HAVEN - Part 7

899 Words
Canda tawa terdengar di ruang tengah mansion mewah milik Simon. Suara itu berasal dari Victoria yang tertawa bersama Fiona karena berhasil membuat Denzel marah. Mereka berdua mengganggu Denzel setelah pria itu meminta maaf kepada Fiona tentang masalah semalam. Fiona tidak mempermasalahkan tentang kejadian itu. Ia juga paham dengan kemarahan Haven. Tetapi, Victoria tidak mau Denzel merasa jika tindakan yang ia lakukan adalah benar. Jadi Victoria memaksanya untuk meminta maaf dan itu disaksikan oleh Helena dan Simon. Dan dari sana lah, mereka mulai menggoda Denzel. "Kau berisik sekali Vicky. Aku sampai tidak bisa fokus bermain game," Victoria mendelik kesal ke arah Denzel yang fokus pada ponselnya. "Haven datang," ucap Denzel dengan kepala yang menoleh ke arah pintu. "Instingmu kuat juga. Padahal suara mobilnya belum terdengar," jawab Victoria sembari mengepang rambut Fiona. Simon berdiri dari sofa, dan bersamaan dengan itu mobil Haven berhenti di depan mansion. "Keributan akan segera di mulai," ucap Denzel sembari mematikan ponselnya dan berdiri dari sofa. Victoria dapat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Denzel. Ia hanya melirik pria itu sebentar lalu kembali melanjutkan mengikat rambut Fiona. "Aku pikir kau tidak akan mau—" "Langsung saja. Apa ini tentang menikah lagi?" Haven memotong ucapan Simon saat ia sudah berdiri di depan pria tua itu. Kedua matanya bergerak menatap semua yang ada di sana. "Wow, kalian sudah berkumpul ternyata." Haven melangkah masuk ke dalam, dan berdiri di tengah-tengah ruangan. Penampilannya yang tidak seperti biasa membuat pandangan Fiona tidak lepas dari wajahnya. Semalam yang Fiona ingat, rambut pria itu tertata dengan rapi memperlihatkan kening dan alisnya yang tebal. Namun kali ini, rambut coklat keemasan itu jatuh menutupi keningnya. Haven terlihat seperti pria yang baik karena tatanan rambutnya itu. Fiona mengingatkan diri. Ia menggelengkan kepala. Aura baik itu hanya terpancar dari luar. Di dalamnya Haven adalah seorang pria yang kasar! Fiona berdiri dari duduknya saat kedua matanya tidak sengaja bertemu dengan mata hazel milik Haven. Haven mendekat ke arahnya. "Kau sangat ingin menikah denganku?" ucapnya dengan kedua tangan yang berada di pinggang. Fiona menatap Helena dan Simon yang sepertinya sudah bersiap untuk membelanya. "Orang tuamu yang menginginkan aku untuk menikah denganmu," jawab Fiona dengan keberanian yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Ia pun cukup terkejut mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya. Haven tersenyum sinis, "lihat lah wanita yang kalian ingin aku nikahi ini. Sudah asal usul tidak jelas, dan sekarang—" "Dia memiliki keluarga," Haven memutar kepalanya ke arah Simon. "Oh ya? Jika dia memiliki keluarga lalu kenapa dia tinggal di sini?" wajah Haven kembali pada Fiona. "Kemana kerabatnya? Apa mereka tidak mau menampung wanita desa ini?" Haven menatap Fiona dari bawah ke atas. "Apa yang bisa di banggakan darinya?" "Hentikan Haven!" Simon memperingatkan. Fiona sudah mengepalkan kedua tangannya. "Dari atas sampai bawah yang dia pakai hanyalah pemberian! Kau senang memakai pakaian bekas adikku?! Kenapa? Baru pertamakali memakai pakaian mewah?" Jantung Fiona berdetak dengan kencang saat mendengar ucapan Haven. Ia tidak pernah merasa terhina seperti ini hanya karena ucapan seseorang. "Cukup Haven. Kata-kata mu sudah keterlaluan," ucap Victoria menatap Haven dengan datar. "Oh, kau merasa sudah berhasil mendapatkan simpati dari keluargaku makanya kau diam saja? Mana kalimat tajam yang kau ucapkan sebelumnya? Sudah tidak punya nyali?" Mata Fiona berkaca-kaca. "Hentikan Haven! Aku memintamu ke sini bukan untuk menghina Fiona," "Datang atau pun tidak. Aku akan tetap menghina wanita yang tidak jelas ini! Kehadirannya di tengah-tengah keluargaku sangat membuatku muak! Tanpa tau siapa dia, tiba-tiba dia yang akan menjadi istriku. Siapa kau?! Apa yang sudah kau lakukan kepada keluargaku hingga mereka luluh saat hanya melihatmu?!" Haven menatap benci Fiona. "Hanya dalam semalam, kau mampu membuat mereka berpihak kepadamu! Apa yang sudah kau lakukan kepada mereka hah?! Jawab!!!" Haven membentak Fiona hingga tubuh wanita itu terperanjat dengan kedua mata reflek tertutup. "Cukup Haven!! Kau lupa jika kau punya adik perempuan?!!" kali ini Denzel bersuara. Ia yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Haven yang terus berbicara langsung tersulut emosi saat Haven mulai meninggikan suaranya. Kali ini kepala Haven terarah pada Denzel. "Kau pun juga sama sialan! Di luar sok peduli tapi nyatanya kau tidak ada gunanya! Dari pagi sampai malam kau hanya bermain game! Apa kau pernah membantuku hah?! Apa kau pernah membantuku untuk melawan mereka?!!" tunjuk Haven terarah pada Helena dan Simon. Dadanya naik turun. Emosi sudah menyelimuti Haven saat ini. "Oh, kau bahagia hidup dengan aturan yang menyesakkan yang mereka buat?!" "Cukup Haven! Mereka orang tua kita!" ucap Denzel dengan menggertakkan giginya. Haven tersenyum miris, "orang tua?" Haven menatap Simon dan Helena. "Sejak aku berusia 15 tahun, aku merasa sudah tidak memiliki orang tua—" Plak!!! Semua terkejut mendengar suara yang nyaring itu. Haven menyentuh pipinya yang di tampar oleh Fiona. Kedua mata tajamnya menatap wanita itu. "Kau boleh benci dengan tindakan mereka! Tapi kau tidak berhak mengatakan kalau kau tidak memiliki mereka! Jangan lupa, jika tidak ada mereka maka kau tidak akan ada di dunia ini!" "Aku tidak meminta untuk dilahirkan! Minta ditakdirkan hidup di keluarga ini juga tidak! Lalu apa salah kalau aku mengatakan itu?" "Kau sakit Haven!" ucap Fiona dengan suara yang bergetar. "Semua ini karena mu! Jika kau tidak ada maka aku tidak akan mengatakan semua ini! Kenapa kau tidak ikut dengan ayahmu saja? Apa dia sudah mati di tangan—" Plak!!!! Tamparan kembali melayang ke pipi Haven. Kali ini bukan Fiona melainkan Helena. Helena menampar Haven! Untuk pertama kalinya, Helena mendaratkan pukulannya ke wajah anak tercintanya itu. "Cukup! Kau sudah membuatku sakit hati."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD