Chapter 9

952 Words
*** Usai mengobati luka Alaska, Skayara mendapat panggilan dari Prabu. Diminta untuk datang ke ruangan pria itu, dia terpaksa berbohong pada Alaska atas perintah sang bos. Entah ada apa dirinya dipanggil, Skayara tidak tahu. Namun, yang jelas dirinya degdegan karena ketika mengobati Alaska, jaraknya dan pria itu dekat. Meskipun belum pasti, Skayara khawatir Prabu mengawasi cctv di ruang kerja Alaska, karena jika iya, pria itu pasti menyangka yang tidak-tidak. "Skayara," panggil Arsen, setibanya Skayara di depan pintu ruangan Prabu. "Eh, Pak Arsen," ucap Skayara. "Bapak ada di dalam? Saya dipanggil soalnya. Disuruh menghadap." "Boleh, tapi saya pastikan dulu ya. Takutnya Bapak sedang ada urusan di dalam." "Oke, Pak." Tidak banyak bertanya, Skayara menunggu di dekat meja kerja Arsen yang terletak persis di depan ruangan Prabu. Kurang dari lima menit, Arsen keluar dan Skayara pun katanya diminta untuk masuk. "Semoga enggak ada apa-apa, Ya Allah." Sambil membuka pintu, Skayara memohon. Masuk ke ruangan besar milik Prabu, dia disambut pria itu juga Sarah yang nampak duduk di sofa panjang. "Selamat pagi, Pak," sapa Skayara. "Ada apa ya saya dipanggil?" Tanpa mempersilakan Skayara duduk, Prabu bertanya, "Gimana Alaska? Apa dia masih marah-marah setelah kejadian tadi?" "Udah enggak sih, Pak," ucap Skayara. "Mas Alaska udah tenang, cuman mungkin masih ngerutuk sesekali, tapi aman." "Kamu yang tenangin?" tanya Prabu. "Dia emosian soalnya." "Enggak juga sih," ucap Skayara. "Saya cuman obatin luka di sudut bibirnya aja. Tamparan Bapak kan bikin sudut bibir Mas Alaska berdarah." Tidak menimpali, Prabu terlihat menghela napas pelan sementara Sarah yang duduk persis di sampingnya, melontarkan sebuah tanya, "Selain itu enggak ada luka lain, kan? Bilangin ke dia saya minta maaf. Saya enggak bermaksud bikin dia ditampar." "Bukan salah kamu," ucap Prabu pada sang istri. "Alaska pantas mendapatkan itu karena dia sudah bersikap kurang ajar. Biar aja." "Iya, tapi kan—" "Enggak pantas sih sebenarnya, Pak," ucap Skayara, coba memberanikan diri. "Mas Alaska tadi memang salah, tapi ditampar saya rasa terlalu berlebihan. Apalagi Bapak ngelakuinnya di depan umum. Sakitnya mungkin enggak seberapa, tapi malunya pasti menyentil harga diri dia. Bagaimanapun kan Mas Alaska CEO di sini." Prabu tersenyum tipis. "Tugas kamu di sini memperbaiki sifat dan sikap Alaska, bukan mengomentari cara saya mendidik dia," ucapnya. "Jadi saya rasa kamu harus tahu batasan." Skayara tersenyum tipis. "Maaf." "Saya maafkan," ucap Prabu. "Karena tujuan saya memanggil kamu cuman buat nanyain kondisi Alaska, sekarang kamu bisa kembali ke ruangan dia lalu jalankan pekerjaan kamu sebagaimana mestinya. Oh ya, jam kerja kamu selesai setelah Alaska berada di rumah ya. Jadi semalam apa pun kalau Alaska masih berkeliaran di luar, kamu belum bisa pulang." "Baik, Pak." "Satu lagi," ucap Prabu. "Karena tugas kamu memperbaiki Alaska, saya harap kamu bisa bikin dia berhenti ke club malam. Hampir tiap hari soalnya dia pergi ke tempat itu." "Siap, Pak." "Singkirkan juga para perempuan yang dekat sama Alaska," kata Prabu. "Saya enggak mau Cassy ilfeel lihat calon suaminya dikerumuni banyak perempuan." "Oke, Pak," ucap Skayara. "Ya sudah kalau gitu silakan keluar," ucap Prabu. "Urusan saya sama kamu sudah selesai. Oh ya, karena kemarin kamu baru ambil dua puluh juta dari total gaji yang akan saya kasih, kamu bisa bicara ke saya kalau butuh uang. Saya pasti kasih asalkan kerja kamu bagus." Skayara tersenyum tipis. "Baik, Pak," ucapnya. "Kalau begitu saya permisi." "Silakan." "Jangan lupa sampaikan maaf saya buat Alaska ya, Skaya," ucap Sarah. "Baik, Bu, saya sampaikan." Pamit dari ruangan Prabu, Skayara sempat menyapa Arsen sebelum kembali ke ruangan Alaska. Tiba di sana, dia disuguhi pemandangan Alaska yang tengah serius menatap layar laptop. "Makan apa kamu? Ke toilet aja setahun," tanya Alaska tanpa beralih dari layar laptop. "Enggak makan apa-apa, cuman jalan-jalan aja barusan sebentar," ucap Skayara. Mendekati meja kerja Alaska, dia berdiri di samping lalu berkata, "Oh ya, ketitipan maaf dari Bu Sarah. Katanya untuk kejadian tadi, beliau minta maaf sama Mas karena gara-gara beliau, Mas ditampar Pak Prabu." Alaska berhenti mengetik lalu menoleh. "Ketemu di mana kamu sama dia?" "Di koridor habis dari kamar mandi," ucap Skayara. "Dari mukanya sih kelihatan tulus pas minta maaf. Cuman enggak tahu aslinya gimana." "Palingan cuman cari muka," ucap Alaska, kembali fokus pada layar. "Dia enggak mau niat buruknya dicurigai, makanya bersikap sebaik mungkin." "Bisa jadi," ucap Skayara. "Tapi enggak boleh berprasangka buruk juga. Enggak baik." Alaska berdecih. Tidak menimpali lagi ucapan Skayara, dia memutuskan untuk kembali bekerja sementara Skayara sendiri setia di samping meja. Tidak terus berdiri, perintah duduk didapatkan Skayara dari Alaska sehingga ketika siang menjelang, dia berpindah ke sofa. Makan siang datang, Alaska tidak ke mana-mana karena untuk mengisi perut, dia memesan makanan via online. "Saya pesan makan buat saya sendiri, kamu kalau mau cari makan, ke kantin aja," ucap Alaska. "Kantin perusahaan?" "Ya iya, masa kantin rumah sakit?" tanya Alaska. "Tanya aja sama karyawan di sini. Enggak akan kesasar." "Oke, tapi sebelum itu boleh numpang charge enggak, Mas?" tanya Skayara. "Hp saya kebetulan habis baterai." "Colokannya di bawah meja," kata Alaska. "Biar enggak keinjek, hpnya simpan di atas." "Oke." Skayara mengeluarkan charge dari saku celana lalu mulai menyambungkannya dengan colokan. Baterai hp mulai terisi, Skayara berpamitan ke kantin sementara Alaska bersantai sambil menunggu pesanan. "Lama banget makanan gu—" Tidak selesai Alaska bicara, ponsel Skayara di atas meja berdering. Penasaran, Alaska mendekat kemudian mengernyit setelah mendapati nama Bi Lina, terpampang. "Angkat jangan ya?" Penasaran, Alaska menjawab panggilan. Namun, tidak bicara, dia memilih diam sampai akhirnya suara Bi Lina terdengar. "Skaya, tv bibi rusak, kamu bisa kirim uang enggak? Kalau ada lima juta, Bibi pengen beli tv yang gede." Tidak menjawab, Alaska konsisten diam—membuat Bi Lina kembali buka suara. "Skaya, kok diam aja sih? Pura-pura budeg kamu? Jawab dong, bisa enggak kasih bibi lima juta? Kalau kamu punya malu, harusnya bisa. Dibanding jasa bibi, uang segitu enggak seberapa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD