“Jadi, gimana tadi pagi?” tanya Dariel.
Dia ingat semalam Acha mengiriminya pesan bahwa pagi ini Acha dan Melati harus menemui bosnya. Melati sama sekali belum mengabarinya seharian ini. Padahal sudah beberapa kali dia menelpon, tetap saja tidak diangkat. Jadi, Dariel harus tahu hasilnya dari Acha.
“Kami diminta buat mikir lagi. Tapi, keputusanku udah bulat, Riel.” Jawab Acha.
Dariel penasaran dengan keputusan Acha. tentu harapannya adalah Acha bersedia bergabung dengan agensi barunya.
“Jadi?” tanya Dariel lagi.
Cukup lama Acha terdiam bagi Dariel yang sudah tak sabar mendengar keputusan Acha. Kewas-wasannya mulai mereda ketika gadis itu tersenyum.
“Aku mau kok bergabung.” Jawab Acha.
Dariel mengepalkan tangannya dan menghentakkannya ke udara seraya berseru, “Yasss!”
Lalu, spontan dia menjabat tangan Acha.
“Thanks banget ya, Cha! Kamu emang temen baikku.” Kata Dariel antusias.
Tetapi antusiasmenya terpaksa dia redam kembali karena melihat wajah Acha yang tertunduk dan nampak risih.
“Sorry.” Dariel melepas jabatan tangannya.
Dengan tergagap Acha menjawab, “Ng... nggak papa. J-justru harusnya aku yang bilang maaf.”
“Oh, iya. Tadi siang kamu bilang mau minta maaf. Tapi soal apa?” Dariel mencoba menanggapi dengan sebiasa mungkin.
Sambil menatap wajah Dariel, Acha menjawab, “Maaf banget semalam aku salahin kamu.”
“Alah... kirain! Santai aja.” Sahut Dariel sambil mengibaskan tangannya.
Tetapi, sepertinya Acha masih merasa menyesal dengan perkataannya semalam.
“Mungkin ini cuma alesan. Tapi semalam aku capek banget sampe gak bisa mikir dengan kepala dingin.” Kata Acha.
“Serius. Aku tuh gak masalah.” Dariel melanjutkan, “Kan yang penting kamu juga udah setuju masuk agensiku, kan?”
Acha mengangguk.
“Untuk itu aku juga pengin bilang makasih.” Kata Acha.
Kali ini wajah gadis cantik itu nampak sedih. Dariel yang agak terusik pun menegakkan punggungnya.
“Haa... gimana pun kamu adalah penyelamatku. Aku gak tahu harus gimana bilang makasih ke kamu.” Setitik air mata mulai mengucur di pipi mulus gadis itu.
Sebetulnya Dariel bukanlah orang yang pintar untuk menenangkan orang yang sedang bersedih, apalagi menghiburnya. Tetapi, pria itu mencoba menepuk-nepuk pundak Acha dengan lembut. Setidaknya itulah cara yang sering dilihatnya saat ada orang menangis.
Diambilnya sebuah tisu dari kotak yang terletak di atas meja. Diberikannya tisu itu pada Acha.
Dari air mata Acha yang belum kunjung berhenti, Dariel berpikir pasti terdapat hal yang selama ini disembunyikan dan susah untuk Acha ungkapkan. Bahkan Acha sampai menyebutnya sebagai penyelamat. Jelas ini bukan sebuah hal kecil.
“Makasih... u..dah bikin aku keluar dari sana...” suara Acha terdengar bergetar.
Kali ini Dariel memberikan Acha sekotak tisu. Dia merasa tangisan Acha masih akan cukup lama.
“Apa agesi itu bikin kamu tertekan?” tanya Dariel.
Tidak ada jawaban dari Acha. Sepertinya Acha enggan untuk menceritakannya pada Dariel.
“Ya, sudah. Yang penting kan sebentar lagi kamu gak di sana lagi.” Hibur Dariel.
Acha mengangguk. Diusapnya air mata yang membuat pipinya basah dengan tisu pemberian Dariel.
“Dariel! Anak orang kok kamu bikin nangis!” seru Sarah yang masih membawa sendok sayurnya.
Dariel terkesiap mendengar omelan mamanya yang sangat tiba-tiba. Dan belum juga dia memberi alasan, Sarah sudah langsung memukulinya dengan sendok nasi.
“Aww! Ma! Aku gak ngapa-ngapain!” teriak Dariel.
Dengan gesit, akhirnya dia kabur dari amukan Sarah dan sendok nasinya. Secepat kilat Dariel pun bisa menjauh dari Sarah.
“Udahlah, Tan. Dariel tadi malah yang hibur Acha, kok.” Acha menjelaskan.
Sarah menengok ke arah Acha berada. Entah sikap seperti apa yang harus ditunjukkannya pada gadis itu. Apalagi dengan senyum lebar Acha yang mengurungkan semua rasa pedulinya terhadap gadis itu.
Dipalingkannya lagi pandangan Sarah, lalu dia pun kembali mengejar Dariel.
Sementara itu dari balik tirai jendela, Ryo menatap lurus Acha. Tanpa disengaja, tadi dia datang saat Dariel menepuk-nepuk pundak Acha yang sedang menangis. Kakinya pun spontan bergerak mendekat.
Kini dia tahu Acha tidak kenapa-napa. Tetapi, masih ada perasaan risau dan gelisah di hati Ryo. Dan Ryo tahu betul salah satu sumber dari perasaan risau dan gelisah itu yang tak lain adalah kecemburuannya. Dia tidak rela ada orang lain, terutama pria yang bisa menghibur Acha selain dirinya. Dan yang lebih mencabiknya lagi adalah air mata Acha.
Ryo sadar bahwa tadi adalah bagian dari sandiwara Acha. Namun, tetap saja Acha yang menitikan air mata adalah kelemahan terbesar dirinya.
*
Saat ini mereka berlima sedang berada meja makan. Salah seorang ART keluarga Hardiansyah menyiapkan semua alat makan dan berbagai macam makanan di atas meja itu.
“Nah, silakan dimakan, ya. Ini semua tante yang siapin sama Mbak Minah dan yang lain. Jangan sungkan-sungkan, ya.” Kata Sarah.
“Makasih, Tante. Kayaknya enak semua ini.” puji Acha.
Banyak di antara makanan di atas meja itu yang menggugah selera Acha. Terutama Ayam krispi bumbu lada hitam yang diletakkan di dekat piringnya. Aromanya terasa familiar di hidungnya.
“Mbak Acha itu penggemar berat ChicKING’s Chicken loh, Bu.” Kata Ryo.
“Oh, ya?” Sarah memastikan.
“Saya sering lihat di Insta-nya. Padahal tidak di-endorse, tapi setiap kali beli selalu dipamerkan.” Jelas Ryo.
“Duh... jadi malu.” Gumam Acha.
Dia bingung, kenapa di saat seperti ini malah membicarakan kesukaannya pada ChicKING’s Chicken? Dan sekarang dia mengerti kenapa Ryo tahu restoran kesukaannya juga.
“Tuh, Riel! Sekarang bilangin ke bagian marketingnya! Mulai detik ini kasih diskon khusus Acha. Kalau bisa digratiskan!” perintah Sarah.
“Apa sih, yang gak buat adek tu... maksudnya adek imut-nya Dariel.” Kata Dariel menghindari amukan Sarah.
Acha menutup mulutnya yang menganga karena tak percaya. Ternyata selama ini ChicKING’s Chicken kesukaannya adalah salah satu bisnis dari Hardiansyah Group. Dan pantas saja aroma ayam krispi bumbu lada hitamnya sangat familiar. Ternyata langsung dari yang punya resep.
“Jadi, ChicKING’s Chicken itu punya tante Sarah?” tanya Acha memastikan.
“Lho? Kirain Kak Acha udah tahu.” Kata Lina.
Ternyata di ruangan ini hanya Acha yang tidak tahu kalau restoran ayam kesukaannya adalah milik Hardiansyah Group. Saking malunya, tangan Acha memengang kedua pipinya yang memerah. Dan Acha yang salah tingkah mengundang tawa di meja makan itu.
Acara makan malam itu pun berlangsung dengan meriah. Ini adalah pertama kalinya dalam lima tahun terakhir Acha makan bersama orang sebanyak ini di meja makan. Biasanya kalau makan di apartmen pun paling hanya bersama Lina. Dan selain itu Acha dan Lina makan di lokasi syuting, studio dan belakang panggung.
Tiba-tiba Acha jadi rindu pada ayah angkatnya, Firza. Mungkin saat ini ayahnya sedang makan sendirian. Apalagi Firza sedang di luar negeri. Seandainya saja dulu Firza dan mantan pacarnya tidak putus, Acha pikir mereka pasti sudah menikah dan dia jadi punya Ibu baru.
Malam sudah semakin larut saat makan malam berakhir. Tadinya Sarah meminta Acha untuk menginap di rumah mereka, tetapi Acha tolak dengan alasan harus ke lokasi syuting pagi-pagi sekali.
“Hati-hati di jalan ya,Cha, Lin. Gak usah ngebut!” ucap Sarah.
“Iya, Tante. Malam ini makasih banget. Acha suka banget masakan tante.” Sahut Acha.
“Sering-sering ke sini sama Lina.” Lalu dengan berbisik, Sarah berkata, “Tante tahu dari Dariel rencana kalian jodohin Lina sama Ryo.”
Acha manggut-manggut.
“Siap, Tante.” Ujar Acha.
*
Sementara itu, di sebuah back stage peragaan busana mingguan, Melati sedang memperhatikan sebuah postingan di aplikasi Insta. Postingan itu berisi gambar sepiring ayam goreng dengan caption ‘Akhirnya makan ayam favorit di rumah yang punya resto. Hehehe... #ChicKINGs_Chicken’
Hanya tertawa miris yang bisa Melati lakukan. Dia yang setahun lebih menjadi pacar Dariel saja tidak pernah disambut baik oleh Sarah. Tetapi, Acha yang hanya sebatas teman bisa mencuri hati Ibu dari kekasihnya itu.
Iri? Tentu.
Tapi, lebih dari itu semua, kecurigaannya pada Acha semakin bertambah. Melati yakin bahwa Acha dan Sarah mengetahui sesuatu tentang dirinya yang sebenarnya.