Chapter 3

945 Words
*** Skayara dan Alaska resmi bekerjasama. Terdesak oleh permintaan sang Bibi, Skayara menerima tawaran Alaska untuk menjadi tunangan pura-pura. Tidak hanya dibayar dimuka, pembayaran dari Alaska bahkan sudah lunas setelah Skayara menandatangani kontrak digital, sehingga hari ini—tepat di hari sabtu, Skayara tinggal menjalankan tugasnya. "Mas enggak bilang pestanya semewah ini," ucap Skayara, yang hari ini tampil cantik dalam balutan gaun berwarna broken white. "Degdegan saya." "Bagus kalau degdegan, itu berarti kamu masih hidup," ucap Alaska dengan senyuman terukir. Skayara tidak menjawab. Sibuk menenangkan perasaan, dia sedikit tersentak setelah suara pembawa acara di ballroom, memanggil calon pengantin. "Kepada kedua mempelai, silakan memasuki acara." Skayara pikir karena dia dan Alaska berdiri di pintu masuk, pria itu akan mengajaknya ke samping. Namun, Alaska justru menggandeng Skayara menuju meja akad—membuat semua atensi tertuju pada mereka berdua. "Mas, ini mau ngapain?" tanya Skayara panik, ketika jarak dia dan meja akad semakin dekat. "Jangan aneh-aneh deh." "Kamu cuman perlu ikutin saya," ucap Alaska, dengan tatapan lurus ke depan. "Ingat, kamu sudah saya bayar." "Tapi kan-" "Sssst." Skayara membisu, sementara Alaska terus membawanya menuju meja akad. Sampai di tempat tujuan, perintah untuk duduk di salah satu kursi pengantin, didapatkan Skayara dan hal tersebut membuat perasaannya semakin tak karuan. "Duduk." "Mas, ini kursi pengantin," desah Skayara pelan. Sungguh, dia pikir tugasnya di hari ini hanyalah mendampingi Alaska sebagai tamu. Tanpa drama, Skayara hanya membayangkan dirinya dikenalkan pada teman-teman Alaska, lalu setelah itu pulang. Namun, ternyata dugaan dia terlalu dangkal, karena untuk bayaran lima belas juta sehari, pekerjaan yang dia bayangkan sangatlah mudah. Skayara terlalu ceroboh. Hanya karena uang yang sedang dia butuhkan, Skayara tidak membaca keseluruhan kontrak sehingga kini dia terjebak di momen yang sangat awkward. Ah, bolehkah Skayara melarikan diri? "Yang bilang ini kursi pejabat memangnya siapa?" tanya Alaska. "Ayo duduk." "Mas, tap—" "Ah, lama," ucap Alaska, sambil mendorong pelan Skayara yang pada akhirnya duduk di kursi pengantin. Tidak terus berdiri, Alaska ikut duduk karena memang tujuannya hari ini adalah mengacaukan pesta pernikahan sang Papi. Ya, tanpa Skayara tahu, Alaska memiliki rencana licik terhadap Papinya itu, dan karena Skayara cukup cantik untuk dijadikan rekan, Alaska sengaja memberikan penawaran pada perempuan itu. "Ini calon pengantinnya?" tanya penghulu yang duduk persis di depan Alaska. "Iya, Pak, kam—" "Mas!" Skayara berseru tertahan. "Kamu sudah saya bayar mahal, jadi diam dan ikut saja." "Tapi kan—" "Apa-apaan kamu, Alaska?" Skayara spontan menoleh begitu pun Alaska. Jika rasa panik, takut, bahkan ingin kabur, langsung menyergap Skayara, maka hal berbeda justru dirasakan Alaska. Beranjak lalu berbalik, pria itu tersenyum sambil memandang sang papi yang hari ini sudah rapi dengan setelan tuxedo. "Hai, Pi, apa kabar?" tanya Alaska. "Gimana kado dari aku? Cantik, kan?" Satu tahun tinggal terpisah, hubungan Alaska dan Prabu—sang papi, bisa dibilang buruk. Bukan tanpa alasan, hubungan keduanya memburuk setelah Prabu mengenalkan seorang perempuan yang katanya akan dia nikahi. Tumbuh tanpa sosok ibu sejak usia remaja, Alaska tidak setuju Prabu menikah lagi. Namun, ketidaksetujuannya tidak digubris sehingga Alaska pun menjauhkan diri. "Jangan macam-macam kamu, Alaska," desis Prabu, mati-matian menahan emosi. "Ini hari pernikahan Papi. Jadi sana pergi. Tempat duduk kamu bukan di situ." "Lho, kenapa?" tanya Alaska, dengan raut wajah tidak peduli. "Papi pikir, Papi doang yang mau nikah? Aku juga kali, Pi. Ngantri dong." "Alaska," desis Prabu dengan tangan yang spontan mengepal. Jika bukan acara besar, dia ingin sekali memberikan putranya itu pelajaran. Namun, karena terlalu banyak orang di ballroom, mau tak mau dia menahan keinginannya itu. "Apa? Mau ngelarang?" tanya Alaska. "Papi aja bisa nikah sama perempuan yang Papi cinta, kenapa aku enggak?" "Mas, udah ya!" ujar Skayara, pada akhirnya beranjak. "Saya datang ke sini buat nemenin Mas ngehadirin acara pernikahan Papanya, Mas, bukan buat jadi pengacau. Kalau mau ngacauin semuanya, sendiri aja. Jangan ajak saya." "Saya udah bayar kamu ya," ucap Alaska pelan. "Diam di situ dan ikutin apa yang saya lakuin." "Saya enggak mau jadi pengacau, Mas," desis Skayara. "Saya kembaliin nanti uangnya. Permis-" "Mau ke mana kamu?" tanya Alaska, sigap meraih pergelangan tangan Skayara, persis ketika perempuan itu hendak melangkah. "Saya mau pulang. Saya enggak mau jadi pengacau," ucap Skayara. "Lagian Papanya mau menikah, bukannya didukung malah kaya gini. Mas enggak waras?" "Diam di sini dan duduk lagi." "Enggak mau," ucap Skayara. "Dan Mas enggak bisa paksa saya." "Skaya." "Lepasin tangan saya, Mas." "No, enggak akan pernah." "Enggak mau lepasin?" tanya Skayara yang dijawab gelengan kepala oleh Alaska. "Oke, ini yang Mas mau." Skayara menghela napas kasar, sebelum akhirnya menarik balik tangan Alaska, lalu memutarnya hingga berada di belakang punggung, dan menguncinya. Tak cukup sampai di situ, Skayara juga menekuk lutut bagian belakang kaki Alaska dengan lututnya—membuat pria itu langsung berlutut persis di depan Prabu. Melongo. Begitulah sekiranya reaksi semua orang yang ada di sana ketika melihat perlakuan Skayara pada Alaska. Tak ada yang berani bersuara. Mereka hanya diam menonton adegan menarik di depannya ini. “Kamu ngapain? Lepasin saya!” pinta Alaska. Dia mencoba meronta. Namun, kuncian Skayara pada kedua tangannya sangat kuat. “Minta maaf,” pinta Skayara. “Kalo Mas minta maaf sama Papa Mas, saya baru lepasin.” “Enggak!” tolak Alaska tanpa ragu. “Minta maaf!” ujar Skayara, sambil memutar pergelangan tangan Alaska hingga pria itu mengaduh kesakitan. “Aaaah! Sakit! Kamu gila ya?!” teriak Alaska. “Minta maaf makanya!" Alaska meringis. Demi apa pun, serangan Skayara menyakitinya sehingga meskipun gengsi, dia mengangkat pandangan. "Aku minta maaf," ucapnya pada Prabu, yang kemudian dijawab singkat oleh sang Papi. "Oke." Serangan berakhir. Skayara melepaskan tangan Alaska lalu membiarkannya jatuh tersungkur. Tidak peduli terhadap apa yang terjadi padanya, Skayara berlalu begitu saja—membuat Alaska mendesis geram, bahkan berseru, "Skayara! Jangan kabur kamu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD