Bab 3 Terpaksa Setuju

1782 Words
“Tentu mau, Tuan.” Si nona memandang Dellon dengan wajah penuh harapan. “Dellon, maksud kamu apa ini?” sela Mirna terheran mendengar pertanyaan adiknya tadi ke Lotta, “Jangan bilang kamu minta aku potong gaji anak ini. Hais, akan memakan waktu lama mengumpulkan potongan gajinya. Harga perhiasan itu senilai 3 tahun Lotta potong gaji.” “Aku tahu itu.” Dellon tersenyum, “Tapi aku ada cara lain membantunya.” “Hais, kenapa kamu bantu anak slebor ini?” “Kak, selama ini dia bekerja sangat bagus, jujur, dan setia. Jadi aku bantu dia mengatasi masalah mengganti perhiasan itu.” “Dengan cara apa? Kamu nikahin dia, lantas kamu bayarkan hutangnya ke aku? Hais, mana sudi aku punya adik ipar dari kalangan bawah seperti anak itu.” Dellon tersenyum geli mendengar semua ini, lantas menegur kembali Lotta, “Lotta, bagaimana kalau kamu menjadi petinju wanita?” Tuing, Lotta terkesiap mendengar ini, ditatap pria itu dengan terheran. “Maksud Tuan, saya jadi petinju wanita biar bisa mengganti perhiasan yang hilang itu?” “Tepat sekali.” Dellon tersenyum, “Saat kamu menjadi petinju wanita, maka kamu punya uang untuk mencicil mengganti perhiasan itu, juga jadi terkenal di seluruh dunia. Bahkan kelak kamu jadi billionaire berkat bertinju.” Mirna melongo mendengar semua perkataan Dellon, lantas dikeplak lengan si adik, “Kamu mau Lotta jadi petinju wanita? Lantas siapa yang kakak andalkan untuk mengantar paket yang dipesan customer? Kakak mengandalkan anak ini karena dia jago kungfu.” “Aku akan carikan pengganti Lotta, Kak.” Dello menyahut dengan tenang,“Lotta!” lantas memanggil Lotta, “Bagaimana? Kamu mau kan? Ingat ini kesempatan emas untukmu. Kalau kamu menolak, aku jamin Kak Mirna menjebloskanmu ke penjara, atau kamu bekerja sama dia tanpa di gaji demi mengganti perhiasan itu.” Lotta menelan salivanya, lantas menghela napas, merasa tidak punya pilihan. Hal lain dia tidak bisa minta Sueb membantunya mengganti perhiasan itu dikarenakan keuangan si kakek untuk perguruan kungfu. “Baik Tuan.” Lotta pun bicara, “Saya terima tawaran anda.” *** Peter mengelus d**a melihat Kelvin yang rewel saat ditangani suster Elsa di IGD. Dokter tersebut sudah sampai di Dallas Hospital milik William di Jakarta ini, langsung ke IGD untuk mengobati luka-lukanya. Pria itu juga menghubungi Peter asistennya untuk ke Dallas Hospital agar membawa mobilnya ke bengkel milik sang dokter tersebut. Si asisten juga merasa prihatin atas nasib sang atasan yang ditimpa apes beruntun di mana melihat calon istri menikah dengan pria lain, lantas dapat celaka dari begal. “Elsa!” terdengar hardikan Kelvin untuk kesekian kalinya, “Kamu bisa kerja ngga sih? Masa ngobatin luka kecil ini saja ngga becus?” ujarnya melirik luka di lengannya yang sedang dijahit si suster tetapi tidak kelar-kelar dari tadi. Bagaimana mau selesai, setiap kali si suster menusukan jarum, sang dokter menghardiknya. Untung suster Elsa super tabah menghadapi dokter arogan yang rewel ini. Lantas datang dokter Samuel rekan Kelvin yang adalah kepala IGD, dia tampak tersenyum geli melihat si arogan kerap kali menghardik suster Elsa. “Hais, dokter Kelvin,” kekeh dokter Samuel dengan senyum geli di wajah, “Makanya lain kali kalau masih emosi jangan pergi tanpa Peter dan ajudan-ajudan loe.” menyindir pria ganteng itu yang diketahuinya sedang patah hati super berat.”Lihat sekarang, loe dilukai begal kan?” kini menunjuk luka di lengan dan memar di wajah sahabatnya ini. Kelvin meruncingkan bibir ke depan, terkena sindirian sang sahabat ini. Dia memang patah hati ingin menghilangkan itu, tapi malah dicelakai begal. “Tuh Tuan Muda,” sela Peter cepat sebelum Kelvin membalas sindirian dokter Samuel, “Anda dengerin yang dikatakan tuan dokter. Dari jaman ke jaman berabe kalau bepergian saat emosi karena patah hati.” Tuing, Kelvin menjadi gemas mendengar celotehan Peter ini, segera saja dijitak kening si asisten, dihardiknya dengan kesal. “Ini lagi ikut-ikutan!” dibelalakan mata dengan garang, “Sudah, ke bengkel sana, lantas bawakan saya mobil yang lain sampai mobil selesai diperbaiki.” “Hehehe.” Peter cengegesan, “Tuan Muda, itu sudah saya kerjakan setelah anda menelpon saya. Saya kemari kan pakai mobil anda yang lain.” “Sudah Vin jangan sewot mulu,” sergah dokter Samuel cepat meredam kesewotan Kelvin, “Elsa!” ditegur suster Elsa, “Biar saya yang mengobati luka-luka Kelvin. Kamu kerjakan yang lain.” mengambil alih tugas si suster, daripada terus kena hardikan sahabatnya itu. “Baik dokter.” Suster Elsa patuh sekaligus lega, segera dia meninggalkan Kelvin. Dokter Samuel duduk di kursi yang tadi diduduki si suster. Diraih lengan Kelvin, diamatinya dengan teliti, lantas membongkar jahitan di sana. “Hais!” terdengar erangan Kelvin karena dokter Samuel melepas semua jahitan di lukanya, “Pelan kenapa, Sam!” dikeplak gemas tangan sahabatnya, “Lagian kenapa sih kalian tidak membius dulu di sekitar luka? Sakit kan kalau tidak dibius dulu!” “Iya, gue bius,” kekeh dokter Samuel, “Elsa tidak mengamati teliti luka loe ini. Ini luka loe dalam. Gue duga kena tebas celurit.” Kelvin terperanjat mendengar ini, dipandang sahabatnya ini. “Celurit loe bilang?” “Iya, kenapa? Loe ngga sadar kena tebas celurit? Hais, katanya pendekar kungfu, kok tidak sadar ditebas lawan pakai senjata apa?” “Sam, saat itu gue dikeroyok begal yang semuanya bawa senjata tajam, jadi tidak gue hapalin senjata apa yang mereka bawa.” “Lantas mengapa loe bisa selamat lahir batin dari para begal bersenjata tajam itu?” Kelvin terkesiap mendengar pertanyaan ini, memorynya kembali mengingat sosok Lotta yang menolong menghadapi para begal. Dia merasa kemampuan bela diri yang dimiliki gadis itu di atas kemampuannya dan para begal. “Hallo!” dokter Samuel menegur Kelvin sambil melambaikan tangan di depan kedua mata sahabatnya ini. “Vin?” “Sudah jangan loe tanyakan kenapanya.” desau Kelvin sambil menghela napas pendek karena akan kembali kesal mengingat harga dirinya sebagai pria dijatuhkan Lotta saat itu. “Vin ada apa sebenarnya? Siapa yang membantu loe menghadapi para begal itu?” “Penting kah itu gue jawab?” “Penting karena loe bisa selamat lahir batin dari para begal itu. Kemudian Peter harus menemukan orang itu untuk menjadi saksi loe di kepolisian, agar para begal itu diringkus, kemudian juga kerusakan mobil loe bisa ditangani insurance.” Kelvin terdiam, kembali teringat Lotta. Dia tahu nama gadis itu, tetapi haruskah Peter menemukan si gadis untuk semua hal yang dikatakan dokter Samuel? Apa nanti harga dirinya sebagai pria tidak lebih jatuh? Lantas apa Lotta mau bersaksi setelah dia mengasari gadis itu? “Kelvin!” “Gue tidak kenal orang itu, jadi gimana bisa mengatakan ke Peter?” Kelvin membohongi sahabatnya. “Benar kah begitu? Apa loe tidak bertanya siapa namanya?” “Untuk apa?” “Untuk apa kata loe?” dokter Samuel terperanjat kaget, “Hais, pasti tadi loe tidak mengucapkan terima kasih ke penolong loe!” Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas sedikit mengernyitkan wajahnya, baru teringat dia memang tidak mengucapkan terima kasih ke Lotta, malah mengasari gadis itu. “Loe kebangetan Vin.” Desau dokter Samuel sudah mendapat kepastian dari dugaannya tadi, “Dia itu menolong loe, kenapa tidak mengucapkan terima kasih? Dia bertaruh nyawa untuk elo, Kelvin!” diomelin sang sahabat panjang banget. Kelvin mendengar semua ini menjadi kecut, merasa bersalah ke Lotta. “Ah sudahlah-!” desahnya dengan wajah penuh penyesalan, “Lagipula dia hanya cewek pengantar paket.” Tanpa sadar mengatakan siapa yang menolongnya. Tidak lama mengernyitkan wajah tersadar keceplosan. “Ah sudah lah, loe lanjutkan mengobatin luka gue ini.” Dia segera mengembalikan topik mereka ke masalah mengobati lukanya. “Buruan Sam, daripada lukanya infeksi!” dihardik sahabatnya yang melongo mendengar jawaban tersebut. “Yang menolong loe, gadis pengantar paket?” tanya dokter Samuel merasa takjub karena Kelvin ditolong gadis messager. “Wow, pasti bukan gadis pengantar paket biasa! Dia berani menolong loe dari begal bersenjata tajam.” Kelvin mengerucutkan bibir, harga dirinya kembali jatuh karena Lotta. “Tuan muda,” Peter menegur Kelvin, “Seperti apa gadis pengantar paket itu?” “Untuk apa kamu tanyakan itu?” si dokter memandang kesal asistennya. “Saya penasaran siapa dia yang menolong anda. Apakah seperti Angelina Jolie? Atau Michelle Yeoh waktu muda? Atau seperti mendiang Barbara Yuen si tokoh Oey Yong pacarnya Kwee Cheng?” sang asisten bertanya banyak banget, “Lantas, itu berkah untuk anda, karena anda yang gagal nikah dipertemukan dewi penolong. Siapa tahu itu jodoh sebenarnya untuk anda.” Kelvin mendengar semua ini menjadi gemas, kembali dijitak kening asistennya ini yang konyol tapi setegas dokter Samuel. “Sudah jangan penasaran lagi,” hardiknya kesal, “Yang jelas dia pengantar paket, cantik, dan seksi pula.” Peter dan dokter Samuel melongo mendengar penjelasan Kelvin, bukan kah si dokter baru patah hati mengapa bisa memuji perempuan yang menolongnya? Musti kan sinis dengan mengatakan, “Yang jelas dia pengantar paket, titik, habis perkara. Gue tidak tahu model dia kek apa.” “Ada apa?” Kelvin tersadar dokter Samuel dan Peter melongo memandangnya. Dokter Samuel malah mengecek kening, kepala, dan leher sahabatnya itu dengans serius banget. “Loe ngapain Sam?” Kelvin menjadi terheran dengan sikap dokter Samuel. “Gue ngecek loe, apa ada terbentur sesuatu, atau kena pukulan keras begal.” Sahut sahabatnya itu, “Lantas loe yang masih patah hati bisa menjabarkan jelas sosok dewi penolong itu.” “Maksud loe apa?” Kelvin tidak paham perkataan sang sahabat ini. “Loe tadi mengatakan gadis pengantar paket itu cantik dan seksi kan?” dokter Samuel memandang Kelvin dengan wajah serius, “Mengapa loe bisa mengatakan itu, apa terbentur sesuatu, atau kena pukulan keras begal? Loe yang baru patah hati mustinya tidak mengatakan semua itu, karena dimata loe perempuan itu jelek.” Kelvin tersentak kaget mendengar perkataan dokter Samuel, langsung pula kembali teringat Lotta. Saat gadis itu fighting, kedua matanya seperti tersirap kecantikan dan aura seksi sang gadis, sehingga sosok itu melekat dalam ingatannya. Apalagi baru kali ini Lotta yang berani bertengkar sama dia. Riana dulu tidak pernah bertengkar sama dia, karena mantan kekasihnya sering mengalah. “Tuan dokter.” Peter berbisik dekat telinga dokter Samuel, “Rasanya Tuan Muda terkena sirep dewa Cupid.” ujarnya memberi jawaban ke dokter itu yang merasa Kelvin terbentur sesuatu sehingga bisa mengatakan penolong itu cantik dan beraura seksi. “Memang mempan Kelvin disirep tuh dewa?” dokter Samuel memandang Peter dengan terheran, “Perasaan ngga Peter karena dia baru patah hati.” “Mungkin kali ini sirep si dewa tepat mengena hati Tuan Muda, membuat patah hati itu hilang seketika.” Kelvin mendengar bisik-bisik ini menjadi gemas, diambil bantal di sebelahnya duduk, dilempar ke hadapan dokter Samuel dan Peter. Kedua pria itu terjingkat kaget, lantas cengegesan menemukan si dokter memandang mereka dengan gemas. Setelah itu, dia menghela napas, ‘Lotta, Kamu di mana sekarang?’ tanya hatinya pilu penuh penyesalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD