Chapter 10

892 Words
*** "Ngapain masuk?" Sudah duduk di kursi kemudi, Alaska bertanya demikian setelah Skayara masuk kemudian duduk di kursi sebelah kiri. Sore datang, jam kerja di kantor habis sehingga tanpa berniat lembur sekali pun banyak pekerjaan belum selesai, Alaska siap pergi. Tidak akan langsung pulang ke rumah, dia berniat untuk menikmati waktu dulu di kafe lalu ketika nanti malam datang, tujuan selanjutnya adalag club. "Mau pulanglah, kan jam kerja kantor udah habis," jawab Skayara santai, sambil memasang seatbelt. "Kalau mau pulang ya sana pulang, kenapa naik mobil saya?" "Pulangnya kan ke rumahnya Mas Alaska," jawab Skayara—membuat Alaska spontan mengernyit. "Bapak bilang sebelum Mas dipastikan diam di rumah terus berniat tidur, jam kerja saya belum habis. Jadi ya saya belum bisa balik ke kost." "Saya mau nongkrong dulu habis ini, Skaya. Sana turun." "Mas nongkrong, saya ikut," jawab Skayara. "Skaya ...." "Tugas saya tuh mengawal Mas Alaska ke mana pun Mas pergi. Jadi jangan protes dan bawa aja mobilnya pergi," ucap Skayara. "Mas pesan kopi, saya enggak akan minta kok. Saya punya uang sendiri." Alaska mendengkus. Terlalu malas berdebat, pada akhirnya dia mengalah dengan tidak memaksa Skayara turun. Tidak banyak bicara, Alaska membawa mobilnya pergi meninggalkan kantor. Hening, selama beberapa menit perjalanan, Alaska dan Skayara sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga Alaska tiba-tiba teringat momen di mana dirinya menjawab panggilan di ponsel sang bodyguard. "Skayara." "Ya?" "Kamu asli orang Jakarta apa anak rantau?" tanya Alaska. "Tiba-tiba banget," ucap Skayara. "Tinggal jawab aja kali," ucap Alaska. "Sebagai bos, saya pengen tahu asal muasal bodyguard saya. Siapa tahu kamu berasal dari entah berantah." "Ck, saya orang Cimahi, Mas," ucap Skayara. "Tahu, kan, Cimahi?" "Yang dekat Bandung?" "Iya," ucap Skayara. "Sampai delapan belas tahun saya tinggal di sana, sampai akhirnya setelah lulus SMA, saya beraniin diri buat ngerantau." "Langsung kerja apa gimana?" tanya Alaska, tiba-tiba penasaran. "Enggak, kuliah dulu," ucap Skayara. "Dapat beasiswa dulu saya di salah satu universitas yang ada di Depok." "Pinter berarti ya kamu, sampai dapat beasiswa," ucap Alaska. "Lumayan," ucap Skayara. "Waktu itu saya kuliah sambil kerja karena ngontrak kan butuh biaya. Empat tahun saya lulus, terus karena nyaman ngerantau, saya pindah ke Jakarta." "Kenapa nyaman ngerantau?" tanya Alaska lagi. "Enggak kangen gitu sama orang tua kamu di Cimahi?" Skayara tersenyum. Tidak langsung menjawab, selama beberapa detik dia diam—membuat Alaska yang tidak lepas dari kemudi, menoleh sekilas. "Ditanya malah senyum, gila kamu?" "Mas yang gila," ucap Skayara. "Pacaran kok sama enam orang sekaligus. Buaya darat." "Yee, malah ngejudge," ucap Alaska. "Jawab tuh pertanyaan saya barusan." "Soal kangen enggak sama orang tua?" "Iya." "Enggak," ucap Skayara. "Dari kecil, saya enggak pernah ngerasa kangen sama orang tua saya karena jangankan kangen, tahu wajah mereka aja enggak." "Maksudnya?" "Saya enggak tahu orang tua saya gimana, Mas, karena kebetulan semenjak saya lahir, mereka udah enggak ada." "Meninggal?" "Mungkin." "Lah, kok mungkin sih?" tanya Alaska. "Aneh kamu." "Ya gimana ya, Mas?" tanya Skayara. "Kalau meninggal kan harus ada makamnya. Nah, orang tua saya enggak ada. Setiap saya tanya ke Bibi sama Mamang—selaku orang yang ngurus saya dari kecil, mereka bilangnya saya enggak perlu tahu. Jadi saya enggak tanya-tanya lagi." "Berarti kamu tinggal sama Bibi dan Mamang kamu ya sejak kecil?" "Iya." "Pantes." "Maksudnya?" tanya Skayara, refleks memandang Alaska dengan raut wajah penuh tanya. "Belum cek hp emangnya?" tanya Alaska. "Tadi pas kamu cari makan siang, Bibi kamu telepon buat minta uang. Saya awalnya aneh karena kok bibi kamu seberani itu minta uang sama kamu, tapi ternyata gitu ceritanya." "Berapa tadi bibi minta uangnya?" "Lima juta," ucap Alaska. "Mau beli tv katanya rusak." "Oh," ucap Skayara. "Nanti aja deh saya kirimnya pas udah di kost. Belum ada telepon juga sampai sekarang." "Iyalah orang saya bilangnya kamu kerja sampai jam sepuluh malam," ucap Alaska. "Saya bilang hp kamu disaya selama kerja. Jadi kalau mau telepon, nanti aja malam." Skayara tersenyum tipis. Dalam hati, dia sedikit berterimakasih karena berkat Alaska, setidaknya dia tidak akan diteror oleh sang bibi hingga nanti malam. "Sering ya bibi kamu minta uang sama kamu?" tanya Alaska, setelah beberapa detik suasana di mobil hening. "Mana pake ngungkit jasa lagi pas minta. Kaya enggak ikhlas aja rawat keponakan sendiri." "Lebih dari sering sih, Mas," ucap Skayara. "Semenjak ngerantau, hampir semua kebutuhan bibi saya di kampung mintanya ke saya. Kalau enggak dikasih, dia ngungkit jasanya. Jadi ya saya enggak bisa apa-apa selain ngasih." "Suaminya enggak kerja emang?" tanya Alaska. "Udah kaya apa aja semuanya minta ke kamu." "Ada, cuman mungkin kurang karena anaknya Bibi saya kan dua. Satu SMA, satu lagi SMP. Jadi mungkin enggak cukup." "Ck," decak Alaska. "Apa ini juga alasan kamu nerima kerjaan dari Papi saya buat jadi pengawa?" "Iya," ucap Skayara. "Bayaran dari Bapaknya Mas lumayan. Jadi sayang buat dilewatin karena setidaknya untuk sementara waktu setiap bibi minta, saya enggak perlu diomelin dulu. Udah ah, Mas, bahas masalah sayanya. Fokus aja ke jalan." "Daritadi saya juga fokus kali," kata Alaska. "Kalau enggak fokus, mobil saya udah nabrak daritadi." Skayara tersenyum tipis hingga selang dua puluh menit mobil Alaska berhenti di sebuah kafe. Tidak langsung turun, Alaska justru diam sambil memandangi sekumpulan perempuan yang nampak asyik menikmati waktu bersama. "Kenapa, Mas?" tanya Skayara. "Lihatin Mbak-Mbaknya serius banget. Mau digodain ya?" "Enggak bukan, tapi dua dari enam orang perempuan di sana, pacar saya," ucap Alaska tanpa menoleh. "Kamu bisa bantu enggak? Saya lagi malas bikin keributan." Skayara menaikkan sebelah alis. "Bantu apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD