HAVEN - Part 5

1028 Words
"Oh iya, apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan kakak? Aku rasa usiamu tidak beda jauh dari Haven," Fiona mengangguk, "aku 29 tahun," "Okay, kakak. Aku sudah menceritakan sedikit tentang keluargaku kepadamu. Apa kau tidak berniat ingin menceritakan tentang dirimu kepadaku?" Victoria menyenggol sedikit bahu Fiona. "Apa yang harus aku ceritakan? Kisah hidupku sepertinya membosankan," "Membosankan?" rasa ingin tau sangat terpancar di wajah Victoria. "Aku anak tunggal," Bibir Victoria reflek maju ke depan saat mendengar ucapan Fiona. "Pasti sangat mengasyikkan. Tidak ada yang mengganggu dan menjahili mu," Kedua mata Fiona mengedip, wajahnya terarah ke depan. "Mengasyikkan? Aku malah merasakan sebaliknya. Aku merasa kesepian setiap kali orang tuaku pergi bekerja. Aku selalu dikurung di dalam rumah saat mereka tidak ada." "Lalu?" "Aku sulit bergaul dengan orang lain. Bahkan temanku dari sekolah hingga sekarang hanya dua tau tiga orang," "Apa itu efek terlalu di kekang orang tua?" Fiona menaikkan kedua bahunya ke atas, "entah lah. Aku juga tidak tau mengapa aku sulit sekali dekat dengan orang lain," "Tapi kenapa denganku kau seperti orang yang mudah bergaul? Kau tampak ramah dan suka tertawa," "Mungkin karena usiamu yang lebih muda dariku. Lagi pula, aku juga ingin memiliki teman yang lebih muda dariku." Fiona dan Victoria tertawa bersama, hingga Victoria tidak sengaja melirik ke arah Denzel yang masih berdiri di depan pintu. "Dizzy?" Perhatian Denzel langsung teralihkan dari ponselnya. Ia melangkah mendekat ke arah kedua perempuan itu yang bersamaan dengan berderingnya ponsel miliknya. "Jawab lah," ucapnya tiba-tiba yang langsung menyodorkan ponselnya ke arah Fiona. Fiona yang bingung menatap Denzel dengan sebelah alisnya yang naik ke atas. "Calon suami mu menelepon," "Kau tidak dengar Haven menolak pernikahan itu?" jawab Victoria dengan wajah yang kesal. "Jangan permainkan kakakku!" Victoria tiba-tiba berdiri. "Pergi sana, jangan ganggu kami!" "Siapa juga yang mau mengganggu kalian? Aku hanya mencoba untuk mempererat hubungan kakak ipar dengan Haven. Hanya itu," Fiona menatap interaksi kedua saudara itu. Ia merasa sudah salah tempat. Apa ia pergi saja dari sana? Fiona mencoba untuk berdiri. "Jawab lah teleponnya," Denzel kembali menyodorkan ponselnya pada Fiona. "K—kenapa aku harus yang menjawabnya? Bukannya dia menelepon mu?" Denzel mengulum bibirnya. Ia mendekat ke arah Fiona. Menarik sebelah tangan wanita itu lalu menaruh ponselnya di telapak tangan Fiona. "Karena dia mau berbicara denganmu. Mungkin dia sudah berubah pikiran," "Jangan percaya kak, pria ini sering mempermainkan orang lain!" Denzel mendelik kesal ke arah Victoria, "anak kecil diam saja. Ini urusan orang dewasa." ucapnya dengan santai. "Aku sudah 20 tahun Dizzy!" ucap Victoria dengan kesal. Bahkan sebelah kakinya ia hentakkan ke lantai. "Jangan dengarkan anak kecil itu. Dia memang kurang suka kepadaku." Denzel tersenyum manis ke arah Fiona. "Jawab lah teleponnya," Denzel mengambil jarak. Ia berdiri di samping Victoria yang sudah merajuk. Fiona menatap kedua saudara itu bergantian. Ponsel yang ada di tangannya masih berdering. Mau tidak mau, Fiona terpaksa harus menjawab telepon itu. "Ha—" "Oi b******k! Apa maksudmu hah?! Kakak ipar?! Siapa yang kau panggil dengan sebutan itu?! Dia?! Wanita yang tidak jelas itu?! Kau ingin dia menjadi kakak iparmu?! Maka nikahkan saja dia dengan sepupumu b******k!! Sekali lagi kau mengirimkan video tentang dia maka peluru ku akan menancap di kepalamu, sialan!!!" Bentak kan itu menandakan berakhirnya sambungan telepon dari Haven. Fiona yang mendengarnya tidak bisa berkata-kata. Ia terlalu terkejut mendengar semua umpatan yang keluar dari bibir Haven. Fiona menatap Denzel dan Victoria yang terdiam. Walaupun telepon itu tidak dalam mode loud speaker. Denzel dan Victoria masih dapat mendengarnya karena volumenya dalam mode full. Fiona mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung. Ia tertawa. Suara tawanya terdengar sangat dibuat-buat. Denzel dan Victoria sejenak saling pandang. "Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata umpatan. Wah!!! Apa yang sudah terjadi?" Fiona terus tertawa namun dengan sudut mata yang berair. Victoria memilih mendekat ke arah Fiona. Ia rebut ponsel Denzel dari tangan wanita itu lalu melemparkannya ke arah Denzel. "Puas kau sudah mempermainkan kakak ku?!!" bentak Victoria pada Denzel. "A—aku tidak tau—" "Kakak mau kemana?" tanya Victoria cemas karena melihat Fiona yang tiba-tiba menjauh dari sana. "Aku ingin istirahat," jawab Fiona singkat tanpa menatap Victoria. Ia pergi dari sana dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Victoria yang tersulut emosi, langsung mendekati Denzel dan mulai melayangkan pukulannya ke tubuh Denzel. "Sudah aku bilang! Jangan permainkan dia! Kau kan tau kalau Haven sedang marah dia akan terus mengumpat dan mengucapkan kata-kata kasar!" Denzel berusaha menghindar dari pukulan Victoria. "Aku tidak tau kalau dia akan semarah itu," "Ah s**t!" umpat Victoria, mendorong tubuh Denzel. "Jika kau bukan kakak ku, mungkin panahku sudah tertancap di tubuhmu!" "Kau kejam sekali," Denzel mengusap-usap kedua lengannya. Victoria kembali mendekat ke arah Denzel. "Minta maaf kepadanya! Atau aku akan mengadukannya pada mommy!" Denzel memutar matanya, "katanya sudah 20 tahun, masa masih suka mengadu—" "Aa!!! Sakit Vicky!" Denzel mengusap lengannya yang di cubit Victoria. "Aku serius Denzel! Kau harus minta maaf!" "Iya iya, aku akan minta maaf. Itu saja kok marah," Victoria menatap Denzel dengan kesal. Ia berkacak pinggang dengan d**a yang naik turun. Sedangkan Fiona berusaha untuk tetap tenang. Ia yang bingung harus pergi ke arah mana karena mansion itu sangat luas. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan dan untungnya Helena muncul dan membantunya untuk pergi ke kamar yang sudah di siapkan. "Ini kamarmu," Helena membuka pintu kamar. "Aku tidak tahu warna favorit mu, jadi aku menyesuaikannya dengan kesukaan Victoria. Tidak apa kan?" Kedua mata Fiona menatap sekeliling. "Sepertinya Victoria suka warna biru," Fiona menatap Helena. "Ya. Kalau kau ingin mengganti warna catnya, beritahu aku. Aku akan menggantinya." Fiona menggeleng, "tidak perlu, ini saja sudah lebih baik bagiku." "Are you okay? Kenapa matamu memerah?" Helena mendekat ke arah Fiona. Ia sadar akan perubahan yang tampak jelas pada Fiona. Ia genggam kedua tangan wanita itu. "Kau sedih karena Haven?" "Itu..." "Maaf ya, dia memang seperti itu. Dia bukan anak yang kasar, hanya saja keadaan yang membuatnya seperti itu. Saat kau sudah mengenalnya lebih dalam, maka kau akan tau bagaimana sikapnya yang sebenarnya." Helena tersenyum lembut pada Fiona. Mengenal Haven lebih dalam? Aku rasa itu akan sangat sulit. Dia sudah terlanjur benci kepadaku. Bahkan mungkin dia sudah tidak mau melihatku lagi. Padahal ini pertama kalinya aku melihat pria yang sangat mendekati tipe yang aku inginkan selama ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD