Chapter 5

801 Words
*** Skayara menerima tawaran Prabu. Tidak bisa menahan godaan, setelah pria itu dengan berani menaikkan gaji untuknya, dia memutuskan untuk menandatangani kontrak yang sudah dibuat. Bekerja setiap hari selama lima bulan, tugas Skayara adalah mengawal Alaska ke mana pun pria itu pergi. Tidak hanya hal tersebut, wajib juga untuknya melarang Alaska melakukan hal tidak benar, karena seperti yang Prabu katakan; tugas utamanya adalah memperbaiki sifat dan sikap Alaska. "Ini kan rumahnya?" tanya Skayara, ketika pagi ini dia sampai di depan sebuah rumah. Tidak tinggal di rumah Prabu, Alaska menempati rumah yang berbeda. Tinggal sendirian, Prabu bilang hobi Alaska adalah; membawa perempuan ke rumahnya sehingga sebagai pengawal, Skayara harus mulai menghentikan kebiasaan itu. "Kalau berdasarkan alamat yang dikasih Pak Prabu sih iya," ucap Skayara. "Buka aja dulu deh gerbangnya." Meskipun masih sedikit bingung, Skayara menggeser gerbang di depannya lalu masuk. Berjalan menuju pintu, dia dihadapkan smart door lock, sehingga deretan angka pun coba ditekan. "Eh, kebuka," ucap Skayara, sambil tersenyum, setelah pintu di depannya berhasil dia buka. "Berarti emang ini rumahnya." Tidak terus di depan rumah, Skayara masuk. Mengedarkan pandangan, sebuah suara dari arah tangga membuat atensinya beralih. Masuk lebih dalam, Skayara sedikit membulatkan mata setelah di tangga rumah, dia melihat Alaska bersama seorang perempuan. "Kamu," panggil Alaska dengan raut wajah yang terlihat kaget. "Kamu kenapa ada di rumah saya?" Untuk beberapa detik, Skayara blank, hingga ucapan demi ucapan Prabu kemarin, membuatnya mulai berpikir. "Heh!" "Kamu tanya kenapa aku di sini, Mas?" tanya Skayara, mulai menjalankan tugasnya. "Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain bawa perempuan ke rumah? Enggak anggap aku lagi? Iya?" Disuguhkan akting Skayara, Alaska mengernyit. Tidak tahu harus menjawab apa, dia berusaha mencerna sementara Skayara yang semakin tahu harus berbuat apa, mendekatkan diri ke arah tangga. "Hebat ya kamu, ditinggal beberapa hari liburan, udah bawa perempuan aja ke rumah," ucap Skayara lagi—meniru gaya istri sah ketika memergoki perselingkuhan. "Lupa kamu udah mau punya anak?" "Lho, Mas, kamu bilang masih lajang. Kok udah mau punya anak?" tanya perempuan di samping Alaska, yang tentu saja dilanda kaget. "Kamu bohongin aku ya?" "Aku enggak tahu dia siapa, Sayang," ucap Alaska sambil melirik Skayara. "Aku sama dia bahkan enggak ken—" Plak! Belum selesai Alaska bicara, sebuah tamparan lebih dulu diterimanya. "Buaya, kamu, Mas! Benci banget aku sama kamu!" Terjadi begitu cepat, perempuan di samping Alaska memilih untuk pergi sambil membawa amarah, dan sepeninggalnya dia, di ruang tengah tinggalah Skayara juga sang pemilik rumah. "Bagus banget ya, tingkah kamu," ucap Alaska, sambil melangkah turun. "Dibayar lima belas juta buat bantu saya di pesta, malah lakuin hal sebaliknya. Sekarang enggak ada angin enggak ada hujan, kamu mendadak ada di rumah saya terus bikin pacar saya marah. Manusia apa bukan sebenarnya kamu, hm?" Skayara mengernyit. Berusaha untuk tidak takut pada Alaska, dalam hati dia mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menjawab. "Dari semua pertanyaan, apa harus pertanyaannya soal saya manusia apa bukan?" tanya Skayara. "Saya manusialah, ya kali hantu." "Terus kenapa bisa masuk ke rumah saya tanpa permisi?" tanya Alaska. "Lewat mana kamu masuk ke sini, hm? Atap?" "Lewat pintu," ucap Skayara sekenanya. "Kalau Mas mau tahu, saya masuk ke sini atas izin seseorang. Saya dorong sendiri gerbangnya, terus saya juga buka sendiri pintunya pake password. Jadi ya aman." Alaska mengernyit. Masih tidak paham dengan ucapan Skayara, dia bertanya, "Maksud kamu apa?" "Kenalin, saya Skayara Adriani dan mulai hari ini saya akan bekerja sebagai pengawal Mas Alaska," ucap Skayara, sambil mengulurkan telapak tangan. "Kalau Mas mau tahu siapa yang nyuruh saya, jawabannya adalah Bapak Prabu. Jadi kalau ada yang mau ditanyakan, silakan menghubungi beliau karena saya hanya menjalankan tugas." Tidak menimpali perkenalan Skayara ataupun menyambut uluran tangan perempuan itu, Alaska hanya memberikan tatapan sinis sebelum akhirnya mundur lalu berbalik. Merogoh ponsel dari saku celana, Alaska menghubungi Prabu. "Halo." "Maksud Papi apa kirim Skayara ke rumah aku?" tanya Alaska. "Mana dia bilang mulai sekarang dia jadi pengawal aku. Cari masalah, Papi sama aku?" "Bukannya kamu yang duluan cari masalah sama Papi?" tanya Prabu. "Anggap aja itu hukuman untuk perbuatan kamu hari sabtu lalu." "Pi ...." "Enam bulanan lagi Cassy selesai sama pendidikannya, dan perjodohan kamu sama dia akan segera dilaksanakan," ucap Prabu. "Papi pengen kamu sudah menjadi pria baik nanti, makanya Papi kirim Skayara." "Skayara cuman pelatih taekwondo, Pi, dia—" "Justru karena Skaya pelatih taekwondo, Papi yakin dia bisa menangani kamu," ucap Prabu. "Sekarang kamu terima aja sama kehendak Papi, dan patuh sama Skaya. Dia bakalan ikutin ke mana pun kamu pergi." "Kalau aku enggak mau, Papi mau apa?" "Jadiin kamu gembel," jawab Prabu. "Ingat? Semua fasilitas yang kamu nikmati, semuanya masih dalam kendali Papi. Jadi kalau pengen tetap menikmati semuanya, patuh sama Papi dan Skaya." Tidak menjawab, Alaska diam dengan perasaan yang sebal hingga pertanyaan dari Prabu, kembali terdengar. "Bisa, kan, patuh sama Papi, Alaska? Ah, atau kamu lebih pengen jadi gembel?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD