Bab 3

1001 Words
Dalam Pikiran Madan Sebuah Tulisan Berwarna Hitam Muncul di Atas Kepalanya,Memancarkan Cahaya Yang Mungkin Takkan Pernah Redup. "Jurus Surgawi Kuno Pengguncang Semesta" " Dengan Berbagai Aliran Darah Berwarna hitam di sekujur Urat Nadinya,Dunia Semesta Sebagai Penopang Tubuh,Jutaan Pasukan Raja,Ratusan Orang Tingkat Kaisar,dan Puluhan Orang Tingkat Kaisar dan beberapa orang Tingkat Dewa, Membentuk Tubuh Yang Tak Terkalahkan dan Tak Pernah Hancur,Satu suara Menghancurkan Gunung dan Satu Teriakan Mengguncang Dunia ,dan Satu Gerakan Kaki Menggerakkan Semesta" Suara Suara Dan Setiap Gerakan Terbayang di Pikiran Madan. Teknik Yang Disebut Jurus Surgawi Kuno ini melekat ke dalam Pikirannya" " Surgawi Kuno?, Menghancurkan Segala Sesuatu Baik Dunia maupun semesta? betapa mengerikannya teknik ini" Seluruh tubuh madan gemetaran dan saking tidak percayanya dirinya. Jurus ini Sungguh Tak terduga dan luar biasa. Madan Merasakan Sebelum tubuhnya yang hampir hancur, Setelah Mencerna Jurus Surgawi Kuno, Teknik ini seperti otomatis bekerja dan menarik kekuatan darah yang sangat besar kepadanya. aliran aliran mana yang ada di dalam tubuhnya seketika terbangun. Tubuhnya Mulai Mengalami Perubahan yang sangat misterius,seolah olah dia telah Terlahir kembali atau bereinkarnasi jadi dirinya yang berbeda. Madan Perlahan Membuka Matanya, Dengan Sebuah Aura Gelap di Matanya, Tubuhnya di penuhi dengan Gelombang Yang Tak Terbatas. " Darah Pusat Energiku Telah pulih" Madan Gemetar dan saking senangnya Dan sekarang dirinya di keliling oleh Naga Kuno Beres Hitam Pekat Yang siapa Menerka siapapun yang mendekatinya. Pusat Energinya juga telah Pulih Sepenuhnya. "Mengapa Rasanya Darah Naga ku Terasa berbeda?" Madan Merasa Sangat Bingung. Tubuh Madan gemetar. Ada sesuatu yang bangkit dari dalam dirinya. Panas, liar, tidak terkendali. Langit menggelap. Tekanan turun, menghancurkan udara. Di atas sana, bayangan raksasa muncul. Hitam. Matanya merah menyala. Madan mendongak. Tubuhnya menegang. Sosok itu menatap. Tak bicara, tapi dunia bergetar. Suaranya muncul begitu saja, bukan dari mulut, tapi dari seluruh penjuru. "Penerus. Kau telah bangkit." Madan menelan ludah. Seluruh tubuhnya bergetar. Bayangan itu jatuh, bukan menyerang, tapi langsung masuk ke tubuhnya. d**a Madan terasa terbakar. Aliran darah hitam melesat dalam nadinya. Mana di dalam tubuhnya menyala. Pusat energi yang nyaris mati menyembur seperti matahari. Sakit. Tapi bersamaan dengan itu, kekuatan muncul. Rasa takut menghilang. Tubuhnya berubah. Otot-ototnya memadat. Tulangnya meregang. Kulitnya bersinar gelap. Sembilan titik energi terbuka. Tidak satu per satu. Tapi bersamaan. Angin berputar liar. Tanah di bawahnya hancur. Awan terbuka seperti ditarik paksa. Naga-naga bayangan berputar di sekeliling tubuhnya. Membentuk lingkaran. Madan mengepalkan tangan. Retakan menyebar dari telapak kakinya. "Ini... kekuatan sebenarnya?" Suara dalam kepala kembali terdengar. "Darah naga tua. Tubuhmu telah dipilih. Mulai sekarang, kau bukan manusia." Madan membuka mata. Tatapannya tajam. Nafasnya berat. Tapi stabil. Sekelilingnya sunyi. Tak ada makhluk yang berani mendekat. Satu langkah ke depan, udara mendorak. Satu tatapan, batu pecah. Tubuhnya dikelilingi aura gelap yang menyala diam-diam. Jauh di timur, naga lautan membuka matanya. Di atas awan, sang Penguasa Langit berdiri. Di bayang-bayang dunia, para kaisar berhenti bicara. Semuanya merasakan hal yang sama. Sesuatu yang lama telah kembali. Namanya... Madan. Madan mengangkat tangan. Ujung jarinya dikelilingi kilatan hitam. Sekali gerakan, udara terbelah. Suara mendesing seperti ribuan pedang ditarik dari sarungnya. Langkahnya ringan, tapi tanah di bawahnya meledak. Tubuhnya melesat. Pohon-pohon tumbang tanpa disentuh. Burung di langit jatuh. Bukan karena diserang, tapi karena ketakutan. Di depan sana, tiga siluet muncul. Jubah hitam. Mata tajam. Mereka bukan orang biasa. Aura mereka kuat. Mengerikan. Salah satu maju. "Jadi ini kau… yang disebut-sebut sebagai pewaris Jurus Surgawi Kuno?" Madan tidak menjawab. Ia hanya menatap. Datar. Orang itu mencabut pedangnya. Tanpa aba-aba, langsung menebas. Tapi sebelum pedangnya menyentuh tubuh Madan, bayangan naga muncul dari tubuhnya. Hitam, panas, seperti api padat. Pedang meleleh. Tanpa suara. Tanpa percikan. Orang itu mundur, tapi terlalu lambat. Dalam sekejap, aura naga menghantam dadanya. Tubuhnya terpental jauh. Hancur sebelum menyentuh tanah. Dua sisanya menegang. Salah satu mencoba kabur. Tapi dunia tidak membiarkannya. Langit terbelah. Madan sudah di atasnya. Turun seperti panah. Sekali pukulan menghantam tanah. Ledakan menyapu area puluhan meter. Debu naik, angin menderu. Tanah bergetar. Sunyi menyelimuti. Tak ada yang tersisa dari mereka. Madan berdiri di tengah kawah besar. Nafasnya teratur. Mata hitamnya bersinar redup. Aura di tubuhnya belum mereda. "Masih terlalu lemah." Di kejauhan, langit memucat. Suara-suara asing muncul. Seperti bisikan. Tapi juga seperti tangisan makhluk yang dilupakan waktu. Seseorang sedang memperhatikan. Atau sesuatu. Tubuh Madan berdenyut. Ada panggilan. Jauh. Tapi jelas. Seperti suara yang menarik jiwanya keluar. Dia memejamkan mata. Di dalam pikirannya, terbuka gerbang. Di balik gerbang, ada medan kosong. Langit kelam. Dan di tengahnya… satu tubuh duduk diam. Punggungnya besar. Rambutnya perak. Tangannya seperti logam. Dan di belakangnya, puluhan kepala naga melayang. Sosok itu membuka mata. Tidak berbicara. Hanya tersenyum. Tubuh Madan bergetar. Tanpa tahu alasannya, lututnya hampir jatuh ke tanah. Tapi dia menahannya. “Aku belum cukup kuat,” gumamnya. “Tapi aku akan ke sana.” Cahaya kembali menyelimuti tubuhnya. Luka yang tersisa menutup sendiri. Nafasnya melambat. Tapi kekuatannya semakin berat. Seolah dunia menjadi kecil di sekelilingnya. Hari belum berganti. Tapi langit sudah berubah tiga kali. Dari siang ke malam. Lalu kembali siang. Semua karena energi yang keluar dari tubuhnya. Madan menoleh ke barat. Satu aura mendekat. Tidak besar. Tapi padat. Fokus. Tajam seperti jarum yang menusuk tulang. Langkah kaki pelan terdengar. Lalu suara lembut tapi dingin. “Akhirnya kutemukan kau.” Dari balik kabut, muncul seorang gadis. Rambutnya putih. Pakaian lusuh. Tapi tatapannya tajam. Di punggungnya, sebilah pedang kayu. Tidak bersinar. Tidak megah. Tapi langkahnya membuat tanah retak setiap satu meter. Madan menatapnya tanpa bicara. Gadis itu berhenti lima langkah di depannya. Menyipitkan mata. “Kau yang mengambil warisan itu?” “Aku tidak mencurinya.” “Bagus. Karena aku akan mengambilnya kembali.” Madan tidak bergerak. Tapi tanah di bawah kakinya sudah pecah. Gadis itu tersenyum dingin. Lalu menghilang. Dalam sekejap, dia muncul di depan Madan. Pedang kayu sudah di atas kepala. Turun cepat. Tanpa suara. Tapi tekanan dari serangannya seperti dihantam dunia. Madan mengangkat tangan. Menahan. Suara ledakan terdengar. Angin memutar. Gelombang pukulan menyapu pepohonan. Burung-burung terbakar di udara. Tanah hancur di sekeliling. Tubuh Madan terdorong dua langkah. Tapi dia masih berdiri. Matanya menatap langsung ke mata gadis itu. “Menarik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD