HAVEN - Part 11

1028 Words
Haven memeluk tubuh Selene dengan erat. Lalu mengecup bibirnya dan tersenyum hangat pada wanita itu. Kepalanya menoleh ke arah Fiona yang masih berdiri di depan pintu restoran. "Katanya ada yang ingin bertemu denganku?" tanya Selene melepaskan pelukan mereka. "Awalnya dia ikut, tapi di tengah jalan dia berubah pikiran." jawab Haven lalu kembali melihat ke arah pintu restoran yang ternyata sosok Fiona sudah tidak ada di sana. "Orangnya wanita atau pria?" Mereka duduk, dan pelayan pun datang memberikan buku menu kepada mereka berdua. "Lupakan soal itu. Sekarang kita makan dulu. Aku sudah lapar," jawab Haven dengan suaranya yang terdengar lembut. Respon Selene pun cukup membuat suasana hati Haven yang sebelumnya sangat buruk kini berubah sedikit tenang dan bahagia. Melihat Selene tersenyum lebar seperti sekarang saja sudah membuat Haven melupakan sejenak masalah yang sedang ia hadapi. Apa ia cerita kan saja tentang rencana orang tuanya kepada Selene? Haven menoleh ke arah Selene yang sibuk memilih makanannya. "Sepertinya tidak perlu," bisik Haven. Selene menoleh kearahnya, "kau mau ganti menu?" Haven tersenyum sembari menggeleng. *** Fiona memilih untuk pergi dari restoran setelah melihat adegan mesra Haven dengan kekasihnya. Haven sudah merencanakan semuanya. Dan Fiona dengan bodohnya percaya jika pria itu mau menghabiskan waktunya bersama dengan dirinya. Fiona mengusap kedua matanya yang terasa basah dengan kasar. "Kau bodoh Fiona! Sudah benar kau menolak permintaan paman! Tapi hanya dengan kata-kata manis yang keluar dari bibir Denzel kau langsung menganggukkan kepala! Bodoh!" Fiona merutuki dirinya sendiri. Ia terus berjalan tak tentu arah. Hingga ia melintas di sekitar bangunan toko baju. Fiona berdiri di depan toko itu, saat melihat pajangan toko yang menarik perhatiannya. Di depan jendela toko. Ada sebuah manekin yang memakai gaun dengan panjang hingga ke kaki. Gaun itu berwarna hitam, terlihat seksi dengan beberapa potongan di bagian tertentu. Di lihat saja sudah sangat cantik apalagi jika dipakai di tubuh yang memang diciptakan untuk gaun itu. Fiona langsung menatap pantulan dirinya di jendela toko. Seketika ia menarik nafasnya dengan panjang. "Jangan pernah bermimpi untuk memakai gaun itu Fiona. Gaun itu tidak diciptakan untukmu," gumam Fiona lalu kembali berjalan. Waktu terus bergulir, Haven masih setia menemani Selene. Setelah selesai makan siang, sekarang Haven mau mengajak Selene ke suatu tempat. Di dalam mobil, Pria itu terus menggenggam tangan Selene. Ia mengecup, dan meremas tangan wanita itu. Selene tertawa, "kebiasaan mu tidak pernah berubah," Haven tidak menjawabnya, perhatiannya kembali ke jalanan. Dan saat itu ia melihat seseorang yang cukup familiar. Haven menyipit kedua matanya. Setelah itu senyuman jahat miliknya muncul. "Aku ingin waffle," Sebelah alis Selene naik ke atas. Mobil Haven berhenti tepat di depan sebuah kafe. "Tolong belikan," Haven menyodorkan kartunya pada Selene. "Baiklah," jawabnya turun dari mobil. Dan dari dalam kendaraan itu pula, Haven menatap pantulan Fiona melalui kaca spion. Fiona yang terus berjalan tanpa arah menghentikan langkahnya saat melihat mobil Haven yang melewatinya lalu berhenti di sebuah kafe. Dari tempatnya berdiri. Ia menatap seorang wanita cantik turun dari mobil Haven. Reflek Fiona melihat dirinya dari bawah ke atas. "Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita itu," gumam Fiona. "Dia cantik, tubuhnya juga bagus." Fiona menghela nafas. "Terus lah bermimpi Fiona. Haven tidak akan pernah melirik mu," Fiona mengusap-usap keningnya. Haven yang masih mematut Fiona dari kaca spion hanya menggelengkan kepala dengan sorot mata yang datar. "Khayalanmu untuk menikah denganku hancur Fiona! Kau tidak akan mampu menandingi kekasihku!" Selene keluar dari kafe. Dan saat itu pula pandangannya bertemu dengan mata Fiona. Namun hanya sebentar setelah itu ia masuk ke dalam mobil. "Terima kasih," ucap Haven saat Selene memberikan apa yang ia minta. "Sepertinya aku melihat wanita itu di restoran tadi," Haven mengikuti arah pandang Selene yang sedang menatap Fiona dari dalam mobil. "Kau salah lihat mungkin," jawab Haven menggigit wafflenya. Selene tersenyum, "ya, sepertinya begitu." ucap Selene lalu kembali menatap Fiona dengan datar. Kemudian tanpa sepengetahuan Haven, sebelah ujung bibirnya naik. Akhirnya aku bertemu denganmu, Fiona. *** Langit malam mulai menyelimuti kota. Namun tidak ada bintang yang terlihat di langit kota yang terkenal dengan kesibukannya itu. Haven keluar dari apartemen Selene. Ekspresi wajahnya terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Ia tampak bersemangat dengan wajah yang berseri. Ia masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari sana. Sedangkan Selene yang berada di dalam unitnya sedang duduk di atas ranjang dengan selimut yang melilit tubuhnya dan rokok yang ada di tangannya. Selene menghisap rokok itu dengan lama, menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya. "Apa tanggapan dia kalau tahu Haven memperlakukan wanita itu tidak baik? Pasti akan sangat mengasyikkan menonton keributan keluarga besar itu," Selene tertawa kecil. Ia matikan rokoknya lalu turun dari ranjangnya. Haven yang sedang mengendari mobilnya dengan tenang diganggu oleh deringan ponselnya dan itu dari Victoria. Ponselnya yang tersambung dengan monitor mobilnya terus menampilkan nama Victoria. Dengan malas, Haven mengangkat telepon itu. "Kau dimana?!!" "Kenapa harus berteriak? Kau pikir aku tuli?!" "Jawab saja! Kau bawa kemana kakak ku?!" Haven tersenyum sinis, "seketika dia sudah menjadi kakakmu!" "Aku mau bicara dengannya," "Dia tidak ada di sini," jawab Haven dengan datar. "Apa?" "Kau tidak dengar? Dia tidak ada di sini!" ucap Haven dengan menekan setiap katanya. "Kau meninggalkannya?" Haven tidak menjawab. "Jawab! Kau meninggalkannya?!" suara Victoria semakin tinggi. "Kalau iya kenapa—" "b******k kau!!!" Seketika mobil Haven berhenti saat mendengar bentakan dari Victoria. "Pria macam apa kau hah?!! Kau tinggalkan dia sedangkan kau pergi dengan wanita lain?!! Kau sudah sangat keterlaluan Haven!!! Kakak tidak tahu daerah sekitar!! jika dia tersesat bagaimana?!! Haven mencengkram erat setir mobilnya. Baru kali ini ia di bentak oleh Victoria. Adiknya itu selalu bertingkah lemah lembut kepadanya. Tapi, semuanya berubah saat Fiona ada di antara mereka. Semua keluarganya membela wanita itu! "Bagus, setidaknya dia tidak akan muncul lagi—" "Cari dia sekarang! Dia tidak punya ponsel Haven! Jangan sampai hal buruk terjadi kepadanya!!" Haven tersenyum miris, "lalu hubungannya denganku apa? Untuk apa aku mencarinya? Dia sendiri yang pergi!" "Terserah kau mau mengatakan apa. Aku hanya ingin dia kembali! Jika dia tidak pulang, maka anak panah ku akan tertancap di dadamu!" Ancam Victoria. Telepon terputus. Haven berusaha mengontrol dirinya. Amarah seketika naik begitu cepat di dalam dirinya. Cengkraman pada setirnya semakin kuat. "Wanita sialan! Menyusahkan aku saja! Aakkh!!!" Haven memukul setirnya. Ia menyibak rambutnya ke belakang, dadanya naik turun dan wajahnya yang memerah karena emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD