Ketukan pintu mengalihkan perhatian Simon dan Haven.
Simon berdiri, dan melangkah menuju pintu. "Siapa?" ucapnya sembari membuka pintu. "Fiona?"
Telinga Haven langsung bergerak saat mendengar Simon menyebut nama wanita itu.
Fiona tersenyum tipis ke arah Simon.
"Kenapa?"
"Bibi meminta ku untuk memberikan ini pada Haven," ucapnya dengan lembut.
Simon tersenyum saat Fiona membawa kotak obat di tangannya.
Ia menoleh ke belakang untuk melihat Haven yang ternyata masih berdiri di tempatnya tetapi dengan arah pandangan ke depan.
"Masuk lah," Simon membuka pintu itu.
Fiona menggeleng, "aku hanya di suruh membawa—"
"Masuk nak,"
Fiona ragu. Ia takut jika kemunculannya di sini hanya akan memancing emosi Haven lagi.
"Ayo," Simon menggeser tubuhnya.
Dengan langkah yang ragu Fiona masuk ke dalam.
"Fiona ingin mengobati lukamu, nak."
Reflek kepala Fiona menoleh ke arah Simon. Kedua matanya membulat sempurna.
Hal yang sama juga terjadi pada Haven. Tatapannya langsung tertuju pada Simon.
Simon tertawa kecil, "sana obati calon suamimu,"
"Paman!" bisik Fiona dengan suara yang tertahan.
Simon pergi dari sana, meninggalkan Fiona dan Haven dalam keadaan canggung.
Kedua tangan Fiona mencengkeram kuat kotak obat yang ia pegang.
Apa ini? Kenapa malah aku yang terjebak di sini? Gumam Fiona dalam hati.
Haven mencuri-curi pandang ke arah Fiona.
"Bibi menyuruhku memberikan ini kepadamu," Fiona menyodorkan kotak obat itu dengan tatapan yang terarah ke lantai.
"Kau niat memberikannya kepadaku atau tidak?"
Pandangan Fiona langsung naik. Kedua matanya yang sembab menatap Haven.
"Mendekat lah," ucap Haven lalu memalingkan wajahnya.
Fiona menggerakkan kakinya menjauh dari depan pintu. Ia letakkan kotak obat di atas meja lalu dengan cepat langsung memutar tubuhnya— ia ingin cepat keluar dari ruangan itu.
Namun sebelum beranjak dari tempatnya itu suara Haven menghentikannya.
"Aku minta maaf," Haven menatap punggung Fiona.
Tubuh Fiona kembali menghadap pria itu.
"Aku tersulut emosi karena permintaan mereka. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan mu," Haven menatap wajah Fiona.
Fiona menatap lekat wajah Haven. Mata hazel yang sebelumnya terlihat marah saat melihatnya kini berubah menjadi sendu. Tidak ada tatapan tajam atau pun sorot mata kebencian yang terlihat.
Sepertinya Haven tulus mengucapkan itu.
Fiona menarik nafasnya dengan panjang. "Aku juga minta maaf karena sudah menamparmu,"
Haven reflek menyentuh pipinya.
"Sepertinya kalau kau marah kau akan mengucapkan apa pun yang terlintas di kepalamu,"
Kedua mata Haven mengedip, ia tidak mengerti maksud dari ucapan Fiona.
"Semalam kau juga mengumpat di telepon," Fiona mengulum bibirnya ke dalam. Kedua tangannya menyentuh sudut meja.
Kedua alis Haven menyatu, "semalam?"
Fiona mengangguk, "saat kau menelepon Denzel,"
"Kau mendengarnya?"
Fiona kembali mengangguk.
"Sekeras apa volume ponselnya sampai kau mendengar suaraku? Apa saat itu dia menekan mode loud speaker?" tanya Haven dengan wajah yang terkejut.
"Tidak. Dia meminta ku untuk menjawab telepon mu,"
"Apa?"
"Denzel ingin menjahili aku. Dia bilang kau ingin berbicara kepadaku. Tetapi, saat aku menjawab teleponnya kau malah marah-marah dan mengumpat,"
Haven menggaruk keningnya, "sial," bisiknya sendiri.
"Kau tidak perlu terpengaruh dengan itu. Denzel sudah minta maaf," jawab Fiona dengan cepat saat melihat ekspresi wajah Haven yang terlihat sangat merasa bersalah.
"Maaf. Semalam aku tidak tau kalau kau yang menjawab teleponnya."
Fiona mengangguk. "Kau obati luka mu," Fiona membuat gestur dengan menyentuh sudut bibirnya sendiri. "Bibi melihat lukamu. Dia khawatir dan menyuruhku membawakan obat ini,"
"Terima kasih,"
Fiona tersenyum simpul, lalu ia kembali berbalik—hendak pergi dari sana. Namun, saat sebelah kakinya di angkat, kaki itu malah menyandung kakinya yang lain hingga membuat tubuhnya jatuh ke lantai.
"Aakh!" Fiona menjerit saat merasakan nyeri pada lututnya.
"Are you okay?"
Fiona yang menutup mata karena takut wajahnya terbentur dengan lantai dapat merasakan hangat pada keningnya.
Perlahan ia membuka kedua matanya dan mendapatkan tangan Haven di keningnya.
Kepala Fiona perlahan menoleh ke arah Haven yang tepat berada di sampingnya.
"Untung tidak sampai menyentuh lantai," ucap Haven menatap kedua mata biru milik Fiona.
Fiona menelan ludah. Saat ini ia salah fokus dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya.
Badannya besar sekali. Gumam Fiona dalam hati. Pipinya merona saat kedua matanya menatap d**a bidang milik Haven yang nampak jelas pada posisinya saat ini.
Haven mengenakan pakaian kemeja warna hitam dengan 2 kancing teratas yang terbuka.
Sejak mereka berbicara, Fiona sudah salah fokus dengan apa yang ia lihat. Bahkan ia berusaha untuk mengalihkan tatapannya ke arah lain saat Haven terus mengajaknya berbicara.
Fiona dengan cepat menyingkirkan tangan Haven darinya lalu berdiri.
Haven mendongak.
Dan dari sudut pandang Fiona, Haven saat ini benar-benar terlihat sangat seksi.
Fiona menggeleng dengan kedua mata yang tertutup dan tangan yang menyentuh kedua pipinya.
"Obati luka mu, setelah itu temui bibi." ucap Fiona dengan cepat lalu lari keluar dari ruangan itu.
Haven yang melihat Fiona seperti itu mengernyitkan keningnya, "dia tersandung karena kakinya sendiri?"
***
"Kau sungguh sangat menyesal?" Helena menatap Haven yang berdiri di depannya.
Seperti gestur yang sebelumnya ia perlihatkan pada Simon, hal serupa juga ia lakukan pada Helena.
"Sungguh mom. Aku menyesal sudah mengatakan kata-kata menyakitkan itu. Aku tidak akan melakukannya lagi, janji." kedua tangan Haven berada di depan tubuhnya dan kepala yang sedikit menunduk.
Mereka berada di dalam kamar Helena. Luka Haven juga sudah diobati.
Helena tersenyum, ia tidak bisa marah lama-lama kepada anaknya ini. Apalagi Haven berani mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf secara langsung.
"Baiklah, aku memaafkan mu." jawab Helena memeluk tubuh besar Haven.
Haven membalas pelukan itu dengan hangat.
"Tamparan ku tidak sakitkan?" Helena melepaskan pelukannya. Ia menyentuh pipi Haven dan mengusapnya dengan lembut.
Haven menggeleng.
Di sela kehangatan yang terasa di antara mereka ketukan pintu kamar mengalihkan.
Dari luar muncul Simon.
"Acara maaf-maafan nya sudah selesai?"
Helena tertawa, "kenapa? Kau membutuhkan anakmu lagi?"
"Ya, tebakan yang sangat tepat."
Helena menatap Haven.
"Kau butuh apa dad?"
"Aku butuh kau untuk menemani Fiona,"
Haven memutar matanya, "apa lagi sekarang?"
"Aku ingin kau mengajak Fiona jalan-jalan."