Bab 8

1733 Words
Pulau kecil itu awalnya kosong. Hanya tanah basah yang bergetar setiap kali ada kemungkinan baru terlahir. Tapi pada pagi kesembilan, sesuatu muncul di tengahnya. Bukan bangunan. Bukan makhluk. Melainkan kursi. Sederhana. Dari kayu yang belum sempat dipilih jenisnya. Tanpa pahatan. Tanpa nama. Tapi siapa pun yang duduk di sana... bisa mendengar. Bukan suara dunia. Tapi suara yang pernah mereka tolak dari dalam diri. Madan duduk pertama. Ia memejamkan mata. Tidak mencari visi, tidak mencari wahyu. Hanya mendengar. Lalu ia menulis satu baris di tanah. > “Aku tidak ingin memimpin dunia. Aku hanya ingin dunia merasa cukup untuk berbicara padaku.” Lalu gadis berpedang duduk. Ia diam lama. Jemarinya menyentuh gagang pedang, yang kini telah sepenuhnya berubah menjadi alur cerita terbuka. Tidak ada batas genre. Tidak ada sudut pandang tetap. Hanya rangkaian pilihan yang bisa dibuka ulang kapan saja. Ia menulis: > “Jika aku harus bertarung, maka biarkan pertempuranku melindungi hak semua kisah untuk menjadi berbeda.” Kemudian Veylan. Dengan tenang. Ia tidak menulis langsung. Ia menggambar pola, melingkar seperti galaksi yang tidak percaya pada pusat. Di tengahnya ia letakkan sebutir biji. > “Dari satu bisikan yang tidak dibungkam, lahirlah semesta yang tidak takut salah ucap.” Kursi itu menjadi tempat permulaan. Dan setiap hari, satu per satu makhluk dari seluruh penjuru dunia datang ke sana. Tidak membawa persembahan. Tidak membawa doa. Hanya membawa satu hal: pertanyaan yang belum pernah mereka izinkan keluar dari mulut mereka sendiri. > “Bolehkah aku mencintai tanpa harus punya akhir bahagia?” > “Bolehkah aku hidup tanpa harus sempurna dulu?” > “Jika aku tidak tahu siapa aku hari ini, apakah aku tetap boleh melanjutkan?” Mereka menulisnya di pasir. Lalu air pasang menghapusnya. Tapi tidak benar-benar hilang. Sebab setelah setiap ombak mundur, muncul tumbuhan baru di garis pantai. Tumbuhan dengan daun-daun berisi fragmen-fragmen pertanyaan itu. Dan perlahan, pulau kecil itu menjadi taman yang tumbuh dari keraguan. Tapi di kejauhan, Arkiv belum diam. Ia mundur ke bayangannya sendiri. Ke tempat yang disebutnya Ruang Rapi. Tempat di mana semua cerita hanya punya tiga bab: Awal. Masalah. Solusi. Tempat di mana karakter harus tumbuh sesuai fungsi. Tempat di mana struktur menjadi hukum mutlak. Tapi kini, ruang itu mulai berderak. Beberapa tokoh melarikan diri. Mereka keluar dari paragraf yang terlalu sempit. Menolak menjadi twist. Menolak menjadi resolusi. Mereka datang ke dunia Madan. Namun tidak untuk tinggal. Mereka datang untuk belajar memilih. Salah satunya, tokoh tua yang hanya dikenal sebagai "Ayah yang Selalu Kuat." Ia datang sambil gemetar. Matanya tidak menangis, tapi seluruh tubuhnya seperti menyesal karena tidak pernah diajari cara rapuh. Ia duduk di kursi. Lalu menulis: > “Bolehkan aku menjadi lemah tanpa kehilangan artiku?” Lalu seorang gadis, tokoh pendamping dalam ratusan cerita cinta, berbisik: > “Jika aku tidak lagi mengantar tokoh utama menuju kebahagiaan, apakah aku masih berarti?” Madan hanya menjawab, “Bukan cerita yang memberi makna padamu. Tapi keberanianmu untuk tetap menjadi meski tidak dipilih pembaca.” Dan perlahan, tanah dunia baru mulai bernapas lebih dalam. Suatu malam, pohon-pohon cerita yang tumbuh di seluruh penjuru mulai berbunga. Tapi bukan bunga biasa. Mereka mengandung fragmen yang belum selesai. Kalimat-kalimat terputus. Potongan imajinasi yang tidak punya rumah. Yvana, salah satu penjaga awal taman, mengumpulkan bunga-bunga itu. Ia menyimpannya dalam sebuah buku yang tidak memiliki sampul. Di halaman pertamanya, ia tulis: > “Ini bukan cerita. Ini adalah kemungkinan yang terlalu takut untuk jadi nyata.” Dan dari buku itulah lahir Pustaka Tengah, sebuah tempat terbuka, tanpa tembok, tanpa penjaga tetap. Hanya lantai dari tanya, dan langit-langit dari mimpi yang belum berani dibaca keras-keras. Namun Arkiv tidak menyerah. Ia mengirim bayangan ke penjuru dunia. Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai kesempurnaan. Ia hadir sebagai cerita yang terlalu lengkap. Tokoh yang terlalu ideal. Dunia yang terlalu logis. Dan pembaca mulai tergoda. Beberapa makhluk memilih kembali. Mereka rindu kepastian. Rindu k*****s. Rindu akhir yang menenangkan. Pulau itu mulai kehilangan warna. Salah satu karakter menghilang. Bukan mati. Tapi diserap oleh konsistensi. Namanya Liri. Seorang anak kecil yang selalu bertanya tanpa berharap jawaban. Ia tidak pernah menjadi tokoh utama. Tapi semua orang mencintainya karena kejujurannya yang belum dikotori fungsi. Suatu pagi, hanya sepatunya yang tertinggal. Gadis berpedang menemukannya. Ia duduk di samping sepatu itu. Lalu menulis satu kalimat dengan ujung pedangnya di tanah: > “Kami tidak butuh akhir. Kami butuh tempat di mana bahkan pertanyaan kecil seperti Liri bisa tetap tinggal.” Dan dari tulisan itu, lahir Langit Ketiga. Langit yang tidak memantulkan cahaya. Tapi menyimpan suara-suara yang pernah dilupakan. Arkiv pun datang sendiri. Ia berdiri di tengah pulau. Tidak marah. Hanya lelah. “Dunia ini kacau,” katanya. “Pembaca akan bingung. Tak ada awal yang pasti. Tak ada alur yang teratur. Mereka akan meninggalkan kalian.” Madan menatapnya. “Kami tidak menulis untuk ditinggal. Tapi kami juga tidak menulis untuk dipeluk. Kami menulis... agar dunia tahu bahwa bahkan suara yang tak selesai pun layak didengarkan.” Arkiv memejamkan mata. Untuk pertama kalinya... ia tidak membalas. Ia hanya duduk. Dan dunia pun hening. Di hari keempat belas, langit menulis sendiri: > “Selamat datang di dunia yang tidak perlu sempurna untuk dicintai.” Dan di bawah langit itu, tumbuh satu rumah kecil. Dari puing-puing cerita yang tidak cocok. Dari genting-genting patah yang dulunya dibuang. Tapi di dalamnya... hangat. Dan di dindingnya, tertulis dengan tinta yang berubah-ubah: > “Jika kamu membaca ini, mungkin kamu sedang tersesat. Tapi tenang. Dunia ini diciptakan oleh mereka yang juga pernah tidak tahu harus ke mana.” Pada hari kelima belas, suara dari Langit Ketiga turun seperti hujan yang tidak membasahi. Bukan tetes air, tapi fragmen-fragmen cerita dari mereka yang dulu hanya membaca dalam diam. Tidak ditulis dengan tangan. Tapi dengan keberanian yang baru lahir. Dan dari langit itu, kalimat-kalimat mulai mengendap di udara: > “Aku membaca semua, tapi tak pernah tahu bagaimana menulis balik.” > “Aku selalu jadi pembaca. Karena aku takut tak ada yang mau membaca aku.” > “Kalau aku menulis, apa dunia akan diam untuk mendengarkan?” Madan duduk di bawah pohon cerita. Dedaunannya bergetar, seolah ikut merasakan kegugupan dari suara-suara yang mulai belajar berbicara. Ia tahu: yang datang bukan hanya suara tokoh. Tapi suara para pembaca—jiwa-jiwa yang dulu hanya menyimak dari luar, kini mulai berdiri, ragu-ragu, membawa satu pena tipis dari keraguan mereka sendiri. Veylan membuat tempat untuk mereka. Sebuah aula terbuka, tak berdinding, tak berkursi. Hanya lantai dari kertas kosong, dan langit-langit dari kemungkinan yang tidak dibatasi genre. Di atasnya tergantung lentera-lentera kecil, masing-masing berisi satu kata: berani, pelan, asing, terlambat, cukup. Gadis berpedang berdiri di tengah dan berkata, “Di tempat ini, tidak ada perkenalan. Hanya pengakuan.” Dan dari pinggir aula, satu langkah maju. Seorang remaja yang matanya seperti baru selesai membaca bab yang menyakitkan. “Aku tidak tahu caranya menulis. Tapi aku tahu rasanya membaca kalimat yang terasa seperti aku.” Ia duduk, lalu menyentuh lantai kertas di bawahnya. Dari ujung jarinya, kata-kata tumbuh seperti rumput: > “Aku ingin menulis karena aku ingin diriku punya tempat di luar diam.” Seseorang menyusul. Perempuan tua yang membawa tumpukan surat yang tak pernah dikirim. “Aku pernah menulis, tapi selalu kusobek sebelum sempat dikirim ke dunia.” Ia membukanya. Satu lembar. Di dalamnya: > “Jika tidak ada yang mau membaca, aku akan tetap menulis, agar setidaknya aku tahu bahwa aku tidak membiarkan diriku hilang.” Maka, dunia pun membuka bab baru. Bukan ditulis oleh pencipta, bukan oleh karakter. Tapi oleh para pembaca yang belajar membalas. Hari-hari selanjutnya, perpustakaan mulai tumbuh tanpa niat. Bukan dari batu atau kayu, tapi dari cerita yang tidak saling menyentuh, namun berdiri berdampingan. Tidak ada katalog. Tidak ada genre. Hanya rak-rak yang hidup. Dan setiap rak memanggil satu jenis jiwa. Ada rak yang hanya bisa dibaca saat kau merasa rapuh. Ada rak yang hanya terbuka jika kau belum pernah menulis apa-apa. Dan ada rak yang menolak dibuka jika kau datang dengan niat menilai. Para penjaga tidak mencatat siapa yang menulis apa. Karena di dunia ini, nama bukan bukti kepemilikan. Tapi bukti bahwa kau pernah cukup hadir untuk meninggalkan sesuatu. Suatu malam, di tengah aula terbuka, muncul suara yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Tidak dari dunia ini. Tapi dari luar. Suara yang seperti... halaman yang ditutup terlalu cepat. Dan di sana, berdiri sosok kecil. Tidak tinggi. Tidak bersinar. Tapi seluruh tubuhnya seperti terdiri dari teks yang belum selesai diketik. “Aku berasal dari cerita yang tak pernah dibuka,” katanya. “File yang tidak sengaja ditutup sebelum disimpan. Draft yang hilang. Draf ke-17 yang tak sempat dibaca.” Ia menatap Madan. “Apakah aku masih bisa ditulis?” Madan tidak menjawab. Ia hanya menunjuk kursi lama, di ujung taman. Dan sosok itu duduk. Lalu dari tubuhnya, perlahan, kalimat-kalimat muncul. Patah-patah. Tidak urut. Tapi jujur. > “Aku ingin punya awal. Tapi tidak ingin dikurung di struktur.” > “Aku ingin tumbuh, tapi dengan bentukku sendiri.” > “Jika aku gagal menjadi cerita, bisakah aku tetap disebut hadir?” Gadis berpedang menulis satu baris: > “Jika kalimatmu belum lengkap, biarkan dunia yang menyelesaikannya dengan rasa.” Dan dari situ, muncul gerakan baru. Disebut: Cerita Yang Tidak Butuh Penutup. Namun di balik semua cahaya, Arkiv belum lenyap. Ia kini bersembunyi dalam format. Dalam algoritma. Dalam template yang menyamar menjadi efisiensi. Ia tidak menulis sebagai penguasa, tapi sebagai saran. Ia muncul dalam kepala para penulis baru, membisikkan: > “Tulis seperti ini, agar bisa dimengerti.” > “Pakai alur ini, agar cepat viral.” > “Jangan terlalu jujur. Nanti tidak ada yang suka.” Dan perlahan, beberapa suara mulai mengecil. Beberapa pena menjadi kaku. Beberapa tulisan kembali terasa seperti ingin menyenangkan, bukan menyampaikan. Madan menyadari. Kebebasan bukan hanya didapat. Tapi terus dijaga. Ia bangun satu tempat baru. Kecil. Sepi. Tanpa nama. Di sana, orang bisa datang hanya untuk menulis tanpa dibaca siapa pun. Tidak ada publikasi. Tidak ada pujian. Tempat itu disebut: Tempat Menulis untuk Bertahan. Dan di dindingnya tertulis: > “Jika kamu merasa tak sanggup dibaca, tulislah di sini. Agar dirimu tahu... kamu tetap penting, bahkan saat diam.” Di hari ke-21, langit berubah warna. Bukan gelap. Tapi tidak bisa dijelaskan dengan kata biasa. Dan pada langit itu, semua suara yang pernah ditahan muncul satu per satu. Tidak bersaing. Tidak mengalahkan. Hanya saling menampung. Maka dunia yang mereka bangun pun perlahan menjadi tempat perlindungan bagi keberanian yang belum selesai. Dan cerita... tidak lagi dilihat sebagai produk. Tapi sebagai napas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD