Bab 4

1327 Words
Tubuh Madan bergetar ringan. Bukan karena takut, melainkan karena darahnya mendidih. Bukan karena marah, tetapi karena tubuhnya, untuk pertama kali, menemukan sesuatu yang setara. Gadis itu mundur tiga langkah. Napasnya tidak terengah, namun keringat menetes di pelipisnya. “Tubuhmu... itu bukan tubuh manusia biasa,” gumamnya, nada suaranya menajam. Madan tidak menjawab. Matanya menyipit, dalam diam yang berat. Gadis itu kembali bicara, tetap dingin seperti es, “Kau pikir warisan itu hanya milikmu? Empat generasi keluargaku menjaga gerbang itu agar tidak terbuka. Tapi kau membuka segel tanpa izin, tanpa harga, tanpa hak.” Langit mengguncang seolah merespons. “Siapa namamu?” tanya Madan pelan. “Nama hanya beban bagi mereka yang punya warisan. Aku tidak membutuhkannya.” Madan menatap pedang kayu yang kini ditaruh gadis itu ke punggungnya. Tapi tekanan dari tubuhnya tidak surut, malah semakin berat, seperti ribuan ton logam menekan udara. Tiba-tiba bumi di bawah mereka bergeser. Suara retakan terdengar dari segala arah. Pepohonan meliuk seperti menahan jeritan. Cahaya di langit meredup. Bukan karena malam, tapi karena energi. Sesuatu yang besar dan kuno sedang bangkit. Dari arah timur, muncul sebuah kota langit yang melayang. Dindingnya berwarna obsidian. Menara-menara berbentuk spiral. Dari dalam kota itu, suara terompet kuno terdengar, menggema hingga cakrawala. “Menara Tertutup... mereka sudah tahu...” gumam gadis itu. Madan memicingkan mata. “Apa itu?” “Tempat berkumpulnya para Penjaga Warisan Semesta. Dan kau, Madan, sekarang adalah ancaman. Bukan hanya bagi dunia, tetapi bagi aturan waktu itu sendiri.” Langit robek. Delapan cahaya emas turun dari langit seperti tombak. Satu per satu sosok muncul dari dalam cahaya itu. Tubuh mereka tinggi. Mata bersinar. Jubah emas dengan lambang naga dua kepala. Mereka tidak berkata apa-apa, namun dunia menunduk. Satu dari mereka, pria bertanduk dua di pelipisnya, melangkah maju. “Putra Kehancuran telah muncul.” Gadis itu menegang. Madan tetap diam. “Tugasku,” lanjut sang Penjaga, “adalah mengurungnya kembali sebelum dunia ini tercerai-berai seperti sebelumnya.” Madan menunduk sedikit, lalu mendongak. “Apa aku makhluk jahat hanya karena darahku berbeda?” “Tidak. Kau makhluk jahat karena kekuatanmu tidak bisa dikendalikan.” Di Tempat Lain – Ruang Penjara Dimensi Ketiga Sosok kurus dengan mata putih duduk bersila. Tubuhnya terikat oleh rantai dimensi yang berdenyut seperti makhluk hidup. Tiba-tiba, mata putih itu terbuka. “Dia bangkit... hahahaha... akhirnya... akhirnya. Warisan itu tidak jatuh ke tangan para penjaga. Dunia akan retak. Dan aku... akan bebas.” Rantai itu bergetar. Dimensi bergoyang. Dari balik kegelapan, suara besar terdengar. Suara yang membuat realitas bergetar. “Belum waktunya.” Tapi suara tawa itu malah makin menggila. “Kau pikir bisa menahanku ketika darah naga sejati telah bangkit di dunia luar? Kau tak bisa menahan perubahan. Tidak kali ini.” Kembali ke Madan dan Gadis Berpedang Kayu Langit kini tak lagi tenang. Dua kekuatan besar, Jurus Surgawi Kuno di tubuh Madan dan Hukum Semesta yang menganggapnya ancaman, telah bertabrakan. Gadis berpedang kayu maju sekali lagi. “Jika kau tetap hidup, dunia akan berubah. Tapi bukan semua perubahan membawa harapan.” Madan mengangkat kepalanya. Matanya menyala hitam, berlapis kilatan perak. Suara dalam tubuhnya bergema lagi. “Satu langkah lagi, kau menjadi penguasa garis nasib.” Ia mengepalkan tangan. Kali ini, bukan hanya aura naga yang muncul. Tapi sayap. Sayap naga kuno yang terbuat dari waktu dan darah. Di belakangnya, ilusi waktu masa depan terlihat. Dunia terbakar. Langit runtuh. Dan dirinya duduk di atas takhta raksasa, sendirian. Dia berbisik sendiri. “Jika takdir menolakku, maka akan kupecahkan takdir itu.” Gadis itu mencabut pedangnya. Tapi kali ini bukan pedang kayu. Dari belakangnya, muncul bayangan Pedang Kaisar Waktu. Senjata terlarang. Pedang yang bisa memotong tidak hanya tubuh, tapi nasib. Delapan Penjaga Langit melayang. Aura mereka membentuk segel yang mengunci langit. “Tersisa satu pilihan, Madan. Berlutut. Atau lawan hukum semesta.” Madan berdiri. Senyum kecil muncul di wajahnya. Bukan sombong. Tapi penuh keyakinan. “Aku tidak datang untuk berlutut. Aku datang untuk mengingatkan kalian bahwa warisan ini tidak akan lagi disegel.” Dalam sekejap, medan berubah. Delapan penjaga menyerang bersamaan. Gadis berpedang maju. Pedang waktu mengiris udara. Tanah hancur. Langit retak. Dan di tengah semua itu, Madan melangkah. Setiap langkah adalah awal dari perang baru. Lanjutan – Jurus Surgawi Kuno: Perang yang Tidak Ditulis Langit menggelap tanpa awan. Tanpa suara. Hanya tekanan yang menggantung di udara, seperti dunia sedang menahan napasnya. Madan berdiri di tengah medan yang mulai retak. Di atasnya, Delapan Penjaga Langit menyebar, masing-masing membawa aura yang memantulkan cahaya dari sumber yang tak dikenal. Gadis berpedang kayu berdiri tepat di samping Madan. “Aku tak akan menahan diri kali ini,” ucapnya lirih, lalu menyambar udara. Pedang kayu berubah menjadi bayangan transparan yang bergetar, seperti menggantung di antara dunia dan waktu. Delapan penjaga turun serentak. Tanpa aba-aba. Tanpa negosiasi. Langkah pertama Madan menyebabkan tanah di bawahnya membentuk kawah. Dia melompat ke atas, tubuhnya membelah udara seperti kilat. Tabrakan pertama terjadi di langit. Empat penjaga menyerang bersamaan. Salah satunya mengayunkan kapak petir, yang membelah langit jadi dua. Tapi sebelum mencapai Madan, naga bayangan dari tubuh Madan melingkar cepat, menelan serangan itu. Kapak itu meledak. Satu penjaga terpental, menabrak awan, hilang dalam gelombang. Madan mengayunkan tangan. Gelombang hitam menyapu, bukan sekadar aura, melainkan energi yang menciptakan hukum baru. Salah satu penjaga, wanita dengan mata berlian, menahan gelombang itu dengan dinding cahaya. Tapi retak-retak langsung muncul. Gadis berpedang muncul dari sisi lain, menebas dua penjaga sekaligus. Pedangnya tidak menggores tubuh, tapi menembus garis waktu di tubuh mereka. Mereka berhenti bergerak. Beku. Hening. “Dua dari delapan lumpuh,” gumamnya. Tapi belum selesai. Salah satu penjaga terakhir, yang paling besar tubuhnya, membuka jubahnya. Di dalamnya bukan daging, tapi langit. Tubuhnya seperti dimensi yang terlipat. “Aku adalah Penjaga Hukum Kekekalan.” Tangannya mengarah ke Madan. Ruang di sekeliling Madan mulai membeku, berubah lambat, seperti waktu tidak mengizinkan tubuhnya bergerak. Namun suara dari dalam tubuh Madan menjawab. “Hukum kekekalan... adalah bayanganku.” Darah naga menyala. Gelombang energi dari dalam tubuhnya mendorong seluruh dimensi waktu menjauh. Segel Penjaga itu patah. Jubahnya terkoyak. Langit dalam tubuhnya runtuh seperti kaca. Empat penjaga tersisa mulai membentuk formasi. Tubuh mereka menyatu, membentuk makhluk bersayap empat, bermata seribu. Suaranya menggema ke segala arah. “Kami adalah kekuatan gabungan. Kami akan memurnikan dunia.” Madan mengepalkan tinjunya. Dari bawah tanah, sembilan titik cahaya naik ke udara, mengelilinginya. Itulah titik energi naga tua—pusat dari Jurus Surgawi Kuno. Suara dalam tubuhnya berbicara lagi. “Akhirnya... bentukmu siap. Tubuhmu adalah tubuh pembawa kehancuran dan awal dari kelahiran semesta baru.” Madan terbang menembus formasi penjaga. Satu serangan tinju, satu ledakan cahaya hitam, memecah dunia dalam radius lima puluh kilometer. Daratan terbelah, sungai terangkat, awan terserap. Gadis berpedang menahan getaran dengan medan miliknya. Tapi tubuhnya juga berdarah. Sosok gabungan itu jatuh. Tubuhnya meledak menjadi serpihan cahaya, berubah menjadi bintang-bintang baru di langit. Sunyi. Madan turun perlahan ke tanah. Kakinya menyentuh kawah baru yang ia buat sendiri. Sisa debu penjaga masih berkilau, tapi tubuh mereka tidak kembali. Gadis itu berjalan mendekat. “Bagaimana bisa... kau menembus hukum formasi mereka?” “Karena aku tidak berasal dari hukum dunia ini,” jawab Madan, lirih. “Aku tidak dibentuk oleh dunia. Aku lahir dari kehancurannya.” Gadis itu menatap tajam. “Kalau begitu, kau akan menghancurkan semua ini juga?” Madan menatap langit. “Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal. Dunia ini menyembunyikan sesuatu. Bahkan para penjaga pun takut padanya.” Suara lain muncul dari balik langit. Tapi kali ini... bukan dari makhluk. Tapi dari langit itu sendiri. “Mereka bukan yang terkuat.” Langit terbuka. Dari celahnya, satu tangan muncul. Sebuah tangan yang lebih besar dari gunung, dengan kulit seperti batu giok, namun setiap uratnya mengalirkan lava. Gadis itu terdiam. Matanya membesar. “...Itu bukan milik dunia ini…” Madan mundur selangkah. Tapi tubuhnya terasa ditarik. Suara terdengar dalam pikirannya. Bukan dari naga. Bukan dari penjaga. Tapi dari asal usul jurus itu sendiri. “Langkah berikutnya, Madan, bukan tentang bertahan. Tapi tentang memilih. Kau akan menjadi Penguasa Realitas... atau Pemusnah Segalanya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD