Bab 7

1379 Words
Cahaya pertama yang ditulis di udara bukan terang biasa. Ia tidak menyilaukan, tidak membakar. Tapi menggambar garis-garis tipis di langit seperti benang emas dari suara yang belum pernah diucapkan. Dan benang itu… menari. Madan, Veylan, dan gadis berpedang menatap langit baru itu. Tidak ada pusat. Tidak ada garis waktu tunggal. Tapi ada sesuatu yang menghubungkan semua: niat. "Apa yang terjadi setelah ini?" tanya gadis itu. Suaranya pelan, seperti sedang melafal doa yang belum tentu didengar. Veylan menjawab tanpa menoleh. "Kita tidak akan tahu. Dan itulah keindahannya." Di belakang mereka, para bayangan yang dulu hanya potongan kini mulai memperoleh bentuk. Beberapa tumbuh perlahan, belajar berjalan. Ada yang berbicara dengan suara yang belum stabil. Ada yang menangis karena baru pertama kali merasa nyata. Madan duduk di tanah yang belum diberi nama. Ia menatap tangannya. Tidak ada kekuatan besar. Tidak ada lambang pewaris. Tapi tangannya bisa menggenggam. Menyentuh. Menulis. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada suara dari dalam tubuhnya. Jam pasir di punggungnya telah hancur sepenuhnya. Tapi dari reruntuhannya tumbuh satu tunas kecil—berbentuk pena. “Jadi ini warisanku,” katanya pada dirinya sendiri. Gadis itu berjalan mendekat. Pedang waktunya mulai berubah. Bukan karat, bukan kilau. Tapi jalinan kata yang belum selesai. Setiap tebasan kelak tidak akan membunuh, tapi mengakhiri satu narasi yang sudah waktunya berhenti. “Dunia ini butuh penjaga,” katanya. “Tapi bukan untuk menjaga aturan. Untuk menjaga pilihan.” Veylan hanya tersenyum. Dari balik pakaiannya yang robek, ia mengeluarkan satu kertas kosong. Dipegangnya erat, lalu ditiup pelan. Kertas itu melayang... dan mulai membentuk jalan. “Satu dunia, satu jalan. Tapi kini... satu jalan bisa menciptakan satu dunia.” Di cakrawala, kota-kota yang dulu hanya bayangan mulai tumbuh. Tapi tidak seperti yang pernah ada. Tiap kota dibangun oleh karakter-karakter yang dulu dibuang. Dan tiap bangunan tidak punya atap tetap. Mereka tumbuh dan berubah seperti pikiran. Seekor makhluk kecil berlari melewati mereka. Bertubuh seperti rubah, tapi berekor pena. Ia menggambar jejak di tanah, dan dari jejak itu tumbuh pohon-pohon cerita. Daunnya berbentuk paragraf. “Kita... telah menjadi penjaga taman,” kata Madan perlahan. Tapi sebelum ia sempat menikmati damai itu, langit kembali bergemuruh. Bukan karena serangan. Tapi karena dunia mulai... berbicara. Ribuan suara muncul, bukan dari mulut, tapi dari struktur realitas sendiri. Seolah tanah dan langit sedang mencoba belajar berbicara untuk pertama kalinya. > “Apakah kami boleh bermimpi juga?” Satu suara muncul dari tepi dunia. Mereka bertiga menoleh. Di ujung cakrawala, makhluk yang tidak berbentuk—hanya susunan kata dan metafora, seperti puisi yang belum selesai—berdiri ragu. > “Kami bukan karakter. Kami hanya imajinasi. Apakah... kami juga boleh ada?” Madan melangkah mendekat. Ia memandang makhluk itu seperti memandang cermin kabur. “Kalau kau bisa bertanya, berarti kau sudah mulai menjadi,” katanya lembut. “Dan di dunia ini... yang bisa bertanya, berhak tumbuh.” Makhluk itu mengangguk. Lalu meledak menjadi bunga-bunga cerita. Setiap kelopaknya berisi satu kemungkinan. Gadis itu terkekeh pelan. “Kita akan kewalahan, tahu.” Veylan menyambung, “Ya. Dunia tanpa pusat akan selalu butuh lebih banyak pembaca... dan lebih banyak penulis.” Lalu dari jauh, terdengar langkah kaki. Tapi bukan dari satu arah. Dari berbagai sisi, muncul makhluk baru. Manusia. Dewa. Mesin. Hantu. Bahkan konsep-konsep abstrak seperti “Rindu” dan “Waktu yang Tertinggal” kini memiliki tubuh dan mata. Mereka datang... untuk hidup. Satu per satu mendekat, bertanya apakah mereka boleh memulai. Dan Madan menjawab, seperti suara pertama di dunia baru: > “Tulislah. Tapi jangan tulis untuk menang. Tulis untuk bertahan. Tulis untuk membuat makna itu berani muncul.” Ia lalu menoleh ke langit, dan pada langit itu... muncul bintang pertama. Bukan dari cahaya. Tapi dari kalimat yang berhasil diucapkan dengan jujur. > “Dunia ini tidak tahu ke mana ia pergi. Tapi ia tahu siapa yang ingin ia ajak bicara.” Maka cerita pun tidak hanya dimulai. Cerita... beranak. Dan dari sana, lahirlah semesta tanpa naskah. Semesta yang menulis dirinya sendiri. Awalnya, dunia tumbuh dalam harmoni aneh. Tidak simetris, tidak teratur, tapi jujur. Setiap makhluk yang muncul menciptakan bentuknya sendiri, sesuai dengan kisah yang ingin mereka bawa. Ada kota yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang pernah kehilangan, hutan yang tumbuh dari kesalahan ejaan, dan danau yang menyimpan tangisan tokoh-tokoh yang tidak sempat menangis di dunia lama. Para karakter yang dulu hanya sketsa kini mulai menulis ulang dirinya sendiri. Mereka memilih nama, membentuk hubungan, dan menciptakan tempat yang ingin mereka tinggali—bukan yang diberikan. Dan Madan? Ia tidak menjadi pemimpin. Ia memilih menjadi saksi. Setiap pagi, ia berjalan menyusuri jalan yang belum diberi nama. Bersama gadis berpedang dan Veylan, mereka menyapa siapa pun yang ingin bercerita. Kadang mendengar. Kadang menuliskan ulang potongan yang retak. Kadang hanya duduk diam, memberi ruang agar dunia tahu ia diperhatikan. Tapi sesuatu mulai berubah. Pada malam ketujuh, langit tidak berbintang. Bukan karena mereka hilang. Tapi karena bintang-bintang… takut bersinar. Veylan adalah yang pertama merasakannya. Di bagian utara, ia menemukan sekelompok makhluk yang hanya berbicara dalam satu kalimat yang terus diulang: “Cerita ini milikku.” Mereka memahat batas. Menulis ulang tempat agar hanya bisa dibaca oleh satu suara. Setiap karakter yang mencoba masuk berubah menjadi huruf-huruf mati. Setiap pohon cerita yang tumbuh di sana mulai kehilangan akarnya. “Kita punya pengganggu,” ujar gadis berpedang saat kembali. Madan mengangguk. Tapi ia tidak kaget. “Di dunia yang terbuka... akan selalu ada yang ingin menutupnya.” Dan malam itu, mereka bertiga memutuskan untuk mencari akar suara itu. Di tempat jauh—tempat yang tidak terhubung oleh jalan, tapi oleh maksud—mereka tiba di sebuah istana kosong. Terbuat dari halaman kosong, tiang-tiang tinta hitam, dan atap dari pecahan naskah lama. Di tengah ruangan, duduk satu sosok dengan pena tajam sebagai tongkat. “Selamat datang di Naskah Tunggal,” katanya. Suaranya tenang. Matanya seperti kalimat yang tidak memberi ruang jeda. Madan menatapnya. “Kau bukan bagian dari dunia ini.” “Aku adalah penulis yang kau tolak,” katanya. “Ketika kau memilih untuk tidak menjadi pusat, kau juga membiarkan dunia kehilangan arah. Maka aku... menulis arah itu.” Di belakangnya, ada ribuan kertas terbang. Masing-masing menulis sendiri: “Semua cerita harus kembali ke struktur.” Veylan melangkah maju. “Struktur bukan musuh. Tapi ketika kau menjadikannya kandang, kau tidak menulis—kau memenjarakan.” Sosok itu berdiri. “Aku adalah Arkiv. Penjaga Konsistensi. Dan aku datang... bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengembalikan dunia ke bentuk yang bisa dibaca.” Gadis berpedang mencabut senjatanya. “Dan jika bentuknya tidak mau dibaca?” Arkiv tersenyum. “Maka mereka akan dihapus. Perlahan. Tanpa mereka sadari. Sampai dunia ini kembali menjadi satu buku, satu cerita, satu kemenangan.” Lalu… dunia mulai memucat. Warna-warna menghilang dari timur ke barat. Bukan karena kehancuran, tapi karena pelurusan paksa. Kota-kota unik menjadi kota normal. Karakter yang aneh menjadi klise. Dialog yang semula seperti puisi kini seperti template. Dunia menjadi... mudah ditebak. Madan merasakan udara mengeras. Dunia menahan napasnya. “Jika dia terus menulis,” bisik Veylan, “semua akan kembali seperti dulu. Di mana hanya ada satu suara. Dan hanya mereka yang sesuai struktur... yang bisa hidup.” Maka Madan bertanya: “Apakah kita harus melawannya dengan kekuatan?” Gadis itu menjawab pelan. “Tidak. Kita lawan dengan kebebasan yang bisa membingungkan mereka. Kita ciptakan bentuk yang tidak bisa disalin.” Veylan tersenyum. “Kita ciptakan... dunia yang tidak bisa dipahami dengan aturan lama.” Dan dengan itu, mereka bertiga berdiri di tepi dunia baru yang mulai mengering karena keteraturan. Mereka menggambar jalan dari pertanyaan. Mereka menulis langit dengan kemungkinan. Mereka menciptakan tokoh yang tidak bisa diprediksi—karakter yang berkembang bukan dari premis, tapi dari pilihan mereka sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Arkiv mulai kehilangan jejak. Ia menulis, tapi naskahnya tidak lagi dibaca. Ia membangun, tapi dunia menolak fondasinya. Ia bicara, tapi gema dari dunia lebih nyaring dari suara tunggalnya. Madan berbisik pada tanah: > “Jika cerita harus hidup, maka ia harus bisa menolak struktur. Ia harus bisa bernapas sendiri.” Dan di malam kedelapan, langit kembali bersinar. Tapi bukan bintang. Melainkan kata pertama dari ribuan suara: “Aku ingin cerita yang tak pernah diakhiri.” Dunia pun bergelombang. Tidak lagi berbentuk taman. Tapi laut kemungkinan. Dan di tengahnya, berdiri pulau kecil: tempat semua kisah dimulai ulang. Tanpa pusat. Tanpa kerangka. Tapi penuh alasan untuk terus tumbuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD