Chapter 7

866 Words
*** "Saya bisa lho ya nuntut kamu atas dasar kekerasaan. Benjol kening saya gara-gara kamu." Sambil mengemudi, ucapan tersebut Alaska lontarkan pada Skayara. Terjadi tragedi, Alaska awalnya berhasil menipu sang bodyguard dengan berpura-pura pingsan. Namun, Skayara yang cerdik membuat tipu muslihatnya gagal, sehingga dia yang sakit karena terbentur mobil, semakin keki karena Skayara menertawakan kegagalannya. "Saya juga bisa nuntut Mas Alaska atas dasar pelecehan," ucap Skayara, tidak mau kalah. "Seenak jidat aja mau cium." Alaska berdecih. "Yang mau cium kamu siapa?" tanyanya. "Geer banget." "Gelagatnya udah jelas kali," ucap Skayara. "Mas Alaska deketin muka. Mau apalagi coba kalau udah kaya gitu?" "Ya mau singkirin beleklah!" ujar Alaska. "Ada beleknya tadi mata kamu." "Dih, enggak masuk akal!" ujar Skayara. "Kenapa enggak masuk akal?" tanya Alaska, tanpa beralih dari jalanan. "Orang kamu belekan tadi. Enggak sadar diri." "Nyenyenye," cibir Skayara. "Nyetir aja yang benar. Telat nanti ke kantor." "Berisik kamu," desis Alaska. "Udah kaya saya supir aja." "Lah, emang supir, kan?" tanya Skayara. "Dimana-mana yang bawa mobil emang disebutnya itu. Kalau yang enggak bawa mobil, disebut penumpang." Tidak menimpali, Alaska hanya mendengkus sebagai respon. Tidak lama hening, selanjutnya percekcokan kembali terjadi sehingga sepanjang perjalanan menuju kantor, suasana di mobil tidak sesepi biasanya. Lima puluh menit di jalan, mobil Alaska sampai juga di depan sebuah gedung. Tidak langsung ke parkiran, pria itu berhenti di halaman—membuat Skayara bertanya, "Kenapa berhenti?" "Ya emang kamu bisa turun kalau mobilnya jalan?" tanya Alaska. "Cepat turun, saya mau parkir." "Mau parkir mobil, kenapa harus nurunin saya?" tanya Skayara. "Kan saya bisa ikut ke parkiran. Lagian siapa tahu di sana nanti ada perempuan cantik, Mas godain lagi. Lama lagi nanti sampai ke ruangan kerjanya." "Ish!" "Maju, Mas, ke parkiran," ucap Skayara. "Kita belum sampai." Alaska lagi-lagi mendengkus. Namun, manut untuk melajukan mobilnya ke parkiran. Berhenti di tempat yang tersedia, tanpa mengajak Skayara, dia turun. "Aba-aba, Mas, kalau mau turun. Bukan seenak jidat buka pintu terus tebar pesona," ucap Skayara sambil mendekati Alaska di sisi kanan mobil. "Saya yang turun, kenapa kamu yang repot?" tanya Alaska. "Lagian turun dari mobil bukan lomba yang harus dikasih aba-aba kali." "Ya udah deh terserah Mas." "Emang terserah saya, saya bosnya di sini." Skayara berdecak, sementara tanpa permisi, Alaska melangkah begitu saja—membuatnya dengan segera mengikuti dari belakang. Layaknya bodyguard lain, Skayara mengawal Alaska dan kehadirannya pagi ini menarik atensi beberapa karyawan di sana. Tidak peduli, Skayara mencoba acuh terhadap tatapan yang dilayangkan padanya hingga ketika tiba di dekat lift, sebuah panggilan pada Alaska, didengarnya dari belakang. "Alaska, tunggu." Skayara menoleh bersamaan dengan Alaska. Di depan mereka—pada jarak beberapa meter, Prabu berjalan didampingi seorang perempuan. Siapa dia? Tentu saja sang istri, dan karena kehadirannya, raut wajah Alaska seketika ditekuk. "Ada apa manggil-manggil?" tanya Alaska sinis. "Mama kamu pengen nyapa kamu," ucap Prabu. "Lagian kamu semenjak Papi sama Mama nikah, enggak ada kayanya ngucapin selamat." "Harus banget?" tanya Alaska. "Sapaan aku kayanya enggak penting deh buat perempuan di samping Papi. Kan yang penting uang." "Alaska! Jaga ucapan kamu," desis Prabu. "Mas, sabar," ucap Sarah, sambil mengusap bahu sang suami. "Aku enggak maksa kok kalau Alaskanya enggak mau." "Alaska mau, Sayang, cuman dia harus agak dipaksa dulu," ucap Prabu pelan, sebelum kemudian beralih pada sang putra. "Salim ke Mama kamu, cepat." "Aku enggak mau, Pa," ucap Alaska. "Lagian mamiku udah enggak ada. Beliau udah tenang di surga." "Alaska ...." "Mas, ayo salim aja," ucap Skayara pelan. "Kandung atau bukan, itu Mamanya Mas juga." "Apa sih kamu?" tanya Alaska dengan tatapan yang sinis. "Enggak usah ikut campur." "Saya bukan ikut campur, cuman—" "Salim, selagi Papi bersikap baik," ucap Prabu. "Mama Sarah memang bukan ibu kandung kamu, tapi dia istri Papa. Jadi kamu harus patuh sama dia." Tidak menjawab, Alaska diam sementara Skayara kembali buka suara. "Salim, Mas, biar urusannya cepat beres." Alaska mendelik, sebelum akhirnya melangkah mendekati Prabu dan Sarah. Mengulurkan tangan, dalam pikirannya terbersit sebuah ide. "Alaska," panggil Sarah, menerima uluran tangan sang putra. "Selamat menikah dengan Papa ya. Semoga misi anda buat mengeruk harta Papa saya berhasil. Cuman harta kan yang kamu ma—" "Alaska Jarrel!" Plak! Dibarengi suara bariton Prabu, sebuah tamparan keras diterima Alaska di pipi kanannya. Tidak melawan, Alaska diam meresapi perih sementara dengan rahang yang mengeras pun emosi yang ikut memuncak, Prabu memberi penekanan. "Jaga mulut sampah kamu itu," desis Prabu. "Sekali lagi kamu ngomong yang enggak-enggak ke Mama sarah, Papi bisa lakuin lebih dari ini. Umur udah tiga puluh, tapi kelakuan masih kaya anak kecil. Keterlaluan kamu." Alaska diam sementara netranya tertuju pada setetes cairan berwarna merah di lantai. Saking keras tamparan Prabu, sudut bibir Alaska berdarah. Namun, dibanding itu, hati Alaska lebih sakit dari luka yang dia alami. "Ayo Sarah, kita ke ruangan saya," ajak Prabu pada sang istri. "Ucapan Alaska enggak usah kamu hiraukan." "Tapi, Mas—" "Dia sudah dewasa, enggak perlu khawatir." Tidak berucap lagi, Sarah patuh sehingga setelahnya dia dan Prabu melangkah lebih dulu menuju lift. Alaska? Pria itu masih menunduk sambil memegangi pipi—membuat Skayara yang kaget sekaligus khawatir, lekas mendekat. "Mas, baik-baik aja, kan?" tanya Skayara ketika kini dia menghampiri Alaska. Alih-alih menjawab, Alaska justru balik bertanya, "Menurut kamu setelah ditampar di muka umum, saya bakalan baik-baik aja apa enggak?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD