Bab 4 Sueb Berhutang

1440 Words
Sueb dari balik dinding aula perguruan mengintip ke aula di mana datang beberapa pria bertubuh kekar seperti Ade Rai dengan wajah sangar. Dia merasa para pria itu utusan Koh Ahong rentenir sekaligus bandar judi. Dia sering main judi dan mabuk-mabukan di salah satu club malam milik Koh Ahong. Lantas dua minggu silam, dia kalah judi, meminjam sejumlah uang ke Koh Ahong agar tetap bermain judi. Namun dia tetap kalah judi, lantas menjadi berhutang ke Koh Ahong. Dia bagaimana membayarnya karena uang bulanan dari William untuk Lotta sudah ludes untuk berjudi? Masa membayar dengan memberikan sertifikat bangunan perguruan dan rumah? Lantas nanti dia, Lotta, dan Dadan mau tinggal di mana? “Hei kamu!” tegur salah satu pria itu sambil menunjuk ke Dadan, “Mana Sueb?” tanyanya dengan nada suara kasar. “Tuan, guru tadi pergi,” sahut Markus salah satu guru kungfu di perguruan milik Sueb, “Maaf, kalian ini siapa? Ada keperluan apa dengan guru?” “Kami orangnya Koh Ahong!” sahut si pria sambil berkacak pinggang, “Sueb berhutang sama Koh Ahong, sampai sekarang belum membayarnya, mau mencicil, atau langsung dilunasi!” Tuing, Markus, Dadan, dan beberapa murid perguruan terkesiap mendengar ini, lantas bersamaan menghela napas. Merasa Sueb bikin masalah lagi. Pantasan tadi Sueb yang tengah mengajar terbirit bersembunyi saat si kakek melihat orang-orangnya Koh Ahong menuju ke Aula perguruan ini. “Hoi mana Sueb?” tanya si pria lagi ke Markus, “Lekas suruh dia menemui kami untuk membayar hutangnya! Kalau tidak jangan salahkan kami akan mengambil barang-barang berharga yang ada di perguruan dan rumahnya Sueb!” “Tunggu!” terdengar suara lantang Lotta dari arah pintu aula, lantas tampak sosok gadis ini bergegas mendekati pria itu, “Kamu bilang apa tadi, hmm?” tanyanya dengan berani ke si pria yang mengamatinya dengan terpesona. “Anda ini,” si pria belum memberi jawaban, “Apakah cucunya Sueb?” tanyanya karena Koh Ahong pernah menceritakan bahwa Sueb punya satu cucu perempuan yang sangat cantik dan seksi. Namun sayangnya si cucu galak minta ampun, sehingga pria pada takut jatuh cinta ke sang cucu. “Iya saya cucunya Sueb Jamaludin. Kenapa, hmm?” “Hais, anda jangan galak-galak, nona. Anda ini sangat cantik, baiknya menjadi istri muda Koh Ahong.” Tuing, Lotta terkesiap mendengar ini, lantas dengan berani menjitak kening pria itu. “Kamu kalau ngomong pake penyaring ya. Mengapa Saya harus jadi istri muda Koh Ahong, hmm?” “Loh kalau kakek anda tidak juga membayar hutangnya, maka anda yang membayarnya dengan menjadi istri muda Koh Ahong.” “Kalau saya menolak?” “Maka kami mengambil semua barang berharga milik kakek anda.” “Kalau saya melarangnya?” “Beliau dijebloskan ke penjara.” Lotta menghela napas mendengar ini, lantas kembali berbicara ke pria itu. “Berapa hutang kakek ke Koh Ahong?” “50 juta Rupiah!” Tuing, Lotta dan semua yang ada di sini terkaget mendengarnya, lantas berbarengan memandang si pria dengan sorot mata tidak percaya. “Anda bohong kan?” tanya Lotta dengan nada suara tidak percaya perkataan si pria. Pria itu lantas mengambil satu berkas dari map yang dipegang rekannya, lantas diberikan ke Lotta. “Anda lihat saja sendiri di berkas ini.” Lotta menghela napas, Koh Ahong memang setiap meminjamkan uang pasti meminta si peminjam mengikat perjanjian dalam satu surat perjanjian. Dia segera membaca semua yang tertulis dalam berkas di tangannya. Selama ini Sueb tidak pernah meminjam uang sampai 50 juta. Paling banyak 10 juta. Itu pun sudah kena dijeritin Lotta dan Dadan. Sueb yang masih bersembunyi mendengar semua pembicaraan ini mengernyitkan kening, merasa sudah sangat salah langkah. Demi melanjutkan berjudi, dia tanpa sadar meminjam uang sampai 50 juta ke Koh Ahong. Lantas juga karena Koh Ahong rentenir, pastinya pinjaman diberi bunga tinggi perhari. Maka sangat bisa 50 juta menjadi 60 juta, atau lebih. Lotta selesai membaca, menghela napasnya, ‘Tuhanku,’ desau hatinya, ‘Bagaimana aku mengatasinya? Aku harus mengganti paket yang hilang, ditambah membayar hutang kakek ke Koh Ahong. Apakah dari hasil aku nantinya jadi petinju?’ *** Di sebuah gedung bertingkat yang adalah kantor Dallas Company, di sana ada kantor Emalan Boutique milik Emma. Sebelum Arman meninggal sempat membangun boutique itu untuk sang istri, karena si istri pandai mendesain busana, lantas sudah mengantongin beberapa penghargaan dari kompetisi fashion di Singapura, Malaysia, dan Sydney. Hal lain Arman ingin Emma mandiri, sehingga kelak dia meninggal lebih dulu, sang istri mampu berdiri sendiri menopang hidup si istri dan Kelvin putra mereka. Namun saat pria itu tewas dalam tragedi, William mengambil semua harta dan perusahaan suami Emma itu. Emma protes karena apa kesalahan Arman sehingga William mengambil tindakan itu? William mengatakan semua tindakannya untuk mengganjar Arman yang berani membuat tragedi itu dengan dasar ingin kelak mengambil alih perusahaan milik pria itu dengan cara kotor. Adik iparnya tidak bisa menerima semua itu karena Agung yang melakukan tragedi itu, di mana Agung tidak sepakat merger Loani Company dengan Arman’s Company, malah memaksa Arman menyerahkan Arman’s Company agar Loani Company menjadi sehebat Dallas Company. William mendengar ini sangat geram beraninya sang adik ipar mengatakan kebohongan, lantas mengusir perempuan itu dari rumah mendiang Arman, tetapi Kalida merengek karena Kelvin tetap membutuhkan ibunya. Meski mereka mampu menjadi orang tua bagi putra semata wayang Arman itu. Akhirnya William memberikan kembali Emalan Boutique ke Emma, memperbolehkan adik ipar tinggal di rumahnya di Jakarta, lantas mengenai biaya hidup mereka berdua ditanggung pria itu mengingat Arman tetap adiknya. Kembali ke Emalan Boutique, di dalam ruang kerja yang elegan tampak Emma duduk di kursi meja kerjanya. Satu tangan perempuan itu mengurut-urut keningnya. Sementara di depannya berdiri Castelo asisten pribadinya dari William. “Nyonya.” Terdengar suara Castelo, “Anda baik saja?” “Apa yang baik, Castelo?” sahut Emma memandang asistennya itu, “Sampai hari ini aku tidak bisa mengambil kembali semua harta dan perusahaan Arman dari Kak William.” Desaunya, “Beruntung Kelvin berhasil aku gagalkan menikah, coba jika berhasil anak itu tidak akan mau menjadi pionku untuk mengambil kembali semua harta dan perusahaan Arman dari Kak William.” “Nyonya, maaf, sedari dulu tuan muda tidak ingin jadi pion anda, beliau memihak tuan Will yang memomongnya sedari bayi.” Emma terkesiap mendengar perkataan Castelo, lantas menghela napas, “Kesalahan Arman mengapa membiarkan Kak Will dan Kak Kalida memomong Kelvin, sehingga anakku itu sulit aku kendalikan sampai sekarang. Bahkan seringkali dia melawanku ketika aku memintanya merger Esvanza Company miliknya ke Dallas Company agar mudah dia mengambilnya dari Kak Will. Dalam Dallas Company ada Arman’s Company juga Loani Company.” Castelo tidak bisa berkomentar apa pun karena tahu mengapa Arman membiarkan William dan Kalida memomong Kelvin, sebab Emma sedang sekolah desain fashion di Paris, lantas magang di beberapa boutique terkemuka di Jakarta dan Singapura. Arman mau sang istri menjadi desainer hebat dunia. Karena dimomong sangat lama oleh William dan Kalida, sudah tentu Kelvin tidak mau menuruti keinginan Emma untuk mengambil kembali harta dan perusahaan milik Arman, sekaligus mengambil Dallas Company dari tangan William. “Sudahlah.” Desau Emma terdengar, “Castelo, apa sampai sekarang tidak diketahui juga jejak Lotta putrinya Agung?” Castelo menghela napas merasa atasannya ini masih juga ingin membalas kematian Arman ke Lotta. Padahal putri Agung tersebut tidak tahu sama sekali mengenai pertikaian antara Agung dengan Arman sehingga terjadi tragedi 23 tahun silam itu. “Castelo?” “Nyonya, maaf, anda baiknya melupakan nona kecil itu.” “Bagaimana bisa? Ayah anak itu sudah membuat Arman tewas. Lantas ibu anak itu sudah menggoda Arman dibelakangku, tapi saat tragedi itu terjadi, dia berlagak Arman yang memperkosanya. Jadi aku harus menemukan nona kecil itu untuk membalas semua sakit hatiku ke Agung dan Arini.” Castelo tidak berkomentar apa pun hanya menyimak perkataan Emma yang tidak logis sama sekali. Lantas pada kenyataannya Arman yang menewaskan Agung dan Arini, lantas pria itu juga memperkosa Arini. Semua kenyataan itu ada di tangan William, jadi percuma Emma menemukan Lotta karena tidak bisa melampiaskan dendam ke anak itu. “Aish!” terdengar desau kesal Emma, “Kemana anak itu disembunyikan ajudannya? Kenapa selama 23 tahun aku mencarinya tidak ketemu juga? Sedangkan Kak Will masih mengelola Loani Company yang artinya kelak dikembalikan ke anak itu.” Emma meremat erat salah satu jemari tangannya, tampak raut wajahnya penuh ketidakpuasan dan dendam. Dendamnya bukan hanya ke Agung, tetapi ke William. Namun hingga kini dendamnya tidak bisa dibalaskan, karena Kelvin tidak mau membantunya sama sekali. “Ah ya nyonya, apa anda sudah menghubungin tuan muda?” Castelo mengalihkan pembicaraan karena masih berusaha menghalangi niar Emma untuk membalas kematian Arman ke Lotta dan William. “Maksudmu?” “Astaga nyonya, tuan muda hari ini patah hati lantas pergi begitu saja, kemudian Peter yang anda utus mengejarnya belum juga melaporkan ke anda.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD