Bab 5

1407 Words
Langit runtuh perlahan seperti kain tua yang robek, meninggalkan celah antara dunia yang dikenal dan yang tidak pernah seharusnya disentuh. Madan menatap tangan raksasa itu, namun sorot matanya tak lagi penuh amarah atau pembangkangan. Kali ini... ragu. Untuk pertama kalinya sejak tubuhnya menerima Jurus Surgawi Kuno, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Gadis itu berdiri di sampingnya, napasnya berat. “Itu bukan entitas... itu adalah fragmen dari sesuatu yang lebih besar. Legenda menyebutnya sebagai Yraeth, akar dari realitas pertama sebelum dunia terbagi.” Suara dalam tubuh Madan bergetar, lebih lemah dari sebelumnya. “Bahkan darah naga tidak bisa menjangkau asal mula... hati-hati, Madan.” Tangan itu bergerak. Perlahan, menjulur ke arah mereka. Namun bukan menyerang. Ia menunjuk Madan. Lalu sebuah lingkaran muncul di d**a Madan, berputar perlahan seperti jam kuno, terukir dalam cahaya merah tua. “Penanda,” bisik gadis itu, matanya membelalak. “Kau telah dipilih.” “Apa maksudnya?” “Yraeth tidak menunjuk siapa pun sejak Peristiwa Pecahnya Lapis Dunia... ini bukan hanya tentang warisan. Ini tentang realitas yang memudar.” Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka mencair menjadi cermin. Madan terpeleset masuk tanpa sempat menolak. Gadis itu berusaha menariknya, tapi cermin itu menolaknya, menutup seperti kelopak bunga. Dalam sekejap, Madan menghilang. Gadis itu terjatuh ke tanah yang kini kembali padat. Ia memukulnya dengan frustrasi. “Sial... dia belum siap...” Madan terbangun di tempat asing. Langit di sini berwarna ungu tua. Bintang-bintang bergerak seperti arus sungai. Bangunan melayang terbalik. Udara terasa berat, seperti dipenuhi suara-suara bisikan yang tidak bisa dikenali bahasanya. Dari kejauhan, sosok kecil mendekat. Seorang anak laki-laki, mengenakan jubah putih lusuh dan membawa boneka rusak. “Jurusmu... tidak lengkap,” kata anak itu pelan, tanpa memperkenalkan diri. Madan bangkit perlahan. “Apa tempat ini?” “Bukan dunia. Bukan dimensi. Tapi sisa. Tempat semua kemungkinan dibuang.” “Kenapa aku dibawa ke sini?” “Karena kau sedang berada di antara dua kemungkinan. Kau bisa jadi pengganti kami… atau lawan kami.” “‘Kami’?” Anak itu menengadah. Langit di atas mereka perlahan merekah lagi. Tapi kali ini, bukan cahaya yang muncul... melainkan mata. Satu. Dua. Tiga. Puluhan mata berjejer seperti retakan waktu, mengawasi dari antara kain semesta yang terbelah. “Mereka yang dulu menciptakan hukum. Para Perancang Awal.” Suara anak itu melebur bersama udara. “Dan mereka ingin menilai: apakah kau pantas menyusun ulang takdir… atau dimusnahkan sebagai percikan kesalahan.” Madan mengepalkan tangan, tapi kekuatannya nyaris tak terasa. Jurusnya... lambat. Aura naganya tenggelam. “Kenapa tubuhku... lemah di sini?” “Karena ini tempat tanpa hukum. Kekuatan yang bergantung pada hukum tidak bisa digunakan.” Mata-mata di langit mulai bersinar. Sebuah suara serempak, tak bernada, namun penuh kehendak, menggema. “Tentukan jawabmu, pewaris retakan. Perang telah dimulai, tapi jalurnya belum ditulis. Kau akan menjadi pena... atau halaman yang dibakar.” Di kejauhan, bayangan gadis berpedang kayu terlihat di dalam cermin waktu yang retak. Ia berdarah, jatuh di hadapan sesuatu yang tak terlihat jelas. Sesuatu yang sangat besar... dan lama tidak bergerak. Madan ingin menjerit, ingin keluar, ingin menolongnya. Namun tubuhnya tetap diam. Tiba-tiba, dari balik bayangan langit yang penuh mata itu, muncul satu sosok. Tinggi. Wajahnya diselimuti kabut. Tapi auranya... adalah perpaduan dari semua yang pernah dilawan Madan. Penjaga. Naga. Bahkan Yraeth. Sosok itu menatap Madan, lalu berkata: “Karena kau melawan takdir, maka takdir mengutus aku. Aku adalah versi dirimu... yang tidak memilih untuk melawan.” Langkah pertama sosok itu mengguncang medan. Langkah kedua menghentikan waktu. Langkah ketiga... —membelah cermin kenyataan yang selama ini menahan mereka semua. Dan saat Madan hendak bersiap, satu pertanyaan menggantung di udara: “Jika aku adalah dirimu yang tunduk... mampukah kau mengalahkan apa yang seharusnya kau jadi?” Langit tanpa dasar kini terbelah menjadi ladang cermin bergerigi, merefleksikan bukan bayangan, tapi kemungkinan. Madan berdiri diam. Di depannya, sosok itu—dirinya sendiri—dengan mata perak tanpa emosi dan aura yang dingin seperti waktu yang telah membeku. “Aku tidak datang untuk bertarung,” ucap sosok itu, suaranya datar. “Aku datang untuk menunjukkan satu-satunya jalan agar dunia ini tetap ada.” Madan mengepalkan tangan. Tapi kekuatan masih tidak kembali. Jurusnya seperti dikunci dari dalam. Sementara itu, cermin-cermin di sekeliling mereka memunculkan bayangan masa depan yang berbeda-beda: dunia yang terbakar, dunia yang membeku, dunia tanpa manusia… dan satu cermin di mana Madan duduk di samping gadis berpedang, damai. “Tunjukkan jalannya,” ujar Madan, menahan emosi yang meluap di balik d**a. Sosok itu menatap salah satu cermin. “Dunia akan binasa. Itu pasti. Pilihannya hanya siapa yang akan menyelamatkan serpihannya. Kau—yang diciptakan dari darah naga dan kehancuran—tidak cocok menjadi pengikat ulang dunia. Tapi aku... aku adalah versimu yang menerima takdir dan membiarkan hukum bekerja.” “Lalu kenapa aku ada di sini? Kenapa mereka membiarkanku bertahan sejauh ini?” “Karena semesta membutuhkan gangguan. Sesekali, dunia butuh pertanyaan agar jawabannya tidak membusuk.” Madan berjalan maju satu langkah. Cermin-cermin di sekeliling bergetar. Suara dalam dirinya—yang biasanya membisikkan kekuatan dan jurus—masih diam. “Aku tidak percaya pada dunia yang hanya bisa diselamatkan oleh satu jawaban. Dunia yang tidak menerima perubahan adalah dunia yang telah mati.” “Dan dunia yang menerima terlalu banyak perubahan akan runtuh oleh kebingungannya sendiri,” balas sosok itu. Tiba-tiba, langkah mereka berpadu. Mereka saling menghampiri, perlahan. Bukan seperti dua musuh yang bersiap bertarung. Tapi dua entitas yang tahu bahwa pertarungan ini tidak bisa dihindari, namun juga tidak bisa dimenangkan tanpa kehilangan sesuatu. Sosok Madan-versi-takdir mengangkat tangannya. Dari balik kabut, terbentuk pedang transparan yang tak mengeluarkan aura apa pun. Namun setiap inci bilahnya memantulkan sejarah. Kenangan. Pilihan-pilihan yang tidak diambil. “Ini adalah Pisau Tak Terjadi. Ia memotong bukan tubuh... tapi kemungkinan.” Madan mengangkat kepalanya. “Lalu dengan apa aku harus bertarung?” Sosok itu menunjuk d**a Madan. “Kemauan.” Di sisi lain, gadis berpedang kayu berdiri tertatih di atas puing-puing hutan kuno. Tubuhnya luka, darah menetes dari lengan dan pelipis. Pedang Waktu-nya patah separuh, dan napasnya kian berat. Di hadapannya, makhluk bertubuh asap dan cahaya bernafas dalam irama aneh, mata-matanya berputar, terus-menerus berubah bentuk. Makhluk itu berbicara, suaranya bukan satu, tapi jutaan, berlapis seperti gema dari masa depan. “Penjaga telah gagal. Hukum telah retak. Dan kau... hanyalah saksi.” Gadis itu tersenyum samar, walau tubuhnya hampir ambruk. “Aku lebih dari saksi. Aku... penjaga jalur yang kalian coba sembunyikan.” Makhluk itu melompat ke arahnya, taring dan tentakel waktu mengayun. Tapi sebelum menghantam, medan cahaya berbentuk huruf-huruf kuno muncul, melindunginya. Seseorang baru telah tiba. Bayangan tinggi, berjubah ungu gelap, dengan helm bertanduk dan mata api. Ia berdiri di antara mereka, menatap makhluk itu. “Namaku... Veylan. Dan aku datang bukan untuk bertarung. Tapi untuk memperingatkan.” Makhluk itu berhenti sejenak. “Apa yang kau bawa, Pembaca Realitas?” Veylan membuka gulungan yang tidak terbuat dari kertas, melainkan dari helai-helai nasib. Ia menunjuk satu titik di dalamnya. “Ramalan telah rusak. Dan ketika ramalan rusak, bahkan kematian pun kehilangan arah.” Gadis itu menatapnya. “Kau... berpihak pada siapa?” Veylan tersenyum tipis. “Bukan siapa. Tapi apa. Aku berpihak pada kemungkinan bahwa dunia ini belum selesai menulis dirinya sendiri.” Kembali ke Madan. Udara di antara dua dirinya mulai pecah seperti kaca dilempar ke jurang. Sosok versi-takdir menyerang lebih dulu, pedang kemungkinan menyambar garis leher Madan. Tapi Madan menunduk, menangkis dengan tangan kosong. Kilatan muncul. Dan dalam kilatan itu, satu fragmen dari masa lalu muncul kembali di pikirannya—sebuah suara dari ibunya, sebelum semua kehancuran terjadi. > “Kadang... dunia tidak butuh pahlawan. Hanya seseorang yang tidak menyerah meski tidak punya jawaban.” Madan berteriak. Tangannya berubah. Tulang, otot, dan cahaya berlapis menjadi bentuk baru. Bukan naga. Bukan manusia. Tapi sesuatu yang tidak pernah ada—bentuk yang diciptakan dari penolakan terhadap segalanya. Sosok dirinya sendiri tersentak. “Kau menciptakan hukummu sendiri?” “Tidak. Aku... menolak semuanya.” Tubuh Madan meledak dalam cahaya kehitaman, dan dari punggungnya muncul bukan sayap, tapi jam pasir pecah yang terus mengalirkan waktu terbalik. Mereka bertabrakan. Dunia pecah. Kemungkinan terhapus. Dan suara terakhir sebelum semuanya menjadi putih adalah: “Kau belum tahu... apa yang telah kau bangunkan.” Di tempat lain. Di luar semua dimensi. Satu entitas bangkit dari takhta batu yang telah ditinggalkan selama 9000 era. Ia membuka matanya. Mata yang menciptakan semua langit. “Akhirnya... warisan ketiga terbuka.” Dan di belakangnya, ribuan bayangan mendongak... bersiap turun ke dunia yang tidak lagi punya hukum. (Bersambung...)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD