Chapter 4

902 Words
*** Skayara pikir setelah kekacauan yang dia buat di pesta pernikahan Prabu, Alaska akan mendatanginya atau meneror dia lewat telepon. Namun, dugaannya salah karena hingga hari ketiga pasca pesta, hidup Skayara masih tentram dan damai. Menjalani rutinitasnya seperti biasa, Skayara pergi pagi untuk menjemput penumpang, karena memang selain menjadi pelatih taekwondo, dia juga bekerja sebagai ojeg online. "Pulang dulu deh, capek banget seharian narik," ucap Skayara, ketika jarum jam sampai di angka dua siang. "Lumayan juga udah dapat dua ratus ribu." Tidak hanya berucap, Skayara melajukan motornya pulang menuju kost. Sampai di tempat tujuan, dia dibuat mengernyit setelah di kursi teras, seorang pria dengan setelan rapi terlihat duduk dengan atensi terarah padanya. "Siapa tuh?" tanya Skayara. "Perasaan enggak punya hutang ke bank deh." Sempat berhenti, Skayara melajukan lagi motornya lalu berhenti persis di depan teras. Turun kemudian melepas helm, dia bertanya, "Maaf, Bapak siapa ya? Kok ada di kost saya?" "Perkenalkan, saya Fendi, dan saya tangan kanan Pak Prabu," ucap pria berjas di depan Skayara, yang berhasil membuat gadis itu terkejut. "Tujuan saya datang ke sini adalah; untuk mengajak kamu menemui Pak Prabu, karena katanya beliau ingin bertemu dengan kamu." "Eh, serius?" tanya Skayara. "Ada apa ya? Apa ini ada kaitannya sama pesta hari sabtu? Kalau iya, saya minta maaf banget. Saya enggak tahu Mas Alaska bakalan—" "Bukan tentang pesta, tapi tentang hal lain," ucap Fendi. "Saran saya, kamu ikut saja dulu biar tahu tujuan Pak Prabu ingin bertemu. Cluenya, pertemuan ini tidak akan merugikan kamu." Skayara mengernyit. Penasaran terhadap tujuan Prabu ingin bertemu dengannya, dia manut pada perintah Fendi untuk bersiap-siap. Tanpa mandi, Skayara melepas jaket hijau yang dia pakai kemudian menyimpan pula dua helm miliknya di tempat aman. Mengikuti ke mana Fendi melangkah, dia dibawa pergi menggunakan mobil mewah, kemudian dalam empat puluh menit, Skayara tiba di sebuah rumah megah. "Kamu bisa tunggu di sini, biar saya panggilkan Bapaknya dulu," kata Fendi, setelah mempersilakan Skayara duduk di sofa ruang tamu. "Jangan lama-lama ya, takut salah bersikap." "Baik." Ditinggal Fendi, Skayara sibuk mengedarkan pandangan. Mengagumi setiap sudut ruang tamu mewah yang dia tempati, khayalan demi khayalan muncul, hingga deheman dari seorang pria membuatnya terkesiap. Prabu. Pria itu datang bersama Fendi, membuat Skayara spontan membenarkan posisi duduknya. Gugup, itulah yang dia rasakan sekarang karena setelah kejadian di pesta, Skayara takut Prabu akan mengomelinya. "Apa kabar, Skayara?" tanya Prabu—membuka percakapan. "B—baik, Om ... eh, Pak," ucap Skayara gugup. "B—Bapak sendiri gimana kabarnya?" "Saya baik," jawab Prabu. "Dan pernikahan saya juga lancar berkat kamu. Terima kasih ya, karena sudah mengamankan anak berandal itu. Kalau bukan kamu perempuan yang dia bawa, kacau kayanya pernikahan saya." Tidak tahu harus menimpali apa, Skayara hanya tersenyum samar sebagai respon, hingga tidak berselang lama Prabu kembali buka suara. "Oh ya, saya cari tahu sedikit tentang kamu dan di informasi yang saya dapat, kamu bekerja sebagai pelatih taekwondo. Apa itu benar?" "Benar, Pak," jawab Skayara perlahan tenang. "Saya ngajar anak-anak sekolah menengah, dan jadwal saya ngelatih tuh tiga kali dalam seminggu. Selebihnya saya ngojeg." "Oke," ucap Prabu sambil mengangguk. "Butuh kerja tambahan enggak kira-kira? Kebetulan saya punya pekerjaan buat kamu dan feenya lumayan." Skayara mengerutkan kening. "Pekerjaan apa, Pak?" "Menjadi pengawal putra saya, Alaska," jawab Prabu—membuat kedua mata Skayara membulat. "Namun, pengawal yang saya maksud bukan melindungi dia dari musuh, melainkan mengatur pola hidup Alaska menjadi lebih baik." "Maksud Bapak?" "Alaska yang kamu kenal bukan pria baik-baik, Skayara," ucap Prabu. "Dia enggak lebih dari p****************g yang pacarnya ada di mana-mana. Selain itu, pola hidupnya juga enggak sehat karena hampir setiap malam, kerjaannya menghabiskan waktu di club malam." "Terus, Pak?" "Kalau kamu bersedia, saya mau kamu memperbaiki kehidupan Alaska," ucap Prabu. "Membuat dia berhenti ke club, mabuk, terus memainkan perasaan perempuan, itu tugas kamu dan-" "Saya kaya emaknya dong, Pak?" tanya Skayara spontan. "Kenapa enggak nyuruh emak tirinya aja yang kemarin Bapak nikahin?" "Kalau saya dan istri saya bisa, sudah saya lakukan sejak lama, Skayara. Sayangnya Alaska tidak mau mendengarkan saya dan-" "Bapak aja yang Bapaknya enggak didengerin, gimana saya, Pak?" tanya Skayara. "Dipantatin saya kayanya." Tidak langsung menimpali, Prabu tersenyum tipis sebagai respon sebelum kemudian kembali buka suara. "Bayaran yang mau saya kasih, lumayan, Padahal." "Berapa emangnya?" "Seratus juta untuk lima bulan?" Lagi, kedua mata Skayara membulat. Untuknya, nominal yang disebutkan Prabu sangatlah besar karena jangankan seratus juta, setengahnya saja Skayara belum pernah punya. "Beneran, Pak?" "Tentu," ucap Prabu. "Tapi untuk bayaran segitu, ada syarat yang harus kamu penuhi. Enggak banyak, syaratnya hanya satu." "Apa?" "Kamu tidak boleh jatuh cinta pada Alaska, karena tujuan saya menyewa kamu agar membenarkan tingkahnya adalah; agar dia bersikap baik ketika perjodohannya dengan perempuan pilihan saya, tiba," ucap Prabu. "Oh, mau dijodohin," ucap Skayara. "Iya, kurang lebih begitu." "Kalau buat jatuh cinta, Bapak tenang aja sih, Pak, karena meskipun ganteng, dengar dia banyak ceweknya, saya ilfeel duluan," ucap Skayara. "Cuman kalau buat jadi pengawal, gimana ya? Masih agak ragu saya." "Kalau saya tambahi jadi seratus lima puluh juta gimana?" Lagi, Skayara terkejut. "Serius, Pak?" "Sangat serius," ucap Prabu. "Melihat kemampuan kamu waktu di pesta, saya yakin kamu bisa menaklulan anak saya yang berandalan. Jadi saya berani bayar mahal." "Banyak juga ya uangnya," ucap Skayara. "Saya kerja jadi ojol terus pelatih taekwondo, belum pernah dapat segitu." "Memang," ucap Prabu. "Dan karena uangnya banyak, seharusnya kamu mau terima tawaran dari saya." Skayara diam sambil berpikir, hingga pertanyaan dari Prabu membuatnya sedikit tersentak. "Bagaimana, Skayara? Mau?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD