnya. Sementara suara itu hanya tertawa,dan berujar bahwa dirinya adalah pria yang akan menjadi suaminya di masa depan. Merasa terganggu akan semua ucapan yang keluar dari orang yang tidak dikenalnya gadis berambut pendek itu memutuskan teleponnya. Namun selang tak berapa lama telepon genggamnya berdering lagi namun ia mengacuhkannya. Sebab telepon itu berasal dari nomor yang sama. Tampaknya si penelepon itu tidak menyerah begitu saja, buktinya sudah lebih dari duapuluh menit handphone milik Gadis itu berdering mungkin sudah lebih dari lima puluh panggilan tak terjawab. Merasa kesal akhirnya Mutia mengangkat telepon itu.                 “ada apa ya,apakah anda tidak tahu bahwa anda sudah mengganggu kehidupan orang lain” tutur Mutia berang                 “hanya ingin mengucapkan selamat malam sekaligus berharap balasan,apakah tidak boleh ? “ Tanya suara dari sebrang sana                 “maaf ini siapa ya ? ” Tanya Mutia semakin marah                 “saya kan sudah bilang,saya calon suami mu" tutur suara itu seraya tertawa                 “ jangan bercanda ya” ujar Mutia bertambah marah lagi                 “buat apa saya bercanda coba?ini aku Ganesha” ucap suara itu                 “sebenarnya anda itu mau apa sih,dan darimana anda dapat no handphone saya? “ ucap Mutia emosi                 “mau saya, mau saya itu sudah jelas kan tidak perlu saya beritahu lagi, dan masalah darimana saya mendapatkan nomer kamu itu rahasia” ujar Ganesha santai                 “dari ibu ya?” Potong Mutia                 “ tidak juga” jawab Ganesha “lalu darimana ?”Tanya Mutia Penasaran                 “dari Agenda,yang menjadi permulaan kisah kita” terang Ganesha                 Mutia terkejut dan menepuk jidatnya saat pria itu mengungkit cerita yang dulu saat ia kehilangan bukunya. Sebab ia mencantumkan nama dan nomor handphonenya pada buku itu. Suara dari sebrang sana menyapanya lagi.                 "Gimana udah ingat kejadiannya?"tanya Ganesha                 “tunggu jika memang iya anda mendapatkan nomer saya dari agenda itu,kenapa tidak langsung hubungi saya waktu itu?” ujar Mutia penasaran                 “karena bagi saya pertemuan pertama adalah hal yang penting”tutur Ganesha                 “Memangnya apa yang penting?” ucap Mutia                 “itu Rahasia”bisik Ganesha                 “terserah anda sajalah,jadi mau apa anda telepon saya ?” ucap Mutia                 "saya sudah bilang tadi kan coba denger dengan benar apa urusan saya menelpon kamu malam-malam ini sebab saya itu paling tidak suka jika harus mengulang sesuatu yang sama terus menerus,kecuali satu"terang Ganesha                 "Apa?"tanya Mutia penasaran                  "Hidup selamanya sama kamu"rayu Ganesha                 "Jangan bercanda ya,gak lucu tahu"ucap Mutia ketus dan hendak mematikan teleponnya                 "Jangan dimatikan,sebelum aku ucap ini"ucap Ganesha                 "Apa"ujar Mutia yang sudah sangat kesal                  "Assalamualaikum"tutup Ganesha                 "Walaikumsalam"balas Mutia dan langsung menutup telepon dan membanting handphonenya ke atas tempat tidurnya.   Mutia POV                 Ia segera membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu. Mutia  menatap langit-langit kamarku sambil memikirkan perkataan pria bernama Ganesha tadi saat makan malam.                 "Apa maksud dari omongannya itu ya,dan siapa wanita yang dia cintai selain dari ibu dan saudarinya, apakah"gumam Mutia                 "Tapi kalau misalnya cewek yang tadi siang itu pacarnya,terus kenapa dia selalu ganggu aku, pake bilang kalau dia gak pernah bosan hidup sama aku selamanya"Mutia masih menerawang dan sepintas menyunggingkan senyumnya                 "Arghh... tau ah mendingan tidur" ujar Mutia memeluk bantal karakter bernama koya itu ke depan wajahnya   Ganesha POV                 Setelah berhasil membuat gadis itu merasa kesal, ia Ganesha menutup telepon genggamnya seraya tersenyum. Kemudian ada suara yang memanggil dirinya untuk makan malam. Namun ia mengatakan pada wanita yang tadi memanggilnya kini sudah berdiri di hadapannya itu bahwa dirinya sudah makan. Wanita yang dipanggilnya kakak itu mendadak berubah menjadi wartawan yang memberikan puluhan pertanyaan, seperti makan malam di mana sang adik malam ini, makan malam dengan siapa, apakah dengan wanita yang dikatakan sang adik istimewa itu, dan seterusnya. Puluhan pertanyaan itu hanya dijawab oleh sang adik dengan senyuman saja hingga membuat sang kakak kesal. Memecah kekesalan  sang kakak, ibu mereka menyela keduanya sambil berujar lembut pada keduanya.                 "Kalian kok tega ya, membiarkan kedua orang tua nunggu untuk makan malam" ucap tiba-tiba wanita paruh baya dekat pintu kamar                 "Iya nih ma, Ganesha tuh"tutur wanita yang dipanggil kakak itu                 “memangnya kenapa Ganesha?” Tanya sang mama                 “ini lho, putra  mama  yang ganteng ini kayaknya lagi jatuh cinta ma” tutur wanita berambut panjang itu                 “oh ya, sama siapa” Tanya wanita paruh baya itu antusias                 “yang pastinya sih perempuan ma" ledek sang putri singkat “ya iyalah aku naksir sama cewek memangnya aku ini apaan kak”ucap Ganesha tak terima “iya siapa tahu kamu mau berubah arah gitu” ujar wanita yang dipanggil kakak itu “amit-amit deh nak,jangan sampai putra mama ini sampai kayak gitu”ujar sang Mama pada keduanya “terus-terus dia itu perempuan yang seperti apa?”Tanya sang mama “dia itu unik,pintar dan kelihatannya juga anak yang baik dan pekerja keras ma”ungkap wanita itu lagi “lho kok kamu tahu darimana nak?”Tanya sang mama pada putrinya itu “iya tadi Rossa pergi ke tempat kerjanya cewek itu ma. Ternyata ada maksud terselebung dari putra mama ini minta Galan buat les”ujar wanita bernama Rossa itu,sambil mengacak-acak rambut sang adik “apa sih kak”ucap sang adik tak terima “sudah,yang penting….”ucapan sang mama terpotong “hmmm…..gini ni kalau anak sama mama udah kompak sampai-sampai tega buat papanya nungguin mereka di meja makan,yang baru datang dari luar kota itukan papa,kenapa jadi Ganesha yang ditanyain sih”gerutu pria yang kini berdiri di dekat pintu kamar putranya itu “soal cerita Ganesha lebih menarik disbanding cerita papa”ujar wanita paruh baya itu “ma…….”ucap kedua anaknya pada ibu mereka Melihat reaksi kedua anaknya itu,membuat wanita paruh baya itu langsungmembujuk suaminya yang sudah keburu ngambek dan pergi meninggalkan kedua anak mereka di kamar Ganesha. Kedua kakak beradik itu hanya tersenyum melihat tingkah laku orang tua mereka. Mereka juga merasa salut melihat kedua orang tua mereka yang memliki hubungan harmonis bahkan sudah mendekati usia pernikahan usia perak “oh ya kamu harus ajak dia ya ke acara keluarga kita nanti”pinta Rossa pada sang adik                 “iya okelah”jawab Ganesha santai                      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD