***
Semakin akrab dengan Alaska, Skayara tiba-tiba mendapat tugas penting, yaitu; mengusir dua perempuan yang katanya pacar dari pria itu.
Bebas menggunakan cara apa pun, Alaska tidak memberi aturan, asalkan Skayara bisa membuat kedua pacarnya meninggalkan kafe.
Skayara patuh? Di depan Alaska iya. Namun, di belakang pria itu dia mendapat ide lain yang justru bertolak belakang dengan apa yang sang bos inginkan.
Punya misi menyingkirkan para perempuan yang sekarang menjadi pacar Alaska, Skayara akan memanfaatkan kesempatan karena jika sore ini dia berhasil, maka tinggal empat orang perempuan yang harus dia jauhkan dari putra semata wayang Prabu tersebut.
"Berkurang dua kan lumayan, aku punya prestasi," ucap Skayara dengan kangkah pelan, pun senyuman terukir.
Alaska? Pria itu menunggu di mobil dengan perasaan santai, tanpa tahu jika Skayara siap menusuk dari belakang.
"Halo, Mbak, permisi," ucap Skayara, setibanya di dekat sekumpulan perempuan yang Alaska maksud.
"Halo, siapa ya?" tanya salah satu gadis, yang Skayara ketahui bernama Naima.
"Saya Skayara, Mbak," ucap Skayara. "Mbaknya Naima, kan?"
"Kok tahu?"
Skayara tersenyum. "Tahu dong," ucapnya. Beralih pada pacar Alaska yang satunya lagi, dia kembali berkata, "Nah, kalau Mbak ini namanya Riana. Iya enggak?"
"Kamu siapa? Kok tahu?" tanya gadis bernama Riana, dengan raut wajah kaget.
"Oh ya jelas saya tahu," ucap Skayara. "Kalian kan pacarnya Mas Alaska. Benar apa enggak?"
"Lho?" tanya Naima—spontan beralih atensi pada Riana. "Pacar lo namanya Alaska?"
"Iya, Alaska Jarrel Wiraguna."
"Itu pacar gue," ucap Naima, tidak terima. "Kok bisa sih lo pacaran sama Alaska?"
"Gue enggak tahu, Njir," kata Riana. "Lagian Alaska bilang sama gue kalau dia lajang."
"Gue sama Alaska udah dua minggu pacaran," ucap Naima, dengan raut wajah kesal—membuat Skayara dilanda bahagia. "Sembarangan aja lajang."
"Ya lo jangan marah sama gue dong!" ujar Riana, tidak terima disalahkan. "Yang deketin duluan, Alaska kok, bukan gue."
"Tapi kan—"
"Mbak Riana, Mbak Naima, tenang," ucap Skayara, kembali buka suara setelah dengan sengaja membiarkan dua kekasih Alaska tersebut berdebat. "Daripada saling menyalahkan, mendingan Mbak temuin aja Mas Alaskanya. Kebetulan dia ada di mobil. Tuh, mobil yang itu."
Tidak hanya berkata, Skayara menunjuk juga mobil Alaska yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berada.
"Serius ada, Alaskanya?" tanya Naima.
"Ada dong."
"Nai," panggil Riana pada sang sahabat.
"Kita kasih pelajaran sekarang," ucap Naima. "Bisa-bisanya dia mainin kita."
Tidak terus duduk, Naima dan Riana beranjak dari kursi yang mereka tempati. Tidak hanya berdua, kedua perempuan tersebut mengajak pula tiga teman mereka untuk menghampiri Alaska dan yaps! Aksi brutal pun terjadi.
Membawa emosi, lima perempuan tersebut menggedor kaca mobil Alaska seraya meminta pria itu keluar. Skayara? Dengan perasaan yang puas, dia duduk di salah satu kursi untuk menonton.
"Kamu tega banget ya mainin aku!"
"Aku sama Naima sahabat! Kenapa kamu duain kita!"
"Laki-laki b******k kamu!"
"Kurang ajar!"
"Sialan!"
"Rasain nih!"
Dari tempatnya duduk, Skayara tertawa melihat Alaska menjadi sasaran empuk. Tidak hanya dimaki, pria itu juga mendapat tamparan dari Naima dan Riana sebelum kemudian ditinggal dengan penampilan yang sedikit berantakan.
"Daripada dilindungin, kan mending gini," ucap Skayara, di sisa tawa. "Tinggal empat lagi yang harus aku singkirin, syukur-syukur enggak nambah."
Tidak melulu tenang, seusainya perseteruan, Skayara dihampiri Alaska yang tentu saja marah. Datang dengan raut wajah ditekuk, pria itu bertanya emosi.
"Maksud kamu apa lakuin ini semua?" tanya Alaska. "Saya minta kamu bantuin saya ya, bukan malah ngasih tahu mereka tentang apa yang saya lakuin. Bego kamu?"
Tidak ada emosi sekali pun dikatai bego, Skayara dengan tenang beranjak, lalu tanpa merasa takut, dia berkata,
"Yang bego di sini bukannya Mas Alaska ya? Udah tahu, kan, tugas saya sebagai pengawal apa? Kenapa disuruh bantuin masalah kaya gini? Lihat dua pacarnya Mas Alaska di tempat yang sama, tugas saya nyingkirin mereka, Mas, bukan nutupin aib Mas Alaska. Amnesiakah?"
Tidak menimpali, Alaska diam dengan kedua tangan mengepal—membuat Skayara kembali buka suara.
"Kenapa diam?"
"Nyesal tahu enggak saya bersimpati sama kamu," ucap Alaska dengan rahang yang mengeras, karena memang tidak bercanda, dia serius marah. "Sengaja ya kamu jual cerita sedih biar saya lengah? Iya, kan?"
Skayara tersenyum. "Saya enggak jual cerita sedih, Mas," ucapnya. "Saya cerita karena Mas tanya. Kalau enggak ditanya, saya juga enggak akan cerita tuh."
Alaska berdecih lalu setelahnya berbalik tanpa permisi. Berjalan cepat menuju mobil, dia berniat pergi. Namun, Skayara yang sigap menghadang, membuat dia tidak bisa melajukan kendaraannya itu.
"Minggir kamu!" ujar Alaska, sambil menyembulkan kepalanya.
"Lupa? Tugas saya adalah mengawal Mas Alaska sampai Mas ada di rumah. Jadi saya enggak akan pergi sebelum Mas dipastikan ada di rumah."
"Saya tabrak kamu ya kalau enggak pergi!" ancam Alaska, pada Skayara yang memang berdiri persis di depan mobilnya. "Saya enggak main-main."
"Tabrak aja, saya enggak takut!" ujar Skayara.
"Skayara!"
"Tabrak, Mas!" ujar Skayara—membuat emosi Alaska semakin memuncak.
Tidak hanya mengancam, pria itu mulai menarik pedal gas. Menekan klakson, Alaska siap melajukan mobilnya dan voila!
Persis setelah mengambil keputusan melajukan mobil, Alaska berseru kencang setelah sesuatu yang cukup mengejutkan terjadi persis di depan kedua matanya.
"Skayara!"