Bab 6 Dililit Penyesalan

1897 Words
Dokter Samuel tersenyum kecut saat Emma tergesa datang bersama Castelo asisten perempuan itu ke IGD. Dia feeling pasti Peter terpaksa mengatakan ke Emma, Kelvin mendapat celaka dari begal. “Sam!” terdengar suara Emma begitu si perempuan dihadapan dokter Samuel. Beberapa dokter dan suster yang berada yang bersama dokter Samuel segera menyingkir. Mereka sudah mengenal Emma adalah ibu Kelvin, sekaligus adik ipar Willian pemilik Dallas Hospital. “Samuel!” terdengar lagi suara Emma yang bernada kesal dan cemas, “Mengapa kamu tidak telpon tante pas Kelvin dapat celaka?” Emma menyalahkan dokter Samuel yang tidak cepat mengabari mengenai Kelvin mendapat celaka dari begal, “Lantas mana dia sekarang? Lukanya sangat parah kah?” Dokter Samuel menahan napasnya, lantas memberi jawaban, ”Tante, Kelvin hanya luka luar yang tidak parah. Sudah Sam tanganin.” “Lantas mana dia? Apa pulang ke rumah? Kok kata kak Lida, dia belum pulang ke rumah.” “Tante, setelah Sam mengobatinya, dia langsung praktek.” “Astaga!” Emma terkejut bukan main mendengar ini, dikeplak gemas lengan dokter Samuel, “Kamu itu ya, tega banget menyuruh dia praktek, padahal sedang terluka?” dipikirnya dokter Samuel menyuruh Kelvin praktek setelah diobatin oleh si dokter. “Lha tante, Kelvin mau sendiri!” dokter Samuel memasang wajah inosen, karena memang keputusan Kelvin. “Hayah, tante.” dipegang kedua sisi lengan sang ibu, “Tante tenang lah, Kelvin hanya luka luar biasa. Daya tahan tubuhnya juga bagus.” “Sam, biar gimana tante cemasin dia. Apalagi tante tahu dia celaka karena begal curanmor. Kalau terjadi sesuatu yang buruk, gimana tante bertanggungjawab ke mendiang papanya dan Kak William pamannya?” “Iya, Sam paham itu. Maafin Sam karena tidak mengabari tante, karena Kelvin sendiri melarangnya. Sebenarnya pun dia melarang Peter memberitahu tante.” “Hayah, anak itu, memang kenapa kalau ibunya tahu?” Emma menjadi kesal, “Lantas, kemana anak itu, Sam?” ‘Kelvin oh Kelvin, loe di mana saat ini?’ dokter Samuel membatin, ‘Gue harus menjawab apa ke emak elo?’ *** William menepuk keningnya sendiri setelah mendengar laporan dari Ruben bahwa Lotta terus menangis setelah pria itu pergi. Lantas Dadan pun melapor bahwa Sueb berhutang ke Koh Ahong. “Tuan,” Ruben menegur atasannya, “Lantas apa yang tuan lakukan untuk menolong nona? Rasanya tidak pantas hutang 50 juta harus dibayar dengan mengambil perguruan dan rumah itu. Harga perguruan dan rumah lebih dari 50 juta.” “Kamu cari tahu dulu mengapa Sueb bisa berhutang sebesar itu dengan menjaminkan sertifikat rumah dan perguruan, lantas cari juga siapa Koh Ahong itu apakah hanya rentiner biasa atau punya bisnis haram lainnya. Setelah tahu kamu sikat dia, agar hutang Sueb jadi terhapuskan." “Baik, Tuan.” Ruben menganggukan kepala. Lantas terdengar ponsel William berdering, diambil alat komunikasi itu sambil melihat ke layar ingin tahu siapa yang melakukan panggilan ke alat ini. “Emma?!” William melihat wajah Emma samar-samar di layar ponselnya, lantas dijawab panggilan video itu, “Iya Emma.” “Kak,” terdengar suara si adik ipar sangat cemas, “Apa kakak lihat Kelvin?” “Kelvin?! Loh bukannya hari ini dia sama kamu dan Peter ke rumah Riana yang katamu menikah sama mantan pacar Riana?” “Sudah ngga sama saya dan Peter, Kak. Dia hanya mendrop kami berdua di rumah kakak, lantas melesat pergi, katanya mau praktek.” “Kalau begitu kamu cari dia di Dallas Hospital.” “Saya sudah ke sana, tapi kata Sam, anak itu pergi entah kemana sebelum jam prakteknya selesai.” “Kamu telpon ponselnya, Emma.” “Sudah berkali, kak. Lantas ternyata dalam perjalanan ke Dallas Hospital, anak itu dicekal begal curanmor, terluka parah.” William terkesiap mendengar ini, “Astaga, Tuhanku!” *** Pintu ruang praktek Kelvin dibuka paksa, lantas masuk Lotta ke dalam ruangan tersebut. Sang dokter yang saat itu sedang bersiap untuk pulang terkejut melihat kedatangan gadis itu. “Lotta?!” “Iya aku Lotta!” terdengar sahutan Lotta, bahkan gadis itu dengan berani kehadapan Kelvin. “Kamu Kelvin kan?” “Iya aku Kelvin.” Lotta lantas menoyor pundak sang dokter sambil berkacak pinggang di satu sisi pinggangnya. “Heh, baru jadi dokter lagunya selangit.” “Maksud kamu apa?” “Oo, lupa ya kalau aku menolongmu dari para begal itu, hmm?” Lotta memandang sinis Kelvin. “Aku juga menolong kamu saat kamu muntah akibat mabuk depan club.” Kelvin terglegep mendengar pertanyaan sang gadis, lantas mendongakan kepala dengan angkuhnya, “Ooo, jadi kamu kemari minta aku membalas budi baikmu, hmm?” “Hei, anda itu dokter, mustinya ditolong bersikap baik ke aku. Ditanya nama ngga marah-marah. Udah gitu tidak mengucapkan terima kasih pula, lantas pergi begitu saja!” Lotta menyemburkan kekesalannya sambil kembali menoyor pundak Kelvin, “Anda tahu, gara-gara anda, saya terlambat mengantarkan barang.” “Salahmu sendiri kenapa ikut campur urusan orang lain.” Lotta mendengar ini menjadi kesal dilayangkan satu pukulan keras ke wajah sang dokter, membuat pria itu terpelanting jatuh ke kursinya. Tidak sampai di sana, si gadis dengan berani kembali melayangkan pukulan ke dokter arogan tersebut. “Nona!” terdengar jeritan kaget Kelvin, “Anda sudah gila apa? Kenapa memukuli saya?” Kelvin kewalahan menangkis setiap pukulan Lotta yang ganas saat ini. “Lotta, ampun! Ampun!” tampak kemudian wajahnya gelisah di mana kepalanya bergeser ke sana kemari di bantal. William yang duduk di tepi tempat tidur melihat ini, pelan ditepuk-tepuknya pipi sang keponakan, “Vin, Kelvin! Kelvin, bangun nak.” Dia mencoba membangunkan Kelvin yang sepertinya bermimpi buruk. Sang dokter semalam ternyata pergi ke club, menghilangkan pikirannya yang bergemerusung karena teringat terus ke Lotta. Emma menjadi cemas, meminta William bantu mencari sang dokter. Maka jadilah William mengutus Ruben, Peter, dan beberapa orang untuk menemukan pria itu di tempat-tempat yang biasa sang pria kunjungin di waktu penat kerja atau sedang ingin bersenang-senang tanpa diketahui Emma. Akhirnya ditemukan juga tetapi di kantor polisi dalam keadaan mabuk berat. Kelvin terlalu banyak minum membuatnya berkelahi dengan beberapa customer club, lantas dibawa ke polisi. Polisi pun menghubungin William, karena menemukan pesan masuk di ponsel sang dokter dari pamannya itu. “Ampun Lotta!” terdengar kemudian suara jeritan lantang Kelvin, di mana sang dokter pun terlonjak bangun dengan wajah cemas bukan main. Peluh membanjiri kening si dokter. ‘Lotta?’ William mendengar semua ini menjadi terheran, ‘Lotta siapa? Apa mungkin Kelvin sudah bertemu Lotta, putrinya Agung? Tapi rasanya tidak mungkin, keberadaan Lotta hanya aku yang tahu sejak tewasnya Agung, Arman, dan Arini.’ “Kelvin!” dia segera mencengkram kedua sisi lengan Kelvin, “Kelvin!” suaranya sedikit dilantangkan. Kelvin terkaget, lantas mulai sadar diri, “Om Will?” dia mengenali William dihadapannya, “Om kenapa ada di sini?” tanyanya terheran karena setahu dia, William masih di New York. “Mengapa?” William terheran mendengar pertanyaan keponakannya ini, “Kelvin, ini rumah om, pasti om bisa berada di sini.” Ujarnya. Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas menghela napas, baru tersadar pertanyaannya keliru. Rumah ini memang milik William. Si dokter dan Emma menumpang tinggal, karena semua diambil William sebagai konsenkwensi ulah Arman menewaskan Agung dan Arini. “Maaf Om, Vin salah bertanya.” Kelvin dengan satria meminta maaf ke William, “Vin tadi bertanya karena kaget om ada dihadapan Vin. Padahal setahu Vin, om ada New York di rumah inti om.” “Sudahlah.” William menghela napas, “Kamu mimpi buruk kah karena dikhianatin Riana?” Kelvin terkesiap mendengar pertanyaan itu, lantas menghela napas, “Vin tidak mau om tanyakan itu.” menolak William bertanya apa dia bermimpi buruk. Dia akan malu jika sang paman mengetahui dia bermimpi dihajar oleh Lotta akibat tidak tahu berterima kasih ke gadis itu. “Oke.” William paham Kelvin masih patah hati, “Ah ya kemarin mamamu jejeritan panik karena kamu belum pulang juga, padahal menurut Sam, kamu sudah meninggalkan Dallas Hospital.” “Hais mama ini,” desau Kelvin tidak suka mendengar Emma masih memperlakukannya seperti bicah berusia 7 tahun,”Vin biasa pulang pagi, mengapa masih juga jejeritan panik sampai nelpon om.” “Vin, mamamu bilang kamu patah hati, lantas dicegal begal curanmor membuatmu mengalami luka di beberapa bagian tubuhmu. Sudah jelas beliau cemas saat kamu belum pulang ke rumah ini.” Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas menghela napas merasa tahu siapa yang memberitahu Emma sang ibu. “Maaf om, Vin tidak mengabari mama.” Desau Kelvin kembali menghela napas, lantas mengamati dirinya yang ada di dalam kamarnya, “Om, perasaan Vin kemarin tidak ada di kamar ini.” William menjadi gemas, dihadiahkan satu jitakan di kening si keponakan. “Om yang bawa kamu pulang dari kantor polisi.” “Dari kantor polisi, om?!” Kelvin terperanjat mendengar ini, “Perasaan Vin ada di club kemarin.” “Kamu minum terlalu banyak sehingga jadi pendekar mabuk, Kelvin Esvanza! Kamu berantem dengan beberapa customer di club, bikin pemilik club mengirimmu ke kantor polisi. Polisi menghubungi om karena mendapati pesan om di ponsel kamu!” William menceritakan semua kejadian kemarin ke Kelvin. Kelvin menghela napas, dia benar-benar tidak mengetahui apa yang diperbuatnya kemarin. Dipikirannya hanya ada rasa menyesal sudah bersikap kasar dan tidak mengucapkan terima kasih ke Lotta si dewi penolongnya. “Vin,” William berbicara lagi, “Menurut Peter, kamu bisa selamat dari para begal karena ditolong gadis pengantar paket?” Kelvin terkesiap mendengar ini, lantas mengernyitkan wajahnya, merasa malu sang paman mengetahui dia ditolong Lotta. Dia pun tampak merutuki dirinya mengapa kelepasan omong di depan dokter Samuel dan Peter mengenai siapa yang menolongnya. “Kelvin.” “Iya om, yang menolong Vin memang gadis pengantar paket.” “Apa kamu sudah mengatakan terima kasih ke dia? Apa kamu membalas kebaikannya dengan mencari tahu keadaannya setelah menolongmu?” Kelvin menjadi kecut diberi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setelah Arman meninggal, William sangat ketat mengajarinya mengenai sopan santun dan etika bergaul yang benar. Jika diberi pertolongan oleh siapa pun wajib mengucapkan terima kasih, lantas sebisa mungkin membalas kebaikan si penolong, entah itu mengecek keadaan yang menolong, atau lainnya. Namun kemarin sifat arogannya muncul sehingga apa yang William ajarkan hilang begitu saja. Dia malah memarahi Lotta, lantas meninggalkan gadis itu begitu saja. William menghela napas, tadi bertanya semua itu karena dia bertanya ke Peter, adakan Kelvin mengatakan siapa yang menolong sang keponakan? Peter terpaksa memberi jawaban, Kelvin enggan mengatakan siapa yang menolongnya, hanya mengatakan si penolong gadis adalah pengantar paket. “Kelvin,” terdengar lagi suara William, “Apa saat itu sifat aroganmu kambuh? Kamu malu ditolong seorang gadis? Apalagi gadis itu hanya pengantar paket, tidak selevel denganmu yang dokter keponakanku sang billionaire?” dikoreksi sang keponakan dengan suara tenang, “Kamu tahu betapa berbahaya para begal itu, tapi si gadis dengan berani dan tanpa pemrih menolongmu. Artinya dia pertaruhkan nyawanya untuk kamu. Lantas mengapa kamu malu dengan kebaikannya?” Kelvin menyimak semua ini dengan perasaan sangat menyesal, karena semua yang dikatakan William adalah kebenaran. Lotta seorang gadis mempertaruhkan nyawanya menolong dia dari para begal. Lantas apa balasan darinya? Hanya kemarahan akibat rasa malu dari sifat arogannya. “Sudahlah.” Desau William menghela napas, “Lantas apa ada kamu mengenal namanya?” Kelvin terkesiap mendengar ini, menghela napas.. “Namanya Lotta, om.” dengan terpaksa memberi jawaban, “Vin hanya tahu namanya saja, karena kemarin Vin meninggalkan dia begitu saja akibat Vin malu ditolong dia.” Imbuhnya. “I see.” William menghela napas, “Adakah kamu ingin mencarinya untuk meminta maaf?” Kelvin terkesiap mendengar pertanyaan ini. ‘Mencarinya?’ bisik hatinya, ‘Harus mencari kemana?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD