Haven tertawa.
Seumur hidupnya, baru kali ini Helena main tangan kepadanya.
Dan itu semua karena Fiona!
"b******k!!" teriak Haven dengan tiba-tiba.
Denzel yang sudah tau Haven mau melakukan apa, langsung memeluk tubuh besar pria itu dari belakang.
"Wanita sialan!! Karena mu mommy menamparku!!! Hanya karena mu dia memukulku!!"
Semuanya yang di sana terkejut dengan emosi yang Haven miliki.
Fiona yang sudah menangis semakin berderai air mata saat sumpah serapah keluar dari bibir Haven.
Victoria yang tidak tahan dengan kondisi yang sudah tidak kondusif langsung menarik tubuh Fiona untuk pergi dari sana.
Denzel berusaha untuk menghentikan Haven yang sudah sangat marah.
Tidak berhasil dengan hanya memeluk pria itu, ia akhirnya mendorong tubuh Haven hingga pria itu terjerembab ke lantai.
"Cukup sialan!! Tindakan mu kali ini sudah di luar batas!!" bentak Denzel.
Haven tertawa dengan tubuh yang sudah terlentang di lantai.
Ia merasa lega saat semua amarah yang ia tahan dari semalam keluar. Ia menatap langit-langit ruangan dengan berkaca-kaca.
"Kau tertawa?" Helena berdiri di sampingnya.
Haven menatap Helena dari bawah. Sudut bibirnya berdarah.
"Why mom?" sorot mata yang tampak terluka terpancar di mata Haven. "Kenapa menamparku?" air mata turun di sudut matanya. "Aku seperti ini karena kalian,"
Helena tidak kuasa menahan kesedihannya. Air matanya jatuh ke pipi saat melihat pipi Haven memerah dan sudut bibirnya berdarah.
"Urus dia Simon. Aku tidak mau bertemu dengannya, sampai dia sadar dengan kesalahan yang sudah dia perbuat." ucap Helena, setelah itu pergi dari sana.
Tongkat Simon terdengar menyentuh lantai saat ia melangkah mendekat ke arah Haven.
"Seret dia ke ruanganku, Dizzy."
***
Dan di sini lah Haven sekarang. Berada di dalam ruangan khusus milik Simon. Yang di dalamnya ada berbagai jenis senjata yang berbeda ukuran.
Nuansa di dalamnya sangat gelap. Ruangan itu memiliki jendela yang ukurannya cukup tinggi sehingga membuat ruangan terasa lebih luas dan besar.
Simon berdiri di depan jendela sedangkan Haven berdiri di belakangnya.
"Sebenarnya, jika kau tidak berulah seperti tadi. Helena mau kau membawa wanita itu untuk bertemu dengan kami."
Pandangan Haven seketika naik saat mendengarnya.
"Semalam, Helena membahas wanita itu. Dia penasaran bagaimana wajah kekasih anaknya. Dia sangat bersemangat saat membicarakan mu dan wanita itu,"
Haven menggigit bibirnya dengan keras. Ia sadar, ia sudah membuat kesalahan terutama pada Helena.
"Tapi semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi nya." Simon melirik Haven melalui bahu, "kau malah menyakiti hatinya."
"Maaf kan aku," ucap Haven dengan suara yang pelan.
"Permintaan maaf itu harusnya kau sampaikan untuk Helena. Dengan menamparmu itu sudah membuktikan kalau perasaannya terluka atas setiap kata yang kau lontarkan untuk kami."
"I'm sorry dad," kepala Haven tertunduk. "Aku sudah sangat keterlaluan,"
"Pernikahan ini tidak akan terjadi jika Emir tidak membuat ulah,"
Kedua alis Haven bertaut. Perlahan kepalanya naik.
"Emir bukan orang tua kandung Fiona,"
Deg!
Apa ini? Apa maksudnya? Fiona bukan anak kandung Emir? Lalu anak siapa?!
Kedua mata Haven membulat.
"Bermain-main dengan Wrathborn sama saja kau menyerahkan nyawamu kepada mereka. Dan itu terjadi pada Emir." Simon memutar tubuhnya menghadap Haven.
Penampilan Haven cukup kacau saat ini.
Simon melangkah ke mejanya, "aku meminta beberapa anak buah kita untuk menyelidiki asal mula mengapa Emir bisa bertemu dengan Wrathborn," Simon mengeluarkan lembaran informasi dari laci mejanya.
Haven mengambil lembaran itu. Ia membaca setiap kata yang ada di kertas itu.
"Emir terjerat hutang. Dia mengandalkan seorang teman yang dia pikir adalah seseorang yang sangat baik. Temannya merekomendasikannya untuk meminjam uang kepada Wrathborn."
Haven masih fokus pada lembaran kertas itu.
"Bisa ditebak akhirnya seperti apa. Emir terjerat bunga yang begitu besar hingga tidak mampu membayarnya. Dia yang sebelumnya tidak pernah meninggikan suara dan mainkan tangan pada Fiona seketika berubah drastis. Dia dengan begitu mudahnya melayangkan pukulannya pada Fiona."
"Tidak hanya hutang,"
"Ya, kau tau Wrathborn. Mereka tidak suka dengan kehidupan keluarga yang bahagia. Emir termasuk ke dalamnya. Dan itu juga menjadi kesempatan bagi mereka untuk menghancurkan kehidupan Emir dan Fiona."
Haven kembali meletakkan lembaran itu ke atas meja.
"Aku sudah berusaha untuk meminta informan kita mencari keberadaan Emir. Namun hasilnya selalu nihil. Aku tidak tau dimana dia sekarang," Simon duduk di kursinya—menatap Haven yang berdiri di depannya. "Kau mau membantuku?"
"Lalu kenapa harus dengan menikahinya? Kalau dari awal kau memberitahuku tentang semua ini, maka apa yang sudah terjadi sekarang tidak akan pernah aku lakukan."
Simon tersenyum, "ingat kata-kata ku sebelumnya?"
"Yang mana?"
"Kalau Fiona bukan anak kandung Emir,"
Haven mengangguk, "ingat,"
"Kau ingin aku beritahu sekarang atau setelah menikah nanti?"
Kening Haven seketika berkerut, "aku bukan anak kecil lagi dad! Aku sudah 30 tahun! Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil!" Haven kembali emosi.
Saat-saat seperti ini lah yang tidak ia suka dari Simon.
Simon selalu melihatnya seperti anak-anak. Berbicara, mengatakan semuanya lalu tiba-tiba membuat pilihan yang membuat Haven berpikir, kenapa kau beritahu kalau ujung-ujungnya kau menyuruhku memilih! Ini sama halnya, saat anak kecil di suruh memilih permen di tangan kanan atau tangan kiri!
Simon tertawa.
"Untuk info yang satu itu kita pending dulu. Sekarang aku ingin mendengar jawabanmu. Kau mau membantuku?"
Haven mengedipkan kedua matanya. "Membantu mencari keberadaan ayahnya—"
"Sekaligus menikah dengannya," potong Simon dengan cepat. "Mau?"
Sungguh pilihan yang sangat sulit. Haven mau membantu mencari keberadaan ayah Fiona, tapi kalau untuk menikah dengan wanita itu terasa sangat begitu sulit.
Jika ia menikah dengan Fiona lalu bagaimana dengan Selene?
"Aku sudah memiliki kekasih dad,"
Simon mengulum bibirnya ke dalam. Sesaat ia memikirkan satu hal, "bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"
Sebelah alis Haven naik ke atas.
"Bawa kekasihmu ke rumah. Jika dia mau maka tidak akan ada pernikahan mu dengan Fiona. Tapi, jika dia tidak mau datang menemui aku dan Helena. Maka kau harus menikah dengan Fiona. Deal?" Simon mengulurkan tangan kanannya pada Haven.
Haven diam sejenak. Sebelum berjabat tangan, ia harus memikirkan apa dampak dari kesepakatan dengan Simon ini.
Selene pasti mau bertemu dengan keluarganya! Haven menyemangati diri sendiri. Mengingat betapa sulitnya membujuk Selene untuk bertemu dengan keluarganya.
Ia sudah pernah mencoba 1 tahun yang lalu, tapi Selene selalu memiliki alasan untuk tidak mau bertemu dengan keluarganya.
Haven mengepalkan kedua tangannya.
"Okay, deal!" jawab Haven dengan mantap dan balas menjabat tangan Simon.