HAVEN - Part 6

990 Words
Haven meletakkan ponselnya dengan kasar setelah menghubungi Denzel dan mengeluarkan segala kekesalannya kepada adiknya itu. "Suka sekali membuat orang marah," bisik Haven lalu memilih keluar dari kamar mandi. "Aku ingin bertemu dengan Selene," gumamnya masuk ke dalam walk in closet nya. *** Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Di luar pun juga sedang hujan, tapi itu tidak akan bisa menghentikan Haven untuk bertemu dengan kekasihnya. "Tuan, Anda mau kemana?" Seorang wanita muncul dari arah dapur. Mungkin usianya sekitar 50 atau 60-an. Pakaiannya seperti pelayan, dengan kepala yang sedikit menunduk ke arah Haven. "Aku mau menemui Selene. Dan akan menginap di rumahnya. Jadi kau tidak perlu membuatkan sarapan untukku besok," jawab Haven dan kembali melangkah. "Anda sudah meneleponnya?" Langkah Haven kembali berhenti. "Nanny, aku hanya ingin menemui kekasihku. Apa salah?" Haven memutar tubuhnya ke arah wanita itu dan merajuk seperti anak kecil. Apa mungkin sikap ini yang dikatakan Helena pada Fiona? Haven berprilaku manja kepada wanita yang ia panggil Nanny itu. "Tapi ini sudah malam, Tuan. Di luar juga sedang hujan," "Aku kan pakai kendaraan," jawab Haven dengan ekspresi yang berbeda. Ekpresi yang ia tunjukkan saat ini, sangat berbeda saat ia berbicara dengan Simon dan kedua saudaranya. Nanny tersenyum, "Anda sudah meneleponnya?" Kedua mata Haven mengedip, "apa perlu? Dia pasti ada di rumah sekarang," "Coba di telepon dulu," Haven menarik nafas dengan panjang. Ia menuruti perkataan Nanny itu. Haven menelepon Selene. Namun tidak ada jawaban. Ia kembali mencoba, dan responnya tetap sama. Selene tidak menjawab panggilannya. "Mungkin dia sudah tidur," "Kalau begitu, besok saja Anda menemuinya. Kan dia sudah tidur," jawab Nanny dengan tenang. Senyuman tak lepas dari wajah keriputnya. Haven memajukan bibirnya ke depan. Ekspresi ini benar-benar terbalik dengan apa yang ia perlihatkan kepada keluarganya. "Anda harus istirahat Tuan," "Baiklah. Aku memang tidak bisa melawan mu, Nanny." ucap Haven dengan lesu dan kembali menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Nanny menatap punggung Haven yang perlahan menghilang dari pandangannya. Setelah itu, ia mengeluarkan ponselnya dan menjauh dari arah tangga. Ia menelepon seseorang. "Tuan tidak jadi pergi menemuinya," ucapnya dengan suara yang sangat pelan. Setelah itu mematikan ponselnya dan pergi dari sana. *** "Pernikahan Haven dan Fiona harus segera dilaksanakan Helena," Simon memutar tubuhnya menghadap Helena yang duduk di tepi ranjang. "Kau yakin?" jawab Helena sembari melepaskan ikar rambutnya. Simon mendekat ke arah istrinya itu. Ia duduk di samping Helena. Pandangannya tertuju ke luar jendela. "Dia ingin menemui wanita itu tetapi Jemmy berhasil menghentikannya," Helena tersenyum mendengarnya, "dia memang sangat penurut, apalagi dengan Nanny nya." Helena menatap Simon. "Hubungi lah dia besok. Minta dia menemui ku. Rencana ini tidak boleh gagal. Kita harus segera menyelamatkan Emir. Jika terlambat maka nyawa Emir akan melayang," "Selama ini, aku pikir hidup kita sudah aman dari semua masalah. Ternyata masih ada begitu banyak musuh yang mengincar." Simon balas menatap Helena, tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi istrinya. "Maafkan aku. Karena sudah membuatmu masuk ke dalam lingkungan yang berbahaya ini," Helena tertawa, "terlambat untuk minta maaf. Kau sudah memiliki 3 anak. Dan semuanya keras kepala." jawab Helena sembari naik ke atas ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya di sana. "Keras kepala itu menurun dari mu. Yang aku turunkan kepada mereka adalah keberanian. Kau tidak lihat, anak pertama mu melawanku?" Helena dan Simon saling tertawa saat mengingat bagaimana keras kepalanya Haven dan keberanian pria itu melawan Simon. Simon berdiri, dan mengambil posisinya. "Jika Haven menolak bagaimana?" tanya Helena dengan kedua mata tertutup. "Haven tidak pernah menolakmu. Apapun yang kau katakan dia pasti akan mendengarkan mu." jawab Simon sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Semoga saja." jawab Helena dengan pelan. Dan aku juga berharap, dia akan mau meninggalkan wanita itu. Aku merasa wanita itu tidak baik untuk Haven. *** Malam semakin larut, hujan pun semakin melanda. Di sebuah tempat yang jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk, ada seseorang yang sedang terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya. Bunyi alat monitor menandakan, jika detak jantungnya stabil namun dengan kesadaran yang amat kecil. Kepalanya berbalut perban, begitu pun juga dengan kedua lengannya. "Pria tua ini seharusnya tidak kita selamatkan," Dua orang, pria dan wanita berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan yang sama-sama menyilang di depan d**a. Pakaian mereka serba hitam dan memakai topi lalu masker. "Tapi kata boss, dia adalah umpan. Jika kita menghilangkan nyawanya maka uang yang selama ini kita inginkan akan hilang," "Umpan? Maksudmu?" "Dia ada hubungannya dengan keluarga Sachdev," bisik si pria. "Oh, pantas saja si boss sangat bernafsu untuk menangkap pria tua ini. Ternyata ada maksud tertentu," "Kau ingin tau satu hal tidak?" Si wanita tampak tertarik, ia kembali mendekatkan telinganya ke bibir si pria itu. "Anak pria tua ini adalah kunci dari segala hal yang akan terjadi nanti!" "Maksudnya?" "Anaknya akan menjadi bagian dari Sachdev! Jika itu terjadi maka akan ada pertumpahan darah, penculikan, dan segala hal untuk mengakhiri nyawa anaknya!" "Itu pasti akan sangat seru," Mereka berdua tertawa cekikikan membayangkan hal yang mungkin akan terjadi suatu hari nanti. *** Langit yang cerah di tambah jalanan yang basah akibat hujan semalam menambah kesan sejuk di pagi hari. Haven masih terlelap di tempat tidurnya. Kamar yang bernuansa hitam putih menandakan betapa sederhana dan tidak rumitnya Haven dalam menentukan pilihannya. Pintu kamar dibuka dari luar. Jemmy muncul, wanita tua itu langsung melangkah menuju jendela—membuka gorden sehingga cahaya matahari langsung masuk ke dalam ruangan. Seketika tubuh Haven bergerak. "Sudah pagi Tuan," Haven mencoba untuk membuka matanya dengan perlahan. "Morning Nanny," suara berat dan serak miliknya terdengar. "Pagi juga Tuan," jawab Jemmy dengan senyumannya. Haven mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. "Nyonya meminta Anda untuk ke rumah," "Mmm," jawab Haven singkat sembari mengusap tengkuknya. Jemmy keluar dari sana. Haven menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, ia jangkau ponselnya yang ada di nakas lalu menghubungi Selene. "Ingin pergi ke suatu tempat? .... "Ada yang ingin bertemu denganmu," Sebelah ujung bibir Haven naik ke atas saat mendengar jawaban Selene di seberang sana. Pertunjukkan akan segera di mulai. Aku ingin melihat respon wanita itu saat bertemu dengan Selene nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD