Tidak ada hal besar yang terjadi.
Tapi justru karena itulah, hari itu menjadi penting.
Sebab tidak semua hari dalam dunia ini harus menjadi kisah.
Beberapa hari… hanya perlu menjadi ruang bernapas.
Di tengah taman yang tumbuh dari keraguan, seorang anak kecil duduk bersila di atas akar pohon cerita. Ia belum pernah menulis apa pun. Namanya belum muncul di halaman mana pun. Tapi ia menyentuh satu helai daun dan berkata pelan:
> “Kalau aku tidak tahu apa yang ingin kutulis, bolehkah aku tetap mendengar?”
Veylan mendekat, lalu mengangguk.
“Menjadi pendengar pun sebuah bentuk penciptaan,” katanya. “Kau sedang menulis di dalam.”
Anak itu memejamkan mata, dan daun-daun di atasnya bergoyang perlahan, seolah menjatuhkan kisah-kisah kecil yang belum berani meminta nama.
Di tempat lain—tidak jauh, tapi juga tak bisa dijangkau dengan kaki—fragmen-fragmen tak lengkap mulai menyusun dirinya sendiri.
Kalimat pembuka tanpa lanjutan. Ucapan yang tertinggal di catatan ponsel. Sisa-sisa bait puisi yang tak pernah selesai.
Mereka berkumpul diam-diam.
Mereka menyebut diri: Yang Pernah Coba Ditulis.
Salah satu dari mereka, kalimat pendek yang hanya berbunyi:
> “Maaf, aku belum siap mencintai.”
Ia bertanya kepada langit yang belum memilih genre:
> “Jika kami bukan bagian dari kisah yang utuh, apakah kami tetap pantas diingat?”
Dan dari angin, terdengar gema lembut:
> “Justru karena kalian tak utuh, kalian menjadi ruang bagi yang tak sempat bicara.”
Pustaka Tengah mulai berbisik pada dirinya sendiri.
Buku-buku di dalamnya membuka sebagian isi, mengalir ke halaman lain. Bukan untuk mencampur cerita, tapi menumbuhkan simpati.
Di satu rak yang hanya bisa terbuka saat seseorang merasa tidak berguna, halaman baru tumbuh pelan-pelan:
> “Aku ingin menulis, tapi aku takut hanya akan menjadi kebisingan tambahan di dunia yang sudah terlalu penuh.”
Madan tidak menjawab dengan tinta, tapi dengan waktu.
Ia duduk diam di hadapan rak itu sepanjang senja.
Dan ketika malam datang, ia menuliskan di lantai kertas:
> “Kau bukan kebisingan. Kau adalah nada pelan yang dunia butuh untuk mendengar dirinya sendiri.”
Arkiv kembali muncul.
Kali ini, ia tidak membawa struktur.
Hanya satu cermin.
Ia meletakkannya di tengah aula, lalu berkata:
“Banyak yang menulis, bukan untuk membebaskan, tapi untuk dikagumi. Banyak yang menuliskan luka hanya agar dipuji berani.”
Tidak ada yang menjawab.
Tapi seorang perempuan—yang surat-suratnya pernah disobek sendiri sebelum dikirim—melangkah ke depan.
Ia berdiri di depan cermin dan berkata, “Ya, aku juga pernah menulis untuk dipuji. Tapi di antara itu, ada satu kalimat yang kutulis untuk bertahan.”
Ia membuka kembali selembar kertas lusuh.
Tinta yang pudar, tapi tetap terbaca.
> “Hari ini aku tidak ingin mati. Mungkin karena aku masih percaya, ada satu kalimat di dunia yang akan menyelamatkanku.”
Cermin Arkiv retak.
Tapi ia tidak marah.
Ia hanya menunduk.
Seseorang datang dari luar dunia.
Bukan tokoh. Bukan pembaca.
Tapi penjaga draft.
Ia membawa peti kayu penuh lembaran tak selesai. Halaman-halaman yang terhenti di tengah napas. File-file yang tertutup sebelum sempat disimpan.
Katanya, “Aku datang dari folder-folder yang tak pernah dibuka ulang. Dari tab yang ditutup tengah malam. Dari ide yang menunggu dijemput.”
Ia membuka satu halaman dan membacakan:
> “Apa jadinya kalau…”
Lalu berhenti.
Dan membiarkannya tetap begitu. Tidak dipaksa selesai.
Di taman itu, kalimat yang tidak selesai bukanlah kegagalan.
Tapi undangan.
Langit di atas aula mulai berubah warna.
Bukan cerah. Bukan gelap. Tapi campuran ragu-ragu antara dua yang belum dipilih.
Lalu, turun suara-suara yang belum pernah ditulis. Bukan dari tokoh. Bukan dari narasi.
Tapi dari mereka yang selama ini hanya membaca.
> “Aku membaca semua, tapi tak pernah tahu bagaimana menulis balik.”
> “Aku selalu jadi pembaca. Karena aku takut tak ada yang mau membaca aku.”
> “Kalau aku menulis, apa dunia akan diam untuk mendengarkan?”
Madan duduk di bawah pohon cerita.
Dedaunan di atasnya bergetar. Ia tahu: ini bukan angin.
Ini adalah keberanian yang sedang belajar berbicara.
Dan dari tanah yang pernah sunyi, suara-suara itu mulai tumbuh. Tidak langsung menjadi cerita. Tidak langsung menjadi buku.
Tapi menjadi tempat.
Tempat untuk hadir, bahkan saat tak tahu harus bicara apa.
Dari suara-suara yang mulai tumbuh itu, muncullah ruang baru—bukan dibangun, tapi ditemukan.
Letaknya di antara dua bayangan: satu dari keraguan yang belum selesai, satu lagi dari harapan yang belum berani dinamai.
Tidak ada pintu. Tidak ada dinding. Hanya satu batas tipis: jika kau datang membawa keinginan untuk menjadi, kau sudah berada di dalam.
Ruang itu disebut oleh beberapa penjaga sebagai Tempat yang Tak Dibutuhkan Tapi Tetap Ada.
Di sana, tak ada yang diwajibkan menulis. Tak ada dorongan untuk jadi penting. Kau bisa hanya duduk dan memeluk kata-katamu sendiri yang belum lahir.
Beberapa hanya bernafas.
Beberapa menyusun huruf tanpa arti.
Dan beberapa, hanya menangis di atas lembaran kosong. Menangis bukan karena kehilangan. Tapi karena untuk pertama kalinya, mereka diizinkan hadir tanpa harus berguna.
Di bagian paling ujung taman, tepat di bawah pohon cerita yang paling tua, gadis berpedang menggantungkan senjatanya. Bukan sebagai tanda damai, tapi sebagai pernyataan: bahwa tidak semua pertarungan harus diselesaikan.
Ia menatap langit yang kini tidak lagi memantulkan apa pun. Tapi menyerap.
Lalu menulis satu kalimat di batang pohon dengan ujung jarinya:
> “Aku tidak ingin menyelesaikan cerita ini. Aku hanya ingin terus cukup hidup di dalamnya.”
Di sampingnya, Veylan mulai membangun sebuah jalur dari benih-benih bisikan.
Setiap langkah di atasnya akan menumbuhkan satu kata yang pernah ditahan.
Beberapa tumbuh: “luka.” “ingin.” “nanti.” “boleh.” “diam.”
Dan siapa pun yang berjalan di jalur itu tidak akan tiba di tempat mana pun. Hanya semakin dekat dengan dirinya sendiri.
Seseorang membawa drum kecil berisi air hujan pertama dari Langit Ketiga.
Ia tidak menulis.
Ia hanya menuangkan air itu ke tanah.
Lalu berbisik:
> “Ini untuk semua kalimat yang belum bisa keluar karena takut menyakiti.”
Dan dari tanah itu, tumbuh tanaman-tanaman aneh—berisi frasa yang tak ingin dimengerti, hanya ingin diakui.
Seperti:
> “Aku mencintai orang yang tidak mengenal diriku.”
> “Aku bahagia, tapi tidak tahu kenapa takut sekali setiap pagi.”
> “Aku ingin bicara, tapi tubuhku menolak.”
Tanaman-tanaman itu tidak harum. Tidak indah. Tapi tak satu pun dari mereka dicabut.
Karena di dunia ini, bahkan rasa yang tidak layak tampil tetap diberikan tempat untuk tumbuh.
Suatu malam, saat semua suara berhenti, ketika tidak ada yang menulis atau membaca atau menyentuh lantai kertas, seseorang masuk ke aula tanpa langkah. Ia tidak bernama. Wajahnya selalu berganti. Tapi ia membawa satu benda: pena dari bayangan.
Ia menggambar sesuatu di udara, bukan huruf, bukan gambar—hanya pola yang tampak seperti ketakutan yang belum bisa dijelaskan.
Lalu bertanya:
> “Bagaimana caranya menulis jika aku bahkan tidak tahu luka apa yang sedang kupikul?”
Gadis berpedang menjawab, tidak dengan kata.
Tapi dengan duduk di sampingnya.
Dan membiarkan keheningan menjawab duluan.
Madan memandangi taman dari jauh.
Ia melihat dunia yang tumbuh tanpa tujuan. Tanpa bentuk pasti. Tanpa alur wajib.
Ia melihat luka yang tidak disembuhkan, tapi diberi tempat.
Ia melihat pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab, tapi dibiarkan tetap tinggal.
Ia tahu, ini bukan dunia yang akan disukai semua pembaca.
Tapi mungkin—hanya mungkin—ini adalah satu-satunya dunia yang tidak akan mengusir siapa pun.
Dan dari langit yang tetap diam tapi mendengarkan, muncul satu baris baru, samar, pelan, tapi cukup:
> “Di tempat ini, kau tak perlu mengerti segalanya, cukup izinkan dirimu hadir.”