Chapter 6

1053 Words
*** "Lima menit lagi ya, Mas, waktu mandinya. Bapak Prabu bilang jam masuk kantor tuh jam delapan pagi. Jadi maksimal jam tujuh lebih lima belas menit, Mas Alaska harus sudah berangkat." Duduk di sofa yang tersedia di kamar Alaska, warning tersebut Skayara lontarkan sambil memandangi jam tangan. Tidak lagi ditolak, kehadiran Skayara sebagai pengawal Alaska akhirnya diterima. Bukan karena keinginannya sendiri, Alaska terpaksa menerima setelah Prabu mengancam untuk memblokir semua fasilitas yang dia punya. Meskipun tidak akur dengan sang papa, sampai detik ini Alaska masih bergantung di segi materi terhadap Prabu. Tidak bisa mengandalkan gajinya sebagai CEO, Alaska meminta difasilitasi sehingga jika Prabu mau, kapan pun fasilitasnya bisa dicabut. "Berisik, Skayara, saya lagi keramas!" ujar Alaska dari kamar mandi. "Lagipula saya ini Bos, jadi jam berapa pun saya datang, itu terserah." "Enggak kaya gitu ya, Mas," ucap Skayara. "Mas itu CEO, bukan pemilik. Jadi Mas harus bersikap layaknya pegawai. Pak Prabu yang bilang sama saya." "Bawel!" "Iya, Mas, saya bawel. Baru tahu ya?" Semakin percaya diri mengatur Alaska, Skayara optimis misinya selama lima bulan akan berhasil. Tidak terlalu sulit, sejauh ini Alaska tidak sekeras yang dia duga sehingga secara perlahan, Skayara yakin bisa mengubah gaya hidup pria itu menjadi lebih baik. "Itu mandi, apa aja sih, Mas, yang digosok?" tanya Skayara, ketika pada akhirnya Alaska keluar dari kamar mandi. "Lama banget ngalahin anak gadis." "Saya suka kebersihan. Jadi mandi saya lama," ucap Alaska. "Enggak sampai satu jam, berisik banget." "Bukan apa-apa, Mas, kan harus ke kantor," ucap Skayara. "Marah nanti Pak Prabu kalau Mas terlambat." "Halah, Papi didengerin," ucap Alaska sambil mendengkus. "Anggap aja kaleng rombeng." "Enggak sopan banget, Mas, sama Papanya." "Bodo amat." Tidak menimpali, Skayara hanya berdecak, sementara Alaska berjalan menuju walk in closet. Hampir sepuluh menit, Alaska keluar dengan penampilan yang rapi. Namun, alih-alih setelan jas khas CEO di film yang sering Skayara tonton, pria itu justru keluar dengan setelan casual—celana katun juga kaos tanpa motif. "Mas mau ke mana?" tanya Skayara. "Menurut kamu?" tanya Alaska. "Ya kerjalah. Jam segini belum waktunya dugem. Lagian bukannya kamu yang buru-buruin saya?" "Iya, tapi masa kaya gitu sih?" tanya Skayara sambil beranjak. "Yang saya tahu, setelan CEO tuh celana katun, kemeja, terus jas gitu. Kok ini enggak?" Alaska memutar bola mata malas. "Kamu pikir setelan CEO harus kaya gitu semua?" tanyanya. "Enggak kali. Lagipula di kantor enggak ada aturan khusus soal baju. Jadi saya mau koloran pun enggak masalah. Kamu enggak berhak komplen." "Tapi kan—" "Mau ikut ngantor apa mau dikunci di kamar saya?" tanya Alaska. "Bawel banget kamu kaya ibu kost. Masih dendam lho saya sama kamu. Inget itu." "Jangan dendam-dendam, Mas, dosa," ucap Skayara mengingatkan. "Lagipula yang Mas lakuin waktu itu salah. Papanya mau nikah, diganggu. Enggak sopan." "Enggak usah sok tahu," kata Alaska, sambil melangkah keluar, diikuti Skayara. "Kamu enggak tahu aja siapa yang dinikahi Papa saya. Dia siluman." "Siluman gimana maksudnya, Mas?" tanya Skayara, sambil mengernyit. "Zaman sekarang emang masih ada makhluk kaya gitu?" Alaska berhenti lalu mendelik. "Bukan siluman sungguhan!" ujarnya. "Cuman sebutan doang. Dia matre soalnya. Nikah sama Papi palingan cuman manfaatin uangnya." "Oh," ucap Skayara. "Kirain siluman beneran." "Ya mikir aja." "Santai dong," ucap Skayara. "Mas kaya perempuan lagi pms aja. Sensi." "Sensilah, cewek saya diusir sama kamu," ucap Alaska. "Baru seminggu dia pacaran sama saya. Harusnya dua minggu." "Ish, playboy." "Lebih baik playboy, tapi laku. Daripada enggak laku terus gabut jadi pengawal orang lain." "Mas ngomongin saya?" "Saya enggak sebut napa padahal." Berjalan di belakang Alaska, Skayara mendengkus sebagai respon. Keluar dari rumah, dia dan pria itu sampai di dekat mobil. "Bisa nyetir enggak kamu?" tanya Alaska. "Saya lagi males." Skayara menggeleng. "Enggak," jawabnya. "Kalau bawa motor baru bisa." "Ck, pengawal macam apa kamu?" tanya Alaska. "Nyetir aja enggak bisa." "Ya pengawal kan kerjanya ngawal, Mas, bukan nyetir. Jadi enggak harus dong bisa bawa mobil?" tanya Skayara. "Lagipula Pak Prabu enggak mengharuskan saya bisa bawa mobil kok. Jadi Mas aja yang nyetir. Mas kan yang punya." "Saya nyetir, kamu lari dari belakang. Gimana?" tanya Alaska. "Kamu kan pelatih taekwondo. Fisiknya pasti kuat. Iya, kan?" "Sebelum nyetir, Mas saya tonjok dulu. Setuju?" tanya Skayara, tidak mau kalah. "Lagian saya tuh pelatih bela diri, bukan atlit lari. Apaan banget ngikutin dari belakang." "Kan biar kuat." "Gempor yang ada, Mas, bukan ku—" "Permisi." Belum selesai Skayara bicara, suara seorang perempuan dari depan pagar lebih dulu terdengar. "Eh iya, siapa—" "Sayang, kok kamu ke sini?" tanya Alaska pada perempuan tersebut. Entah siapa lagi perempuan di depan pagar, Skayara tidak tahu. Namun, yang jelas perempuan tersebut bukan yang tadi. "Sayang, aku kangen ih! Kamu ke mana aja?" tanya perempuan tersebut pada Alaska. "Dua hari enggak ketemu, kamu emang enggak kangen?" "Kangen dong." Bercengkrama mesra, selanjutnya itulah yang dilakukan Alaska dan perempuan yang mendatanginya itu. Tidak berlangsung lama, obrolan hanya terjadi sebentar saja karena sang perempuan katanya harus bekerja. "Siapa tadi?" tanya Skayara. "Pacar sayalah, siapa lagi?" tanya Alaska. "Pramugari dia. Ke sini katanya mau lepas kangen karena mau terbang lagi." "Yang tadi pagi siapa?" "Pacar saya juga," ucap Alaska. "Yang barusan Sena, terus yang tadi pagi ... hm, siapa ya? Lupa saya. Intinya dia pacar saya cuman karena kamu, saya sama dia kayanya putus. Malas juga saya bujuk." "Mas beneran playboy?" tanya Skayara ngeri-ngeri sedap. Alaska tersenyum. "Menurut kamu?" "Kalau boleh tahu, berapa pacar yang Mas punya sekarang?" "Hm, lima kayanya. Kenapa? Mau daftar jadi yang keenam?" tanya Alaska. Tidak menjawab, Skayara diam dengan perasaan bingung hingga dering dari ponsel Alaska membuat atensi pria itu beralih. Menjawab panggilan sambil tersenyum, Alaska mengobrol dengan sang penelepon hingga tidak berselang lama dia kembali. "Siapa barusan?" "Pacar saya yang keenam," ucap Alaska sambil tersenyum. "Kamu keduluan, sayang banget." Lagi—dengan perasaan speechles, Skayara tidak menjawab hingga tidak berselang lama Alaska mendekat dengan wajah genit. "Kamu jadi yang ketujuh mau enggak?" tanyanya. "Kalau mau, tidur dulu sama saya." "Jangan macam-macam ya, Mas. Saya bisa tonjok Mas kalau mau." "Tonjok?" tanya Alaska, yang justru mendekatkan wajahnya. "Kalau cium aja giman—" Brak! "Jangan kurang ajar ya, Mas!" Belum selesai Alaska bicara, tonjokan lebih dulu diterimanya dan karena tidak siap, dia terjatuh hingga membentur mobil sebelum akhirnya tergeletak. Skayara kaget? Jawabannya adalah iya sehingga sambil mendekat, dia bertanya, "Ini Mas Alaska enggak langsung mati, kan? Kok matanya ketutup? Mas, hei, bangun! Masa dipukul gitu aja pingsan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD