***
Setelah insiden di lobi, Alaska bergegas menuju ruang kerjanya dengan perasaan yang cukup berantakan. Tidak sendirian, dia ditemani Skayara yang terus mengawalnya.
Namun, sekarang perempuan itu tidak ada karena setelah mengetahui luka di sudut bibir yang dialami, Skayara katanya ingin mengobati.
"Mas, alkoholnya enggak ada. Adanya juga obat merah. Enggak apa-apa ya? Yang penting lukanya saya bersihin dulu."
Alaska yang semula hanyut dalam lamunan, menoleh setelah Skayara kembali sambil membawa mangkuk berukuran sedang.
Tidak di kursi kerja, Alaska duduk di sofa tamu yang tersedia di ruangan kerjanya.
"Itu kamu ngapain bawa mangkuk? Mau makan bakso kamu di sini?" tanya Alaska, masih dengan mood yang cukup buruk.
Bukan hanya disakiti, Alaska juga merasa dipermalukan oleh Prabu karena ditampar di depan umum seperti tadi, wibawanya sebagai CEO seperti sedang dilecehkan.
"Ini air es, Mas," ucap Skayara sambil berdecak. "Sebelum dikasih obat merah, lukanya dibersihin dulu biar enggak infeksi."
"Lebay banget kamu," ucap Alaska. "Lukanya enggak seberapa kok."
"Jangan remehin luka kecil, Mas," ucap Skayara, perlahan duduk di samping Alaska. "Kalau lagi apes, tuh luka di sudut bibir bisa jadi gede terus infeksi. Mau emangnya kegantengan Mas ternodai infeksi di bibir?"
Alaska mendelik. "Enggak maulah," ucapnya. "Bibir saya tuh aset. Enggak bisa ciuman kalau infeksi."
"m***m terus ya pikirannya."
"Terserah saya," ucap Alaska. "Mau m***m kek, apa kek, selain donatur dilarang ngatur."
Skayara mendengkus. Tidak mau memperpanjang perdebatan, dia memilih untuk memeras handuk yang sudah direndam di air es.
"Tahan ya, Mas, agak perih mungkin dikit."
"Hm."
Hati-hati, Skayara mengusap luka di sudut bibir Alaska menggunakan handuk yang dipegang. Tidak diam, pria itu meringis karena meskipun kecil, luka di bagian tersebut cukup terasa perih.
"Tinggal dikasih obat merah," ucap Skayara.
"Pakein sekalian, jangan nanggung."
"Oke."
Melanjutkan tugas, Skayara mengolesi luka yang sudah dia bersihkan, menggunakan kapas. Selesai, dia berpamitan untuk mengembalikan apa yang dia bawa tadi, ke dapur kantor.
Lima menit berlalu, Skayara kembali. Di ruangan, dia mendapati Alaska di kursi kerja Namun, tidak sibuk dengan laptop atau berkas, pria itu justru nampak bersantai dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Enggak kerja, Mas?" tanya Skayara.
"Enggak mood," ucap Alaska santai. "Buat apa juga kerja kalau ujung-ujungnya yang nikmatin tuh perempuan."
"Ibu sambungnya Mas Alaska?"
"Ya iya, siapa lagi?" tanya Alaska. "Tujuan dia nikahin Papi cuman buat manfaatin hartanya."
Skayara tersenyum tipis. Mendekati meja kerja Alaska, dia memandang pria itu sebelum akhirnya bertanya, "Mas kenapa bisa berpikiran kaya gitu ke Mama sambungnya? Udah kenalkah sebelum beliau nikah sama Pak Prabu?"
"Enggak," ucap Alaska. "Saya enggak tahu tuh perempuan siapa. Saya juga enggak tahu Papi ketemu di mana. Cuman yang jelas feeling saya ke dia enggak bagus. Dia juga usianya enam belas tahun lebih muda dari Papi. Jadi ya enggak jauh dari harta pasti."
"Kalau ternyata enggak?" tanya Skayara.
"Enggak apa?" tanya Alaska—memandang Skayara sambil menaikkan sebelah alis.
"Enggak manfaatin harta Papanya Mas doang," ucap Skayara. "Kalau ternyata ibu nikahin Bapak karena cinta gimana?"
"Ya masa bodo," ucap Alaska. "Intinya saya enggak suka sama dia, dan saya enggak bisa nerima dia. Di mata saya, Mami saya cuman satu dan enggak akan bisa digantiin sama siapa pun. Titik."
Skayara menghela napas pelan. "Ya udah kalau gitu mendingan enggak usah dipikirin," ucapnya. "Kejadian tadi anggap aja angin lalu. Mas lebih baik fokus sama kerjaan karena yang nikmatin juga bukan Mamanya Mas doang. Mas juga ikut nikmatin. Fasilitas kan darimana itu uangnya? Dari perusahaan, kan?"
"Sotoy."
"Lho emang bukan?"
"Dari perusahaan."
"Yee!" seru Skayara. "Intinya kerja aja, Mas. Masalah yang tadi jangan diambil pusing. Ambil pelajaran aja buat ke depannya supaya enggak diulang lagi. Mas boleh enggak suka sama Mama sambungnya, tapi sebisa mungkin di depan bapak harus ditahan. Bapak kan lagi cinta banget sama Ibu. Jadi percuma Mas mau jelekin Ibu segimana pun Bapak enggak akan nganggap. Cinta kan buta."
"t***l juga," celetuk Alaska emosional.
"Iya-iya t***l," kata Skayara. "Sekarang mendingan tarik napas, terus tahan dulu setengah jam sebelum kemudian diembuskan."
Alaska mendelik. "Kamu nyuruh saya mati?"
"Ngeuh ternyata," kata Skayara sambil terkekeh. "Kirain enggak akan sadar."
Alaska mendengkus, sementara Skayara kembali bicara.
"Intinya sih gitu, Mas. Nasihatin orang yang lagi jatuh cinta tuh enggak ada gunanya karena enggak akan didengar," ucap Skayara. "Kalau memang mas ada feeling enggak baik, awasi aja diem-diem tanpa harus bilang ke bapak. Kalau ada bukti baru bilang."
"Kamu suruhan Papi, kenapa malah berpihak sama saya?" tanya Alaska. "Ada udang di balik batu ya?"
"Ye, suudzon," kata Skayara. "Saya enggak berpihak sama siapa pun kali. Saya cuman enggak mau Mas gegabah aja biar enggak ditampar kaya tadi. Ngilu soalnya saya dengar suara tamparannya."
Alaska tersenyum miring. "Kamu enggak tahu aja saya pernah dipukul pake gesper," ucapnya. "Yang tadi enggak seberapa, cuman saya kesal aja karena Papi lakuin itu demi pacarnya."
Tidak tahu harus menimpali apa, Skayara tersenyum samar hingga dering dari ponsel di saku celana membuat dia merogoh benda pipihnya itu.
Mendapati sebuah nama, raut wajah Skayara berubah serius hingga pertanyaan dari Alaska membuat atensinya beralih.
"Telepon dari siapa? Kok enggak diangkat?"