Mobil Haven berhenti di depan mansion.
Fiona cepat-cepat turun dari sana. Victoria dan Denzel sudah menunggu di depan pintu.
"Kakak, keningmu..." Victoria menggantung kalimatnya. Ia juga membuat gestur dengan menyentuh keningnya sendiri.
Fiona tidak menjawabnya. Ia langsung masuk ke dalam mansion. Dan saat sudah di dalam ia bertemu dengan Simon dan Helena.
"Kau berdarah," Helena menatap khawatir wajah Fiona.
"Ambilkan obat Helena,"
Helena langsung melakukan apa yang diminta Simon.
"Aku tidak ingin menikah dengan Haven,"
Victoria dan Denzel yang berdiri di depan pintu langsung saling pandang saat mendengarnya.
Helena yang baru muncul pun membeku di tempatnya.
Haven yang berdiri di belakang kedua saudara nya tampak terkejut mendengar kalimat itu keluar dari bibir Fiona.
"Dia membuatmu marah lagi?" Simon berusaha untuk tetap tenang, namun sebenarnya ia tidak suka dengan apa yang keluar dari bibir Fiona. Itu ia tunjukkan dengan kedua tangan yang mencengkram tongkatnya.
"Lebih dari itu," suara Fiona bergetar. "Dia sudah sangat melukai perasaanku,"
"Aku minta maaf atas—"
"Aku tidak butuh permintaan maaf dari paman!!" teriak Fiona dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya. "Aku hanya ingin kehidupan ku yang dulu kembali lagi. Tanpa harus mengorbankan siapapun! Aku hanya ingin hidup seperti dulu tanpa harus menyakiti perasaan orang lain!!" teriak Fiona lalu berlari menuju ke kamarnya.
Simon menutup kedua matanya sejenak.
"Aku akan coba berbicara dengannya," ucap Victoria—mengambil kotak obat yang ada di tangan Helena lalu menyusul Fiona ke kamar.
Helena menyentuh keningnya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap Haven yang terlalu kasar pada Fiona.
"Ku serahkan semuanya kepadamu, Simon. " ucapnya, melewati Simon lalu masuk ke dalam kamar.
Kedua mata Simon menatap Haven dengan datar.
"Apa yang kau lakukan kepadanya?"
Haven bergerak masuk ke dalam.
"Kecelakaan itu bukan karena aku," ucapnya setelah berdiri di depan Simon.
"Lalu karena siapa?"
"Wrathborn. Mereka membuntuti aku!"
Plak!!!!
Tamparan keras milik Simon mendarat di wajah Haven.
"Bagus! Kau menjadikan mereka alasan untuk membela dirimu sendiri!"
"Aku tidak berbohong. Mereka mencoba mencelakakan aku!"
"Karena mereka tidak berhasil maka kau melukai Fiona?!"
Kedua mata Haven menutup sejenak. "Aku sudah memintanya untuk memakai sabuk pengaman! Dia sendiri yang membuat dirinya celaka—"
Plak!!!
Tamparan kembali mendarat di wajahnya.
"Bawa wanita itu ke sini besok! Jika kau tidak mampu membawanya! Maka lusa kau akan menikah dengan Fiona!"
"Aku tidak akan menikah dengannya!"
Sebelah tangan Simon mencengkram kerah kemeja Haven.
"Kau lupa dengan kesepakatan yang telah kita buat?! Penuhi janji itu jika kau menganggap dirimu pria yang bertanggungjawab!" Simon mendorong tubuh Haven ke belakang. Lalu ia pergi dari sana.
Denzel mendekat. "Aku sudah menduga ini akan terjadi," ia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Mengingat ucapanmu sebelumnya tentang Wratborn. Darimana mereka tahu tentang keberadaan mu dengan Fiona?"
Kepala Haven langsung menoleh ke arah Denzel.
"Dan apa memang mereka yang mengikuti mu?"
"Iya, itu Wrathborn. Karena ada logo kelompok mereka di belakang mobilnya,"
Denzel menganggukkan kepala. "Aku percaya kepadamu. Tapi tentang keadaan Fiona, bukankah itu keterlaluan?"
"Ck! Aku sudah memintanya untuk memakai sabuk pengaman! Dia yang tidak mau mendengarkan aku!"
"Caramu mungkin salah. Coba kau tidak emosi saat berbicara dengannya, pasti dia akan mendengarkan mu." Denzel merangkul bahu Haven. "Perempuan itu suka dengan kelembutan. Jika kau memakai kekerasan dan emosi maka mereka akan menghadapi mu dengan cara yang semakin membuatmu marah."
Haven mendorong Denzel, "jangan mengajariku! Lihat dulu dirimu! Hubungan saja tidak beres malah ingin mengajari orang lain!" ucap Haven pergi meninggalkan Denzel yang menatapnya dengan datar.
***
Air dingin menyentuh tubuh atletis milik Haven. Dengan perlahan butiran-butiran air itu membasuh setiap sela yang ia lalui.
Tubuhnya yang dipenuhi tato menambah kesan rasa kuat dan penuh pendirian yang ada di dalam dirinya.
Setelah menjalani hari yang terasa sangat berat. Haven merasa sudah dipermainkan oleh takdirnya sendiri.
Kata-kata Simon masih terngiang-ngiang di telinganya saat ia menuju pulang.
Ada sedikit ketakutan yang ia rasakan jika permintaan Simon tidak bisa ia penuhi.
Selene, bagaimana caranya agar bisa membawa wanita itu ke hadapan kedua orang tuanya?
Apa kali ini Selene akan kembali menolaknya?
Sebelah tinju Haven mendarat di dinding kamar mandi.
"Jika tidak dengan Selene. Maka aku tidak akan menikah dengan siapapun!" tatapan tajam miliknya muncul. Kilatan dari mata hazel itu nampak jelas terlihat jika ia memang tidak main-main dengan ucapannya.
Setengah jam ia habiskan di kamar mandi.
Haven keluar dari sana. Ia langsung menuju ke ponselnya yang ada di atas nakas.
Ia duduk di tepi ranjang dengan menggunakan handuk kimono.
Ia menghubungi Selene. Namun ponsel itu tidak aktif.
Kedua alis Haven bertaut. Ia bertanya-tanya. Padahal sebelumnya mereka berdua baru saja menghabiskan waktu bersama dan sekarang ponsel Selene sudah tidak aktif.
"Apa mungkin dia sudah tidur?" Haven melirik jam dinding kamarnya. "Masih pukul 11." bisiknya. Namun ia tidak mencoba untuk menghubungi Selene lagi.
***
Ketukan jari yang bertemu dengan meja, di tambah adanya layar besar yang menampilkan aktivitas dari keluarga Sachdev membuktikan bahwa Wratborn tidak main-main dengan tindakan mereka.
Setelah berhasil mencoba untuk mencelakai Haven dan Fiona, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
Ketukan itu berhenti. Seseorang yang duduk dibalik kursi tinggi dan warna hitam itu menatap layar yang memperlihatkan Haven yang sedang mondar-mandir di dalam kamarnya.
Kedua tangannya yang memakai sarung tangan menyatu. Bibirnya yang dibalut lipstik merah perlahan menyeringai.
Bibirnya membuat gerakan tanpa bersuara. Dan kata yang ia ucapkan adalah...
Saatnya kita bermain-main dengan keluarga Sachdev.