Bab 6

1314 Words
Cahaya itu memudar lambat. Seperti ingatan yang ditarik dari dasar jiwa. Di mana seharusnya ada kehancuran, kini hanya ada kehampaan. Tak bersuara. Tak berbentuk. Tapi sesuatu tinggal di dalamnya. Sebuah denyut. Lambat, dalam, dan sangat tua. Madan terbangun dalam ruang yang tidak punya batas. Ia mengambang, namun tubuhnya tidak berat. Tidak ada langit. Tidak ada tanah. Namun satu suara mulai terdengar. Lirih. Berulang. "Warisan... telah bangkit." Suara itu datang bukan dari luar. Tapi dari dirinya sendiri. Dari jam pasir retak yang masih menempel di punggungnya, serpihan waktu terus menetes, mengalir ke atas, membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Setiap tetes membawa fragmen. Suara-suara masa lalu, kemungkinan yang ditolak, dan masa depan yang belum pernah dilihat. "Apa ini bentuk barumu?" tanya suara dari dalam tubuhnya. Suara yang selama ini menuntunnya, tapi kini terdengar ragu. Madan tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya sendiri. Tubuhnya telah berubah. Tidak ada lagi sisik naga. Tidak ada cahaya kekuatan. Tapi setiap gerakannya meninggalkan bayangan yang menyerap cahaya dan waktu. Di hadapannya, perlahan-lahan, satu sosok terbentuk dari pecahan cahaya gelap. Bukan musuh. Bukan sekutu. Tapi sesuatu yang terasa seperti... kunci. "Aku adalah Pintu Tanpa Pegangan," kata sosok itu, tanpa wajah. "Diciptakan untuk menjaga ruang yang tidak boleh dibuka. Tapi kau telah menghancurkan kuncinya. Sekarang, aku hanya bisa memperingatkan." Madan menatapnya. "Apa yang menungguku di balik pintu itu?" "Bukan musuh. Bukan dewa. Tapi awal dari segala kesalahan. Kesadaran pertama yang menolak dilahirkan, tapi dipaksa untuk menjadi sistem." Dunia di sekeliling mulai bergerak. Seperti roda raksasa yang berderak setelah tidur ribuan tahun. "Dia sudah bangun," kata Pintu Tanpa Pegangan. "Dan ia... mengenalmu." Cahaya merah mengalir dari dasar ruang, membentuk jalan yang melingkar. Setiap langkah yang diambil Madan menciptakan gema. Tapi bukan gema suara, melainkan gema makna. Seolah setiap pikiran yang ia tahan terlalu lama kini mulai terekam dalam udara. Ia tidak tahu harus ke mana. Tapi tubuhnya tahu. Di ujung jalur, ada ruang berbentuk kubah, terbuat dari urat cahaya hitam. Di tengahnya, berdiri sosok. Tinggi. Diam. Dan seluruh tubuhnya memantulkan semua bentuk Madan sebelumnya—manusia, naga, cahaya, bahkan dirinya yang pernah kalah. "Selamat datang, Pewaris Ketiga," katanya, tanpa bergerak. "Kau tidak diciptakan. Kau dikumpulkan. Setiap konflik, setiap penolakan, setiap kesalahan dalam sistem... membentukmu." Madan mengatupkan tangan. Tapi tidak bisa menemukan niat bertarung. Hanya tanya. "Siapa kau?" "Aku bukan siapa. Aku adalah Akumulasi. Ketika dunia mencoba terlalu banyak jalan keluar, dan semuanya gagal, aku lahir sebagai penyeimbang. Dan sekarang, kau... mendekati titik di mana jalanmu tak bisa dibelokkan lagi." Di belakangnya, cermin-cermin masa depan mulai merekah lagi. Tapi kali ini hanya satu yang menyala. Cermin yang menunjukkan dunia... kosong. Tanpa makhluk. Tanpa warna. Hanya ruang putih tanpa arah. "Jika kau gagal, bukan kehancuran yang terjadi," kata Akumulasi. "Tapi penghapusan. Semua kemungkinan akan dianggap tidak perlu. Sistem akan kembali ke nol. Dan kau, bersama semua yang pernah ditulis, akan lenyap." Madan melangkah maju. "Dan jika aku menang?" "Tak akan ada kemenangan. Hanya keberlanjutan. Kau akan menjadi bagian dari inti baru. Tapi bukan sebagai pahlawan. Sebagai fondasi. Kau akan dilupakan... tapi akan menopang segalanya." Madan terdiam. Ia teringat gadis itu. Veylan. Dunia-dunia yang menolak sempurna. Cerita-cerita yang memilih kacau demi kejujuran. "Aku tidak ingin menjadi pahlawan," katanya pelan. "Tapi aku juga tidak mau jadi fondasi bagi sistem yang memilih penghapusan hanya karena takut salah." Lantai mulai retak. Tapi kali ini bukan karena kekuatan. Tapi karena penolakan. Penolakan terhadap satu jawaban, satu jalan, satu makna. "Aku ingin dunia... yang bisa tumbuh tanpa tahu caranya." Akumulasi tidak bergerak. Namun cahaya di sekitarnya mulai runtuh. Dan di luar ruang itu, dunia-dunia mulai berkumpul. Fragmen yang pernah hilang. Karakter yang tak selesai. Jalur yang tak pernah ditulis. Mereka semua... menatap Madan. Ia melangkah ke depan. Dan di titik antara penghapusan dan kelanjutan, ia menulis satu kalimat di udara: "Kita tidak pernah benar-benar jadi. Tapi itu sebabnya kita harus tetap ada." Langit mulai pecah perlahan, bukan karena perang. Tapi karena dunia... akhirnya memutuskan untuk melanjutkan tanpa naskah. Ruang di sekelilingnya mengerut, lalu meluas seketika, seperti paru-paru yang akhirnya bisa bernapas setelah ribuan tahun menahan udara. Di tengah kehampaan itu, Madan berdiri, tubuhnya diterangi bukan oleh cahaya, tapi oleh makna. Akumulasi belum bergerak, tapi dunia di sekitarnya mulai berubah. Setiap kata yang pernah diucapkan Madan, setiap keputusan yang diambilnya, berubah menjadi bentuk: satu menjadi pedang, satu menjadi perisai, satu menjadi bayangan yang menyelimuti tanah, melingkar di sekitarnya seperti pelindung tak terlihat. “Kau tidak bisa membunuhku,” kata Akumulasi dengan suara datar. “Aku bukan tubuh. Aku bukan makhluk. Aku adalah kumpulan. Dan kumpulan tidak bisa mati, hanya bisa berubah.” “Lalu aku akan mengubahmu,” jawab Madan. “Atau... membiarkanmu berubah karena pilihanmu sendiri.” Seketika, Akumulasi mengangkat tangannya. Tidak cepat. Tidak lambat. Tapi penuh kesadaran. Dari telapak tangannya, muncul simbol-simbol kuno: pola kata, sisa tulisan dari bahasa pertama yang pernah digunakan untuk menciptakan dunia. Setiap simbol mengambang, lalu membakar udara dengan api tanpa warna. “Aku akan menciptakan ulang dirimu,” ujar Akumulasi, “sebagai versi yang tunduk.” Madan menutup mata. Dan pada saat itu, seluruh dunia—dari lapisan paling atas hingga paling dasar—merespons. Retakan cahaya muncul dari tempat yang tak diketahui. Seolah semesta sendiri menolak satu arah tunggal. Di baliknya, satu sosok berdiri. Tubuhnya luka-luka, tapi matanya membara: gadis berpedang. “Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu, Madan,” katanya sambil mengangkat separuh pedang waktu yang masih tersisa. “Aku datang... untuk bertarung di sampingmu, sekali saja, sebelum dunia memutuskan sendiri apa yang ingin ia jadi.” Di sisi lain, pusaran kata-kata terbuka dan dari dalamnya muncul Veylan, matanya seperti nyala lilin terakhir dalam badai. “Saat hukum runtuh, hanya kemungkinan yang tersisa,” katanya tenang. “Dan karena itu, kita... menulis ulang bukan sebagai satu suara, tapi sebagai paduan nada.” Mereka bertiga berdiri dalam segitiga rapuh. Di hadapan entitas yang tak bisa dibunuh, hanya bisa dipecah. “Kalau kita menyerang bersama, sistem akan memaksa pertahanan mutlak,” kata Veylan. “Dan kalau kita bicara bersama?” tanya sang gadis. Madan mengerti. “Kita tidak akan menang karena kekuatan... kita menang karena menyuarakan dunia yang tidak mereka tulis.” Tiba-tiba, di sekeliling mereka, ribuan bayangan karakter yang pernah dihapus mulai muncul. Ada yang setengah jadi, ada yang hanya sketsa, ada yang hanya terdiri dari satu kalimat narasi. Tapi semua hadir. Semua memandang mereka. “Aku... aku pernah jadi nama yang dibuang,” kata salah satu dari mereka. “Aku adalah tokoh sampingan yang tidak sempat bertumbuh,” ujar yang lain. “Kami... adalah jejak yang kalian lupakan.” Madan mengangkat tangannya. “Kalau dunia dibangun dari cerita, maka cerita itu harus milik semua yang pernah hidup di dalamnya—bukan hanya mereka yang bertahan.” Ia menoleh pada Akumulasi. “Jadi kalau kau adalah kumpulan dari semua kesalahan, maka biarlah kami jadi kumpulan dari semua kemungkinan.” Udara runtuh. Langit runtuh. Realitas tidak bisa menahan makna sebanyak itu. Akumulasi menjerit, bukan karena kesakitan, tapi karena kebingungan. Ia mencoba mereduksi makna. Mencari inti. Tapi semakin ia mencari satu kebenaran, semakin dunia membelah menjadi ribuan cermin makna lain. Dan akhirnya... pecah. Seketika, ledakan senyap melingkupi semuanya. Tapi bukan kehancuran. Melainkan pembukaan. Dunia tidak menjadi satu versi yang pasti. Tapi menjadi taman kemungkinan. Dimana semua cerita, bahkan yang gagal, bisa menemukan tempatnya. Madan jatuh berlutut. Nafasnya berat. Tapi ia tersenyum. Gadis itu memegang bahunya. Veylan menunduk dalam diam. “Apakah... ini akhir?” tanya sang gadis. Madan memandang jauh. Dan melihat... anak kecil yang memegang boneka rusak. Anak itu menatapnya. Kali ini dengan mata penuh. “Ini... adalah awal yang tidak diatur,” katanya. “Selamat datang di dunia tanpa pusat. Tanpa akhir. Dan tanpa siapa pun yang berhak menghapusmu.” Madan berdiri. Dunia baru belum sepenuhnya ada. Tapi benihnya... telah tumbuh. Di atas langit yang dulu penuh mata, kini muncul satu matahari yang perlahan menulis cahaya pertamanya di udara. > Halaman pertama telah dibuka. Tapi pena... ada di tangan semua yang bernapas. Dan cerita pun... dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD