HAVEN - Part 10

945 Words
"Jalan-jalan?" Haven membeo. Helena tampak bersemangat. "Itu ide dari siapa? Kau?" Simon menggeleng, "Dizzy," "Apa? Bocah itu memang suka memancing emosiku!" Haven keluar dari sana, dan Helena mencoba menghentikan pria itu. Simon menyusul dari belakang. "Haven, jangan marah dulu nak." Helena terus menasehati Haven. Namun pria itu tetap melangkah dengan cepat hingga ia berada di ruang tengah mansion. "Denzel!!" teriaknya dengan lantang. "Turun kau!!" Simon menyentuh keningnya. Apa keributan akan terjadi lagi di mansion ini? "Haven," "Tidak perlu khawatir mom," "Bagaimana aku tidak khawatir! Kau bahkan belum meminta maaf ke Dizzy dan Vicky. Dan sekarang kalian akan berantem lagi," "Tidak akan mom," jawab Haven dengan mata yang terus tertuju ke lantai 2 mansion. "Denzel!!" "Tidak perlu berteriak. Ini bukan hutan," jawab Denzel muncul di tangga paling atas. Ia menuruni anak tangga satu persatu. "Aku berencana akan meminta maaf kepadamu, tapi sepertinya kau memang suka membuatku marah!" Denzel terkekeh, ia mempercepat langkahnya. Lalu berdiri di depan Haven. "Bukankah ideku bagus?" "Bagus?!" "Mom, menurutku Haven harus melakukan pendekatan dengan Fiona," Helena mengangguk antusias mendengar Denzel. "Pendekatan apa!" kesal Haven. "Kalian harus menghabiskan waktu bersama. Dan dari sana lah perasaan kalian berdua perlahan akan tumbuh—" "Omong kosong," Haven menoyor kening Denzel. Helena hanya bisa tertawa saat melihat kedua anaknya itu. Ia memilih mendekati Simon. "Rencana ini pasti akan berhasil," Denzel kembali menggoda Haven. "Bocah nakal!" Haven memukul lengan Denzel. "Percaya lah kepadaku Haven. Ini pasti juga akan menguntungkan mu," Mendengar itu membuat Haven mengurungkan niatnya untuk kembali memukul Denzel. Menguntungkan aku? Seketika ia langsung ingat pada Selene. Setelah menelepon Selene tadi pagi, Haven berniat ingin membawa Selene ke sini tapi ia mengurungkan niat itu karena Selene tidak bisa menemuinya karena ada urusan dan wanita itu hanya bisa siang nanti. Haven melihat jam tangannya. "Sebentar lagi jam makan siang," bisiknya. Denzel dengan sigap menarik tangan Haven yang menggunakan jam tangan. Ia lihat jam itu lalu tersenyum ke arah Haven. "Waktunya pas sekali. Bawa kakak ipar makan siang di luar sekalian jalan-jalan." Haven menarik kasar tangannya yang dipegang Denzel. "Dizzy benar, bawalah dia jalan-jalan. 30 menit saja itu sudah cukup." sambung Simon. Sorot mata Haven berubah datar. 30 menit dengan wanita itu?! 1 detik saja saat di dekatnya aku sudah sangat marah! "Kakak ipar!!" teriak Denzel pada Fiona yang menuruni anak tangga. Haven memutar kepalanya. Seketika pandangannya terkunci pada Fiona yang sangat terlihat berbeda dari sebelumnya. Pakaiannya berbeda, sebelumnya ia hanya memakai baju kaos dan celana panjang. Namun sekarang ia memakai dress warna biru pastel. Rambut blondenya yang terurai menambah kesan halus dan lembut yang terpancar dari dalam dirinya. Haven menyadarkan dirinya sendiri. Ia berdehem saat Fiona berdiri di depannya. "Kau cantik sekali kakak ipar," Haven reflek menoleh ke arah Denzel. Semudah itu kah ia mengucapkan kalimat itu? Fiona tersenyum malu, "terima kasih," Fiona menatap Haven. Haven memalingkan wajahnya. "Kita akan kemana?" "A—apa?" Haven tiba-tiba tergagap. "Kenapa kau gugup? Kau terpana ya? Jujur saja, kau suka kan lihat kakak ipar yang seperti ini?" Denzel menggoda Haven. "Sepertinya harus dengan pukulan dulu baru kau akan berhenti," ucap Haven dengan kesal. "Jangan ganggu mereka Dizzy. Ayo," Helena menarik tangan Denzel untuk pergi dari sana bersama Simon. Dan sekarang hanya tinggal mereka berdua. Rasa canggung kembali terasa di antara mereka berdua. Fiona terus menatap Haven, namun pria itu tidak mau menatapnya. "Penampilanku jelek ya?" "Apa?" mata Haven bertemu dengan mata biru Fiona. "Kau tidak mau melihatku," Kedua mata Haven mengedip. Ia tidak tau harus menjawab perkataan Fiona. "Sepertinya aku harus meminta Victoria menghapus riasan ini—" "Jangan," Haven menahan pergelangan tangan Fiona. Fiona menatap tangan besar Haven yang memegang tangannya. Ia menelan ludah dengan gugup. "Jangan?" Haven mengangguk. Ia melepaskan tangan Fiona. "Kau sangat cantik," Seketika semburan merah muncul di kedua pipi Fiona. Jantungnya pun berdebar hanya karena 3 kata yang Haven ucapkan. Fiona tersenyum malu. "Aku ingin membawamu ke tempat biasa aku datangi. Kau mau?" "Mau," Fiona mengangguk antusias. "Ayo." Haven dan Fiona keluar dari mansion. Denzel dan Victoria mengintip mereka berdua dari balkon kamar, hal serupa juga di lakukan oleh Simon dan Helena. "Menurutmu ini akan berhasil?" Victoria menoleh ke arah Denzel. "Tidak," Kedua alis Victoria naik ke atas. "Haven akan membuat Fiona kecewa dan sedih," Kedua bahu Victoria turun dengan lesu mendengar ucapan Denzel. "Aku menyesal sudah mendandani kakak secantik itu. Ujung-ujungnya dia akan menangis lagi." *** Diperjalanan, keheningan kembali melanda Haven dan Fiona. Fiona sesekali menatap Haven yang ternyata kalau di lihat dari samping semakin terlihat tampan. Bagaimana cara meluluhkan hatinya? Apa aku termasuk tipe yang dia inginkan? Pasti jawabannya tidak. Dia saja setampan dan semenarik ini dan kekasihnya pasti juga sangat cantik. Tanpa sadar Fiona menghela nafas dengan panjang. Haven yang sadar langsung menoleh ke arah Fiona. "Kau bosan?" Fiona mengulum bibirnya ke dalam dan menganggukkan kepala. "Sebentar lagi kita akan sampai," Haven menambah kecepatan mobilnya dan 5 menit kemudian mereka sampai di sebuah restoran. Sebelum turun, Haven mengecek ponselnya terlebih dahulu. Fiona yang sudah melepaskan sabuk pengamannya menatap Haven dengan sorot ingin tahu akan apa yang Haven lihat di ponsel itu. Dia chatingan dengan siapa? Apa kekasihnya? "Ayo," Haven dan Fiona turun dari mobil. Haven lebih dulu berjalan di depan, Fiona berusaha menyusul langkah Haven yang lebar. Haven masuk ke dalam restoran. "Sayang!!" Suara seorang wanita menyambut telinga Fiona yang berdiri di belakang Haven. Fiona menggeser sedikit tubuhnya. Ia melihat wanita itu melambaikan tangannya ke arah Haven. Haven melangkah namun Fiona tetap pada posisinya. Dan sedetik kemudian, apa yang ia lihat selanjutnya adalah kenyataan yang membuat Fiona harus memikirkan ribuan kali tentang perasaannya kepada Haven. Haven mengecup bibir wanita itu dan menoleh ke arah Fiona yang terdiam di tempatnya. Haven tersenyum puas saat melihat ekspresi wajah wanita itu. Permainan baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD