“Sueb Jamaludin-!”
Buk, satu pukulan telak mendarat di wajah Sueb yang sedang mengawasi latihan murid-murid di perguruan. Si kakek terpelanting ke belakang dan terjerabab di lantai.
“Akh-!”
Terdengar pekikan semua orang di sana, termasuk Lotta. Lantas tampak William yang memukul Sueb barusan.
“Anda ini orang tua macam apa, hmm?” William menarik kaos di badan Sueb sambil mengangkat si kakek berdiri, “Dulu putri anda dijual ke rumah bordir!” ditatap dengan garang, “Sekarang cucu perempuan anda dibiarkan kerja keras untuk menopang kalian?” disemburkan semua kemarahannya sambil memandang Sueb dengan emosi ful power.
“Om William!” Lotta segera mendekati William, “Maksud Om apa? Lotta ikhlas kerja untuk menghidupi kami, karena tidak mungkin meminta anda menopang kami. Anda sudah membiayai sekolah saya hingga ke universitas.”
“Lotta,” William memandang Lotta sambil menghempas tubuh Sueb ke belakang, “Selama 23 tahun, saya setiap bulan mengirimi uang bukan semata untuk biaya kamu sekolah, tetapi untuk biaya hidup kalian. Uang itu dari penghasilan Loani Company perusahaan mendiang ayahmu yang saya kelola.”
Lotta kembali terkaget mendengar semua perkataan William, lantas memandang Sueb,
“Kakek! Benarkah semua ini?”
Sueb tersentak kaget mendengar pertanyaan Lotta, lantas menelan salivanya. Dia selama 23 tahun boleh dikatakan hidup enak dari uang kiriman William, tetapi sang cucu hanya dapat bersekolah hingga menjadi sarjana. Lantas sekarang William mengetahui semua kebohongannya, membuka pula transparan ke si cucu. Dia harus menjelaskan bagaimana?
“Kakek,” Lotta menegur Sueb, “Benar kah semua yang Tuan William katakan?”
“Tuan,” terdengar suara Dadan, “Baiknya anda bicara jujur, biar gimana selama 23 tahun, anda dinafkahi Nona Lotta, terutama dari uang kiriman Tuan William yang adalah penghasilan Loani Company milik Tuan Agung mendiang ayahnya nona.”
“Paman Dadan tahu mengenai itu?” tanya Lotta terkaget mendengar perkataan Dadan.
“Saya tahu, Nona.”
“Lantas mengapa tidak mengatakan ke Lotta?”
“Maaf nona, karena Tuan Sueb mengancam kalau saya beritahu anda, beliau akan menjual anda ke rumah bordil. Karena pasti anda akan menanyakan mengenai semua itu ke Tuan William yang mana akan membuat beliau kena hukuman dari Tuan William.”
“Apa katamu, Dan?” terdengar suara William dengan nada terkesiap kaget, “Sueb mengancammu akan menjual Lotta ke rumah bordil jika kamu mengatakan ke Lotta bahwa saya setiap bulan mengiriminnya uang melalui Sueb?”
“Iya Tuan.” Sahut Dadan, “Namun, akhirnya saya melaporkan ke Ruben mengenai itu, karena saya tidak tega melihat nona hidup ala kadar, lantas dari smu bekerja keras untuk membantu menopang kehidupan kami. Kemudian nona seringkali terpaksa melunasi hutang Tuan Sueb yang sering kalah judi, atau merusak tempat judi sekiranya kalah judi.”
“Astaga!” William ternganga mendengar semua ini, “Sueb!” dia menjeritin Sueb, “Kamu sengsarakan Lotta anak Arini yang artinya cucu kandungmu!” disemburkan semua kemarahannya ke Sueb.
Sueb mendengar semua pembicaraan tadi merasa dunianya runtuh seketika.
“Kakek.” Lotta menegur Sueb, “Kenapa kakek melakukan semua ini? Tidak cukup puaskah kakek membuat ibu menderita?”
“Lotta!” terdengar hardikan Sueb, “Jaga bicaramu. Biar gimana kakek yang membesarkanmu.” Merasa kesal dipersalahkan Lotta, “Memang Tuan William mengirimi uang untukmu selama 23 tahun kemarin. Bukan hanya untukmu, tetapi untuk biaya hidup kakek dan Dadan. Kakek tidak memberitahumu karena mendidikmu untuk hidup ala kadar agar kuat mental nantinya saat mewarisi Loani Company.”
“Untuk mendidik Lotta agar kuat mental?” tanya William sinis setelah mendengar perkataan Sueb, “Baik kalau begitu, aku pun akan mendidikmu agar bertanggungjawab atas semua kejahatanmu ke Lotta.”
“Kejahatan apa yang saya bikin, Tuan?” tanya Sueb memandang William dengan muka masam, “Apa memakai uang Lotta itu kejahatan? Itu hal wajar. Saya kakeknya hanya guru kungfu yang kere, dia pewaris Loani Company perusahaan yang omzetnya milliaran Dollar. Lagipula kalau bukan saya yang membesarkan Lotta, apa Dadan mampu membesarkan Lotta?”
William mendidih mendengar perkataan kurangajar Sueb, melayangkan dua kali pukulan keras ke wajah kakek tua ini. Lotta cepat menghalangi William yang hendak memukul Sueb lagi.
“Sudah, Om, sudah!” merengeki William, “Percuma Om marah, karena semua uang itu sudah ludes sama kakek selama 23 tahun.”
“Dia harus menggembalikannya ke kamu, anakku.”
“Dengan apa menggembalikannya?”
“Mendekam di penjara selama 23 tahun!”
***
Di ruang praktek terlihat Kelvin sedang berhadapan dengan pasiennya. Meski dia masih berstatus pasien luka, patah hati, tetap menjalankan kewajibannya sebagai dokter..
Namun, dokter ini terlihat kurang konsentrasi, sehingga seringkali ditegur suster Dena asistennya di Dallas Hospital.
Pikiran sang dokter sering teringat Lotta sang dewi penolongnya. Dia merasa menyesal sudah bersikap kasar ke gadis penolongnya itu. Bahkan dia sama sekali tidak mengucapkan terima kasih, atau mengecek keadaan si gadis apakah terluka atau tidak.
“dokter.” kembali suster Dena menegur Kelvin, “dokter!” dia sedikit mengeraskan suara karena sang dokter hanya diam memandangi buku resep di meja. “dokter Kelvin Esvanza!” serunya kali ini sambil sedikit menepuk lengan si dokter.
Kelvin terkesiap, lantas memutar pandangan ke suster Dena, ditatap asistennya ini dengan heran.
“dokter,” suster Dena sedikit menghela napas, merasa ada yang aneh sama Kelvin saat ini. Biasanya si dokter konsentrasi dan perhatian ke pasien. “Maaf, anda belum menuliskan obat untuk ibu Kalingga.” ujarnya ke sang dokter sambil menunjuk buku resep yang masih kosong melompong di meja.
“Menulis resep obat?” tanya Kelvin polos banget, masih belum sadar bahwa tidak menulis resep obat untuk pasiennya yang bernama ibu Kalingga.
“Astaga dokter!” suster Dena mendesau kaget, “Anda biasanya setelah memeriksa pasien pasti menulis obat-obatan di buku resep kan?”
“Iya, lantas?”
“Anda belum menulis itu di buku ini.” Suster Dena mengambil buku resep dari meja, lantas dipamerkan ke Kelvin, “Masih kosong kan, dokter?” tanyanya juga menunjuk halaman buku itu yang tidak ada sedikit pun tulisan sang dokter, hanya ada logo rumah sakit dan stempel identitas si dokter.
Kelvin melihat yang ditunjuk suster Dena, lantas menghela napas,
“Dena,” dipanggilnya suster Dena, “Kamu minta dokter Samuel yang menuliskan obat-obatan untuk ibu Kalingga. Saya sedang blank saat ini.”
Suster Dena melongo mendengar perkataan Kelvin, lantas bicara,
“dokter Samuel kepala IGD, dokter?”
“Iya dia, memang ada berapa dokter bernama Samuel di rumah sakit ini, hmm?”
“Ada yang lain, dok. Dokter Sam yang spesialis syaraf anak, dan juga dokter Sam yang spesialis cancer.”
“Nama mereka bukan Samuel, Dena, tetapi Sambuga dan Samsuri.” tukas Kelvin gemas mendengar jawaban sang suster. Dia sebagai dirut Dallas Hospital hapal semua nama dokter, direksi, dan para pekerja di rumah sakit ini. “Sudah kamu bawa ibu Kalingga ke dokter Samuel di IGD. Bilang saya minta dia yang menuliskan resep sesuai catatan saya di rekam medis ibu Kalingga.”
“Dok, anda juga belum menulis apa pun di buku rekam medis punya ibu Kalingga.” Suster Dena segera mengambil buku status rekam medis dari meja Kelvin, ditunjukan ke sang dokter bahwa di sana belum tertulis hasil pemeriksaan yang dilakukan si dokter.
“Itu udah saya tulis, Dena.” tukas Kelvin melihat ada tulisannya di kolom informasi rekam medis.
“Dokterku,” suster Dena menjadi gemas ke sang dokter, “Anda bukan menulis hasil pemeriksaan pasien di sini.”
“Gimana mungkin? Itu ada tulisan saya di sana!”
“Iya, memang ada tulisan anda, tetapi bukan tulisan mengenai hasil pemeriksaan pasien.”
“Lantas apa yang Saya tulis?”
“Anda menulis, “Lotta, gimana kamu sekarang ya?”.”
Kelvin terkesiap mendengar perkataan suster Dena, cepat mengambil buku status tersebut dari tangan si suster, lantas mengecek betul apa tidak ada tulisannya seperti yang dikatakan sang suster. Tidak lama tampak wajahnya mengernyit malu, ternyata benar ada tulisan itu di kolom informasi medis.
“dokter,” suster Dena sedikit mendekat ke Kelvin, “Maaf, siapa Lotta? Pasien baru anda kah?” dia menjadi penasaran, “Soalnya saya belum pernah membaca nama itu dari sekian banyak pasien anda.”
Kelvin kembali mengernyitkan wajah, merasa bertambah malu dipertanyakan si asisten ini yang tidak bermaksud usil. Sang asisten selalu menghapalkan setiap nama semua pasiennya. Bahkan menghapal setiap catatan hasil pemeriksaan dan pemberian obat yang ditulis dia di dalam buku status rekam medis.
“Dokter.” Suster Dena kembali menegur Kelvin sambil memandang dengan sorot mata menyelidik, “Atau kah gadis baru yang anda taksir ya?” bisiknya ke sang dokter dengan wajah serius, “Selamat dokter, anda tidak patah hati lama.” Dia sudah tahu Kelvin patah hati dari dokter Samuel yang memintanya sabar-sabar mendampingi si dokter saat praktek.
Kelvin menjadi gemas mendengar ini, dikeplak gemas lengan suster Dena yang sudah seperti adiknya sendiri karena si suster sudah menikah.
“Sudah, sana kamu ke dokter Samuel!” dihardik si suster, “Lantas kamu alihkan pasien lainnya ke dokter Sambuga atau dokter Irana.” Imbuhnya segera berdiri, lantas tanpa pamit ke ibu Kalingga yang sedari tadi melongo melihatnya dan suster Dena sahut-sahutan seperti dua ekor burung di pagi hari segera meninggalkan ruang praktek. Wajahnya tampak sedikit bersemu merah, malu hati ketahuan asistennya ternyata tidak konsentrasi akibat kepikiran sama seorang perempuan.
***
Lotta duduk meringkuk di tempat tidurnya, tampak berkali menyeka air matanya. Dia merasa sangat terpukul setelah mengetahui perbuatan Sueb, lantas William langsung mengirim si kakek ke penjara. Bukan hanya itu yang membuatnya menangis. Dia terbebani harus segera melunasi hutang Sueb ke Koh Ahong, kalau tidak perguruan dan rumah ini diambil rentenir itu.
Lantas bagaimana nasib para guru dan murid yang mondok di perguruan ini? Kemudian dia dan Dadan mau tinggal di mana? Sebenarnya dia dan Dadan tidak perlu khawatir, karena pastinya William akan membelikan rumah untuknya jika perguruan dan rumah diambil Koh Ahong.
‘Tuhanku!’ bisik hatinya lirih, ‘Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana? Aku tidak punya uang 50 juta untuk dibayarkan ke Koh Ahong.’
Lantas dia memutar badannya ke arah bufet, membuka pintu lemari dibawah kedua laci bufet tersebut, dikeluarkan kotak perhiasan berlapis sutra bludru berwarna coklat keemasan. Setelah itu dia mengeluarkan dua untai kalung emas dari dalam kotak tersebut, diamatinya.
Kedua kalung itu harta yang berada di badan dia saat Dadan melarikannya sebelum Agung meledakan rumah tersebut. Kalung yang berliontin batu giok asli dari daratan Cina adalah dari Arini ibunya, kalung lainnya berliontin lambang Loani Company dari Agung ayahnya.
‘Apa aku gadaikan salah satu dari kalungku ini?’ tanya hatinya memandangi kedua kalung itu yang tidak berani Sueb ambil untuk berjudi, takut kena kutukan.
Perlahan masuk Dadan ke kamar ini dengan membawa baki berisi makanan untuk Lotta, lantas pria ini menghela napas melihat momongannya bersedih.
“Nona.” Dadan menegur Lotta sambil menaruh baki ke atas meja belajar gadis ini, “Anda baiknya makan dulu. Sedari Tuan William pulang dan Tuan Sueb digelandang Ruben ke penjara, anda belum makan apa pun.”
“Saya tidak selera, paman.” Si nona menyahut sambil menaruh kembali kedua kalung ditangannya ke dalam kotak perhiasan.
Dadan kembali menghela napas, lantas duduk di tepi tempat tidur menghadap Lotta.
“Nona, anda tidak boleh menyesali Tuan Will mengirim kakek Anda ke penjara.”
“Lotta tahu.”
“Lantas apa anda memikirkan mengenai hutang Tuan Sueb ke Koh Ahong?”
Lotta menghela napas, “Iya paman.”
“Lantas anda berniat menggadaikan atau menjual perhiasan pemberian orang tua anda?” Dadan menunjuk perhiasan di dalam kotak yang tergeletak di dekat salah satu kaki si nona, “Untuk membayar hutan Tuan Sueb?”
Lotta terdiam, bagaimana memberi jawaban ke Dadan yang tahu niatnya itu?
Dadan menghela napas merasa sang nona tidak ingin menjawab pertanyaannya itu, “Baik kalau begitu.” Dia segera menutup kotak perhiasan lantas diambilnya, “Paman simpan perhiasan-perhiasan ini agar niat anda tidak terlaksana.” Dengan tegas menyita perhiasan warisan itu.
“Tapi, gimana Lotta menyelesaikan hutang kakek?”