HAVEN - Part 14

928 Words
Fiona duduk termenung di lantai kamarnya. Kedua matanya menatap lurus ke luar jendela. Hujan masih membasahi kota. Untuk kesekian kalinya, ia kembali menangis dan itu hanya karena satu orang. Keningnya yang terluka sudah diobati oleh Victoria. Wanita itu juga mengajaknya berbicara, namun Fiona masih butuh waktu untuk sendiri. Duduk sendirian di dalam kamar dengan cahaya yang temaram membuat pikiran dan hati Fiona menjadi sedikit tenang. Ia suka dengan suasana yang seperti ini, apalagi malam ini sedang hujan. Fiona suka mendengar suara hujan. Entah kapan kebiasaan itu di mulai, tetapi saat hujan turun, perasaan bahagia dan tenang langsung merasuki dirinya. Ia menyentuh keningnya. Rasa sakit itu sudah tidak terasa namun rasanya pindah ke hatinya. Sakit rasanya saat Haven mampu melukai dirinya. Apa pria itu tidak bisa melihat kalau ia adalah seorang wanita? Haven benci kepadanya, itu bisa ia maklumi. Tapi apa harus dengan menyakiti dirinya maka Haven akan merasa puas? Fiona menghela nafasnya dengan berat. Hari ini terasa lebih berat dari sebelumnya. Emosi dan kejadian yang terus berulang membuat tubuhnya terasa sangat lelah. Ia hanya ingin Simon membantu ayahnya untuk bisa lepas dari penjahat itu. Tapi kenapa semuanya terasa sangat sulit? Mengapa harus melibatkan orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah itu semua? Fiona membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Aku hanya ingin ayah kembali tanpa harus menyakiti siapapun. ***pop Hari yang ditunggu-tunggu oleh Haven akhirnya tiba. Hari ini ia sangat berharap Selene akan mau dibawa untuk bertemu dengan orang tuanya. Semarah apa pun Simon kepadanya, ia akan tetap pada pendiriannya. Yang ia inginkan untuk menjadi istrinya hanya Selene. Jika tidak dengan wanita itu maka tidak dengan siapa pun. Termaksud pilihan orang tuanya sendiri. Haven keluar dari apartemen mewahnya. Ia masuk ke dalam mobil sportnya yang berwarna hitam. Selama diperjalanan ia mencoba untuk menghubungi Selene. Telepon tersambung tapi wanita itu tidak mengangkatnya. Haven terus mencoba hingga ia sampai di apartemen milik Selene. Ia matikan ponselnya, turun dari mobil lalu dengan cepat masuk ke dalam gedung besar itu. Sesampainya di depan unit Selene. Haven menekan bel. Tiga kali ia melakukan itu, Selene tak kunjung muncul di hadapannya. Haven yang tahu kata sandi dari unit wanita itu menekan angkanya. Terpaksa ia melakukan itu karena saat ini ia sangat membutuhkan kehadiran Selene. Haven masuk ke dalam unit. Yang pertamakali ia lihat dari unit itu adalah keadaan unit yang gelap dan sepi. Haven menghidupkan semua lampu yang ada di ruang tengah itu. Sunyi. Tak terasa ada kehidupan di sana. Haven tidak mau berprasangka buruk atas apa yang ia rasakan sekarang. Langkahnya yang lebar membawanya ke kamar Selene. Ia buka pintu bercat hitam itu dan hal yang sama pun kembali terjadi. Tidak ada Selene di sana. Tempat tidurnya rapi seperti tidak ditempati. Lantai kamar mandinya kering, sepertinya Selene tidak di sini sejak semalam. Haven bertanya-tanya. Kemana kekasihnya? *** Kedua mata hazel itu menatap datar Fiona yang duduk di depannya. Haven sudah berada di mansion orang tuanya. Dan kini mereka semua berkumpul di ruang keluarga yang ada di mansion itu. "Kau tidak bisa membawanya bertemu dengan ku?" Haven menatap datar Simon yang duduk di sebelah kirinya. "Jadi pernikahan mu dan Fiona—" "Selene tidak bisa datang sekarang. Dia ada urusan yang tidak bisa ditinggal," jawab Haven dengan cepat. Simon tersenyum kecil, "ada urusan penting," ucapnya dengan mengangguk-anggukkan kepala. "Berarti itu sama saja dengan kau yang tidak bisa memenuhi kesepakatan kita berdua," "Kesepakatan?" tiba-tiba suara Helena terdengar. Ia yang duduk di sebelah kiri Simon menatap suaminya dengan serius. "Aku dan Haven membuat kesepakatan. Jika Haven bisa membawa wanita itu untuk bertemu dengan ku maka pernikahannya dengan Fiona tidak akan terjadi. Tapi jika tidak bisa, maka sebaliknya." Simon menatap Haven, "dia dan Fiona harus menikah," Rasa kagum terpancar di wajah Victoria saat mendengar kalimat itu. Denzel yang duduk di samping kanan Haven bereaksi sama seperti Victoria sembari memainkan game yang ada di ponselnya. "Jadi... Haven akan tetap menikah dengan Fiona?" Helena kembali bertanya. Simon yang masih menatap Haven menganggukkan kepala. Fiona yang duduk di samping kiri Helena hanya bisa menghela nafas dengan berat. Sepertinya percuma ia memohon kepada Simon untuk tidak menikah dengan Haven. Pria tua itu tetap dengan pendiriannya. "Aku tidak akan menikah dengannya," Kepala Fiona terangkat dan menatap Haven yang duduk di depannya. "Yang berhak mengatakan tidak atau iya hanya aku," jawab Simon dengan tegas. Haven tersenyum sinis, "sungguh sangat memuakkan!" bisiknya dengan wajah sinis yang terarah pada Fiona. "Aku juga muak dengan penolakan mu," Semua yang ada di sana menatap Fiona dengan serentak. "Kau pikir hanya kau yang tidak mau? Aku pun juga! Aku tidak mau menikah dengan orang seperti mu!" Haven terperangah mendengar ucapan Fiona. "Tapi percuma juga aku menolak, toh paman dan bibi hanya ingin aku yang menjadi menantu mereka," "Kau!" Haven hendak berdiri dari duduknya, namun Denzel dengan sigap menahan tangan pria itu. Fiona memutar tubuhnya sedikit ke arah Simon. "Jika kau bersikeras ingin aku menikah dengan Haven, kau harus memenuhi beberapa syarat dariku dulu." "Syarat?" Fiona mengangguk sekali, "setelah menikah, aku ingin tinggal di Chicago. Tidak ada alasan tertentu, hanya saja profesiku membuatku harus bertahan di kota itu." "Profesi? Memang apa pekerjaanmu, kak?" Fiona menoleh ke arah Victoria yang duduk di belakangnya, "dosen." wajahnya kembali menghadap ke arah Simon. "Syarat yang kedua, jika ayahku berhasil ditemukan dan selamat. Maka aku berhak meminta cerai dari Haven," "Apa?" ekspresi terkejut nampak jelas terlihat di wajah Simon. "Fiona," Helena menyentuh sebelah bahu Fiona. "Apa kau bisa mengabulkan 2 syarat itu paman?" Fiona menatap lekat Simon. "Jawabannya hanya satu. Iya atau tidak. Jika iya, maka kalian akan melihat aku dengan gaun pernikahan besok. Jika tidak... maka hari ini juga aku akan pergi dari sini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD