Keesokan harinya Ganesha diminta ibunya Mutia untuk mengantar putrinya berangkat kerja sebab sang ibu sebenarnya masih belum mengizinkan putrinya itu bekerja, namun sang putri bersikukuh untuk tetap masuk kerja sebab ia merasa sudah fit . Awalnya Mutia menolak saat sang ibu meminta pria itu mengantarnya kemarin, ia tidak habis pikir pada sang ibu. Sebab biasanya ibunya itu akan jadi overprotektif jika ada pria yang mendekatinya,tapi hal itu tidak berlaku pada pria yang justru dianggapnya aneh dan menyebalkan. . Mobil berjenis SUV bertipe compact berwarna silver kini sudah terparkir sempurna dan pria yang baru saja melintas di pikrannya tadi turun dari mobilnya sambil tersenyum ramah pada mereka yang sedang berdiri di teras rumah . Ia Ganesha langsung mencium tangan wanita paruh baya itu yang disambut dengan senyuman,sementara sang Mutia hanya menunjukkan wajah kesal.
"Sudah sarapan nak?"tanya wanita paru baya itu pada Ganesha
"Sudah Bu"jawab Ganesha ramah, kemudian melirik Mutia yang masih menatapnya tidak suka
"Ada apa?apa yang mengganggu pikiran kamu?"tanya Ganesha pada Mutia
"Enggak,kenapa panggil ibu saya dengan sebutan ibu,sejak kapan ibu saya jadi ibu anda"ujar Mutia sarkas
"Sejak hati saya memutuskan kamu yang akan jadi pendamping hidup saya"ucap Ganesha santai
"Eh gak perlu banyak berdebat,sudah sana cepet pergi nanti kalian telat lagi"ucap sang ibu menengahi
"Iya bu kalau begitu kita pamit dulu,ayo Mutia kita berangkat"ajak Ganesha setelah mencium tangan sang ibu lagi yang diikuti oleh Mutia. Ganesha membukakan pintu mobil untuk gadis itu sambil tersenyum,namun hanya dibalas tatapan kesal. Saat di dalam mobil tidak ada percakapan yang berarti antara keduanya. Hanya saling melempar satu pertanyaan di jawab seadanya dan kemudian hening lagi. Ganeshapun bersuara tentang ketidaktahuannya soal gadis itu yang alergi terhadap makanan laut. Iapun meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Mutia hanya menghela napas pelan kemudian berujar bahwa hal itu bukanlah salah pria yang kini sedang menyetir itu. Gadis dengan potongan rambut bop itu berujar bahwa dirinyalah yang salah,lagipula waktu ia sedang mengambil sikap menghargai segala sesuatu yang diberikan seseorang.
"Oh ya apa seperti itu?berarti jika nanti ada yang memberikan makanan yang beracun kamu terima juga?"tanya Ganesha
"Ya enggaklah,lagipula aku bisa lihat niat seseorang itu dari tatapan matanya,mana orang baik dan jahat" terang Mutia
"Berarti kamu tahu jika saya punya niat baik"ujar Ganesha sambil tersenyum riang
“enggak juga”sanggah Mutia
“Jadi gak mau ngaku nih,kalau kamu itu sebenarnya sudah menganggap saya sebagai teman” tutur Ganesha
“hah…apa saya menganggap anda teman sejak kapan?” ujar Mutia
“sejak pertama kali kita bertemu”jawab Ganesha
“saya tidak pernah bilang begitu” Mutia menyanggah lagi
“bilang kok,saya ada bukti dan saksinya” tambah Ganesha
“mana bukti dan saksinya” tantang Mutia
“ibu kamu”jawab Ganesha Santai
“hah….. ibu memangnya ibu bilang apa?” Tanya Mutia penasaran
“beliau bilang,kamu makan udang gara-gara menghargai makanan dari teman baru, dan seingat saya yang ajak kamu makan siang itu kan hanya saya,tidak ada yang lain kan” terang Ganesha
“memangnya teman baru saya hanya anda saja” elak Mutia
“oh ya,benar begitu?”Tanya Ganesha
“ya iyalah,teman saya itu banyak” jawab Mutia percaya diri
“tapi dari cerita teman kerja kamu,bahwa kamu pingsan sesaat setelah kembali dari makan siang, berarti jika dilihat dari waktun,saya rasa tidak mungkin kamu makan lagi dengan yang lain, jadi…”keterangannya langsung dipotong Mutia
“iya…iya oke saya akui saya bohong,sebenarnya mau anda itu apa sih?” Tanya Mutia mulai kesal
“kejujuran,dan terima kasih sudah mau jujur” ujar Ganesha tulus “so,sebagai tanda pertemanan kita,gimana kalau hari ini kita lunch bareng lagi,kali ini tidak ada udang lagi saya janji” ajak Ganesha
“maaf saya hari ini sibuk”tolak Mutia dan langsung turun dari mobil,sebab keduanya sudah sampai di lapangan parkir kantor tempat Mutia bekerja. Namun tak lama ia kembali lagi dan membuat Ganesha menurunkan kaca mobilnya
“kenapa,apa kamu berubah pikiran?” Tanya Ganesha berharap
“tidak,saya hanya ingin mengucapkan terima kasih” ujar Mutia ketus
“sama-sama”balas Ganesha seraya tersenyum
Mutia sudah berada di kantornya, semua rekan kerjanya merasa heran. Sebab biasanya Mutia selalu riang,ceria dan menjadi mood booster bagi mereka, tapi hari ini mereka melihat Mutia cemberut dan tidak menyapa mereka. Hal ini membuat rekan-rekan kerjanya merasa aneh terutama Yopi, ia merasa bahwa sang partner kerja jika tidak bersemangat seperti itu biasanya ada seseuatu yang tidak beres. Merasa di pandangi oleh teman-temannya,Mutiapun menyapa mereka dan berusaha tersenyum.
“ada apa sih kak,tumben gak kayak biasanya?” Tanya Yopi
“enggak kok,gak ada apa-apa”jawab Mutia sambil memaksakan tersenyum
“Ayo dong kak cerita”rayu Yopi
Mutia menghela napas “asal kamu tahu ya pi,kemarin cowok aneh itu datang ke rumah kakak” ujar Mutia memulai ceritanya
“hah….kok bisa dia ke rumah kakak?” Tanya Yopi Penasaran
“nah itu dia yang bikin kakak bingung,dia tahu rumah kakak katanya dari teman-teman kakak di sini, sekarang kakak Tanya kamu ya yang kasih tahu alamat rumah kakak ke dia?”Tanya Mutia,Yopi menggeleng, kemudian Mutia melirik ke arah kak chacha yang kebetulan sedang berada di situ dari tadi.
“jadi kakak yang kasih tahu alamat rumah aku sama cowok itu” Tanya Mutia
“Alamat rumah kamu ke cowok” kak chacha mencoba mengingat “oh iya…iya..beberapa hari lalu memang ada cowok yang minta alamat rumah kamu,ya kakak kasih” sambung kak chacha
“kenapa dikasih sih kak”Mutia protes
“Kata cowok itu,ada sesuatu yang penting mau dia kasih ke kamu, jadi ya kakak kasih deh,memangnya kenapa sih” Tanya Kak Chacha penasaran.
“Yopi pernah cerita kan Kak,tentang Iak Mutia yang dikejar-kejar cowok,dia itu orangnya,Kak Mutia gak suka kak” cerita Yopi.
“Apa,kamu gak suka sama cowok itu” Kak Chacha kaget.
“Ekspresi Kak Chacha persis kayak yopi denger cerita kak Mutia untuk pertama kalinya” tutur Yopi.
“Serius kamu gak suka sama cowok itu” Tanya Kak Chacha pada Mutia.
“Bukannya gak suka kak,tapi aku ragu kak”jawab Mutia.
“Kamu ragu kenapa sih?”tanya Kak Chacha lembut.
“Aku takut Kak,dia itu cowok yang suka mempermainkan perasaan cewek” Mutia mengungkapkan kegelisahan hatinya.
“Kamu gak boleh negative thinking gitu,lalu apalagi yang bikin kamu ragu?”ujar Kak Chacha.
“Kak Mutia itu merasa aneh kak cha,masa ada cowok ganteng bisa langsung suka sama dia”terang Yopi.
“Kok kamu mikirnya gitu sih” tutur Kak Chacha heran.
“Iya mana ada sih zaman sekarang cowok ganteng langsung suka gitu aja sama cewek, hari gini cowok itu biasanya suka sama cewek itu biasanya dari fisik atau materi kak”terang Mutia.
“Gak semua cowok kayak gitu Mut,kalau udah yang namanya cinta,yang menilai itu bukan mata tapi hati” Kak Chacha mencoba menasehati Mutia.
“Mana ada sih kak cowok ganteng kayak gitu suka sama cewek kayak aku,udah wajah standar,gak cantik,gendut lagi,ah udahlah kenapa jadi pada ngomongin cowok gak aneh itu sih” protes Mutia dan pergi begitu saja meninggalkan kedua rekan kerjanya itu.
“Kak mutia itu kenapa sih kak cha,kalau yopi jadi dia, yopi pasti bakalan seneng banget dikejar-kejar cowok ganteng kayak gitu” tutur Yopi kesal juga.
“Enggak Pi,biarkan dulu, mungkin ia masih belum percaya diri bahwa sebenarnya dia itu menarik atau ada masa lalu yang hingga saat ini masih menghantui dia,dan membuat dia masih takut membuka hati” ujar Kak Chacha lembut dan tersenyum.
Kini mutia berada di rooftop sedang memandangi gedung-gedung bertingkat yang terpampang dihadapannya. Matanya memang sedang memandangi tapi pikirannya menerawang mengingat masa lalunya.
Flashback on
Mutia masih menggunakan seragam abu-abunya. Ia pulang ke rumah sambil menangis. Ia baru saja putus dari pacarnya,setelah ia mengetahui bahwa pria itu ingin memanfaatkan dirinya saja dan dirinya dijadikan bahan taruhan oleh teman-teman pacarnya itu. Beberapa bulan sebelumnya,ia mendapatkan pernyataan cinta dari pria yang diam-diam dia sukai. Dirinya tak terlalu percaya diri saat itu untuk mengungkapkan perasaannya pada laki-laki bernama Rio itu yang merupakan Casanova di sekolahnya. Saat Rio mengungkapkan perasaannya,Mutia meragu awalnya sebab ia beranggapan mana mungkin seorang Cassanova mau dengannya yang biasa-biasa saja. Namun rupanya Rio itu adalah cowok yang pantang menyerah,ia selalu mendatangi kelasnya sekedar hanya untuk menyapanya saja dan bahkan dia sudah mengatakan kepada semua orang bahwa dirinya adalah kekasih dari seorang Rio. Wanita mana yang tak luluh hatinya melihat usaha seorang pria yang begitu tulus seperti itu,akhirnya mutia menerima pernyataan cinta rio dan menerimanya sebagai kekasih.
Awalnya semua berjalan indah,Rio dan Mutia menjalani hubungan mereka layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Seperti makan bareng,pergi dan pulang sekolah bareng,nonton bareng dan lain sebagainya. Tapi saat memasuki dua bulan kisah percintaan mereka,sikap Rio berubah 180 derajat. Dari yang biasanya suka Tanya kabar setiap waktu,kini handphone Mutia hanya berbunyi dari ketika mendapatkan SMS dari provider nya. Dari yang suka menghampiri dirinya di kelas,kini malah sebaliknya,dan bahkan kekasihnya itu selalu tidak ada di kelas. Mutia mulai merasa khawatir dan curiga tentang apa yang menjadi ketakutannya dulu sebelum menerima Rio menjadi kekasihnya. Tapi masih menepis pikiran buruknya itu. Hingga ia memberanikan diri untuk bertanya tentang Rio pada salah satu teman sekelasnya.
Kini Mutia sedang berjalan menuju lapangan basket,namun ia tidak mendapati kekasihnya itu. Saat hendak meninggalkan lapangan itu,tiba-tiba ia mendengar sayup-sayup suara dari arah ruang ganti. Mutia berjalan mengendap-endap menuju ke ruang ganti. Pintu ruang ganti sedikit terbuka,sehingga ia bisa sedikit mendengar perbincangan orang-orang di dalamnya.
“Jadi kapan nih lo bakalan traktir kita-kita?”Tanya salah satu anak pada Rio.
“Kalian tenang aja,besok gue traktir kalian makan enak deh”ujar Rio pada semua teman-temannya
“Hebat lo,bisa memenangkan hati si gadis cupu itu”ledek temannya yang lain.
“Guee Rio,gak ada yang gak mungkin buat gue,besok adalah anniversary dua bulan gue sama dia,besok juga gue bakalan putusin dia dengan cara ya mungkin akan jadi kenangan buruk bagi dia” terang Rio
“Dasar Cassanova tengil lo”ledek temannya yang lain.
“Tengil-tengil gini tapi gue Cassanova kan” ujar Rio bangga.
Setelah mendengar semua itu Mutia pergi begitu saja. Hatinya memang sakit saat ini tapi air matanya tak mau mengalir, mungkin karena hal ini sudah ia prediksi dari awal. Keesokan harinya ia dicegat oleh Rio dan dibawa ke lapangan basket. Sesampainya di sana sudah ada teman-teman Rio dan para anggota cheerleader. Mutia berpikir inikah cara Rio untuk memutuskan dirinya. Mutia hanya bisa berharap semoga hatinya kuat atas perlakuan Rio dan teman-temannya. Confetti di taburkan,terompet dibunyikan,semua orang tampak bersemangat. Lalu Rio memberikan bouqet bunga pada mutia dan mengucapkan ‘selamat hari jadi kita yang kedua bulan ya sayang’. Mendengar hal itu Mutia hanya berseringai . Rio mulai bangkit dari sikap berlutut nya tadi,dan menggenggam kedua tangan Mutia.
“Lepaskan tanganku”pinta Mutia.
“A-apa?”Tanya Rio heran
“Aku bilang lepaskan tanganku”ulang Mutia dengan penuh penekanan dan menarik tangannya dari genggaman Rio.
“Tapi aku mau ngomong sama kamu sayang”ujar Rio.
“Cukup….kamu gak perlu bersandiwara,aku sudah tahu kok semuanya”ucap Mutia mencoba melepaskan tangannya dari Rio.
“Sandiwara,….sandiwara apa sih?’Tanya Rio bingung.
“Hebat sekali kamu berakting ya, aku sudah tahu semuanya tentang maksud kamu pacari aku, aku sudah tahu tentang aku yang dijadikan taruhan sama teman-teman kamu,aku sudah tahu tentang hubungan kamu sama Cluadia si kapten cheers itu,aku sudah tahu tentang semua rencana kamu hari ini,AKU SUDAH TAHU SEMUANYA RIO” terang Mutia marah sambil menahan tangisnya dan membuat semua orang yang ada di lapangan itu terdiam.
“Kamu benar aku memang gadis cupu yang gak tahu apa-apa,sampai-sampai mau saja dibodohi oleh orang picik kayak dia,padahal dari awal aku tahu,bahwa tidak mungkin seorang Rio mau dengan cewek kayak aku, apa kamu pikir aku gak punya perasaan sehingga bisa seenaknya kamu mainin kaya gini,aku juga punya perasaan” erang Mutia semakin tak terkendali.
“Camkan ini baik-baik Rio,suatu saat nanti sesuatu yang sama akan tejadi bahkan lebih buruk dari ini padamu,aku jamin saat itu terjadi kamu akan menyesal seumur hidup,dan aku akan menjadi saksi pertama orang yang akan melihatmu hancur. Camkan itu” ucap Mutia sarkas.
Melihat reaksi dari Mutia,Rio merasa kaget dan bertanya-tanya sendiri bagaimana Mutia tahu tentang semua rencananya. Rio hanya bisa terdiam dan mengingat semua kejadian tadi,entah kenapa saat melihat air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata gadis itu menimbulkan rasa iba sekaligus sakit pada hatinya. Namun ia berusaha menepis perasaan itu dan ikut kembali ke acara kemenangan taruhannya.
Sejak saat itulah Mutia menjadi begitu tertutup pada laki-laki. Bahkan saat sedang kuliah ada seorang laki-laki tertarik padanya bahkan hendak menjadikannya seorang istri, laki-laki itu langsung menemui sang bapak dan melamarnya. Tapi lamaran itu ditolaknya dengan alasan ia mau berkonsentrasi untuk kuliah dulu. Hingga saat ini ia selalu merasa insecure dan tidak percaya diri jika ada seorang pria yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi menyatakan cinta, ia hanya bilang ‘ mana mungkin sih ada cowok yang suka sama cewek kayak aku begini.