Sebuah motor dengan kotak container di bagian belakang berhenti depan pintu belakang club malam. Tidak lama, turun Lotta dari atas sadel motor sambil melepas helmnya. Dia letakan helm ke salah satu stang motor, kemudian mengambil paket dari dalam container.
Gadis ini bekerja sebagai pengantar paket, meski biaya hidup disuplai dari William setiap bulan. Uang bulanan yang dipegang Sueb, seringnya dipakai si kakek untuk berjudi, mabuk-mabukan, dan menopang perguruan kungfu sang kakek. Oleh karena itu, sedari smu, dia bekerja untuk menghidupi diri sendiri, Sueb dan Dadan.
Lotta kemudian memegang tiga kotak paket, mulai berjalan menuju pintu belakang tersebut. Lantas dari arah pintu keluar Kelvin yang sempoyongan karena habis meneguk beberapa gelas minuman bera*****l. Si gadis melihat ini, segera menyingkir ke pinggir agar tidak ditabrak si dokter, tetapi kemudian pekik kagetnya terdengar.
“Astaga-!”
Menit kemudian dia bergegas mendekati Kelvin yang tersuruk jatuh ke aspal jalan. ditaruh paket ke permukaan jalanan tersebut.
“Tuan!” dia segera membantu si dokter berdiri, “Tuan, anda tidak apa-apa?” tanyanya cemas memandang sang dokter itu yang masih mabuk.
Kelvin tidak memberi jawaban, lantas memuntahkan isi perutnya ke depan.
“Astaga!” Lotta terkejut, cepat jari telunjuknya menotok beberapa bagian punggung si dokter, “Tuan.” Ditegur lagi tuan dokter itu yang melihat ke dia dengan wajah mulai segaran, “Gimana sekarang? Apa masih ingin muntah?” tanyanya dengan tulus.
“Apa perduli kamu, hmm?” Kelvin tersenyum sinis, “Hais, sudahlah aku harus pergi praktek sekarang.” Lantas meninggalkan si gadis yang merasa prihatin melihatnya masih mabuk.
Lotta menghela napas, segera mengambil paketnya, hendak melanjutkan misinya yaitu mengantar paket ke club di depan. Dia segera melangkah lagi, lantas masuk ke dalam club. Sedangkan Kelvin berhasil sampai ke mobilnya yang di parkiran, segera masuk ke dalam mobil, disambar jas dokter yang tergeletak di atas dasbor, dipakai sejenak, baru melajukan mobilnya.
Namun Kelvin benar-benar apes karena ternyata diincar begal yang mangkal tidak jauh dari club. Para begal itu biasa mengincar para customer club yang mabuk untuk dihabisi hartanya. Mobil sang dokter dicegat kawanan tersebut yang datang dengan beberapa motor tril.
Sang dokter mendengus kesal, karena tidak dapat melajukan mobilnya yang dikepung banyak motor tril. Terpaksa pula dia keluar dari mobil karena salah satu begal mengetuk-ketuk keras kaca mobil menyuruhnya turun.
“Siapa kalian?” tanya si dokter memandang para begal itu dengan waspada.
“Siapa kami tidak perlu anda tanyakan.” Sahut Marto, si begal yang tadi memaksa dokter ini turun dari mobil, “Lekas serahkan kunci mobil dan semua harta yang kamu bawa saat ini.”
Kelvin mendengar ini tersenyum sarkas, “Oo kalian begal curanmor? Langkahi dulu mayatku jika inginkan semua itu.”
Mendengar ini tak ayal membuat Marto mengangkat tangan ke udara memberi isyarat agar mereka menyerang Kelvin. Sejurus setelah itu tampak si dokter menghadapi serangan para begal tersebut demi melindungi harta yang dibawa.
Saat itu di sekitar mereka tampak sepi, kalau pun ada orang di halte di seberang tempat kejadian, tidak ada yang berani memberikan pertolongan ke Kelvin.
Perlahan meluncur motor kontainer yang dikemudikan Lotta. Si gadis melihat adegan fighting tersebut, segera menghentikan motor, mengangkat kaca helm ke atas, lantas mengamati sejenak perkelahian itu.
“Astaga-!”
Lotta terkaget melihat Kelvin yang tadi ditolongnya dikeroyok begal, cepat melepas helm dari kepala, lantas berlari cepat sambil melempar helm tersebut ke Marto yang baru saja memberi hiasan di lengan Kelvin dengan celurit.
Helm melayang cepat dan telak mengenai komandan begal itu dengan keras, membuat pria itu terpental lantas menyerusuk di aspal. Para begal yang lain dan Kelvin melihat adegan itu segera mencari tahu siapa yang melayangkan helm itu.
Lotta cepat sling mengambil helm yang tergeletak di belakang kepala Marto, lantas dengan gerakan sangat cepat berlari mengeliling para begal yang melongo melihatnya sambil diberi hadiah pukulan keras helm ditangannya. Membuat para begal itu mental semua ke belakang, rubuh jatuh ke aspal. Dia segera ke depan Kelvin yang melongo melihat aksinya itu.
Marto segera berdiri lantas melempar celurit ditangannya ke arah Lotta, si gadis yang punya pendengaran tajam mengetahui benda berbahaya itu mendesing di udara segera mengenainya juga Kelvin, cepat dia angkat tubuhnya ke udara di mana satu kakinya berputar ke kanan untuk menangkis celurit tersebut, kaki lainnya menendang benda berbahaya itu ke belakang di arahkan ke Marto.
Marto melihat benda itu melesat cepat ke arahnya segera terbirit lari, tetapi apes lengan bagian atasnya mendapat hadiah lukisan benda tersebut,
“Akhh!” jeritnya kesakitan, sedangkan benda itu cepat ditangkap Lotta, lantas diarahkan ke pria itu, “Akhh!” pekiknya kaget karena ditodong oleh si gadis. Dia menelan salivanya, tidak menduga ada perempuan sehebat sang gadis.
Kelvin melihat semua adegan tadi merasa kagum, diamati si gadis yang ternyata begitu cantik dengan aura sensual yang indah.
‘Siapa gadis ini?’ tanya hatinya, ‘Dia punya kemampuan bela diri sangat bagus.’ Dinilai sang gadis punya kemampuan bela diri yang bagus, “Astaga!” jeritnya karena melihat salah satu begal berlari cepat dengan belati teracung ke arah Lotta. Segera saja dia salto ke arah itu, lantas kaki-kakinya cepat menendang tangan si begal yang mengacungkan belati, plus membuat begal itu mental ke sisi lain.
Akhirnya para begal termasuk Marto yang pantang menyerah mengeroyok Lotta dan Kelvin. Sepasang manusia itu bahu membahu menghadapi serangan para begal, di mana berakhir kekalahan telak di pihak begal. Marto segera berteriak menyuruh mereka mundur. Tidak lama para begal ngibrit kabur dengan motor-motor.
“Tuan.” Sejurus setelah itu terdengar suara Lotta menegur Kelvin yang menghembuskan napas dengan lega, “Anda tidak apa-apa?” ditanya si dokter dengan nada suara cemas.
“Tidak.” sahut Kelvin singkat, lantas mengamati sang gadis tomboy berhati tulus ini, “Kamu siapa?” ditanya si gadis dengan nada suara sombong.
“Saya Lotta, Tuan.” Sahut Lotta polos mengenalkan dirinya, “Anda sendiri siapa?”
“Untuk apa kamu menanyakan siapa aku, hmm?”
Lotta melongo mendengar ini, diamati Kelvin, lantas menghela napas sebab tampak olehnya aura si dokter ini arogan.
“Hais!” desau Lotta menghela napas lagi, “Saya sudah membantu anda dua kali, tetapi anda tidak berterima kasih ke saya. Malah kasar ditanya siapa diri anda.”
“Hei, berani sekali kamu berkata begitu!” seru Kelvin tersinggung teringat ditolong Lotta sebelumnya di club, “Tanpa bantuanmu, aku mampu mengatasi kejadian-kejadian tadi.” Imbuhnya dengan sombong sambil melipat kedua tangannya diletakan di d*** dibusungkan.
“Begitu kah?” tanya Lotta memandang sinis sang dokter, “Kalau tadi saya tidak membantu melegakan anda yang mabuk, bagaimana bisa anda pergi dengan mobil anda itu?” ditunjuk mobil tuan ganteng ini, “Lantas saya tadi melihat anda kewalahan melawan para begal itu! Lantas ini,” ditunjuk wajah si dokter yang tampak terhias memar, “Ini juga!” diraih pula lengan kanan pria itu yang tampak berhiaskan red liquid, “Masih bagus saya datang membantu anda!” ujarnya sambil melepas kasar lengan pria tersebut, “Kalau tidak saya yakin anda berakhir hidup di dunia ini.” Imbuh dia dengan kesal.
“Mana mungkin itu terjadi!” Kelvin sebenarnya malu dibantu perempuan saat menghadapi para begal. “Ah sudah lah pokoknya lain kali kamu jangan sok ikut campur urusan orang lain!”
Lotta melongo mendengar ini, lantas menyilangkan kedua tangan di d***nya, dipandang Kelvin dengan gemas,
“Anda ini dokter tetapi tidak tahu etika ya. Sudah dibantu malah marah-marah!”
“Kamu sendiri apa pantas membantu pria, hmm? Kamu itu perempuan, harusnya dilindungin pria!”
“Hei bung, mengapa memangnya kalau perempuan membantu pria melawan penjahat? Dari jaman ke jaman tidak persoalan perempuan membantu pria melawan penjahat!”
“Hais, sudah lah!” Kelvin merasa tidak perlu melanjutkan bertengkar sama Lotta, “Pokoknya aku kasih tahu, jika kelak ada kejadian seperti tadi, kamu tidak usah ikut campur!” imbuhnya memandang sang gadis dengan tegas, lantas segera masuk ke dalam mobilnya di mana dua buah jendelanya hancur dipukul begal. Tidak lama dia memacu kendaraan itu meninggalkan si gadis begitu saja.
Lotta melongo melihat semua ini, tidak menyangka ada pria seperti Kelvin yang arogan dan tidak tahu berterima kasih. Dia menghela napas setelah Kelvin berlalu menjauh darinya, segera saja kembali ke motornya, tetapi alangkah terkejutnya dia sebab kontainer terbuka di mana tergantung kunci motor di lubang pengunci kontainer. Segera saja dia mengecek dalam kontainer, sejurus kemudian terdengar suara memekik,
“Astaga! Tuhanku!” Lotta tampak panik, “Hais paket untuk Nyonya Emma Esvanza hilang ini! Aduh gimana ini? Mengapa aku slebor?” dia memukul-mukul pelan kepalanya dengan raut wajah panik, “Harusnya kunci motor aku bawa tadi! Tuhanku, gimana ini? Apa yang harus aku katakan ke Nyonya Mirna?”
Dia lantas menyisiri ke sekitarnya, mencari tahu adakah orang di sana yang mungkin melihat kejadian hilangnya satu paket super mahal tersebut? Ternyata tidak ada orang sama sekali. Dia merasa dunianya runtuh seketika. Bagaimana dia mengatakan hilangnya paket itu ke Mirna atasannya? Jika diminta mengganti, dari mana uang untuk menggantinya? Gajinya sebagai pengantar paket hanya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
***
Lotta tampak kecut berdiri di hadapan Mirna dan Dellon adik perempuan itu. Dia sudah melaporkan kehilangan paket yang dipesan Emma ke Mirna. Alhasil sang atasan marah besar.
“Lotta!” terdengar suara Mirna, “Kamu tahu isi paket itu apa? Satu set perhiasan yang harganya sangat-sangat mahal. Gimana sih kamu bisa sampai kehilangan barang tersebut hanya demi menolong dokter yang dicegal begal?”
Dellon tampak tersenyum geli, menyela omelan Mirna.
“Sudah kak, kalau hilang mau gimana?”
“Hais, enak saja kamu bicara begitu?!” Mirna mendelik si adik dengan kesal, “Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ke Nyonya Emma? Harus kah aku mengganti perhiasan yang dipesannya itu? Lantas nanti aku bangkrut gitu?” Mirna sewot memandang adiknya ini yang punya pusat pelatihan kickboxing wanita.
“Kak, Lotta bagaimana menggantinya?”
“Kalau dia tidak bisa menggantinya, dia masuk ke penjara.”
“Penjara, Nyonya?” tanya Lotta spontan saja. “Maaf nyonya, saya tidak mengambil perhiasan itu, mengapa masuk penjara?”
“Kamu memang tidak mengambilnya, tetapi membuatnya dicuri orang. Dan karena kamu tidak mampu mengganti perhiasan itu, maka saya jebloskan ke penjara dengan tuntutan lalai menjaga perhiasan itu.”
Lotta menjadi kecut mendengar ini. Kalau dia masuk ke buih lantas bagaimana dengan Sueb, Dadan dan para murid di perguruan kungfu?
Dellon tersenyum geli melihat wajah Lotta menjadi kecut, lantas dia bicara,
“Lotta!”
“Saya, Tuan Dellon.”
“Kamu mau mengganti perhiasan itu?”