Metropolis Grand Mall — 21.00 PM
Dan langkah kaki Fiona membawanya ke tempat itu.
Ia yang saat ini berada di dalam toilet tengah mematut dirinya di dalam cermin.
Kejadian tadi siang masih tersimpan rapi di kepalanya. Apa lagi saat melihat Haven mencium kekasihnya dan ia yang tidak sengaja menatap wanita cantik itu.
Untuk kesekian kalinya helaan nafas Fiona keluar.
Disela suasana tidak nyaman itu, seorang wanita masuk ke dalam toilet.
Ia berdiri di samping Fiona.
Kedua mata Fiona menatapnya melalui cermin. Matanya bergerak menatap rambut, mata, hidung, bibir dan semua yang bisa ia lihat dari wanita itu.
Wajah Fiona semakin terlihat sedih saat menatap tubuh wanita itu yang proporsional.
Fiona membandingkannya dengan dirinya sendiri.
Lagi-lagi tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya. Tidak wajah maupun tubuh.
Fiona memilih keluar dari sana. Ia tidak sanggup dengan rasa insecure yang terus melanda dirinya.
Kakinya terus bergerak. Hingga ia sudah berada di luar gedung. Dan ia baru sadar, kalau saat ini ia tidak tau ada dimana sekarang.
Fiona menatap sekitar, "aku dimana?" wajahnya terlihat sangat bingung sekaligus takut.
Ia tidak memiliki ponsel ataupun nomor yang bisa ia hubungi.
Fiona merutuki kebodohannya. Ia terlalu mengikuti perasaannya sehingga ia tidak memikirkan apa yang sudah ia lakukan sekarang.
Kemana ia harus melangkah sekarang? Kiri? Kanan? Atau lurus?
Fiona tidak tahu! Ini bukan tempat tinggalnya! Ia tidak tahu nama-nama jalan di sini!
Perasaan ingin menangis menggerayangi tubuhnya. Ia menggigit bibirnya dengan keras.
"Aku harus kemana?"
Fiona memilih bertahan di depan gedung besar itu.
Percuma juga ia melanjutkan perjalanannya, toh ia juga tidak tahu ada dimana sekarang.
Fiona menghela nafas dengan berat. Malam semakin larut, dan udara dingin yang berhembus menyentuh kulit tangannya.
Sepertinya akan turun hujan malam ini.
Fiona mencoba mengecek isi tas yang ia gunakan seharian ini. Di dalamnya hanya ada lipstik dan bedak. Bahkan untuk dompet pun ia tidak memilikinya.
Kedua bahu Fiona turun. "Bagaimana aku bisa pulang?" bisiknya dengan wajah yang ingin menangis.
Kendaraan dan orang-orang yang ada di sana satu persatu pergi dari mall.
Fiona menggigit bibirnya dengan keras. Apa ia pergi saja dari sana? Lalu arah mana yang harus ia ambil?
"Apa mereka tidak mencari ku?" gumamnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Fiona menatap langit yang gelap. Ia usap kasar kedua matanya lalu memilih pergi dari sana.
Fiona tidak tahu harus kemana, ia hanya mengikuti kata hatinya sendiri.
Ia berjalan di tepi jalan yang gelap dan sepi. Rasa takut menerpa dirinya. Ia takut jika ada orang jahat yang tiba-tiba muncul lalu melakukan sesuatu kepadanya.
Ia menggenggam tasnya dengan kuat hingga cahaya putih tiba-tiba muncul dari arah belakangnya.
Fiona berhenti, ia memutar tubuhnya kebelakang. Cahaya itu berasal dari sebuah mobil dan menyilaukan matanya.
Seseorang turun dari sana. Fiona mencoba melihat siapa pemilik dari mobil itu.
Dan ternyata...
Haven.
Ada rasa senang sekaligus lega saat tahu siapa yang berdiri di depannya. Namun, rasa itu juga bercampur dengan kekesalan sekaligus kesedihan yang lagi-lagi melanda dirinya.
Ingatan tentang kejadian tadi siang kembali datang.
Haven begitu tega mempermainkan dirinya. Memintanya untuk ikut tapi ternyata ia malah membawa kekasihnya.
"Bisa sekali saja tidak menyusahkan orang lain?!"
Haven berdiri di depannya dengan ekspresi wajah yang tampak marah.
"Kau bukan anak kecil lagi! Apa kau suka kabur-kaburan hah!!"
Bentakan itu kembali di terima oleh Fiona.
"Karena kau! Aku di musuhi oleh keluargaku sendiri!"
Air mata yang sedari tadi Fiona tahan akhirnya jatuh ke pipinya.
"Kau pulang sekarang!" Haven menarik tangan Fiona dengan kasar. "Masuk!" ia juga mendorong tubuh wanita itu dengan kasar.
Fiona yang di dalam mobil sudah berderai air mata. Haven kembali emosi padahal sebelumnya pria itu sudah mengucapkan kata maaf.
Sepertinya kata itu tidak ada artinya bagi Haven. Ia akan selalu melakukan kesalahan dan Fiona yang akan menerima semuanya.
Haven duduk di sampingnya.
"Percuma kau menangis di depanku! Itu tidak akan membuatku kasihan kepadamu!" Haven memasang sabuk pengamannya.
Fiona menangis dalam diam. Ia gigit bibirnya hingga meninggalkan luka di bibir bawahnya.
"Pasang sabuk pengamanmu," Haven tidak menatap Fiona.
Fiona tidak bergerak sedikit pun.
"Tidak mau melakukan perintah dariku?!" Haven mencengkeram kuat setirnya. "Okay! Kau akan tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang!"
Haven menghidupkan mesin mobilnya dan menancap gas kendaraan itu.
Hujan perlahan turun membasahi jalanan.
Mobil Haven melintas dengan cepat di jalanan yang licin.
Fiona mencoba menahan tubuhnya agar tetap bertahan. Kedua tangannya memegang tempat duduknya sendiri dengan sangat kuat. Air mata terus turun di pipinya.
Perlahan ia menolehkan kepala ke arah Haven.
Dengan mata yang basah ia tatap pria itu. "Aku benci kau," ucapnya dengan pelan.
Haven semakin menambah kecepatan mobilnya.
"Harusnya kau ucapkan kalimat itu di depan keluargaku," ucap Haven sembari melihat ke arah kaca spion tengah mobil.
Keningnya sedikit mengernyit ketika ada sebuah mobil yang melaju tepat di belakangnya.
Haven mencoba bergerak ke arah lain, dan mobil itu tetap mengejarnya.
Ekspresi wajahnya seketika berubah. Wajah yang memerah karena kesal kini berubah menjadi datar seperti biasanya.
Ia semakin mempercepat laju mobilnya.
Fiona yang tidak memakai sabuk pengaman oleng ke sebelah kanan hingga kepalanya membentur jendela mobil.
Haven tidak melihat itu, ia masih fokus dengan apa yang ada di belakang mobilnya.
"s**t! Ada yang mengikuti aku!" bisiknya semakin mempercepat laju mobilnya.
Mobil yang di belakangnya mencoba untuk menyusul hingga kendaraan itu sejajar dengan mobil milik Haven.
Haven mencoba menghindar namun kendaraan itu menabrak kan dirinya ke mobil Haven.
Haven berusaha untuk melakukan hal yang sama.
Di tengah hujan dan di jalanan yang sepi, dua kendaraan itu bak sedang memperebutkan sesuatu yang sangat berharga. Mereka saling membenturkan body mobilnya satu sama lain.
Haven semakin menancap gas, ia berhasil melepaskan diri dari kendaraan itu tapi sialnya, mereka malah menyenggol sisi mobil Haven hingga membuatnya harus membanting setir dengan begitu keras. Alhasil mobilnya menabrak pembatas jalan.
"s**t!!!" bentak Haven memukul setir mobilnya dengan keras.
Tangisan Fiona tiba-tiba menyapa gendang telinganya.
Haven yang kesal seketika sadar akan kondisi wanita itu.
Kening Fiona tidak sengaja berbenturan dengan dasboard mobil. Sebelah tangannya sudah ada noda merah yang berasal dari keningnya itu.
Dengan kedua mata yang basah, Fiona menatap Haven. "Aku sangat membencimu! Aku benci kau, Haven!"