Chapter 2

735 Words
*** "Temuin jangan ya besok? Takut banget dia bukan orang baik." Sambil memandangi sebuah kartu nama, pertanyaan tersebut Skayara berikan pada dirinya sendiri. Sudah kembali ke kost sejak dua puluh menit lalu, Skayara pulang membawa rasa bingung setelah Alaska—pria yang ditolongnya beberapa waktu lalu, tiba-tiba menawarkan sebuah pekerjaan. Bukan pekerjaan biasa, Skayara ditawari untuk menjadi tunangan palsu Alaska. Tidak lama, dia hanya perlu bersandiwara selama satu hari—tepatnya di pesta pernikahan ayah kandung pria itu, hari sabtu nanti. Tidak murah, Alaska akan membayar Skayara sebesar lima belas juta rupiah, sehingga jika Skayara tertarik, dia bisa menghubungi Alaska ke nomor yang tertera di kartu nama. "Tapi kalau dari penampilan sama mobil, Mas Alaska itu kelihatannya kaya orang berduit sih," ucap Skayara lagi, masih di posisinya terlentang di atas kasur. "Ck, bingung." Skayara mengubah posisi. Tidur dengan posisi miring, dia kembali menimbang keputusan yang akan diambil, hingga ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi, membuat dia mengambil benda pipih miliknya itu. "Bi Lina," gumam Skayara, sambil menjawab panggilan. "Halo, Bi, kenapa?" "Uang yang kamu kirim cuman sepuluh juta?" tanya Lina, dari telepon. "Iya, kan Bibi mintanya segitu," ucap Skayara. "Pas, kan?" "Kurang," jawab Lina—membuat Skayara mengerutkan kening. "Barusan Reno katanya harus beli laptop, dan dia pengen yang harganya tujuh juta. Bisa kamu tambahin enggak kirimin uangnya?" Dengan perasaan dongkol, Skayara beringsut. "Bibi ngelawak?" tanyanya. "Itu aku buat dapatin sepuluh juta aja susah lho, Bi. Gimana ceritanya minta tambah?" "Ya gimana? Ini Reno ngerengek," ucap Lina. "Dia enggak mau sekolah kalau belum punya laptop. Teman-temannya udah pada punya." "Reno kan anak Bibi sama Mamang, kenapa enggak kalian berdua yang usaha?" tanya Skayara. "Atau kalau enggak, pake aja dulu yang sepuluh juta. Hajatan Pak Aep juga belum mulai, kan?" "Ya mana bisa? Pak Aep mau ambil uangnya besok," ucap Lina dengan suara yang terdengar kesal. "Lagian kamu dimintain uang tujuh juta aja kenapa susah banget sih? Uang yang Bibi sama Mamang keluarin buat urus kamu bahkan lebih dari itu lho. Tahu diri harusnya. Kamu enggak ada Bibi sama Mamang, belum tentu hidup sampai sekarang." Skayara mengeraskan rahang, sementara tangan kirinya spontan mengepal. Bukan sekali dua kali, kalimat yang Lina lontarkan barusan sudah sering dia dengar. Sakit hati? Jawabannya tentu saja iya. Namun, setiap kali Skayara berusaha melawan, Lina akan membalasnya dengan ucapan yang lebih pedas, sehingga pada akhirnya mengalah pun menjadi keputusan. "Skaya? Kenapa diem aja kamu? Ucapan Bibi barusan kedengeran, kan?" tanya Lina—masih dengan omelan khasnya. "Kamu jangan pura-pura budeg deh. Budeg beneran, tahu rasa." "Aku bukan pura-pura budeg, Bi, aku cuman lagi mikir, dapatin uang segitu darimana," ucap Skayara, sambil berusaha menahan emosinya. "Tujuh juta tuh enggak sedikit dan-" "Maka dari itu Bibi minta sama kamu," ucap Lina. "Kamu kan kerja di ibu kota. Di sana gajinya pasti gede. Jadi kirimlah uang itu buat beli laptop. Kalau pun belum gajian, kasbon dulu atau apa. Dulu Mamang aja sering kok kasbon cuman buat biayain sekolah kamu." Skayara diam sambil berpikir. Beberapa detik hening, pada akhirnya dia mengiakan permintaan Bibinya itu lalu berjanji akan mengirim uang yang dibutuhkan, paling lambat besok siang. "Ah! Gini banget jadi yatim piatu," desah Skayara, sambil merebahkan lagi tubuhnya di kasur. "Kalau dibesarin orang tua sendiri, pasti enggak akan nih aku ditagih hutang budi terus menerus." "Kalau udah gini, jalan satu-satunya ya terima tawarannya Mas Alaska. Ck." Malam itu Skayara memutuskan untuk terlelap. Pagi datang, dia menjalani aktivitas seperti biasa. Pukul sembilan pagi, Skayara menghubungi Alaska. "Halo, Alaska Jarrel Wiraguna, di sini. Dengan siapa saya berbicara?" "Mas Alaska, ini saya, Skaya," ucap Skayara hati-hati. "Yang semalam." "Oh, kamu," ucap Alaska, dengan intonasi yang seketika berubah. "Gimana, Skaya? Apa kamu mau menerima tawaran saya?" "Bayarannya beneran segitu, Mas?" tanya Skayara. "Iya, lima belas juta," ucap Alaska. "Untuk durasi kerja yang bahkan enggak sampai sehari, seharusnya kamu mau. Orang susah, kan, kamu? Gede lho itu." Skayara mendengkus. "Ada syarat lain enggak?" "Ya ada, cuman enggak susah." "Apa?" tanya Skayara. "Harus ikutin apa pun perintah saya di hari sabtu nanti, tanpa membantah," ucap Alaska. "Permintaannya aneh-aneh enggak?" "Enggak tahu," ucap Alaska. "Lagian kamu belum iyain, sudah banyak tanya. Gimana coba?" Skayara menghela napas pelan. Teringat lagi perbincangannya dengan Lina semalam, dia kembali bertanya, "Kalau saya mau, Mas bisa bayar dulu setengahnya enggak? Tujuh juta deh. Saya lagi butuh soalnya." "Sekarang?" "Iya," ucap Skayara. "Bisa apa enggak?" "Bisa, tapi kalau memang kamu setuju, kamu harus lakuin sesuatu dulu." Skayara mengerutkan kening. "Apa, Mas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD